NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Titip pada Sahabat, Bawa untuk Diri Sendiri

“Gue titip Laras, ya.”

Galih mengatakannya di telepon begitu ringan, seolah ia sedang menitipkan dokumen.

Naren berdiri di lounge kelas satu Bandara Soekarno-Hatta, mengamati Laras yang duduk tiga kursi darinya. Perempuan itu pura-pura membaca surel, tetapi sejak tadi halaman ponselnya tidak berganti.

“Dia bukan anak kecil,” jawab Naren.

“Pertama kali ke Singapore. Proyek gue tetap harus jalan, sementara gue terjebak urusan keluarga. Lo juga ke sana, kan? Sekalian bantu.”

“Lo percaya sama gue?”

Galih tertawa. “Pertanyaan apaan? Lo saudara gue.”

Panggilan berakhir. Naren menatap layar gelap beberapa detik.

“Kenapa Anda tanya begitu?” Laras sudah berdiri di depannya.

“Menguping?”

“Suara Mas Galih terdengar sampai kursi saya.”

“Dia menitipkanmu.”

“Saya dengar.” Laras mengangkat dagu. “Betapa aman dan lucunya.”

Mereka naik pesawat sebagai dua rekan bisnis yang kebetulan bepergian bersama. Laras duduk dekat jendela. Ketika pramugari menawarkan sampanye, Naren lebih dulu berkata, “Air kelapa untuk dia.”

“Saya bisa pesan sendiri.”

“Kamu belum makan sejak pagi.”

“Anda tahu dari mana?”

“Tanganmu dingin dan kamu sudah membaca menu tiga kali.”

Pramugari tersenyum lalu pergi. Laras memasang sabuk pengaman. “Mengawasi kebiasaan saya termasuk aturan baru?”

“Mencegah orang titipan Galih pingsan termasuk pekerjaan.”

Nama Galih membuat keduanya diam.

Di udara, Naren bekerja dengan laptop. Laras meninjau dokumen kerja sama yang seharusnya ia bantu rangkum untuk Galih. Sesekali lengan mereka bersentuhan di sandaran. Tak ada yang bergeser.

Pesawat mengalami guncangan ringan. Gelas air Laras hampir tumpah, dan Naren menahannya sebelum cairan mengenai dokumen.

“Saya tidak takut terbang,” kata Laras ketika melihat tangannya masih menutup punggung tangan Laras.

“Aku menyelamatkan kontrak, bukan kamu.”

“Kontraknya ada salinan digital.”

Naren menarik tangan. “Kalau begitu aku salah prioritas.”

Pramugari membawa makanan. Laras membaca label harga dari katalog kursi dan mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Harga satu tiket ini cukup buat ganti atap.”

“Atap apa?”

“Tidak ada.” Laras menutup katalog. “Lupakan.”

Naren tidak mendesak, tetapi tatapannya jatuh ke tangan Laras yang sedang menghitung sesuatu dengan ujung jari. Ia teringat struk sepatu anak dalam folder L.

“Kalau ada yang butuh diperbaiki, bilang,” ucapnya.

“Supaya masuk rekening utang lagi?”

“Supaya tidak bocor.”

“Anda bahkan tidak tahu apa yang bocor.”

“Makanya aku bertanya.”

Laras memandang awan di luar jendela. “Belum waktunya.”

Naren kembali ke laptop. Kali ini ia tidak menyentuh layar selama hampir semenit.

Setelah mendarat, mobil hotel membawa mereka melewati gedung-gedung yang berkilau bersih. Laras menempelkan dahi ke kaca, menyembunyikan kekaguman. Ia pernah melihat Singapore di foto, tetapi tidak pernah membayangkan akan datang dengan tiket kelas satu dan kebohongan sebesar ini.

Di meja resepsionis, Naren menyerahkan dua paspor.

“Dua kamar di lantai yang sama,” katanya.

Petugas memberikan kartu akses bernomor berurutan.

“Biar gampang koordinasi,” Naren menjelaskan sebelum Laras bertanya.

“Tentu. Koordinasi.”

“Kalau kamu mau lantai berbeda, aku bisa ganti.”

Laras menatapnya, terkejut oleh pilihan yang benar-benar terdengar seperti pilihan. “Tidak perlu.”

Malamnya, seusai rapat singkat, Laras kembali ke kamar. Sebuah baki makanan menunggu di meja. Air kelapa, nasi, sup hangat, dan catatan tanpa nama: Makan.

Ia mengirim foto catatan itu kepada Naren.

Perintah lagi?

Balasan datang cepat.

