Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Malam Minggu di Alun-Alun dan Rahasia yang Nyaris Terungkap
Malam Minggu selalu membawa atmosfer yang berbeda bagi sudut-sudut kota Surabaya. Jalanan utama tampak lebih padat dari biasanya, dipenuhi deretan kendaraan roda dua maupun empat yang berjalan merayap di bawah temaram lampu jalan. Di kawasan Alun-Alun Sidoarjo, suasana bahkan jauh lebih hidup dan semarak. Alun-alun yang luas itu dipadati oleh ratusan warga yang ingin menghabiskan malam libur bersama keluarga, teman, maupun pasangan. Deretan lampu lampion warna-warni yang digantung di sepanjang jalur pejalan kaki memancarkan pendar hangat, berpadu dengan aroma harum aneka jajanan kaki lima yang menguar di udara.
Di tengah kerumunan orang yang lalu-lalang, dua sosok manusia tampak berjalan berdampingan dengan santai. Vanesha mengenakan pakaian kasual berupa jaket denim biru muda dan celana jins panjang, membuat penampilannya malam itu terlihat jauh lebih muda dan santai dari biasanya. Di sampingnya, Dika melangkah tegap namun dengan ekspresi wajah yang sesekali meringis menahan tawa, mengenakan kaos polos abu-abu kesayangannya.
"Ramai banget ya kalau malam Minggu begini," ucap Vanesha pelan sambil merapikan helaian rambut ikalnya yang tertiup angin malam. Matanya berbinar menatap ramainya suasana alun-alun yang penuh warna. "Dulu saya pikir malam Minggu itu cuma waktu buat lembur di kantor atau ngecek laporan keuangan di apartemen."
Dika melirik sekilas ke arah wanita di sampingnya, lalu tersenyum tipis. "Makanya, hidup itu jangan cuma diisi sama angka-angka di laporan, Vanesha," jawab Dika santai sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Sekali-kali hirup udara bebas di luar ruangan. Biar tahu kalau dunia di luar kantor itu luas, dan jajanan di pinggir jalan jauh lebih seru daripada kopi mahal di kafe kemarin."
Vanesha mendengus pelan, tapi senyum di bibirnya tak kunjung pudar. "Iya juga sih. Tapi kalau keseringan makan jajanan pinggir jalan, nanti lambung saya protes," jawab Vanesha bercanda.
Mereka terus melangkah menyusuri trotoar alun-alun, menikmati riuh rendah suasana malam yang menenangkan. Tanpa disadari, langkah kaki mereka membawa keduanya mendekati area sentra kuliner malam yang dipenuhi gerobak pedagang. Di sana, aroma kuah kaldu tahu pentol yang khas kembali menggugah selera.
"Eh, tunggu sebentar," ucap Dika tiba-tiba, menghentikan langkahnya di depan sebuah gerobak tahu pentol yang dikelilingi banyak pembeli. "Bau kuahnya ini tercium sampai ke hidung saya. Kayaknya kita wajib mampir lagi ke sini buat bernostalgia."
Vanesha tertawa kecil. "Baru kemarin kan kita makan tahu pentol di dekat sini, kok sekarang mau makan lagi? Nggak bosen emangnya?" tanya Vanesha penasaran.
"Kuliner legendaris itu tidak pernah membosankan, Vanesha," jawab Dika penuh keyakinan. "Apalagi dinikmati pas malam Minggu bareng... ehem, bos cantik."
Sebelum Vanesha sempat membalas gombalan konyol itu, tiba-tiba sebuah suara akrab memanggil nama Dika dari arah kerumunan di dekat gerobak.
"Dika? Wah, beneran itu kamu, Dik?"
Dika dan Vanesha sontak menoleh ke arah sumber suara. Dari arah deretan kursi plastik pengunjung, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan topi hitam tersenyum lebar sambil melangkah mendekat. Di belakangnya, berdiri seorang wanita paruh baya berkerudung rapi yang membawa kantong plastik belanjaan.
Dika seketika mematung. Matanya membelalak lebar, sementara aliran darahnya terasa berhenti berputar sedetik. Itu adalah wajah yang sangat dia kenal di luar kepala — wajah orang tua kandungnya yang datang jauh-jauh dari kampung.
"Bapak... Emak?" ucap Dika terbata-bata, nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di hadapan matanya sendiri.
Pak Joko — ayah Dika — langsung menepuk bahu anaknya dengan keras sambil tertawa berderai. "Wah, beneran anak lanang kesayangan emak! Dicari-cari dari tadi siang ke kosan nggak ada, rupanya malah nongkrong ganteng di alun-alun pakai baju santai begini!" seru Pak Joko gembira.
