Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mesin Jahit
Annabella terdiam.
Ia menunduk, menatap wajah polos yang mendongak kepadanya. Entah mengapa, pelukan kecil itu selalu berhasil melunakkan hatinya yang lelah.
Annabella membalas pelukan Yumna, kemudian mengusap rambutnya dengan lembut.
“Onty tidak apa-apa, Sayang.”
“Tapi muka Onty cedih.”
“Yumna pintar sekali, ya, bisa tahu kalau Onty sedang sedih.”
Yumna mengangguk kecil, lalu kembali memeluknya.
“Yumna peluk Onty. Bial Onty ndak cedih lagi.”
Mata Annabella terasa panas mendengarnya. Di rumah sebesar itu, ia diperlakukan seperti orang yang tidak berharga. Bahkan, untuk meminta sesuatu yang sederhana saja, ia harus mengumpulkan keberanian.
Namun, di tengah semua penghinaan itu, ada seorang gadis kecil yang memeluknya tanpa meminta apa pun.
Annabella mengecup puncak kepala Yumna.
“Terima kasih, Sayang.”
Ia tidak tahu apakah Lucian akan mengabulkan permintaannya. Ia juga tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan alat jahit untuk membuatkan pakaian bagi Yumna.
Namun, selama gadis kecil itu masih berada di sisinya, Annabella ingin berusaha. Ia ingin membuat Yumna merasa nyaman, meskipun mereka harus tinggal di gudang tua yang dingin dan jauh dari kemewahan rumah Winston.
__
Malam harinya, Annabella membantu Minah menyiapkan makan malam. Meski telapak tangannya dibalut perban dan masih terluka, ia tetap berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
Setelah semua makanan siap, Annabella mengambil piring, lalu mengisinya dengan nasi dan lauk dalam jumlah cukup banyak.
Minah yang melihatnya langsung mengernyit bingung.
“Kenapa kamu mengambil makanan sebanyak itu?”
Annabella sedikit terkejut, tetapi segera tersenyum tipis.
“Saya lapar, Minah. Bolehkah saya membawa makanan ini ke gudang?”
Minah terdiam sejenak sebelum mengangguk.
“Boleh, tapi—”
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Annabella sudah mengangkat piring-piring tersebut.
“Terima kasih, Minah. Saya pergi dulu.”
Annabella bergegas meninggalkan dapur sebelum Ranti datang.
Minah hanya bisa memandangnya. Sebenarnya, ia ingin menahannya agar menunggu sampai keluarga Winston turun untuk makan malam. Siapa tahu mereka bersedia mengajak Annabella makan bersama.
Namun, Minah tidak memiliki keberanian mengatakan hal itu. Ia tahu betapa besar kebencian keluarga Winston terhadap Annabella.
Tak lama kemudian, Lucian memasuki ruang makan bersama Faisal. Asistennya itu membawa sebuah kotak berukuran cukup besar.
Faisal menghampiri Minah dan menyerahkan kotak tersebut.
“Ini alat-alat menjahit yang diminta Nyonya Annabella. Tolong berikan kepadanya.”
Mata Minah langsung berbinar.
“Tuan Lucian benar-benar membelikannya?”
Faisal mengangguk singkat.
Minah tersenyum sumringah, tapi segera menundukkan kepala ketika menyadari sikapnya yang terlalu kentara.
“Baik, Tuan. Terima kasih.”
“Bawakan sekarang,” ujar Faisal.
Minah mengangguk, lalu membawa kotak itu menuju gudang.
Sementara itu, Lucian menarik kursi dan duduk di meja makan. Ia mengambil serbet, lalu meletakkannya di pangkuan.
Faisal yang masih berdiri di dekatnya tidak dapat menahan rasa penasaran.
“Tuan, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Katakan.”
“Kenapa Tuan memberikan alat-alat menjahit kepada Nyonya Annabella? Bukankah Tuan ingin membalas dendam kepadanya?”
Lucian menghentikan gerakan tangannya sejenak. Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan ular itu.”
Faisal terdiam.
“Jangan berpikir terlalu jauh, Faisal. Aku tidak akan melupakan kesalahannya hanya karena memberinya sebuah mesin jahit.”
“Baik, Tuan.”
Lucian kembali menyandarkan tubuhnya di kursi.
Baginya, Annabella tetaplah wanita jahat yang pernah menghancurkan keluarganya. Ia tidak akan membiarkan sedikit perubahan sikap membuatnya melupakan dendam yang selama ini dipendam.
Jika Annabella memiliki rencana tertentu, ia ingin mengetahuinya sendiri.
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???