NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Hari Kiamat / Zombie
Popularitas:480
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?

Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.

Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Di dalam laboratorium yang hancur berantakan, Dr. Helena bertindak cepat. Dengan sigap, ia mengangkat tubuh Fiora yang tak sadarkan diri ke atas meja operasi darurat yang masih berfungsi.

"Leo, bantu Tante ambil kasa steril dan cairan infus di lemari sebelah sana! Cepat!" seru Dr. Helena seraya memotong pakaian Fiora untuk menghentikan pendarahan.

Leo menyeka air matanya, mengangguk cepat, lalu berlari mematuhi perintah dengan jemari kecilnya yang bergetar. Dr. Helena memasang jalur infus dan menyuntikkan obat penghentian pendarahan serta penstabil tekanan darah. Wajah Fiora pucat pasi, namun denyut nadinya perlahan mulai stabil di tengah rintihan kesakitan yang tak sadar keluar dari bibirnya.

"Tahan, Fiora... kamu harus bertahan," bisik Dr. Helena fokus menyelamatkan nyawa wanita itu dari komplikasi gugurnya kandungan.

---

Sementara itu, di lantai atas menuju *helipad*, Hayden melangkah bagai iblis pencabut nyawa. Derap langkah boots taktisnya beradu keras dengan anak tangga besi. Setiap kali prajurit Aegis mencoba menahan posisinya di lorong atas, Hayden menumbangkan mereka tanpa ampun dengan tembakan presisi di kepala.

Pintu palka menuju *helipad* terbuka lebar. Sinar matahari siang menyengat mata saat Hayden melompat keluar ke atap kubah Oase.

Baling-baling helikopter tempur Aegis sudah berputar kencang, menyelekupkan angin deras dan debu di sekeliling area landasan. Komandan regu Aegis—seorang pria berparut luka di wajah dengan seragam serba hitam—sedang bersiap melompat masuk ke dalam kabin helikopter seraya menggenggam koper baja berisi sampel darah cadangan.

"Aegis!" raung Hayden melintasi suara deru mesin.

Komandan Aegis menoleh terkejut, refleks mengarahkan pistolnya. Namun, Hayden lebih cepat.

*BANG! BANG!*

Tembakan Hayden menghancurkan pergelangan tangan sang komandan, membuat pistol dan koper baja itu terlempar ke lantai *helipad*. Sang komandan menjerit kesakitan, memegangi tangannya yang hancur saat Hayden berjalan mendekat dengan senapan terarah tepat ke dahinya.

"Siapa yang memberi perintah penyerangan ini?!" bentak Hayden dingin, matanya menyala oleh amarah murni atas tragedi yang menimpa Fiora dan calon anak mereka.

Sang komandan terkekeh sinis di tengah rasa sakitnya, menatap Hayden dengan tatapan penuh kebencian. "Kamu... terlambat, Mantan Prajurit. Markas Pusat Aegis... sudah tahu koordinat tempat ini..."

*JASSH!*

Tanpa ragu, Hayden menarik pemicu, menuntaskan riwayat sang komandan di tempat. Helikopter yang kehilangan pengemudinya mencoba lepas landas secara otomatis, namun Hayden menyambar koper baja di lantai dan memberondong tangki bahan bakar helikopter tersebut hingga meledak hebat di udara, menciptakan bola api raksasa di atas kubah Oase.

Ledakan helikopter di atas *helipad* menyemburkan hujan puing dan api yang mengepul pekat ke langit siang. Hayden tak membuang waktu sedetik pun. Ia menyambar koper baja berisi sampel darah cadangan di lantai, lalu melangkah lebar menuruni tangga darurat menuju laboratorium bawah tanah.

Saat pintu palka bawah terbuka, bau antiseptik dan amis darah menyengat hidungnya. Dr. Helena baru saja melepas sarung tangan bedahnya yang bersimbah darah, sementara Leo duduk di samping meja operasi, memegang erat jemari Fiora yang masih terpejam lemah.

