NovelToon NovelToon
Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18. Gugup

Elkan mengedipkan sebelah matanya ke arah Gia dengan wajah tanpa dosa. "Kan aku sudah bilang, aku nggak suka ngulur waktu, Sayang."

"Elkan! Kamu gila ya?!" jerit Gia tertahan sambil menepuk dada Elkan pelan. "Kapan kamu ngubungin orang tua kamu?!"

"Sejak sepuluh menit lalu, saat lalat terakhir dimasukkan ke mobil polisi," sahut Elkan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. Pria itu malah menyunggingkan senyum kemenangan, lalu meraih jemari Gia yang masih gemetaran dan menggenggamnya makin erat.

"Bu, tunggu dulu!" cecar Gia seraya menatap ibunya dengan tatapan panik. "Ini terlalu cepat! Gia bahkan belum ganti baju, belum cuci muka, dan gaun ini"

"Gaun merah marun rancangan khusus itu membuatmu kelihatan seperti calon menantu impian keluarga Vance," potong Nyonya Kirana tenang. Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyum tipis yang sarat kemewahan. "Lagi pula, Nyonya Vance sendiri yang memilihkan perhiasan berlian yang kamu pakai sekarang melalui sekretaris Ibu. Mereka sudah tidak sabar melihat calon menantu mereka secara langsung."

Napas Gia seketika tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak lebar menatap perhiasan berlian di leher dan pergelangan tangannya. "J-jadi... dari tadi Ibu sama keluarga Elkan sudah sekongkol?!"

"Bukan sekongkol, Gia," sela Elkan manis di dekat telinganya. "Ini namanya kerja sama strategis dua keluarga besar."

"Kamu diam dulu, Elkan!" semprot Gia, matanya melotot galak meski pipinya makin memerah panas bagai udang rebus.

Nyonya Kirana terkekeh pelan melihat tingkah putri tunggalnya. "Sudah, jangan bikin calon mertuamu menunggu lebih lama. Masuk sekarang."

Dengan langkah anggun namun hati berdegup kencang tak beraturan, Gia terpaksa menuruti perintah ibunya. Elkan menuntunnya dengan lembut, menggenggam jemari Gia tanpa berniat melepaskannya sedetik pun saat mereka melintasi lorong megah berlantai marmer menuju ruang tamu utama.

Di ruang tamu yang berukuran sangat luas dan dihiasi lampu kristal gantung yang mewah, tampak sepasang suami istri paruh baya berbusana amat elegan sedang duduk santai menikmati teh hangat. Pria paruh baya itu adalah Tuan Alexander Vance, pendiri Vance Corporation, sedangkan wanita di sampingnya adalah Nyonya Victoria Vance yang memancarkan aura keibuan namun sangat anggun.

Begitu melihat Elkan dan Gia melangkah masuk, Nyonya Victoria langsung bangkit berdiri dengan binar mata yang begitu bahagia.

"Astaga... ini Gia?" puji Nyonya Victoria dengan suara lembut melengking. Ia melangkah cepat menghampiri Gia, mengabaikan putranya sendiri, dan langsung merangkul bahu Gia hangat. "Cantik sekali! Jauh lebih cantik daripada di foto-foto dokumen kantor yang sering Elkan sembunyikan di mejanya!"

"Ibu..." tegur Elkan pelan sambil berdehem canggung, mengusap tengkuknya yang mendadak panas karena rahasianya dibongkar sang ibu.

Gia yang mendengar hal itu makin salah tingkah. "S-selamat malam, Tante... Om..."

"Jangan panggil Tante," potong Nyonya Victoria cepat seraya memegang kedua tangan Gia hangat. "Panggil Mama Victoria, ya? Kami sudah menunggu momen ini selama dua tahun, Gia. Waktu Elkan cerita kamu menyamar dan... ah, sudahlah, masa lalu konyol itu tidak perlu dibahas lagi. Yang penting sekarang kamu sudah kembali ke tempat yang seharusnya."

