Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab10— Sisa kebakaran
Pagi masih terlalu buta ketika Shen Yueli dan Bai Ting menengok kembali bekas kamar yang terbakar. Kamar itu tidak sepenuhnya rusak; jelaga di sisi barat masih pekat, sementara sisi timur telah hangus menjadi arang. Asap tipis masih mengepul pelan dari reruntuhan kayu.
Shen Yueli mengamati dengan saksama, melangkah perlahan ke sisi timur. Ia mendapati sebuah kerangka lentera logam yang terjatuh di atas tanah, dikelilingi sedikit sisa kertas yang belum sepenuhnya menjadi abu.
"Aneh," gumamnya lirih.
"Aneh bagaimana, Nona?"
"Jika lentera ini menjadi titik awal kebakaran akibat tersambar angin musim, kertasnya seharusnya habis tak bersisa tersapu api. Tapi..." Ia menunjuk ke arah rangka besi tersebut. "Kerangka logam ini utuh, dan kertas di sekitarnya justru tersisa di luar jalur sambaran api utama."
Bai Ting mengernyitkan dahinya. "Lalu, bagaimana sebenarnya kebakaran ini bisa terjadi?"
Shen Yueli mengedarkan pandangan ke sekeliling, meneliti pola abu pada dinding dan lantai. "Bai Ting, berapa banyak lampu minyak atau lentera yang biasanya ditempatkan di ruangan ini?"
"Sekitar tiga lentera Nona," jawab Bai Ting.
Mata Shen Yueli menelusur sekeliling. Lentera-lentera nyatanya tergeletak agak jauh dan... hidungnya mulai mencium aroma yang ia kenali. Aroma itu menyengat, pekat, dan meninggalkan jejak belerang.
"Shiyou?" gumamnya.
Bai Ting langsung menoleh. "Apa, Nona?"
"Coba kau hirup pelan-pelan. Ini aroma shiyou."
Bai Ting mengendus udara pelan. "Tapi Nona, shiyou sangat sulit didapatkan. Pedagang harus membawanya jauh-jauh dari perbatasan negeri barat."
Mata Shen Yueli menyipit tajam. "Mari ke dalam."
Ia melangkah masuk ke dalam kamar yang kini tampak gelap, dipenuhi arang hitam berdebu, dengan sisa-sisa asap tipis yang masih menyesakkan.
"Lihat." Shen Yueli menunjuk ke sudut ruangan.
Ia menunjuk pada kotak surat semalam. Ia sangat ingat, sebelum pergi, kotak itu berada di sisi barat. Namun, benda itu kini telah berpindah ke sisi timur—area yang paling parah terbakar.
"Apakah kau memindahkannya, Bai Ting?" tanyanya menyelidik.
Bai Ting menggelengkan kepala cepat. Seolah baru menyadari kejanggalan itu, ia membelalakkan mata ngeri. "Nona, kita meninggalkannya di sebelah sana..." Tangannya menunjuk ke area yang hanya terbakar sedikit. "Kenapa bisa bergeser ke sana?"
"Sepertinya, siapa pun pelakunya, ia panik dan sengaja memindahkannya agar surat-surat picisan ini musnah terbakar."
Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat dari luar.
"Kakak!"
Yueli menoleh. Xuer tampak berlari kecil mendekati pintu kamar yang hangus. "Ada apa, Xuer?"
"Ayah memanggil Kakak..." Suara gadis itu tersengal-sengal menahan napas. "Dan Pangeran Shue Hao sudah ada di paviliun utama."
Shen Yueli menganggukkan kepalanya. "Aku akan ke sana sebentar lagi."
"Apa yang Kakak lakukan?"
"Mencari bukti."
Shen Xuer tampak mengernyitkan dahinya. "Bukti apa, Kakak?"
"Tempatku dibakar untuk membakar surat."
Hal itu kian membuat Xuer mengernyit heran. Ia melangkah mendekat. "Kakak, tapi mereka bilang itu karena lampu lentera."
"Tapi apakah pemicunya dapat sedahsyat ini?"
Xuer tertegun sejenak, menatap serpihan arang dan kerangka lentera yang tergeletak di tanah dengan perasaan campur aduk antara cemas, ngeri, dan ragu.
"Tapi, Kakak... kata Paman penjaga, semuanya murni kecelakaan. Ia melihat lentera terjatuh dan membakar tirai sisi timur yang jendelanya kebetulan terbuka. Ditambah angin musim yang kencang, api jadi merembet begitu cepat," cicit Xuer, suaranya kian memelan mendapati tatapan tajam sang kakak.
"Kelalaian adalah alasan paling mudah untuk menutupi segala kejahatan yang dibungkus rapi," balas Yueli dingin. Ia merapikan lipatan hanfunya. "Sudahlah, Xuer. Jangan biarkan Pangeran Shue Hao menunggu terlalu lama di paviliun utama. Mari kita ke sana."
