NovelToon NovelToon
Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Status: tamat
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.

Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.

Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.

Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...

_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Anak dalam Kandungan

Pukul enam pagi, Bagas sudah berdiri di depan ruang administrasi kesatuan.

Ia menyerahkan catatan kunjungannya ke rumah Rangga, salinan pernyataan Diah bahwa tidak ada ancaman fisik, dan berita acara KUA kepada petugas yang ditunjuk Letkol Bramantyo.

"Perangkat lama akan diserahkan melalui jalur resmi hari ini," katanya. "Saya tidak memegang atau membukanya."

Bramantyo membaca halaman pertama. "Dan kunjungan ke rumah Kapten Rangga?"

"Tercatat di pos keamanan. Percakapan di teras. Saya meminta penjelasan serta pengamanan bukti."

"Itu tetap tindakan berisiko. Kamu sedang dinilai, Bagas."

"Saya paham."

"Tidak. Kalau benar-benar paham, kamu akan datang kepada saya lebih dulu."

Bagas menerima teguran itu tanpa membela diri.

Bramantyo mengetuk map dengan ujung jari. "Berkas ini cukup untuk menghentikan anggapan bahwa Kirana adalah pembuat unggahan hanya karena namanya dipakai. Cukup juga untuk memeriksa peran sopir dan akun penyebar. Belum cukup untuk menyatakan siapa penulis akhirnya."

"Siap."

"Evaluasi administrasimu belum langsung dibuka pagi ini. Tim harus membaca seluruh dokumen dan memberimu kesempatan menjawab secara tertulis. Jangan meminta Kapten Rangga mengurus hasilnya."

Bramantyo menarik satu formulir dari bawah map. "Pengaduan lama pernah membuat rekomendasi pelatihan persiapanmu tidak diteruskan. Kesempatan itu tidak bisa diputar kembali. Yang bisa diperbaiki adalah catatannya. Jika pemeriksaan menegaskan pengaduan dibuat dengan identitas palsu, kami lampirkan koreksi agar berkas itu tidak terus membebanimu."

"Lalu seleksi sekarang?"

"Tetap dinilai dari awal. Nilai fisik, bahasa, analisis, disiplin, dan kelengkapan administrasi. Tidak ada hadiah karena kamu difitnah, tapi juga tidak ada hukuman untuk sesuatu yang bukan perbuatanmu."

Bagas menerima formulir jawaban tertulis. Ada ruang untuk mencatat riwayat hubungan, tanggal unggahan, pihak yang memberikan klarifikasi, dan bukti pendukung. Untuk pertama kalinya, persoalan yang selama ini hidup sebagai bisik-bisik memiliki kolom resmi tempat ia dapat membantahnya.

"Saya hanya meminta dia memberi keterangan tentang kendaraan dan sopirnya."

"Bagus. Biarkan kemampuanmu menentukan hasil seleksi."

Bagas keluar setelah menandatangani jadwal klarifikasi berikutnya. Di tangannya tidak ada kemenangan, hanya kesempatan agar proses kembali berjalan dengan benar.

Itu sudah cukup untuk pagi tersebut.

Ia membeli bubur ayam tanpa sambal, dua telur rebus, dan pisang dalam perjalanan ke wisma.

Bu Marni menyambutnya di pintu dengan tatapan tajam.

"Semalam saya bilang Kirana aman, bukan berarti kamu boleh menghilang tanpa menjelaskan ke mana."

"Saya menelepon tiga kali."

"Kepada saya. Bukan kepada dia."

Bagas mengangkat kantong sarapan. "Saya akan minta maaf."

"Jangan pakai bubur untuk menyuap."

Pintu kamar nomor enam terbuka sebelum ia mengetuk. Kirana sudah rapi dengan kemeja longgar dan rambut diikat rendah. Matanya berhenti pada kantong di tangan Bagas, lalu naik ke wajahnya.

"Kamu pergi ke rumah Rangga."

Itu bukan pertanyaan.

"Ya. Setelah aku membaca catatanmu dan memastikan kamu aman."

"Masuk. Pintunya tetap terbuka."

Kirana menunggu sampai Bagas duduk. "Aku marah bukan karena kamu mendatangi mereka. Aku marah karena kabar terakhir yang kuterima hanya dari Bu Marni."

"Aku pikir membiarkanmu tidur lebih baik daripada menelepon larut."

"Kamu bisa mengirim satu pesan. Aku tidak perlu membalas."

Bagas mengangguk. "Itu salahku. Mulai sekarang, kalau aku mengubah tujuan setelah kita berpisah, aku kirim lokasi dan alasan. Bahkan kalau Bu Marni sudah tahu."

