Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.
Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.
Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinar Pagi dan Keberanian Baru
Hangatnya Sinar matahari pagi menerobos masuk dari celah gorden kamarku yang terasa lebih hangat dari biasanya. Aku terbangun dengan perasaan yang luar biasa ringan.
Begitu membuka mata, ingatan tentang balasan pesan Arga semalam mulai menguap, tiga kata singkat yang berbunyi 'Ya. Lu juga. Cukup membuat seulas senyum lebar terbit dari bibirku.
Bagi orang lain, itu mungkin balasan yang biasa
saja. Tapi untukku yang sedang berusaha meruntuhkan gunung es, itu adalah sebuah kemajuan besar.
Aku meraih ponsel di samping bantal, masih dengan posisi berbaring malas. Sembari masih berusaha mengumpulkan nyawa yang belum seutuhnya hadir, jemariku mulai lincah mengetik di ruang obrolanku bersama Arga. Kali ini, tanpa ragu, aku ingin menjadi orang pertama yang menyapanya.
“Selamat pagi, Arga! Semangat ya buat kuliah hari ini. Semoga harimu menyenangkan!”
Setelah menekan tombol kirim, aku langsung bangkit dari kasur dengan energi yang sudah muncul kembali. Aku mengambil handuk, lalu bersiap untuk mandi.
Pagi ini aku ingin tampil berbeda, aku ingin dandan yang cantik, memakai pakaian terbaikku, dan memberikan sedikit kejutan visual untuk Arga. Taktik santai dari Danu memang harus dijalankan, tapi sesekali memberikan kejutan kecil rasanya tidak akan merusak rencana, kan?
Satu jam kemudian, aku sudah berdiri di depan cermin besar kamarku. Rambutku yang masih sedikit basah terurai rapi, wangi sabun stroberi menguar dari tubuhku, dan riasan tipis natural membuat wajahku terlihat jauh lebih segar. Aku mengenakan blus warna salem yang pas di tubuhku.
Aku mengambil ponsel, membuka kamera depan, lalu berpose dengan senyum paling manis yang kupunya.
Cekrek! Satu foto berhasil kuambil dengan pencahayaan pagi yang sempurna.
"Oke, Via. Mari kita lihat gimana reaksi si gunung es kalau dikasih pap pagi-pagi," gumamku pada diri sendiri dengan jantung yang mendadak berdegup kencang.
Aku membuka kembali aplikasi pesan. Ternyata pesan selamat pagiku tadi sudah dibaca, ditandai dengan centang dua yang berubah warna, namun belum ada balasan teks dari Arga. Tanpa memikirkan gengsi, aku langsung mengunggah foto diriku tadi ke ruang obrolan kami, dilengkapi dengan satu baris kalimat genit yang tak menuntut.
[Mengirimkan Foto]
“Pap pagi dulu, biar kamu makin semangat kuliahnya, hehe. Aku udah rapi nih, mau berangkat ke kampus juga.”
Aku melempar ponselku ke atas kasur, lalu segera memakai sepatu, berpura-pura sibuk agar tidak mati gaya menunggu balasan. Namun, belum sempat aku meraih kunci kamar, ponselku yang berada di atas kasur bergetar pendek.
Ting.
Jantungku rasanya mau melompat, aku langsung menyambar ponsel itu secepat kilat. Layar menampilkan balasan dari Arga, mataku melebar saat membaca teks pendeknya.
“Gak usah kirim foto-foto kaya gitu ke gue.”
Senyumku sempat membeku selama beberapa detik. Kalimatnya tajam dan langsung menusuk rasa percaya diriku. Namun, sebelum aku sempat merasa sedih, sebuah balon teks baru menyusul di bawahnya.
“Baju lu terlalu tipis. Kampus lu gak ada AC-nya apa?”
Aku tertegun, lalu refleks menunduk menatar blus salem yang sedang kukenakan. Blus ini memang berbahan sifon yang agak ringan, tapi sama sekali tidak transparan karena aku memakai tanktop di dalamnya. Aku membaca ulang pesan Arga berulang kali, dan sedetik kemudian, tawa renyahku pecah di dalam kamar yang sepi.
"Astaga, Arga... kamu lagi protes karena bajuku, atau kamu sebenarnya lagi merhatiin aku?" ujarku gemas, memeluk ponselku dengan perasaan yang campur aduk antara geli dan senang.
Kalimat ketusnya sama sekali tidak terasa dingin lagi di bagiku. Di balik larangannya untuk tidak mengirim foto, dia ternyata memperhatikan detail penampilanku. Retakan di dinding es itu kini tidak lagi samar, melainkan mulai terbuka sedikit demi sedikit karena kehangatan yang terus kukirimkan.
