Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 3
Dingin yang merayap dari permukaan pilar batu hitam itu sama sekali tidak mirip dengan sensasi hangat yang dirasakan anak-anak sebelumnya. Begitu telapak tangan mungil Shen Jue menyentuh ukiran utama, pilar tersebut bukannya memancarkan pendar biru yang tenang, melainkan bergetar hebat di bawah tanah. Desiran udara dingin mendadak bertiup mengitari panggung, membuat beberapa obor penerang di sudut alun-alun padam seketika.
Tetua Liu mengerutkan dahi, melangkah mundur satu tindakan secara refleks. "Ada apa ini?" bisiknya heran sambil menatap pilar yang mendadak meredup total.
Di dalam lautan kesadaran Shen Jue, adegan yang jauh lebih dahsyat sedang berlangsung.
Arus energi pilar yang mencoba memeriksa jiwanya mendadak menghantam sebuah dinding raksasa tak bertepi. Di balik dinding kegelapan itu, sebuah pedang hitam raksasa yang dililit kabut maut membukakan 'matanya'. Aura keabadian yang terlarang meraung pelan, bersiap menggulung dan menghancurkan pilar batu serta seluruh wilayah Desa Ping-an hingga tak bersisa.
"Tenang," perintah Shen Jue dalam benaknya.
Dengan kontrol jiwa tingkat tinggi yang tersisa dari kehidupan lalunya, Shen Jue memutar rantai kesadarannya. Ia membendung raungan energi Pedang Dewa Kematian itu, menarik kembali semburan hawa maut tersebut hingga kembali terperangkap di dasar jiwanya yang paling dalam. Ia sengaja mengunci rapat segel kuno itu, hanya membiarkan sebintik ampas energi yang sangat tipis dan telah terfilter oleh lapisan karat untuk lolos ke telapak tangannya.
Pilar batu di depannya kembali tenang. Cahaya biru yang sempat padam mendadak muncul kembali, tetapi ukurannya sangat kusam dan berkedip-kedip lemah, seolah-olah energi di dalam pilar itu telah habis dikuras.
Dari tengah telapak tangan kanan Shen Jue, sebuah pusaran kabut abu-abu kusam terbentuk perlahan. Tidak ada dentuman cahaya emas, tidak ada raungan binatang buas, dan tidak ada pendar senjata tajam yang megah.
Saat kabut itu memudar, sebuah belati kecil melayang lemah di atas telapak tangannya.
Ukuran belati itu tidak lebih panjang dari telapak tangan seorang anak kecil. Bilahnya bopeng, tumpul, dan diselimuti lapisan karat cokelat kemerahan yang tebal. Gagangnya hanya terbuat dari pilinan kain lapuk yang tampak siap terlepas kapan saja. Benda itu terlihat lebih mirip dengan sisa rongsokan besi bekas tempaan gagal yang dibuang ke dalam selokan berlumpur.
Tetua Liu mendekatkan wajahnya ke arah belati tersebut. Ia membetulkan letak kacamata bacanya, lalu menyentuh bola kristal di meja yang pendar energinya berubah menjadi abu-abu redup, hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dari dekat.
Tetua Liu menggelengkan kepala dengan raut kekecewaan yang sangat jelas. Ia menarik napas panjang lalu berteriak memecah keheningan. "Roh Senjata... Belati Kecil Berkarat!"
Suasana alun-alun yang tadinya tegang seketika pecah oleh gelombang tawa yang riuh.
"Tingkat Energi Jiwa: Sangat Rendah!" tambah Tetua Liu malas sambil mencoret nama Shen Jue di gulungan kertasnya tanpa gairah sedikit pun.
"Hahaha! Belati rongsok!" gelak Gao Han dari bawah panggung, tertawa paling keras di antara kerumunan sambil memegang perutnya. "Benda sampah seperti itu bahkan tidak akan mampu memotong kulit bawang! Untuk apa membangkitkan senjata kalau rupa bentuknya seperti besi tua yang membusuk?"
"Sudah kuduga!" cemooh ibu dari anak gempal tadi dengan nada puas. "Anak yatim piatu yang tidak pernah makan enak ya cuma bisa membangkitkan ampas besi! Lihat itu, warnanya saja sama kusamnya dengan pakaian yang dia pakai!"
Tawa dan ejekan bersahut-sahutan di seluruh alun-alun. Orang-orang saling berbisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah panggung, menjadikan Shen Jue sebagai bahan lelucon segar untuk mencairkan ketegangan ritual hari itu. Bagi warga desa, melihat seseorang yang nasibnya jauh lebih malang dari mereka adalah sebuah hiburan gratis yang menyenangkan.
Namun, di tengah badai cemoohan tersebut, Shen Jue tidak menggerakkan alisnya sedikit pun. Wajah pucatnya tetap tenang layaknya permukaan telaga es di puncak gunung.
Ia mengangkat belati kecil berkarat itu mendekati matanya, memperhatikannya dengan teliti.
Orang-orang biasa hanya melihat bentuk fisik yang rongsok dan energi jiwa yang sangat rendah. Tetapi dengan penglihatan tajam seorang master tempa, Shen Jue bisa merasakan sesuatu yang membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
Saat jemarinya menyentuh bilah belati yang berkarat, Shen Jue menyalurkan sebenang tipis energi jiwanya. Seketika, ia merasakan belati kecil itu menghasilkan daya sedot tak terlihat. Karat pada bilahnya bukanlah tanda kelemahan, melainkan lapisan cangkang luar yang menyerap dan mengunci hawa kehidupan di sekitarnya.