"Kalau tugasmu rahasia, cukup bilang kamu aman dan tidak bisa memberi lokasi."

"Baik."

Baru setelah itu Kirana duduk di seberangnya. Permintaan maaf Bagas tidak dihias makanan atau alasan panjang. Ia mengakui bagian yang keliru, lalu menyepakati cara agar tidak terulang.

Bagas meletakkan sarapan di meja kecil. Ia menjelaskan kunjungan malam tadi dari awal sampai akhir, termasuk teguran Bramantyo dan batas bukti yang belum dapat menuduh Melati sebagai penulis.

Kirana mengupas telur pelan-pelan. "Kamu marah?"

"Sangat."

"Tapi kamu tidak menyentuh siapa pun atau mengambil ponselnya?"

"Tidak."

"Bagus."

Jawaban sederhana itu menurunkan ketegangan di leher Bagas.

"Ada hal lain," katanya. "Rangga akan menghitung biaya yang timbul karena namamu dipakai. Aku menegaskan pembayaran tidak boleh ditukar dengan pencabutan keterangan."

"Apa kamu menyebut kehamilanku sebagai alasan meminta uang lebih?"

Bagas menggeleng segera. "Tidak."

Kirana berhenti mengupas.

"Anak-anak bukan angka dalam tagihan," lanjut Bagas. "Biaya kehamilan tanggung jawabku sebagai ayah. Kalau kamu ingin memakai uangmu sendiri untuk sebagian kebutuhan, kita bicara terpisah. Melati tidak berhak membeli diam kita dengan kebutuhan bayi."

Kirana menunduk kembali. Cangkang telur terlepas dalam satu potong panjang.

"Dia sudah memberi tahu Rangga bahwa aku hamil," katanya.

"Aku tahu. Tapi aku tidak mengatakan tentang dua bayi."

Tangan Kirana terhenti. "Terima kasih."

"Itu informasi medis milikmu juga. Bukan senjata untuk membuat laki-laki lain merasa bersalah."

Kirana membelah telur dan memakan putihnya. Kuning telur diletakkan di tepi mangkuk.

Bagas meliriknya. "Mual?"

"Tidak. Aku sedang ingin bubur dulu. Kalau nanti tidak habis, aku berikan kepadamu. Jangan mengambil sebelum aku bilang."

"Aku ingat."

Mereka makan tanpa tergesa. Suara sendok beradu pelan dengan mangkuk, diselingi langkah penghuni wisma di lorong. Bagas tidak mendesaknya menghabiskan porsi. Kirana justru mengambil setengah pisang setelah buburnya habis.

"Ada rasa sakit setelah kejadian kemarin?" tanyanya.

"Tidak ada. Tidak ada darah atau pusing. Kalau muncul, aku akan langsung bilang dan pergi ke klinik."

Bagas mengangguk. Ia tidak bertanya untuk ketiga kali.

Ponsel Kirana berbunyi. Pesan datang dari petugas KUA yang sebelumnya membantu mereka. Dokumen hasil pemeriksaan awal masih berlaku. Mereka tidak harus mengulang dari awal, tetapi perlu mengajukan tanggal baru untuk ikrar rujuk ketika siap. KUA juga sudah menyerahkan salinan yang diminta sesuai berita acara.

Bagas membaca pesan itu setelah Kirana menyodorkan layar kepadanya.

"Kita bisa meminta tanggal baru hari ini," katanya.

"Aku mau urusan tempat tinggal lebih jelas dulu. Bukan karena aku berubah pikiran. Aku tidak ingin setelah rujuk kita masih berdebat aku harus tinggal di mana."

"Rumah sewa yang kemarin seharusnya selesai diperbaiki hari ini. Kita periksa sore nanti. Kalau tidak sesuai daftar, kita cari yang lain."

"Dan jangan bayar sebelum aku melihat kuncinya bekerja."

"Aku juga ingat itu."

Kirana akhirnya mendorong kuning telur ke arahnya. "Sekarang boleh."

Bagas memakannya bersama dua sendok bubur yang tersisa. Tidak ada rayuan, tidak ada janji besar. Hanya sarapan yang dibagi setelah setiap batas disebutkan dengan jelas.

Ketika ia hendak merapikan bungkus makanan, ponselnya berdering.

Pemilik rumah sewa berbicara cepat dari seberang. Semua perbaikan sudah selesai, tetapi ada calon penyewa lain yang akan melihat tempat itu sore ini.

"Kalau begitu kami datang sebelum tengah hari," jawab Bagas.

Kirana sudah mengambil tasnya.

"Kita lihat apakah rumah itu benar-benar siap menjadi rumah," katanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!