Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGUNGKAP RAHASIA BANDUNG
Rosa masih merasa kesal mendengar pernyataan Bandung bahwa mereka bertiga hanyalah teman. Kekesalannya semakin menjadi ketika Bandung mengatakan bahwa bisnis-bisnis yang selama ini dianggap miliknya ternyata bukan atas namanya. Bahkan Ferrari merah yang sering dikendarainya pun ternyata bukan atas nama Bandung.
Rosa segera bangkit.
Sebelum pergi, dia sempat mencubit pipi Bandung dengan kesal.
“Bandot tua!”
Setelah itu Rosa berbalik dan meninggalkan basecamp.
Dia masuk ke Lamborghini kuningnya, kemudian menginjak pedal gas. Raungan mesin mobil itu memecah keheningan di depan basecamp sebelum akhirnya menghilang di kejauhan.
Bandung hanya menggelengkan kepala.
Kemudian dia menatap Luna.
Luna yang merasa sedang diperhatikan langsung menyahut.
“Ngapain lu ngeliatin gue?”
Bandung mengacungkan jempolnya.
“Lu hebat.”
Luna mendengus.
“Tapi elu udah bikin gue kesel. Lu harus gue denda.”
Wajah Bandung tetap datar.
“Wah, ternyata ada dendanya, ya?”
“Harus dong. Sekali-sekali lu harus dapat hukuman.”
“Jadi dendanya apaan?”
“Traktir gue makanan yang enak. Setelah itu anterin gue pulang. Gue ogah naik ojol.”
Bandung langsung meraih tangan kanan Luna dan menggandengnya menuju mobil.
Namun sebelum keluar dari basecamp, dia sempat menoleh ke arah Boril dan Dola.
“Kalau lu lapar, ambil duit di bawah taplak meja, di atas kulkas. Kali ini gue mau bayar denda dulu.”
Mendengar perkataan Bandung, Dola dan Boril langsung bersorak.
“Hore! Bos kita punya gandengan baru!”
“Woi!”
Luna yang mendengar teriakan itu langsung berlari menuju mobil.
Bandung hanya tertawa kecil, lalu menekan remote control. Pintu mobil terbuka ke atas secara otomatis.
“Cepetan, Bandot tua!”
Luna masuk ke dalam mobil sambil menahan malu.
Di tempat lain
Rosa menepikan Lamborghini kuningnya di halaman kantor milik ayahnya.
Dia segera turun dan berjalan tergesa-gesa menuju ruangan sang ayah.
Begitu masuk, Rosa langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa dan melempar tasnya ke samping.
Leo, ayah Rosa, menatap putrinya dengan heran.
“Lu kenapa? Datang-datang langsung manyun, lempar tas segala.”
“Ayah, gue kesel banget sama Bandung!”
“Kesel kenapa? Bukannya selama ini dia selalu nurutin lu?”
“Gue kira selama ini dia menganggap gue lebih dari teman. Ternyata dia cuma menganggap gue teman. Sekarang malah ada wanita lain yang juga dekat sama dia.”
Rosa menggerutu.
“Kurang ajar banget itu Bandung. Udah nggak nganggep gue lagi apa?”
Namun beberapa detik kemudian, ekspresi Rosa berubah.
Dia seperti teringat sesuatu.
“Tapi, Ayah...”
“Apa?”
“Masak Bandung bilang kalau bisnisnya dan mobil Ferrarinya itu bukan punya dia?”
Leo mengernyitkan dahi.
“Yang benar Bandung bilang begitu?”
“Betul, Ayah.”
Leo langsung berdiri.
“Oke. Kalau begitu tunggu sebentar.”
Dia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
“Halo. Gue butuh informasi mengenai kekayaan Bandung secepatnya.”
Leo langsung menutup telepon.
Rosa menatap ayahnya.
“Ayah menyelidiki Bandung?”
“Iya. Coba kita lihat siapa sebenarnya Bandung.”
Beberapa saat kemudian, seorang asisten pribadi masuk membawa sebuah map berisi beberapa dokumen.
“Selamat sore, Pak Leo.”
“Gimana?”
Asisten itu membuka berkas.
“Kami sudah mendapatkan informasi mengenai beberapa aset yang selama ini berkaitan dengan Bandung.”
Leo mengangguk.
“Terus?”
“Galeri lukisan yang selama ini dianggap milik Bandung ternyata terdaftar atas nama Jessica.”
Rosa langsung menoleh.
“Asisten itu melanjutkan.”
“Bisnis grosiran di Asemka juga terdaftar atas nama Jessica.”
Rosa semakin terkejut.
“Lalu mobil Ferrari merah itu?”
Asisten menyerahkan dokumen lain.
“Untuk mobil Ferrari, dokumennya terdaftar atas nama seseorang bernama Banu. Alamatnya tercatat di Bandung.”
Leo mengambil berkas tersebut.
“Banu?”
Rosa langsung merebut map dari tangan ayahnya dan membacanya dengan teliti.
“Ya ampun, Ayah... ternyata galeri lukisan dan bisnis grosiran Bandung itu milik Jessica.”
Leo mengangguk pelan.
“Pantas saja.”
“Apa?”
“Selama ini Ayah juga sudah curiga. Bandung itu kelihatannya kaya, tapi penampilannya kusut sekali.”
Rosa ikut berpikir.
“Betul juga. Selama ini kalau gue perhatiin, Bandung memang sangat nurut sama Jessica.”
Dia menatap dokumen di tangannya.
“Jangan-jangan Bandung memang cuma numpang sama Jessica.”
Leo bersandar di kursinya.
“Nah, kalau sudah begini, lu gimana? Masih mau terus mengejar Bandung?”
Rosa terdiam.
