Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akhirnya setuju
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari lantai dua.
Leon, adik Deon, muncul dengan santai. Begitu melihat kakaknya, ia langsung menuruni tangga dan menghampirinya.
“Wah, Kak Deon datang juga!” serunya.
“Kenapa? Kamu pikir aku enggak akan datang?” balas Deon.
Leon terkekeh, lalu melirik Alexa sebelum kembali menatap kakaknya.
“Kalau begitu, mumpung Kak Deon sudah datang, bagaimana kalau ajak Alexa jalan-jalan?”
Deon langsung menoleh tajam.
“Apa?”
Leon memasang wajah polos. “Ya, ajak jalan-jalan. Kalian bisa makan di luar, nonton, atau keliling kota. Sudah lama, kan, Kakak enggak punya teman jalan perempuan? Lagian, kasihan lah kak... Jauh-jauh Alexa datang, masa ia sampai di sini kakak tidak mau menemaninya."
Alexa tersipu mendengar ucapan Leon, sementara mamah mereka justru terlihat senang.
“Benar juga. Alexa sudah lama ingin menghabiskan waktu bersama Deon,” sahut sang mamah. “Kamu ajak dia keluar sebentar. Kalian bisa saling mengenal lebih dekat.”
Deon mengepalkan tangan di balik tubuhnya.
Luar biasa. Aku dipanggil kemari rupanya bukan untuk ditanya kabar, melainkan untuk dijadikan teman kencan perempuan pilihan mereka.
Ia melirik Alexa yang masih tersenyum manis.
Bukan berarti perempuan itu bersalah atas semua ini, tetapi Deon sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengannya sejak dulu.
Hatinya sudah memilih Nara, jauh sebelum perempuan itu menjadi istrinya.
Namun, bagaimana caranya menjelaskan hal tersebut kepada keluarganya tanpa membongkar seluruh perasaannya yang selama ini ia simpan?
Deon menarik napas panjang, berusaha menahan kekesalannya.
“Deon datang ke sini karena Mamah bilang ada yang perlu dibicarakan,” katanya tegas. “Bukan untuk mengajak siapa pun berkencan.”
Senyum mamahnya sedikit memudar.
Sementara itu, Leon justru menyeringai, seolah menikmati kesulitan yang sedang dihadapi kakaknya.
Dan Deon hanya bisa menghela napas dalam hati.
Ya Tuhan, semoga Nara tidak tahu kalau suaminya sedang dijebak untuk berkencan dengan perempuan lain.
Sebab satu hal yang paling tidak ia inginkan saat ini adalah membuat istrinya terluka, bahkan sebelum ia berhasil mendapatkan tempat di hati perempuan itu.
Di tengah itu, sang mamah mendekat pada Deon, "ini yang ingin mamah katakan... Ajaklah Alexa pergi sebentar. Orang tuanya akan datang sebentar lagi untuk membicarakan bisnis dengan ayahmu. Jadi kamu bisa kan? Berbaik hati dengan mamah? Katamu kamu peduli dengan keluarga ini?"
Deon menatap mamahnya dengan sorot mata tak percaya. Perempuan itu bahkan berani menggunakan kata keluarga untuk membuatnya menuruti keinginan mereka.
“Mah, Deon memang peduli dengan keluarga ini. Tapi bukan berarti Deon harus mengikuti semua keinginan Mamah, apalagi kalau menyangkut kehidupan pribadi Deon.”
Wajah sang mamah langsung berubah.
“Mamah tidak menyuruhmu menikahi Alexa sekarang. Mamah cuma meminta kamu menemaninya jalan-jalan sebentar. Apa itu saja sulit sekali untuk kamu lakukan?”
Deon mengembuskan napas panjang. Ia melirik Alexa yang masih duduk dengan senyum tipis di wajahnya. Perempuan itu tampak berusaha menyembunyikan kegembiraan, seolah sudah membayangkan akan menghabiskan waktu berdua dengannya.
“Kalau hanya jalan-jalan, Alexa bisa pergi bersama Leon,” jawab Deon.
“Lho, kok aku?” Leon langsung memprotes. “Aku punya urusan sendiri, Kak.”
Deon melirik adiknya dengan tatapan tajam.
“Urusan apa? Dari tadi kamu cuma berdiri di sini sambil menggodaku.”
Leon tertawa kecil, sama sekali tidak merasa bersalah.
“Ya, siapa tahu Kakak bisa belajar menjadi laki-laki yang romantis. Kasihan Alexa kalau harus terus menghadapi wajah dingin Kakak.”