Aku tertawa pelan menatar layar ponsel. Rasa minder yang sempat menyelinap kini berubah menjadi rasa gemas yang membuncah. Alih-alih takut dengan teguran ketusnya, aku justru melihat celah untuk menggoda pria gunung es itu. Jariku dengan lincah mengetik balasan kembali.
“Ciyee... Arga merhatiin baju aku ya. Detail banget lagi analisisnya, hehe. Lagian di dalam blus ini aku pakai tanktop kok, jadi gak bakal tembus pandang. Tapi makasih ya udah perhatian sama kenyamanan aku di kampus.”
Pesan terkirim.
Aku sengaja menunggu sekitar dua menit. Sesuai dugaan, statusnya langsung beralih menjadi terbaca, tetapi tidak ada tanda dia akan mengetik jawaban. Pria itu pasti sedang salah tingkah atau jengkel karena taktik dinginnya tidak membuatku ciut.
"Oke, kalau kamu maunya aku pakai baju yang lebih tertutup, aku turuti," gumamku riang.
Aku langsung membuka lemari pakaian, membongkar beberapa gantungan baju, dan memilih sebuah kemeja katun bergaris biru langit yang longgar namun tetap terlihat modis dan sangat rapi.
Aku buru-buru mengganti blus salemku dengan kameja katun dan kembali mematut didepan cermin, lalu merapikan kerahnya. Aku mengambil ponsel, mengambil posisi di dekat jendela kamar yang mendapat semburat cahaya pagi yang hangat, lalu mengambil foto baru. Kali ini dengan pose dua jari membentuk tanda peace di dekat pipi.
Cekrek.
Tanpa membuang waktu, aku langsung mengirimkan foto terbaru itu ke ruang obrolanku bersama Arga kembali, menyusul pesan godaanku yang diabaikan tadi.
[Mengirimkan Foto]
“Nah, kalau yang ini gimana, Tuan Protokol Kesehatan? Udah ganti kemeja katun tebal, rapi, kancingnya sampai atas, dan dijamin gak bakal bikin masuk angin. Udah lulus sensor belum?”
Aku menahan napas, menatap layar ponsel dengan senyuman yang tertahan di bibir.
Tiga menit kemudian, ponselku bergetar. Sebuah balasan pendek masuk.
“Ya. Begitu lebih baik.”
"Singkat banget sih. Tapi seenggaknya disetujui," ujarku sambil terkekeh geli, merasa menang telak pagi ini. Belum sempat aku membalas, sebuah pesan baru kembali menyusul di bawahnya.
“Gue udah mau masuk kelas. Jangan chat lagi sampai jam istirahat!.”
Aku langsung membekap mulutku agar tidak berteriak kegirangan di dalam kamar. Kalimatnya memang terdengar seperti sebuah larangan, tetapi jika dibaca dengan teliti, Arga baru saja memberikan izin tersirat untuk menghubunginya lagi saat jam istirahat siang nanti. Dia memberikan batasan waktu, yang artinya dia mulai membuka ruang bagi kehadiranku di sela-sela harinya yang sibuk.
“Siap dimengerti, Kapten. Selamat belajar ya, semangat selalu!” balasku dipenghujung pesan, sebelum memasukkan ponsel ke dalam tas dengan perasaan yang melambung tinggi.
Pagi ini, langkahku terasa begitu ringan, aku berjalan dengan riang menuju kampus. Perlahan tapi pasti, strategi santai yang diajarkan Danu dan sedikit keberanianku untuk mencairkan suasana mulai meruntuhkan dinding kaku di sekeliling Arga Wijaya.
...----------------...
Setibanya di kampus, aku langsung mencari keberadaan Rara, yang akhirnya aku menemukannya sedang duduk di bangku panjang koridor dekat ruang dosen, sibuk membolak-balik lembar tugas makalah yang harus dikumpulkan siang ini.
Wajahnya tampak serius, namun hal itu tidak menyurutkan niatku untuk mengganggunya. Aku sengaja melangkah dengan sedikit berlagak, memamerkan kemeja katun biru langit yang baru kuganti pagi tadi, lalu duduk di sampingnya dengan senyuman yang merekah lebar.
"Pagi, Rara sayang!" sapaku dengan nada suara yang sengaja diceria-ceriakan.
Rara mendongak. Dia menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lalu dahinya berkerut dalam saat menyadari penampilanku.
"Pagi... Eh, bentar. Perasaan tadi pas lo telepon, bilangnya mau pakai blus salem yang baru kita beli minggu lalu. Kok sekarang malah ganti kemeja gombrong gini?"
