Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Keempat roda mobil mewah itu berputar cepat melewati perbatasan kota yang satu ke kota lainnya, sesekali Angga dan sopirnya berhenti menikmati sejuknya angin juga jajanan pinggir jalan. Sopir lelaki ini memiliki selera makan yang bagus, tak pernah sekalipun Angga menolak jajanan yang ia tawarkan. Seperti saat ini, mereka tengah berhenti dipinggir jalan menatap laut biru dibawah sana sambil menikmati teh hangat juga sandwich untuk mengisi kembali energi mereka yang mulai terkuras.
"Sepertinya enak tinggal di daerah ini!"
Angga menoleh pada lelaki disampingnya kini lalu kembali menatap hamparan laut luat yang biru tersebut, sempat terbayang olehnya jika ia tinggal bersama Raisa disalah satu rumah yang memiliki pemandangan indah seperti yang sedang dilihatnya kini. Pagi-pagi saat ia baru membuka mata ia akan disambut oleh suara desiran ombak, sesekali mahluk hidup didalam sana akan memunculkan dirinya ke udara, memberitahu mata yang melihatnya bahwa mereka masih disana.
"Aaahh, tapi apa gunanya?"
"Hah?" Sopir pribadi Angga terkejut dengan gumaman Angga yang tiba-tiba saja keluar tanpa ia sadari.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya lelaki itu panik.
Lelaki disampingnya tersebut menggelengkan kepalanya lalu mengajak majikannya itu untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka agar mereka dapat sampai ke tempat tujuan sebelum malam menjelang.
Disisi lain tanpa Angga ketahui Arni tengah mencari keberadaannya diantara banyaknya tamu undangan yang datang digedung tempat ia melangsungkan pertunangannya dengan Steven, namun sudah sekitar sepuluh menit matanya liar mencari keberadaan mantan kekasihnya tersebut namun tak kunjung ia temukan, ia terduduk lesu menghela nafas panjang. Sementara itu Steven dan Laluna tengah berusaha menghubungi lelaki yang sengaja mematikan ponselnya tersebut.
"Aduhhh, kemana sebenarnya dia pergi?" Ucap Laluna memijat keningnya kesal.
"Tapi tadi aku jelas melihat kalau Kak Angga dandan rapi, Ma. Dia juga pakai mobil bagus, dia pergi sama sopir pribadinya!" Ucap Steven.
"Iya, Mama juga lihat. Tapi kalau mereka gak kesini, kemana mereka pergi? Acaranya sebentar lagi akan dimulai!"
Ketika MC diatas podium mulai menyapa para tamu undangan, Steven dan Laluna terpaksa kembali duduk. Wajah Arni yang sebelumnya tampak murung kini berubah, ia tersenyum sumringah agar Steven dan Laluna tak curiga kalau ia sedang kesal lantaran Angga tak menghadiri acara pertunangannya.
"Sayang, sepertinya Kak Angga tidak bisa datang" bisik Steven.
"Yahhh? Kenapa sayang? Apa dia belum iklhas ya melepas aku sama kamu?" Ucap Arni dengan mata berkaca-kaca, tentu saja bagian dari akting agar Steven lebih memanjakan dia.
Dan benar saja kalau Steven dengan cepat memeluknya juga mengelus pelan belakang punggung gadis itu.
"Jangan cemberut begitu, nanti aku bujuk Kak Angga buat datang ke pesta pernikahan kita, oke!"
"Eummmm, minta kado yang mahal ya!"
"Pasti!" jawab Steven tanpa tahu kalau calon istrinya itu merencanakan sebuah siasat buruk untuk keluarganya.
Singkat cerita acara pertunangan tersebut dimulai tanpa Angga dan Raisa, pembawa acara diatas podium mulai membaca satu persatu tahapan acara tersebut, hingga acara pasang dan tukar cincin dimulai dan disiarkan secara langsung agar seluruh penjuru dunia mengetahui ikatan hubungan diantara keduanya. Siaran langsung itu sampai di layar beranda akun media sosial milik Indra, ia yang masih duduk bersama Nisa dan Raisa yang kini tengah memasak beberapa kudapan dibawah pohon mangga tersebut diam-diam menonton acara tersebut.
"Hah? Acara pertunangan Pak Steven dan Bu Arni?" Batinnya sambil mengerutkan keningnya.
"Tunggu, aku tidak melihat Pak Angga, apa dia tidak datang? Atau jangan-jangan, Pak Angga blom ditemukan? Ahh, tapi tadi Nisa berkata kalau suaminya Raisa menyuruh sopirnya menjemputnya kesini, iya, masuk akal. Pak Angga tidak bisa menjemput istrinya karena harus menghadiri acara pertunangan adiknya. Tetapi, kenapa dari tadi aku tidak melihat Pak Angga ya?"
Nisa menyenggol pelan tangan Raisa, keduanya memperhatikan Indra yang sejak tadi tampak diam dengan ekpresi wajah yang tak karuan.