Emak yang berdiri di sebelah ayahnya langsung maju, merapikan kerah baju Dika dengan penuh kasih sayang sambil mengomel kecil. "Kamu ini ya, kalau dikabari mau didatengin orang tua malah asyik jalan-jalan. Untung bapakmu ngeh lihat punggung kamu dari jauh," ucap Emak lembut namun bernada teguran khas seorang ibu.
Dika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tersenyum salah tingkah di hadapan kedua orang tuanya. "Hehe... maaf, Mak, Pak. Tadi Dika habis nganterin... eh, maksudnya jalan-jalan sebentar melepas penat," jawab Dika kikuk, lalu buru-buru menoleh ke arah Vanesha yang sejak tadi berdiri diam di sampingnya dengan wajah sedikit menegang.
Vanesha terkejut bukan main. Jantungnya berdegup kencang karena menyadari siapa orang di hadapannya saat ini. Orang tua dari pengawal pribadinya — pria yang selama ini menjaga dan mengisi hari-harinya di kantor. Seketika, insting profesionalnya sebagai seorang CEO yang disegani mendadak berubah menjadi rasa canggung luar biasa. Bagaimana kalau orang tua Dika mengira dia adalah majikan yang galak atau wanita sembarangan?
Pak Joko dan Emak beralih menatap Vanesha yang berdiri terpaku di samping Dika. Penampilan Vanesha yang rapi dan anggun langsung menarik perhatian mereka.
"Eh, maaf... ini siapa ya, Dik? Teman kantor kamu?" tanya Emak ramah, menatap Vanesha dengan senyuman hangat penuh selidik.
Dika menelan ludahnya susah payah. Otaknya berputar seribu keliling mencari kalimat perkenalan yang paling aman agar tidak memicu kehebohan keluarga di tengah keramaian alun-alun.
"Oh... ini... kenalin, Mak, Pak. Ini Vanesha... bos... eh, atasan langsung Dika di kantor," jawab Dika terbata-bata, wajahnya mendadak merona merah padam menahan malu.
Vanesha segera menguasai dirinya. Dengan gerakan anggun, dia maju selangkah, lalu membungkuk hormat dan menyalami tangan Emak serta bapak Dika dengan penuh takzim. Sikap sopan dan santun itu langsung memancarkan aura ketulusan yang membuat kedua orang tua Dika terpesona seketika.
"Selamat malam, Pak, Bu. Saya Vanesha... pimpinan perusahaan tempat Dika bekerja," ucap Vanesha dengan suara lembut yang terdengar sangat tulus, sama sekali tidak ada kesan galak atau arogan di wajah cantiknya.
Emak tersenyum lebar, menggenggam tangan Vanesha dengan erat. "Oh, jadi ini Nyonya Bos yang sering diceritain Dika lewat telepon ya? Wah, aslinya jauh lebih cantik dan anggun daripada yang dibayangin emak!" puji Emak tulus, membuat pipi Vanesha merona merah semakin dalam.
Pak Joko ikut tertawa terbahak-bahak. "Pantesan anak ini betah kerja lembur terus di Surabaya, ternyata atasannya cantik jelita begini! Kalau tahu dari dulu, bapak sering-seringin main ke kantornya."sahut bapak joko
Dika mengelus dadanya perlahan, merasa nyawanya baru saja kembali ke raga setelah sempat melayang ketakutan. "Pak, Emak... jangan mulai godain Dika deh. Malu sama status pengawal profesional," jawab Dika dengan nada memelas yang mengundang tawa dari orang tuanya.
Vanesha tidak bisa menahan tawanya lagi. Suara renyah itu mencairkan seluruh kecanggungan yang sempat meliputi udara di sekitar mereka. Rasa canggung yang tadi sempat mencekam seketika menguap, digantikan oleh kehangatan keluarga sederhana yang begitu tulus.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita duduk sama-sama di warung sana? Biar saya pesankan tahu pentol spesial buat Pak dan Bu," ajak Vanesha ramah, menunjukkan sisi keibuannya yang hangat dan sama sekali berbeda dari imej 'CEO galak' di kantor.
"Wah, kalau ditraktir sama bos besar, mana mungkin kami nolak!" seru Pak Joko antusias.
Malam Minggu di Alun-Alun Sidoarjo malam itu berubah menjadi momen yang sangat istimewa. Di bawah temaram lampu lampion kota, di antara riuh rendahnya kerumunan warga dan kepulan asap gerobak jajanan, Vanesha dan Dika duduk berdampingan dikelilingi oleh kehangatan keluarga sederhana. Sebuah rahasia kecil tentang kedekatan hati mereka perlahan mulai terungkap dalam suasana yang penuh tawa, cinta, dan kebahagiaan yang tulus tanpa syarat.