Aku langsung menyengir lebar, mendekatkan dudukku sampai bahu kami bersentuhan. "Nah. Justru itu poin utamanya, Ra. Tebak kenapa aku ganti baju?"
Rara menghembuskan napas panjang, menaruh makalah di atas pangkuannya lalu menatapku dengan tatapan malas.
"Gak usah pakai tebak-tebakan deh, Via. Muka lo udah kelihatan kayak habis menang undian satu miliar. Pasti ada urusannya sama si gunung es itu, kan?"
"Seratus buat Rara!" seru ku girang.
Aku buru-buru merogoh tas, mengeluarkan ponsel, dan membuka riwayat obrolanku dengan Arga sejak subuh tadi. "Lihat nih. Tadi pagi kan aku chat dia selamat pagi, terus aku iseng kirim pap foto pakai blus salem itu. Eh, kamu tahu dia komentar apa?"
Rara merebut ponsel dari tanganku dengan malas, lalu matanya mulai membaca baris-baris balon teks di layar. Detik berikutnya, alisnya terangkat tinggi.
"Baju lu terlalu tipis. Kampus lu gak ada AC-nya apa?". Rara membaca ulang kalimat itu dengan suara berbisik, lalu menatapku tidak percaya.
"Astaga, Via. Si Arga beneran nulis gini?"
"Iya, Rara. Dia protes gara-gara baju aku tipis!" ujarku heboh sambil menepuk-nepuk lututku sendiri.
"Terus setelah itu aku insiatif godain dia. Terus aku ganti baju pakai kemeja ini, lalu ku kirim foto lagi buat mastiin udah lulus sensor apa belum, dan dia bales. 'Ya. Itu lebih baik."
Rara menyerahkan kembali ponselku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ekspresi wajahnya campur aduk antara heran dan tidak habis pikir.
"Sumpah ya, gue bingung sama jalan pikiran itu cowok. Ketus banget, tapi detail banget merhatiin pakaian orang. Dia itu emang seksi ketertiban kampus, kali ya?"
"Tapi itu artinya dia merhatiin aku, kan, Ra?" tanyaku penuh harap, menopang dagu dengan kedua tangan sambil menatap Rara.
"Dia gak langsung suruh aku kembali menghapus fotoku atau memblokir nomorku. Dia malah ngasih saran soal baju, itu artinya dia mulai tertarik kan."
"Iya, gue akui ini kemajuan, tapi bukan berarti dia mulai tertarik sama Lo ya" Rara bersandar pada sandaran bangku, melipat kedua tangannya di dada.
"Tapi tunggu dulu... ini ada pesan paling bawah apa maksudnya? 'Jangan chat lagi sampai jam istirahat.' Dia beneran ngatur jadwal hidup lo sekarang?"
"Ih, lo jangan lihat dari sisi negatifnya dong," belaku sambil tersenyum misterius.
"Kalau dibaca pakai perasaan, itu artinya dia ngasih tahu kalau aku boleh nge-chat dia lagi pas jam istirahat siang nanti. Dia cuma gak mau keganggu pas jam kelas pagi. Iya, kan?"
Rara menepuk jidatnya sendiri agak keras, membuat beberapa mahasiswa yang lewat sempat menengok ke arah kami.
"Terserah lo deh, Via. Tingkat optimisme lo ini emang udah di luar batas kemampuan manusia normal. Orang dilarang malah dikira dikasih izin."
"Tapi logikanya emang gitu, Rara sayang," ujarku sambil tertawa renyah, memasukkan kembali ponselku ke dalam tas dengan perasaan puas.
"Saran dari Danu kemarin bener-bener manjur. Pas aku bawa obrolannya jadi santai dan gak menuntut apa-apa, Arga malah jadi lebih responsif meskipun bahasanya tetap irit."
Rara terdiam sejenak, lalu ekspresi wajahnya melembut. Dia menepuk pundak kemejaku dengan pelan.
"Ya sudah, kalau kemeja ini emang pembawa keberuntungan, dipakai terus aja sampai besok. Tapi inget ya, nanti pas jam istirahat siang, chat-nya harus tetep santai. Jangan mentang-mentang udah dikasih lampu hijau, lo langsung nge-gas nanya ini itu, nanya dia udah punya pacar apa belum, dan lainnya. Paham?"
"Paham, Ibu Negara. Dijamin aman terkendali!" jawabku dengan pose hormat yang mantap.
Kami berdua akhirnya tertawa bersama di koridor kampus yang mulai ramai. Hari kelima dari masa taruhan satu bulan ini terasa berjalan dengan sangat menjanjikan, dan aku sudah tidak sabar menunggu jarum jam bergerak menuju angka dua belas siang untuk menyapa sang gunung es ku kembali.