NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vvhiiiiivhy

Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Langkah Pertama di Atas Papan Catur

Malam di ibu kota kekaisaran selalu membawa udara dingin yang menusuk tulang, namun dinginnya malam itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dingin yang mendekam di dalam dada Elena. Berdiri di balkon kamarnya, Elena menatap hamparan lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Di kehidupan pertamanya, tempat ini adalah saksi bisu kebodohannya—tempat di mana ia merajut mimpi-mimpi naif tentang masa depan bersama Gavin. Masa depan yang berakhir dengan bau daging terbakar dan jeritan pilu putranya di sel bawah tanah yang gelap.

Elena meremas pagar pembatas balkon hingga jemarinya memutih. Tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi. Ini adalah masa di mana Gavin masih menjadi pangeran yang terabaikan, merangkak memohon bantuan pengaruh keluarga Elena demi bisa menapakkan kaki di tangga takhta. Dan di kehidupan ini, Elena bersumpah tidak akan membiarkan pria itu naik bahkan satu anak tangga pun tanpa membayar dengan darah.

"Nona Muda, kereta kuda yang Anda minta telah siap di gerbang samping."

Suara pelayan setianya, Mia, memecah keheningan. Elena berbalik, gaun beludru hitamnya menyapu lantai marmer dengan anggun. Rambut emasnya yang biasa dibiarkan terurai kini disanggul rapi, menyembunyikan kelembutan seorang gadis naif dan memunculkan garis rahangnya yang tegas dan penuh tekad.

"Apakah ada yang melihatmu saat menyiapkannya, Mia?" tanya Elena, suaranya datar namun sarat kewaspadaan.

"Tidak, Nona. Sesuai perintah Anda, saya menggunakan jalur rahasia dan memastikan tidak ada mata-mata kiriman Tuan Gavin atau adik tiri Anda yang menyadari pergerakan ini," jawab Mia seraya menundukkan kepala dalam-dalam. Kebanggaan dan kesetiaan terpancar dari sikap pelayan tua itu; dia bisa merasakan perubahan drastis pada diri majikannya sejak Elena terbangun dari demam hebat seminggu yang lalu. Elena yang sekarang bukan lagi domba penurut yang bisa disetir oleh kata-kata manis.

Elena mengangguk puas. "Bagus. Ayo pergi. Kita tidak boleh membuat sang tirani berdarah dingin menunggu terlalu lama."

Kereta kuda tanpa lambang keluarga bergerak membelah kegelapan malam, menuju ke pinggiran ibu kota kekaisaran, tempat di mana Istana Obsidian berdiri megah terisolasi dari kemegahan istana utama. Istana itu adalah kediaman Duke Killian—pria yang paling ditakuti di seluruh penjuru kekaisaran, seorang tirani yang konon tidak ragu memenggal kepala sekutunya sendiri jika mereka melakukan kesalahan sekecil apa pun.

Di kehidupan masa lalunya, Elena selalu gemetar ketakutan setiap kali nama Killian disebut. Gavin selalu menanamkan doktrin bahwa Killian adalah iblis yang harus dimusnahkan demi kedamaian kekaisaran. Namun kini, Elena tahu kebenarannya. Gavin memusuhi Killian bukan karena keadilan, melainkan karena Killian adalah satu-satunya dinding batu kokoh yang tidak bisa dihancurkan atau dimanipulasi oleh taktik licik Gavin.

Saat kereta berhenti di depan gerbang besi Istana Obsidian yang menjulang tinggi, jantung Elena berdegup kencang. Bukan karena takut, melainkan karena antisipasi. Ini adalah pertaruhan terbesarnya. Memasuki sarang serigala untuk menjinakkan sang pemimpin kawanan.

Pintu kereta terbuka, dan seorang ksatria dengan baju zirah hitam legam menyambut Elena tanpa sepatah kata pun. Ksatria itu hanya memberi isyarat agar Elena mengikutinya masuk ke dalam lorong-lorong istana yang minim pencahayaan, hanya diterangi oleh obor dinding yang berkedip-kedip ditiup angin malam.