“Leon!” tegur ayah mereka.
Namun, lelaki itu hanya mengangkat kedua tangannya, berpura-pura menyerah.
Alexa akhirnya ikut berbicara. “Tidak apa-apa, Tante. Kalau Deon memang sibuk, saya tidak keberatan menunggu.”
Ucapan itu terdengar lembut, tetapi justru membuat Deon semakin tidak nyaman. Ia tahu Alexa sedang berusaha menjaga kesan baik di hadapan keluarganya. Sayangnya, Deon tidak ingin memberikan harapan yang salah kepada perempuan tersebut.
“Aku tidak sibuk,” katanya kemudian, membuat Alexa langsung menoleh penuh harap. “Tapi aku juga tidak ingin kamu salah paham. Aku sudah punya istri.”
Senyum Alexa perlahan memudar.
Suasana ruang tamu mendadak terasa canggung.
Mamah Deon segera menyela. “Deon, Mamah tahu kamu sudah menikah. Tapi kalian baru menikah, bukan? Kamu sendiri belum tentu benar-benar mengenal perempuan itu. Sementara Alexa sudah lama menjadi teman keluarga kita.”
Deon menahan rahangnya yang mulai mengeras.
“Justru karena Deon sudah menikah, Deon harus menjaga perasaan istri Deon, Mah.”
“Memangnya siapa yang menyuruhmu mengkhianati istrimu?” balas mamahnya. “Menemani seorang teman bukan berarti kamu berselingkuh.”
Deon terdiam sesaat.
Secara logika, memang tidak ada yang salah dengan mengantar seorang teman berjalan-jalan. Namun, ia memahami maksud keluarganya. Mereka sengaja menciptakan kesempatan agar dirinya semakin dekat dengan Alexa, dengan harapan ia akan mengakhiri pernikahannya dengan Nara.
Dan itu tidak akan pernah terjadi.
“Baiklah,” ujar Deon akhirnya.
Mamahnya langsung tersenyum puas. “Nah, begitu dong!”
“Tapi Deon hanya akan mengantar Alexa ke tempat yang dia inginkan. Setelah itu, Deon akan kembali ke rumah.”
Alexa tampak sedikit lega, meskipun ia menyadari Deon masih menjaga jarak.
“Terima kasih, Deon.”
Deon hanya mengangguk singkat.
Ia sebenarnya ingin segera pergi, tetapi sebelum melangkah keluar, ia menoleh kepada ayahnya.
“Ayah, kalau memang ada urusan bisnis dengan orang tua Alexa, sebaiknya kita membicarakan bisnis saja. Jangan mencampuradukkan urusan perusahaan dengan kehidupan pribadi Deon.”
Ayahnya menatapnya dengan ekspresi sulit dibaca.
“Kamu akan mengerti suatu hari nanti, Deon. Keluarga ini hanya menginginkan yang terbaik untukmu.”
“Kalau begitu, seharusnya keluarga ini juga menghormati keputusan Deon.”
Tanpa menunggu jawaban, Deon mengambil kunci mobilnya.
“Ayo, Alexa. Kita berangkat.”
Alexa segera berdiri dan berpamitan kepada kedua orang tua Deon. Leon yang melihat kakaknya berjalan lebih dulu langsung menyusul sampai ke dekat pintu.
“Semoga kencannya menyenangkan, Kak!” bisiknya sambil menahan tawa.
Deon mencengkeram bahu adiknya sebentar.
“Kalau kamu masih ingin hidup tenang, jangan membuat masalah untukku.”
Leon justru tertawa semakin keras.
Di dalam mobil, suasana terasa canggung. Alexa duduk di kursi penumpang, sementara Deon fokus mengemudi.
Beberapa menit berlalu sebelum Alexa memberanikan diri membuka percakapan.
“Deon, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Tentu.”
“Kamu benar-benar bahagia dengan pernikahanmu?”
Pertanyaan itu membuat tangan Deon sedikit mengencang pada kemudi.
Ia teringat wajah Nara pagi tadi, ketika perempuan itu tertawa sambil menggodanya karena kejadian di pasar. Senyum kecil tanpa sadar muncul di bibirnya.
“Aku sedang berusaha membuat istriku bahagia,” jawabnya jujur.
Alexa terdiam.
“Jadi, kamu mencintainya?”
Deon tidak langsung menjawab. Ada begitu banyak hal yang belum bisa ia ceritakan kepada siapa pun, termasuk kepada keluarganya sendiri.