NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Keberadaan Feng Wu benar-benar mencuri perhatian semua pria muda. Di antara mereka, Pangeran Ketujuh tampak paling bahagia. Ia duduk tak jauh dari sana, matanya tak lepas dari sosok Feng Wu. Hatinya berbunga-bunga . Akhirnya ia bisa melihat gadis itu lagi, bukan dalam bayang-bayang.

Selir Yu menatap Feng Wu dengan tatapan penuh kebencian dan iri hati. Semakin ia melihat wajah gadis itu, semakin ia merasa tersiksa karena Feng Wu begitu mirip dengan Wen Ning, wanita yang selalu ia iri dan benci seumur hidupnya.

"Mengapa gadis sialan itu masih hidup? Padahal aku sudah menyiksa bahkan meracuninya" Batin Selir Yu, tangannya mengepal erat. "Kenapa dia harus hidup dan bersinar begitu terang?! Seharusnya dia binasa di tempat terbuang itu!"

Di tengah-tengah acara, ketika suasana sedang hangat, tiba-tiba pengawal istana berseru.

"Yang Mulia Pangeran Ketiga tiba!"

Pintu utama terbuka lebar. Seorang pemuda berjalan masuk dengan langkah tegap, tenang, namun memancarkan aura yang membuat seluruh ruangan seketika hening. Ia mengenakan jubah hitam yang sederhana namun berwibawa, wajahnya tampan namun dingin bak patung batu. Matanya tajam, menatap lurus ke depan seakan tak ada satu pun yang berani menatapnya balik.

Ia berjalan mendekati Selir Agung, lalu berlutut dengan hormat. "Selamat ulang tahun, Ibunda. Maafkan putra Anda yang datang terlambat, urusan di Xujiang baru saja selesai." Ia menyodorkan kotak hadiah. "Ini hadiah khusus untuk Ibunda."

Selir Agung tersenyum bahagia, matanya berkaca-kaca. "Kau pulang dengan selamat... itu sudah menjadi hadiah terindah bagi Ibu. Bangkitlah, anakku."

Pangeran Ketiga berdiri. Tatapannya menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti pada satu sosok.

Feng Wu yang sejak tadi diam menonton, tiba-tiba tersedak.

Ia menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya memerah karena kaget dan terkejut luar biasa. Matanya membelalak tak percaya menatap sosok di hadapannya.

"Pria itu... pria yang aku selamatkan di menara tua malam itu... jadi dia seorang pangeran? semoga saja dia tidak mengenaliku" Batin Feng Wu.

Feng Wu merasa kakinya melemas. Ia tak pernah menyangka bahwa pria misterius yang ia tolong diam-diam, yang ia tinggalkan dua botol obat dan pergi tanpa memberi tahu namanya ternyata adalah Pangeran Ketiga, putra kedua Selir Agung, sosok yang ditakuti seluruh ibukota sebagai Dewa Kematian!

Pangeran Ketiga juga tertekan sesaat. Tatapannya yang tadinya dingin dan tajam, perlahan berubah. Matanya melebar sedikit, ia mengenali wajah itu, matanya bahkan tatapannya. Gadis yang menyelamatkan nyawanya di tengah malam tepat di menara tua.

Dunia seakan berhenti berputar di antara mereka berdua. Tak ada yang berani bersuara. Hanya detak jantung yang berpacu kencang, satu karena takut ketahuan, satu lagi karena akhirnya menemukan orang yang dicarinya.

Darah seakan berhenti mengalir sejenak di tubuh Feng Wu. Namun di detik berikutnya, ia segera menarik napas dalam-dalam, menekan rasa kaget itu hingga ke dasar hati. Ia tidak boleh panik. Ia tidak boleh terlihat lemah atau terganggu di hadapan siapa pun apalagi di hadapan Pangeran Ketiga.