Saran.

Laras mengetik lalu menghapus tiga jawaban. Akhirnya ia hanya mengirim: Baik, Pak Naren.

Beberapa menit kemudian, pintu diketuk. Naren berdiri di luar tanpa jas, membawa dokumen rapat.

“Ada revisi,” katanya.

“Jam sebelas malam?”

“Kamu boleh menolak.”

Laras membuka pintu lebih lebar.

Mereka menyelesaikan revisi di meja dekat jendela. Marina Bay berpendar di balik kaca. Setelah dokumen dikirim, Naren tidak langsung pergi. Laras berdiri di depan jendela, memandang pantulan mereka yang berdampingan.

Sebelum menutup laptop, Laras menunjukkan satu paragraf yang ia ubah. “Kalimat ini terlalu agresif untuk mitra Singapore. Mereka akan menganggap Grup Wibisana ingin mengambil kendali operasional.”

“Memang itu tujuan akhirnya.”

“Tapi Anda tidak perlu mengumumkannya sebelum tanda tangan.”

Naren membaca ulang, lalu menghapus kalimat versinya. “Kamu belajar negosiasi di mana?”

“Dari hidup bersama orang yang selalu merasa lebih berkuasa.”

“Galih?”

“Banyak orang.”

“Termasuk aku.”

“Terutama Anda.”

Anehnya, Naren tidak tersinggung. Ia menyimpan dokumen dengan revisi Laras dan mengirimnya kepada tim. Beberapa menit kemudian balasan mitra datang: redaksi baru diterima tanpa catatan.

“Kamu benar,” katanya.

“Bisa diulang? Saya mau merekam.”

“Jangan kurang ajar.”

Namun ada bayangan senyum pada wajahnya. Untuk sesaat, mereka benar-benar seperti dua rekan yang saling menghargai kemampuan, bukan pria yang membeli rahasia dan perempuan yang dibelinya.

“Aneh,” katanya.

“Apa?”

“Mas Galih yang menyuruh saya datang. Mas Galih juga yang menitipkan saya pada Anda. Kalau suatu hari dia tahu, mungkin dia akan merasa ikut membuka pintunya sendiri.”

“Jangan bicara soal hari itu.”

“Karena Anda takut?”

“Karena malam ini aku tidak mau memikirkan dia.”

Naren berdiri di sisinya. Jarak bahu mereka tinggal beberapa sentimeter.

“Selama di sini,” katanya, “kamu tidak perlu akting.”

Laras melihat pantulan wajahnya. “Saya bahkan tidak tahu wajah mana yang bukan akting.”

“Yang tidak memanggilku Pak Naren.”

“Lalu saya harus panggil apa?”

“Naren.”

Namanya terasa terlalu dekat ketika keluar dari mulut Laras. Naren mengangkat tangan, menyelipkan rambut yang ditiup pendingin ruangan ke belakang telinganya. Ujung jarinya berhenti setengah detik, memberi ruang bagi Laras untuk mundur.

Laras tidak bergerak.

Ciuman mereka dimulai pelan, tanpa ponsel di baki, tanpa uang, tanpa kalimat tentang aturan. Laras bisa menghentikannya dan tahu Naren akan berhenti. Kesadaran itulah yang membuat bahunya turun, napasnya longgar, dan tangannya berani menyentuh wajah pria itu.

Mereka berpindah dari jendela ke sisi ranjang dalam cahaya kota. Setiap sentuhan didahului tatapan atau pertanyaan pendek. Tidak ada yang perlu berpura-pura puas, patuh, atau berkuasa. Untuk beberapa jam, mereka hanyalah dua orang yang memilih saling mendekat.

Sesudahnya Naren tidak meraih rokok. Ia menopang kepala dengan satu tangan dan memandang Laras lama.

“Apa?” Laras menarik selimut.

“Aku sedang memastikan.”

“Memastikan apa?”

“Kamu tidak sedang tampil untuk siapa-siapa.”

“Dan hasilnya?”

Naren menyentuh pipinya pelan. “Aku belum tahu.”

Laras tertawa kecil. Untuk pertama kalinya, bunyi itu tidak terasa seperti alat.

Mereka kembali berdiri di depan jendela menjelang tengah malam. Di bawah sana, kota asing membuat kebohongan mereka terasa jauh dari Jakarta.

Naren merapikan satu helai rambut Laras yang jatuh lagi ke wajahnya.

Kali ini Laras menutup mata dan membiarkannya. Tidak ada suara notifikasi, tidak ada harga, dan tidak ada nama Galih di antara mereka.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!