Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pancake Manis Di Rumah MAnis
Sabtu pagi yang cerah menyambut kedatangan Kirana di depan gerbang megah kediaman keluarga Keenan. Rumah dua lantai bergaya modern-minimalis dengan halaman luas berumput hijau rapi itu tampak begitu hidup. Sinar matahari pagi memantul di kaca-kaca besarnya, memancarkan aura yang sangat hangat, jauh dari kesan dingin seperti rumah Kirana sendiri.
Begitu Kirana turun dari taksi online, gerbang besi otomatis terbuka lebar. Di balik pagar, Keenan sudah berdiri menunggunya bersama seorang gadis remaja berambut dikuncir dua. Keenan yang hanya memakai kaus hitam santai dan celana jins langsung memamerkan cengiran bandel andalannya begitu melihat Kirana mendekat sambil mendekap tas ransel tebal.
"Selamat datang di markas besar, Tuan Putri!" seru Keenan jail, membungkuk hormat dengan gaya jenaka yang seketika meruntuhkan seluruh rasa gugup di dada Kirana.
"Kak Kirana ya? Aslinya cantik banget, pantesan Kak Keenan kemarin-kemarin kayak anak ayam kehilangan induk pas Kak Kirana diemin di sekolah!" celetuk gadis kecil di sebelahnya, yang ternyata adalah Keisha, adik perempuan Keenan. Tanpa canggung, Keisha langsung memeluk lengan Kirana dengan sangat ramah.
"Heh, cilok aci, jangan buka kartu abang lo di depan tamu!" omel Keenan sambil menjitak pelan kepala adiknya, memicu aksi kejar-kejaran kecil yang membuat lobi rumah mewah itu langsung dipenuhi keriuhan massal. Kirana tertawa lepas melihatnya. Sisi diamnya yang biasa terkunci rapat di rumah seketika menguap, digantikan kenyamanan yang luar biasa.
Kirana dibimbing masuk ke ruang tengah yang luas tanpa sekat kaku. Dari arah dapur bersih, aroma wangi mentega lumer dan adonan manis yang dipanggang langsung menyeruak, menerbitkan selera makan.
"Wah, ini Kirana ya? Akhirnya kamu main ke sini, Cantik," sapa Ibu dengan senyuman cerah yang hangat, berjalan menghampiri mereka sambil mengelap tangannya dengan celemek bermotif bunga. Alih-alih bersikap formal, Ibu langsung memberikan pelukan hangat yang membuat Kirana tertegun haru. Sentuhan keibuan yang santai ini terasa sangat asing namun sangat dia rindukan.
"Ibu dari subuh udah heboh nyari resep pancake paling enak se-Indonesia, Kak. Soalnya Kak Keenan bilang mau bawa pulang juara umum sekolah," adu Keisha jahil, yang langsung dihadiahi pelototan gemas dari Keenan.
"Ibu jangan dengerin Keisha, dia cuma mau minta jatah pancake lebih itu," sahut Keenan salah tingkah, membuat Ibu tertawa renyah.
Tak lama, Kak Arkan turun dengan setelan kasual rumahannya yang rapi, disusul oleh Ayah yang baru saja melipat koran paginya. Tidak ada suasana kaku atau interogasi berat di meja makan panjang itu. Ayah menyapa Kirana dengan sangat ramah, menepuk bahu Keenan bangga karena putranya bisa membawa partner bimbingan belajar yang berprestasi. Kak Arkan bahkan sibuk meledek Keenan yang mendadak bertingkah sok rapi dan sopan di depan Kirana.
Mereka semua duduk melingkar di meja pantry, menikmati tumpukan pancake madu hangat buatan Ibu yang rasanya sangat lembut. Di sela-sela suapan, keriuhan obrolan keluarga yang saling melempar candaan tanpa rasa takut salah membuat hati Kirana menghangat. Ini adalah jenis keriuhan yang jujur dan penuh kasih sayang—sebuah dunia yang selama ini tidak pernah Kirana dapatkan di bawah bayang-bayang ekspektasi tinggi di rumahnya sendiri.
Setelah sesi sarapan yang menyenangkan selesai, Keenan mengajak Kirana naik ke balkon lantai dua yang menghadap langsung ke area taman belakang untuk memulai bimbingan kelompok pertama mereka. Di atas meja kayu bulat, Kirana mulai membuka modul Fisika mekanik terbitan universitas.
"Gimana pancake buatan Ibu? Enak kan?" tanya Keenan, duduk di sebelah Kirana sambil menyandarkan punggungnya santai, menatap Kirana dengan binar mata yang melunak hangat.
"Enak banget, Keenan. Manisnya pas," jawab Kirana jujur, matanya menatap pemandangan taman bawah sebelum beralih menatap sepasang mata tajam di sebelahnya. "Keluarga lo... seru banget ya. Hangat banget."
Keenan tersenyum tipis, menyugar rambutnya yang berantakan terkena angin pagi. "Berisik lebih tepatnya, Kir. Tapi ya gitu deh, Ayah sama Ibu selalu ngebebasin kita buat jadi diri sendiri, yang penting bertanggung jawab. Makanya gue bersyukur banget." Keenan menopang dagunya dengan satu tangan, memajukan wajahnya sedikit. "Gue sengaja ajak lo ke sini, biar lo tahu kalau di dunia luar sana, keriuhan yang tulus itu nyata. Dan lo punya hak penuh buat ngerasain itu setiap hari."
Kirana merasakan dadanya berdesir hebat mendengar kalimat Keenan. Di bawah siraman angin sabtu pagi dan aroma pancake yang masih tersisa, sekat pertahanan hatinya kembali runtuh satu tingkat lebih dalam. Keriuhan yang dibawa Keenan ke hidup putih abu-abunya hari ini bukan lagi sekadar pelarian dari sunyinya rumah, melainkan sebuah ruang aman baru tempat dia bisa bernapas dengan sangat lega.