Elena melangkah dengan mantap. Setiap ketukan tumit sepatunya di atas lantai batu menggema seperti lonceng kematian bagi musuh-musuhnya. Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah pintu kayu ek besar berselimut ukiran naga hitam. Ksatria itu membuka pintu, dan aroma maskulin yang bercampur dengan bau samar besi dan dupa langsung menyapa indra penciuman Elena.

Di ujung ruangan yang luas itu, duduk seorang pria di balik meja kerja mahoni yang besar. Duke Killian. Rambutnya hitam sepekat malam, dan mata merah marunnya yang tajam langsung mengunci pergerakan Elena begitu gadis itu melangkah masuk. Aura penindasan yang dipancarkan pria itu begitu pekat hingga membuat atmosfer ruangan terasa berat untuk bernapas.

"Elena dari Keluarga Grand Duke," suara Killian terdengar berat dan serak, bergema di ruangan yang sunyi. Pria itu meletakkan pena bulunya, bersandar pada kursi kebesarannya dengan tatapan menilai yang dingin. "Seorang Nona Muda yang terkenal lemah lembut dan naif, mendatangi kediamanku di tengah malam tanpa pengawalan resmi. Katakan, apa yang membuatmu begitu berani menyerahkan nyawamu ke tanganku?"

Elena tidak gentar. Ia berjalan hingga menyisakan jarak lima langkah dari meja Killian, lalu membungkuk memberi salam dengan etiket bangsawan yang sempurna—tanpa ada sedikit pun keraguan atau ketakutan dalam gerakannya. Ketika ia mendongak, matanya menatap langsung ke dalam manik mata merah darah sang Duke.

"Saya datang tidak untuk menyerahkan nyawa, Yang Mulia Duke," kata Elena, suaranya terdengar jernih dan stabil di ruangan yang dingin itu. "Saya datang untuk menawarkan sebuah aliansi yang tidak akan bisa Anda tolak."

Killian menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang mematikan. "Aliansi? Dari seorang gadis yang bahkan tidak bisa mengendalikan aset keluarganya sendiri dan membiarkan pangeran tak berdaya seperti Gavin memanfaatkannya? Apa yang bisa kau tawarkan padaku, Lady Elena?"

Elena tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyembunyikan racun mematikan. "Saya bisa menawarkan kepala Gavin di atas nampan perak, serta peta rahasia pergerakan pasukan pemberontak di perbatasan barat yang selama ini disembunyikan oleh faksi perdana menteri."

Mendengar kata 'perbatasan barat', tatapan mata Killian langsung menajam. Aura dingin di sekelilingnya meledak, menekan atmosfer ruangan hingga ke titik nadir. Pergerakan di perbatasan barat adalah rahasia militer tingkat tinggi yang bahkan mata-mata terbaik milik Duke sendiri masih kesulitan untuk menembusnya. Bagaimana bisa seorang Nona Muda yang terkurung di menara gading mengetahui hal itu?

"Dari mana kau mendapatkan informasi itu?" Killian berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang lambat namun berat mendekati Elena. Setiap langkah terasa seperti ancaman kematian. Pria itu berhenti tepat di depan Elena, menunduk menatap wajah gadis itu dengan jarak yang begitu dekat hingga Elena bisa merasakan embusan napas dinginnya. "Jika kau berbohong padaku demi menarik perhatian, aku tidak akan segan-segan mengumpankan tubuhmu pada serigala peliharaanku."

Elena tetap bergeming. Ia mempertahankan kontak mata dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran itu. "Masa depan, Yang Mulia. Anggap saja saya memimpikan masa depan yang sangat nyata, di mana kekaisaran ini runtuh karena pengkhianatan Gavin, dan Anda... gugur di medan perang karena racun yang disusupkan oleh orang dalam Anda sendiri."

Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Pernyataan Elena bukan hanya sekadar gertakan; itu adalah detail yang sangat spesifik mengenai ancaman internal yang saat ini memang sedang diselidiki oleh Killian secara rahasia.