Tuan Alexander ikut berdiri, berjalan menghampiri mereka seraya menyunggingkan senyum hangat penuh wibawa. "Selamat datang di keluarga kami, Gia. Kirana Group dan Vance Corporation memang sudah ditakdirkan untuk bersatu, tapi yang paling penting... si bodoh Elkan ini akhirnya berhenti murung tiap malam."

"Ayah, tolong jaga wibawa ku di depan calon istriku," protes Elkan dengan wajah memelas yang sangat langka terlihat.

Tawa renyah pecah di dalam ruang tamu megah itu. Nyonya Kirana melangkah mendekati mereka, bergabung dalam lingkaran percakapan dua keluarga besar tersebut.

Gia menatap wajah orang-orang di sekelilingnya satu per satu. Rasa hangat yang tak pernah ia rasakan selama tiga tahun berada di rumah keluarga Aldo kini memenuhi seluruh rongga dadanya. Tidak ada tatapan merendahkan, tidak ada tuntutan untuk melayani, dan tidak ada sindiran soal harta. Yang ada hanyalah rasa hormat dan penerimaan yang tulus.

"Jadi," Nyonya Kirana angkat suara seraya duduk di sofa utama, "bagaimana dengan tanggal pertunangan? Saya rasa bulan depan adalah waktu yang sangat pas."

"Bulan depan terlalu lama, Tante Kirana," potong Elkan cepat, membuat seluruh mata langsung tertuju padanya. Pria itu menatap Gia dengan pandangan yang begitu dalam dan penuh kepastian. "Dua minggu lagi. Saya mau pesta pertunangan kami digelar dua minggu dari sekarang."

Gia tersentak kaget. "Dua minggu?! Elkan, persiapan pesta sebesar itu nggak mungkin cuma dua minggu!"

"Untuk Kirana Group dan Vance Corporation, tidak ada yang tidak mungkin, Nona Kirana," balas Elkan seraya menyunggingkan senyum tipis yang penuh percaya diri. Pria itu membungkuk sedikit, berbisik tepat di samping telinga Gia yang memerah. "Lagipula... aku sudah menunggu dua tahun. Dua minggu itu batas maksimal kesabaranku."

Jantung Gia berdesir hebat, berdetak liar seperti genderang perang. Ia menatap mata cokelat gelap Elkan dan menemukan keteguhan yang tak tergoyahkan di sana.

"Gimana, Gia?" tanya Nyonya Victoria lembut. "Kamu setuju dengan dua minggu lagi?"

Gia menarik napas dalam-dalam, lalu melirik Elkan yang menatapnya penuh harap. Perlahan, senyum manis yang sangat anggun terukir di bibirnya.

"Kalau Presdir Elkan sanggup menyiapkan semuanya dalam dua minggu tanpa ada cacat sedikit pun..." bisik Gia mantap, "maka saya terima tantangannya."

Tepuk tangan dan tawa bahagia seketika membahana di ruangan itu. Elkan menggenggam tangan Gia makin erat, mengangkat jemari wanita itu lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di punggung tangannya.

Namun, di tengah gelak tawa dan kehangatan malam itu, ponsel di saku jas Elkan mendadak bergetar sekali. Sebuah notifikasi pesan singkat masuk tanpa suara.

Elkan melirik layarnya secara diam-diam saat semua orang sedang sibuk berdiskusi. Raut santainya seketika berubah kaku saat membaca pesan rahasia dari tim intelijen pribadinya:

[Laporan Khusus]

‘Pak Elkan, keberadaan dokumen asli konsorsium yang dicari Nico ternyata tidak ada di tangan Siska. Dokumen rahasia itu dipegang oleh sosok misterius yang baru saja memesan tiket penerbangan atas nama mantan suami Nona Gia... Aldo.’

Mata Elkan memercikkan kilat dingin. Ia mengepalkan tangannya di balik saku jas, menatap Gia yang sedang tertawa lepas bersama ibunya.

Jadi kamu belum menyerah juga, Aldo?' batin Elkan dingin. *Silakan datang... dan aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa kembali.'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!