Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18:KECAMAN DI RUMAH GUNAWAN
Kekacauan di foyer hotel bintang lima itu berbuntut panjang. Belum sempat malam berganti pagi, rekaman video pertengkaran sengit, aksi jambak rambut, hingga baku hantam di karpet merah lelang amal telah menyebar luas bagaikan api menyambar semak kering. Tagar mengenai skandal keluarga Gunawan merajai papan atas tren media sosial, membuat saham perusahaan mereka terkoreksi tajam dan menjadi bahan gunjingan panas di kalangan para pengusaha elit.
Keesokan harinya, ruang tamu utama kediaman Gunawan berubah menjadi medan persidangan yang mencekam.
Ayah Azka—Hendra Gunawan—duduk di kursi utama dengan wajah memerah padam, menggebrak meja kayu jati di depannya hingga cangkir porselen bersetangkai emas bergetar nyaring.
BAM!
"KURANG AJAR! BENAR-BENAR TIDAK TAHU MALU!" bentak Ayah Azka dengan suara menggelegar, membanting surat kabar pagi dan tablet yang menampilkan berita utama berantai tentang keluarga mereka. "Lihat ini! Wajah kalian berempat terpampang jelas di media! Saham kita anjlok, kolega bisnis membatalkan pertemuan! Mau ditaruh di mana muka keluarga ini, hah?!"
Tante Mia berdiri di samping suaminya sambil mengelus dada, matanya menatap Aira dengan kilatan kebencian yang teramat dalam.
"Ini semua gara-gara kamu, Aira!" tunjuk Tante Mia dengan telunjuk gemetar. "Kamu itu menantu tidak tahu diuntung! Tidak tahu diri! Sudah dibolehkan tinggal di rumah mewah ini, bukannya menjaga nama baik suami, malah bertingkah seperti preman pasar di acara lelang! Kamu harus bertanggung jawab atas semua kerugian miliaran rupiah ini!"
Di sudut sofa, Rani menangis tersedu-sedu dalam dekapan erat Azka. Gaun tidurnya sedikit longgar, wajahnya dipoles sangat pucat, dan sesekali ia merintih memegangi kepalanya yang diklaim "masih trauma" akibat jambakan Aira semalam.
"Sumpah, Om... Tante... Rani tidak berniat bikin keributan," isak Rani dengan suara memelas yang dibuat-buat, kelopak matanya basah oleh air mata buaya. "Rani cuma mau menyapa Aira baik-baik... tapi Aira tiba-tiba emosi dan menyerang Rani di depan orang banyak... Hati Rani sakit sekali..."
"Sudah, Sayang... jangan menangis lagi, ada aku di sini," bisik Azka mesra, mengusap punggung Rani di hadapan kedua orang tuanya tanpa canggung sedikit pun.
Melihat pemandangan itu, Tante Mia semakin menjadi-jadi. Ia menggenggam tangan Rani dengan penuh kasih sayang. "Lihat itu! Cuma Rani yang punya kelembutan dan keanggunan! Cuma Rani yang pantas jadi menantu di rumah ini dan mendampingi Azka! Bukan perempuan kasar dan membawa sial seperti kamu, Aira!"
Mendapat kecaman bertubi-tubi, Aira yang berdiri di tengah ruangan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau gentar. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyum tipis nan tajam yang amat meremehkan.
"Oh, ya?" sahut Aira dengan intonasi santai namun menusuk. "Kalau memang perempuan murahan yang suka menangis di pelukan suami orang itu yang paling pantas jadi menantu kalian... kenapa bukan dia saja yang kalian nikahkan dengan Azka sejak awal? Kenapa malah repot-repot memaksaku naik ke pelaminan?"
Pernyataan menohok itu membuat Tante Mia dan Ayah Azka tersedak kata-kata mereka sendiri.
Sebelum kekakuan itu mencair, sebuah langkah kaki tegap menggema dari arah pintu koridor. Paman Rizky melangkah masuk dengan balutan kemeja hitam yang lengannya digulung kaku. Tatapan matanya yang sangat dingin menyapu seisi ruangan, sebelum akhirnya berhenti tepat di samping Aira.
"Pertanyaan yang sangat bagus, Aira," potong Paman Rizky dengan suara berat yang seketika membungkam keheningan. Pria itu menyunggingkan senyum sinis ke arah Azka dan kedua orang tuanya. "Lalu kenapa malah Aira yang kalian nikahkan dengan Azka, jika Rani yang menurut kalian begitu cocok dan sempurna untuk putra kesayangan kalian ini, hm?"
Kehadiran Paman Rizky yang terang-terangan membela Aira membuat Ayah Azka makin terbakar amarah. Kehormatan dan otoritasnya sebagai kepala rumah tangga cabang merasa dilangkahi.
"Rizky! Cukup!" bentak Ayah Azka, berdiri dan menunjuk adik sepupunya itu dengan telanjang muka. "Jangan selalu merasa paling berkuasa di rumah ini! Ini adalah urusan internal rumah tangga anakku! Kamu tidak berhak ikut campur atau mendikte apa pun di sini, meskipun kamu calon tunggal pewaris utama klan Gunawan sekalipun!"
Ayah Azka maju beberapa langkah, menatap Rizky dengan pandangan menantang dan tawa mengejek yang amat sumbang.
"Daripada kamu sibuk mengurusi istri keponakanmu sendiri dan selalu memasang badan untuknya... lebih baik kamu cepat-cepat cari istri untuk dirimu sendiri!" seru Ayah Azka dengan nada menghina yang frontal. "Atau jangan-jangan... ucapan rumor di luar sana itu benar? Jangan-jangan kamu memang tidak suka perempuan, ya? Hahaha!"
Gelak tawa mengejek pecah dari mulut Ayah Azka dan Tante Mia, berusaha mempermalukan Rizky di depan semua orang. Azka pun menyunggingkan senyum culas, merasa angin segar berembus ke arah mereka.
Namun, Paman Rizky sama sekali tidak tersinggung. Pria itu justru terkekeh rendah—sebuah tawa gelap yang membuat bulu kuduk ruangan itu meremang hebat.
Rizky melangkah mendekati Aira, mengikis jarak di antara mereka, lalu secara terang-terangan meletakkan tangan besarnya di pinggang mulus Aira di hadapan mata Azka dan kedua orang tuanya.
"Aku tidak suka perempuan lain..." bisik Paman Rizky dengan nada dalam yang mematikan, sembari menatap lurus ke dalam manik mata Ayah Azka yang mendadak membeku. "Aku hanya menyukai wanita yang memiliki keberanian... seperti Aira."