Killian menatap Elena lekat-lekat, mencari celah kebohongan atau ketakutan di matanya. Namun, yang ia temukan hanyalah kegelapan yang mendalam—sebuah kebencian murni yang begitu pekat, seolah gadis di hadapannya ini telah melewati neraka terdalam dan kembali hidup hanya untuk membalas dendam. Kebencian seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa dipalsukan oleh seorang gadis naif.

"Menarik," bisik Killian, ketegangan di pundaknya sedikit mengendur, digantikan oleh rasa ketertarikan yang besar. "Kau berubah, Lady Elena. Desas-desus tentangmu di pergaulan kelas atas tampaknya sudah sangat usang."

"Manusia bisa berubah ketika mereka menyadari bahwa kebaikan hanya akan menuntun mereka pada pembantaian, Duke," jawab Elena dengan nada sedingin es.

Killian berbalik, berjalan kembali ke mejanya dan menuangkan dua cawan anggur merah. Ia memberikan salah satu cawan kepada Elena, yang diterima gadis itu dengan tangan yang mantap.

"Lalu, apa yang kau inginkan sebagai imbalan dari aliansi ini?" tanya Killian seraya menyesap anggurnya.

"Saya ingin Anda menjadi perisai saya di bayang-bayang," Elena menatap cairan merah di cawannya, membayangkan itu adalah darah musuh-musuhnya. "Gavin akan segera meminta persetujuan ayah saya untuk pertunangan kami dalam perayaan berburu minggu depan. Saya ingin Anda mengacaukan rencana itu dengan mengklaim bahwa saya adalah wanita Anda."

Killian tertawa rendah—sebuah suara bariton yang terdengar berbahaya namun memikat. "Menjadi perisaimu dan menantang Gavin secara terbuka? Kau meminta tirani ini menjadi ksatria pelindungmu?"

"Bukan pelindung, melainkan mitra dalam kejahatan," koreksi Elena dengan mata berbinar kejam. "Saya akan menghancurkan reputasi Gavin dari dalam, merebut semua sekutunya, dan membiarkan adik tiri saya yang tamak itu merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya sebelum mereka sempat merayakannya. Dan ketika takhta itu kosong... Anda bisa mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Anda."

Killian menatap Elena dengan pandangan baru. Gadis ini bukan lagi domba; dia telah bertransformasi menjadi serigala betina yang siap mencabik-cabik mangsanya. Dan Killian, entah mengapa, sangat menyukai perubahan itu.

Ia mengangkat cawannya tinggi-tinggi ke arah Elena. "Sebuah aliansi yang menarik, Lady Elena. Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa membakar papan catur ini."

Elena berdentingkan cawannya dengan cawan Killian. "Sampai tidak ada satu pun abu dari mereka yang tersisa, Yang Mulia."

Malam itu, di dalam kegelapan Istana Obsidian, sebuah aliansi berdarah resmi terjalin. Elena tahu, jalannya menuju pembalasan dendam baru saja dimulai, dan babak pertama dari kehancuran Gavin serta adik tirinya akan segera ditulis dengan tinta darah pada upacara perburuan kekaisaran minggu depan.

1
Pelangi Jingga
ceritanya di ulang trus
jenny
pelayan setianya ganti kak? bukannya namanya Yana?
jenny
Misha atau Dara
Nycthophile
banyak bener nih adik tiri punya nama😌
jenny: ha ha hs
total 1 replies
Nycthophile
Thor mohon maaf nih sebelum nya minta tolong kalo ada pergantian nama karakter kasih tau Thor soal nya nama adik tiri nya Elena ganti ganti terus 🙏😔
jenny: saya pikir bukan cuma saya yang bingung cz banyak nama di setiap chapter... 🤭 atau mungkin adik tirinya lebih dari satu dan semuanya tergila-gila dengan Gavin 😄
total 1 replies
Nycthophile
nama adik tiri nya yang benar Mya atau Misha Thor😔
Nycthophile
lagi perasaan tiga bab udah di ulang terus😔
Nycthophile
nama adiknya ganti ya terus Thor awalnya Dara abis itu Misha sekarang Mya😔
Siskasuryaningsih
namanya semua di ganti2, eh bambang lu ye, buat kepala ane pening tau, 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!