Belati ini tidak dirancang untuk melukai daging atau menembus tulang seperti pedang perunggu milik Gao Han. Senjata ini dirancang untuk memotong alur energi spiritual itu sendiri.
"Benda yang sangat menarik," gumam Shen Jue sangat pelan hingga suaranya tertelan oleh riuhnya tawa penonton. "Menyamar sebagai sampah di dunia yang hanya menilai permukaan. Ini sungguh sempurna."
Jika ia membangkitkan pedang raksasa bercahaya emas yang mengguncang benua hari ini, klan-klan besar dan para ahli dari kota kekaisaran pasti akan segera datang memburunya atau memanfaatkannya. Dengan fisiknya yang masih lemah dan tanpa perlindungan faksi mana pun, menjadi pusat perhatian adalah cara tercepat menuju kematian. Belati rongsok ini adalah perlindungan terbaik baginya untuk tumbuh di balik bayang-bayang.
Shen Jue menggenggam belati itu, menarik energinya kembali, dan membiarkan senjata tersebut menghilang menyatu kembali ke dalam telapak tangannya.
Ia memutar tubuhnya dan melangkah menuju tangga panggung dengan gerakan yang sangat rileks.
Saat ia melewati Tetua Liu, pria tua itu menatapnya dengan tatapan kasihan yang dangkal. "Anak muda, jangan terlalu berkecil hati. Meskipun roh milikmu tidak bisa digunakan untuk bertarung, kau masih bisa menggunakannya untuk memotong tali atau mengupas buah di ladang," hibur Tetua Liu sekadarnya.
"Terima kasih atas nasihat Tetua," sahut Shen Jue sambil membungkuk sopan tanpa ada nada sedih sedikit pun di suaranya.
Ia melangkah turun dari panggung kayu. Begitu kakinya menyentuh tanah berdebu alun-alun, Gao Han sengaja melangkah maju memotong jalan Shen Jue bersama dua orang pengikutnya.
Gao Han menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Shen Jue dari atas ke bawah dengan senyum ejekan yang lebar. Pedang perunggu di pinggangnya sengaja ia tepuk-tepuk agar terdengar suara denting logam yang nyaring.
"Hei, Shen Jue!" sapa Gao Han dengan nada angkuh. "Bagaimana rasanya membangkitkan besi tua? Kalau kau butuh uang untuk membeli obat demammu, bawa belati rongsokmu itu ke tukang rosok di ujung jalan. Siapa tahu dia mau menukarnya dengan setengah potong mantou basi!"
Dua anak di belakang Gao Han ikut tertawa terbahak-bahak, berharap mendapat pujian dari anak tuan tanah tersebut.
Shen Jue menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus ke dalam mata Gao Han dengan ekspresi yang sangat datar. Matanya yang gelap dan dalam membuat tawa Gao Han mendadak terhenti di tenggorokan. Untuk sepintas detik, Gao Han merasakan tengkuknya meremang dingin, seolah-olah ia sedang ditatap oleh seekor binatang buas yang sedang mengamati mangsanya.
"Ada yang lucu, Tuan Muda Gao?" tanya Shen Jue tenang, suaranya mengalir ringan tanpa ada getaran emosi.
Gao Han menelan ludah, merasa terganggu oleh rasa takut mendadak yang tidak masuk akal itu. Ia mencoba menutupi kegugupannya dengan mengeraskan suara. " T-tentu saja lucu! Kau itu sampah tanpa masa depan! Mulai hari ini, jangan pernah muncul di dekat rumahku lagi, mengerti?"
Shen Jue tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat begitu alami namun memancarkan keangkuhan yang terselubung. Ia melangkah maju satu tindak, membuat Gao Han secara tidak sadar mundur selangkah karena tekanan tak kasat mata yang memancar dari tubuh anak kurus itu.
"Pedang perunggu milikmu cukup bagus," kata Shen Jue pelan sambil menunjuk ke arah gagang pedang di pinggang Gao Han. "Tapi saran saya, jangan terlalu keras mengayunkannya ke batu. Pangkal bilahnya retak dari dalam. Satu benturan keras lagi, dan pedang kebanggaanmu itu akan patah jadi dua."
Gao Han tertegun. "A-apa yang kau bicarakan? Jangan sembarangan bicara, dasar sampah!"
Tanpa memedulikan makian Gao Han yang kembali meledak, Shen Jue berjalan melintas di samping anak itu begitu saja. Ia menyusuri jalan berdebu alun-alun, meninggalkan riuhnya kerumunan warga desa yang masih sibuk membicarakan kegagalannya.
Matahari kini sudah berada tepat di atas kepala, memancarkan terik yang membakar tanah. Shen Jue berjalan dengan langkah konstan menuju gubuk reyotnya di ujung desa.
Di dalam kepalanya, berbagai skema pergerakan sudah mulai terbentuk. Langkah pertama untuk bertahan hidup telah dilewati. Sekarang, saatnya ia kembali ke gubuknya yang sepi, mengunci pintu, dan menguji secara langsung sejauh mana belati kecil berkarat itu bisa memotong energi alami benua ini.
"Dunia ini terlalu bising," batin Shen Jue sambil mendorong pintu kayu rumahnya. "Tapi setidaknya, permainan baruku baru saja dimulai."