“Nggak tahu, Ayah.”
“Lagian buat apa lu ngejar-ngejar dia kalau ternyata dia nggak punya apa-apa? Yang ada nanti lu malah dimanfaatkan sama Bandung.”
Rosa kembali melihat dokumen tersebut.
Setelah beberapa saat, dia menghela napas.
“Udahlah, Ayah. Kalau begitu gue mau mengikuti keinginan Ayah buat kuliah di luar negeri aja.”
Leo mengangkat alis.
“Serius?”
“Siapa tahu di luar negeri gue ketemu orang yang lebih kaya dan lebih menarik daripada Bandung.”
“Lu yakin mau kuliah ke luar negeri?”
“Yang penting Ayah kasih fasilitas buat gue, gue tetap mau.”
Leo tersenyum.
“Ya sudah. Lu boleh kuliah ke luar negeri. Tapi setelah selesai kuliah, lu tetap harus mengelola perusahaan ini.”
“Iya. Nanti gue tetap kelola perusahaan ini.”
Rosa tersenyum.
“Tapi sekarang boleh kan kalau gue senang-senang dulu?”
Leo menepuk pundak putrinya.
“Oke. Ayah kasih lu kebebasan. Tapi Ayah pegang omongan lu.”
“Baik, Ayah. Bulan ini juga gue urus kuliah ke luar negeri.”
Di sebuah kafe
Di tempat lain, Luna dan Bandung sedang duduk di sebuah kafe.
Pelayan datang membawa daftar menu.
“Udah, Luna. Lu pesan apa aja yang lu mau. Sekalian lu gedein badan tuh. Jangan kerempeng kayak begitu.”
Luna mendengus.
“Ogah. Gue nggak mau makan banyak-banyak. Gue tetap harus jaga body gue.”
Bandung tersenyum.
“Tapi kalau lu terlalu kerempeng, gue takut kalau kita muter-muter naik si Merah, terus kapnya gue buka, lu kebawa angin.”
Luna tertawa.
“Lu ngarep banget, sih. Belum tentu juga gue masih mau ikut lu naik si Merah.”
“Gue yakin lu pasti mau.”
“Nggak usah ngarep, ya.”
“Gue bukannya ngarep. Lu kan masih mau ngajar anak-anak basecamp?”
“Ya kalau itu kan lain ceritanya.”
Luna tersenyum.
Bandung memandang senyum itu beberapa saat.
Entah kenapa, kali ini senyum Luna terlihat berbeda.
Lebih lepas.
Lebih tulus.
Dan menurut Bandung, entah kenapa juga terlihat sangat menarik.
“Luna.”
“Hm?”
“Senyum lu kali ini kok bagus banget, sih?”
Luna langsung memalingkan wajah.
“Dasar bandot tua, doyan ngegombal. Tapi nggak bakal mempan buat gue.”
Beberapa saat kemudian, pelayan datang menghidangkan pesanan mereka.
Luna melihat makanan yang memenuhi meja.
“Wah, ini sih menggoda selera banget.”
Tanpa menjawab, Bandung langsung mengambil salah satu makanan menggunakan sumpit. Dia meletakkannya ke piring Luna.
“Udah. Lu cobain dulu ini.”
Luna mengambil sendok di sampingnya.
Namun karena kurang hati-hati, tempat sendok itu justru tersenggol dan jatuh ke lantai.
Sendok-sendok di dalamnya berhamburan.
Bandung dan Luna secara bersamaan menunduk untuk mengambilnya.
Bruk!
Kepala mereka saling terbentur.
“Aduh!”
Luna memegang kepalanya.
“Bandung, sakit tahu!”
Bandung juga mengusap dahinya.
“Lagian lu udah tahu gue lagi nunduk. Lu ikut-ikutan aja.”
“Enak aja gue ikut-ikutan lu. Elu yang nggak kasih kode tahu-tahu nunduk!”
Luna mencubit pipi Bandung.
Bandung refleks menangkap tangan Luna.
Namun Luna buru-buru melepaskannya dan segera mengambil sendok-sendok yang berserakan, kemudian mengembalikannya ke meja.
Bandung memperhatikan Luna sebentar.
Kemudian dia mengambil sedikit makanan dengan sendok.
“Ini. Lu cobain dulu. Masakan di sini enak, tahu.”
Luna membuka mulut dan mencicipi makanan dari sendok yang disodorkan Bandung.
Matanya langsung berbinar.
“Ini enak banget!”
Dia mengambil sendok lain.
“Lu juga harus nyobain.”
Luna mengambil sedikit makanan, lalu menyodorkan sendok itu ke mulut Bandung.
Bandung langsung membuka mulut.
Namun tepat ketika sendok itu hampir menyentuh bibirnya, Luna tiba-tiba membalikkan sendok tersebut dan memasukkan makanannya ke mulut sendiri.
Bandung bengong.
Luna tertawa.
“Hah! Curang lu!”
Bandung menggelengkan kepala.
“Dasar.”
Luna masih tertawa.
Tanpa disadari, beberapa makanan menempel di ujung bibirnya.
Bandung yang melihatnya langsung mengambil tisu.
“Eh, sini.”
Dia mengusap ujung bibir Luna dengan tisu.
Gerakan itu terjadi begitu saja.
Namun beberapa detik kemudian, keduanya sama-sama terdiam.
Mata mereka bertemu.
Tangan Bandung masih berada di dekat bibir Luna.
Luna perlahan memegang tangan Bandung dengan tangan kanannya.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang tertawa.
Untuk beberapa saat, mereka hanya saling memandang.
Dan entah kenapa, kali ini tidak ada satu pun dari mereka yang merasa perlu memecah keheningan itu.