"Gimana kondisinya?" tanya Hayden, suaranya bergetar berat seraya mendekati meja operasi.

Dr. Helena menghela napas panjang, memasang ekspresi lega namun duka yang tak bisa disembunyikan. "Pendarahannya berhasil dihentikan dan tekanan darahnya mulai stabil. Fiora selamat... tapi janinnya tidak bisa dipertahankan."

Hayden menatap wajah Fiora yang pucat pasi. Jemarinya yang kasar mengusap lembut kening istrinya yang basah oleh keringat dingin. Rasa bersalah dan duka menghantam dadanya, namun ia harus tetap berdiri kokoh sebagai pelindung mereka.

"Aegis sudah tahu koordinat fasilitas ini," ujar Hayden dingin seraya meletakkan koper baja di atas meja medis. "Komandan mereka sempat mengirim sinyal sebelum mati. Pasukan utama mereka pasti sedang bergerak ke sini."

Dr. Helena menoleh kaget, lalu menatap koper baja yang dibawa Hayden. "Tapi sampel darah cadangan dan data riset masih utuh di tangan kita, kan?"

"Masih," jawab Hayden mantap. "Oase bukan lagi tempat yang aman. Begitu Fiora sadar dan sanggup bergerak, kita harus langsung evakuasi dari sini."

Tiba-tiba, jemari Fiora bergerak pelan. Matanya terbuka perlahan, menyipit menahan rasa nyeri di perutnya. Pandangannya yang kabur perlahan fokus menatap wajah Hayden yang berlutut di sampingnya.

"Hayden..." bisik Fiora lirih, air mata menetes dari sudut matanya saat ingatan akan ledakan itu kembali. "...anak kita..."

Hayden menggenggam erat tangan Fiora, membungkuk dan mencium keningnya hangat. "Aku di sini, Fiora. Kita masih punya Leo, dan kita bakal selesaikan semua ini sampai akhir."

Air mata Fiora pecah seketika. Isakan yang tadinya tertahan berubah menjadi jeritan pilu yang memecah keheningan laboratorium hancur itu. Ia mencengkeram kain seprai meja operasi hingga jemarinya memutih, meratapi kenyataan pahit bahwa calon buah hati mereka—harapan baru yang baru saja tumbuh beberapa bulan—telah renggut secara paksa dari rahimnya.

"Aku... aku gagal menjaga dia, Hayden..." raung Fiora di antara napasnya yang sesak, suaranya parau dan terputus-putus. "Semua harapan kita... semua yang kita perjuangkan..."

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat dalam duka yang teramat dalam. Rasa sakit secara fisik akibat trauma operasi tak ada apa-apanya dibandingkan rasa hancur di dadanya. Dunia yang sudah runtuh di luar sana kini terasa makin gelap gulita bagi Fiora.

Leo mendekat perlahan dengan mata berkaca-kaca, memeluk lengan Fiora pelan. "Tante Fiora... jangan menangis..." bisiknya polos, yang justru makin membuat dada Fiora berdenyut nyeri.

Hayden tidak mengeluar kata-kata penghiburan yang kosong. Ia merengkuh tubuh Fiora ke dalam pelukannya, membiarkan istrinya menangis dan meluahkan seluruh kepedihan di dadanya. Dahi Hayden menempel di pelipis Fiora, matanya sendiri berkaca-kaca menahan gemuruh emosi yang sama hancurnya.

Dr. Helena menunduk dalam-dalam, mengusap air matanya sendiri di balik meja medis. Ia tahu, di balik misi menyelamatkan peradaban manusia, ada harga emosional yang teramat mahal yang harus dibayar oleh dua orang di hadapannya ini.

"Tangiskan semuanya, Fiora," bisik Hayden sangat pelan di telinga Fiora, suaranya dalam dan bergetar. "Tapi jangan pernah bilang kamu gagal. Kamu bertahan, kamu hidup. Selama kita masih bernapas, perjuangan ini belum selesai."

1
Coco
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!