Dengan sigap, ia meminum sedikit teh di meja di sampingnya, menutupi keterkejutannya. Wajahnya perlahan kembali tenang, seakan tak ada yang baru saja terjadi. Matanya yang tadi membelalak tak percaya, kini kembali lembut namun tegas, dan ia sengaja mengalihkan pandangannya menjauh dari Pangeran Ketiga.

"Tenang, Feng Wu. Tidak perlu panik. Sekarang kau tahu siapa dia, semoga saja dia tidak mengingat wajah ini. Aku tidak ingin terlibat dengannya" gumam Feng Wu pelan.

Feng Wu menyadari satu hal penting yaitu Pangeran Ketiga juga pasti menyadari siapa dirinya. Dari tatapan matanya seakan mengenali sosok yang menyelamatkannya di menara tua itu. Dan karena itu, mulai detik ini, ia harus ekstra berhati-hati. Tidak ada lagi pertemuan rahasia di tengah malam, tidak ada lagi pemberian obat-obatan secara diam-diam. Segalanya harus tetap profesional dan terjaga.

"Oh sial, sepertinya dia mengenaliku. Mengapa tatapannya begitu menakutkan? Tidak, aku tidak boleh panik, anggap saja tidak pernah bertemu dengannya dan tidak akan pernah berurusan dengannya " Batin Feng Wu.

Dengan tekad itu, Feng Wu benar-benar tidak lagi menoleh ke arah Pangeran Ketiga. Ia menyapa para tamu yang mendekat, tersenyum sopan, dan berbicara dengan tenang seakan pria itu tidak ada di ruangan itu sama sekali.

Di dalam hatinya, Feng Wu menguatkan tekadnya sekali lagi.

"Aku tidak akan tertarik pada siapa pun. Tidak pada Pangeran Ketujuh yang memandangku dengan penuh harap, tidak pada bangsawan muda yang melirikku kagum, dan apalagi tidak pada Pangeran Ketiga yang penuh misteri dan kekuatan itu. Hatiku... saat ini masih terlalu penuh dengan luka masa lalu, dengan janji pada Ibu, dan dengan keinginan untuk bebas sepenuhnya" Batin Feng Wu.

Ia pernah melihat apa yang terjadi pada ibunya Wen Ning, wanita tercantik dan terhebat di zamannya, yang akhirnya terjebak dalam pernikahan yang menyakitkan, dibuang, dan meninggal dalam kesedihan.

Feng Wu bersumpah pada dirinya sendiri jika ia tidak akan pernah mengulang nasib ibunya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengikatnya, mengaturnya, atau mengambil kebebasannya. Kebebasan adalah hal paling berharga baginya dan itu tidak akan pernah ia tukar dengan apa pun, bahkan bukan dengan cinta sekalipun.

Sementara itu, Pangeran Ketiga berdiri di sisi lain ruangan. Matanya sesekali melirik ke arah Feng Wu namun ia tidak mendekat, tidak menyapa, tidak menegur. Ia mengerti jika gadis itu sengaja menghindarinya. Tatapan Feng Wu yang tadi sempat terkejut, kini berubah menjadi dingin dan menjaga jarak.

Namun justru sikap itu yang membuat rasa ingin tahu dan ketertarikan di hati Pangeran Ketiga semakin tumbuh.

"Gadis kecil? Dia menyelamatkanku... lalu pergi tanpa pamit. Dan sekarang... dia berdiri di sini, cantik, berani, dan seakan tak tersentuh oleh siapa pun" Batin Pangeran ketiga.

Namun ia tidak berbuat apa-apa. Ia hanya diam, mengamati dari kejauhan. Ia tahu memaksa gadis itu hanya akan membuatnya semakin menjauh. Dan ia akan bersabar. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang tidak takut padanya, tidak memujanya, dan justru... memperlakukannya seperti orang biasa.

1
jenny
jangan² pria selingkuhan selir Yu nih yang menebarkan racun atas usulan selir Yu
Dian Utami
feng Wu terlalu egois thor dan bertindak sesuka hati, giliran di perhatikan dia kesel
ummu syafanah
lanjut thor
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!