"Hei, lagi mikirin apa? Ini makanannya sudah matang!" Seru Nisa membuyarkan lamunan Indra.
Menyadari kalau dirinya tengah menjadi bahan tertawaan kedua wanita didepannya ia segera menyimpan kembali ponselnya kedalam saku, diraihnya sendok diatas meja dan membantu Nisa menyiapkan makanan, tak kemudian Nisa memanggil anak-anak yang bermain di depan rumah mereka untuk makan bersama, tak lupa ia juga memanggil kedua orangtuanya juga pak Suparmin menikmati hasil masakan mereka.
Tampak mereka seperti sedang melakukan perkemahan terbuka, terlebih lagi jauh didepan sana masih terlihat perkebunan warga yang tumbuh subur membuat selera makan mereka meningkat.
"Eummm, masakan ini enak sekali. Tak seperti biasanya, siapa yang memasak?" Istri pak RT bertanya dengan antusias.
"Aku dan Indra, tapi resepnya Raisa yang mengajari!" Jawab Nisa melirik Raisa tersenyum.
"Memang, selera dan kemampuan orang kota dalam memasak tak pernah meragukan!" Puji pak RT membuat semua orang tertawa, terlebih anak-anak kecil yang mereka ajak makan bersama turut bersorak "BETUL" sambil mengangkat kedua jempol mereka.
Usai makan mereka kemudian bubar membuat kelompok masing-masing, pak RT juga istrinya mengajak pak Suparmin untuk berbincang sambil melihat-lihat perkebunan pak RT yang berada dibelakang rumah. Sementara Nisa dibantu anak-anak mencuci piring di dapur. Hanya tersisa Raisa yang membersihkan karpet tempat mereka duduk tadi dibantu oleh Indra karena Raisa belum dapat bergerak dengan leluasa.
"Raisa!"
Wanita itu menoleh, "Iya, ada apa?" tanyanya saat tanpa menoleh dan memilih untuk terus melanjutkan pekerjaannya.
"Suami mu itu, apa dia Pak Angga?"
Sontak sepotong kain ditangan Raisa terlepas tiba-tiba.
"Kamu tahu darimana nama suamiku?" Tanya Raisa serius.
"Ahhh, sudah kuduga. Jadi benar, kau adalah istri Pak Angga yang terkenal cuek dan galak itu?"
Wanita itu hanya tersenyum menyipitkan matanya, tak menduga kalau Indra ternyata tahu bagaimana sifat suaminya. Raisa memungut kembali kain yang ia jatuhkan tadi dan segera menyelesaikan pekerjaannya.
"Kamu tahu darimana tentang suami saya?"
"Aku bekerja di perusahaan milik suamimu, aku disini karena sedang cuti" jawabnya.
Raisa hanya mengangguk, ekspresinya yang semula senang berubah murung, sebab sedikit banyaknya Indra pasti tahu bahagia seluk beluk kehidupan rumah tangganya dengan Angga. Beberapa kali Raisa memang sempat datang ke kantor Angga untuk menghantarkan bekal makan siangnya, namun bukannya senang, Angga malah dengan sengaja membuang bekal yang ia buat ke tempat sampah dihadapan para karyawan, kabar tentang pernikahannya yang tak harmonis kemudian terbesar dari waktu ke waktu.
***
Jam menunjukkan pukul lima sore hari dan acara pertunangan Steven dan Arni berjalan dengan lancar. Laluna begitu bahagia mengajak Arni dan Tina menginap dirumahnya namun ditolak oleh Tina.
"Ma, kenapa Mama menolak tawaran Bu Luna? Kita kan punya kesempatan buat melihat-lihat isi rumahnya!" Bisik Arni pada mamanya.
"Kamu lupa kalau kita harus memastikan keberadaan Raisa?"
Arni tiba-tiba teringat akan rencana mereka kemarin.
"Benar, kami harus pergi mengunjungi makam Papa, Ma. Kabar bahagia ini harus kami sampaikan pada beliau, kan?"
Steven tersenyum dan merangkul pinggang Arni penuh cinta.
"Kamu memang anak yang sangat berbakti, bahkan pada mendiang Papa kamu. Itu bikin aku salut sama kamu!" Ucapnya lalu mencubit pelan dagu Arni.
"Iya, Mama juga suka sekali melihat karakter Arni, calon istri kamu!" Sahut Laluna menepuk bahu anak bungsunya itu.
Melihat peluang tengah terbuka di depan matanya, Arni kembali memainkan aktingnya agar Steven dan Laluna yakin kalau ia benar-benar seperti yang sedang mereka pikirkan.
"Tapi aku tidak cukup senang hari ini karena Kakakku dan Kakakmu tidak ikut merayakan hari bahagia kita, sayang. Aku jadi merasa bersalah"
"BENARKAH?"
"Hah? Siapa itu?"