Xuer menggigit bibirnya, lalu menganggukkan kepala pelan, mengekor di belakang langkah Yueli. Sebelum benar-benar meninggalkan reruntuhan, Yueli menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Bai Ting.
"Bai Ting, bereskan apa pun yang tersisa. Selamatkan apa saja yang masih bisa diselamatkan."
"Baik, Nona," jawab Bai Ting patuh.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Xuer terus mengekor sambil mengerutkan dahi dalam-dalam, pikirannya berkecamuk.
"Ada apa, Xuer?" tanya Yueli tanpa menoleh, tetap berjalan anggun menyusuri koridor.
"Jika memang kebakaran itu disengaja... apa manfaatnya bagi mereka, Kak?"
"Agar surat-surat pangeran itu hangus tak bersisa."
"Jadi..." Xuer menggigit bibirnya semakin erat, "...berarti bukti yang Kakak miliki sudah hilang?"
Yueli mendadak menghentikan langkahnya tepat saat paviliun utama tinggal beberapa langkah lagi di depan mereka. Ia menoleh perlahan ke arah adiknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis penuh misteri. "Bisa dikatakan begitu di mata mereka."
"Tapi, Kakak... kalau buktinya sudah tidak ada, bagaimana cara kita membuktikannya di hadapan pangeran dan Ayah?"
Yueli mengangkat tangan kanannya, lalu mengetuk pelipisnya beberapa kali dengan ujung telunjuk. "Dengan akal, Xuer. Bukti fisik bisa menjadi abu, tetapi ingatan, logika, dan kebodohan pelaku yang meninggalkan jejak tidak akan pernah bisa dihapus oleh api."
Xuer terpaku mendengar jawaban itu, sementara Yueli kembali melangkah dengan dagu terangkat, siap menghadapi musuh yang telah menunggu di dalam sana.
Udara pagi yang masih dingin berembus di ambang pintu paviliun utama. Beberapa pengawal tampak berjajar tegap di kedua sisi pintu, sementara sosok yang mereka nantikan tengah duduk dengan santai berhadapan langsung dengan sang jenderal. Dibalut jubah putih bersih tanpa noda, tangan bangsawan itu memegang cangkir teh yang masih mengepulkan asap tipis. Ia mengangguk pelan sambil melempar senyum penuh muslihat ke arah Shen Yueli.
"Ah, Nona Shen Yueli," sapanya ramah.
Yueli melangkah mantap dua langkah lebih dekat, lalu membungkuk anggun memberi salam hormat kepada sang pangeran mahkota dan ayahnya.
"Anda datang terlalu pagi, Yang Mulia," ujar Yueli tenang.
Pria itu justru terkekeh pelan, menyesap tehnya sejenak. "Aku dengar kediamanmu mengalami musibah kebakaran semalam. Syukurlah kau baik-baik saja."
Mata Shen Yueli menatap lurus tanpa gentar pada Shue Hao. "Tentu saja. Saya juga sangat bersyukur masih diberi keselamatan."
"Duduklah, Nona Pertama Shen," pangeran itu menunjuk kursi di hadapannya dengan gestur elegan. "Kita harus membahas insiden semalam, bukan?"
Shen Yueli memilih duduk di hadapan Shue Hao—bukan di sebelahnya—dengan postur tubuh yang tegak dan anggun. Senyumnya tetap tenang, sementara suara derit kursi kayunya terdengar menggema di dalam ruangan yang kian diselimuti keheningan mencekam. Di luar, suara burung berkicau samar terdengar dari pepohonan, berbanding terbalik dengan ketegangan di dalam paviliun. Xuer duduk dengan patuh di sebelah sang ayah, tatapannya menyiratkan kecemasan yang mendalam.
"Baiklah, apakah Yang Mulia membawa surat yang kita bicarakan semalam?" tanya Yueli langsung pada intinya.
"Tentu saja..." Shue Hao tersenyum penuh kemenangan, sama sekali tidak menyadari jebakan yang sedang merapat. Dengan gerakan tenang, ia merogoh lengan jubahnya dan mengeluarkan sebuah gulungan surat bertekstur perkamen dengan motif bunga-bunga halus. Aroma wewangian yang khas langsung tercium samar di udara.
Tanpa ragu, Shen Yueli menerima gulungan itu dengan senang hati. Ia membukanya perlahan di atas meja, menatap lembaran surat cinta bernada manis menjijikkan yang persis sama dengan yang ia baca semalam.
Pria bodoh ini benar-benar membawa umpan ke hadapan singa, batin Yueli sambil menyembunyikan senyum miring di balik debaran jantung yang mulai memompa strategi berikutnya.
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu