Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Langkah kaki Damian Valerius yang tadinya begitu tegas dan terarah mendadak melambat di tengah jalan berbatu yang memisahkan kedua sisi lorong pelabuhan. Pria itu berdiri terpaku di bawah terik matahari pagi yang mulai meninggi, di antara riuhnya aktivitas warga kota kecil yang berlalu-lalang mengabaikannya.
Di dalam benaknya, sebuah perang batin yang dahsyat sedang berkecamuk hebat, merobek-robek ego seorang panglima perang yang terbiasa bertindak atas dasar logika mutlak.
Ragu.
Sebuah kata asing yang tidak pernah ada dalam kamus hidup seorang Damian Valerius kini merayap pelan, mencengkeram tenggorokannya dengan kuat. Ia merasa gengsi yang luar biasa besar untuk melangkah maju. Sebagai Jenderal Agung Kekaisaran, pria yang ditakuti kawan maupun lawan, turun tangan secara langsung untuk mengejar seorang wanita pelarian di sudut negeri yang kotor ini adalah sebuah bentuk kelemahan—sebuah pengakuan tak tertulis bahwa ia telah kalah dari wanita yang selama ini ia remehkan. Harga dirinya memberontak hebat, meneriakkan agar ia segera berbalik, memanggil pasukan bayangannya, dan membiarkan urusan domestik yang memalukan ini diselesaikan oleh bawahannya tanpa ia harus mengotori tangan dan martabatnya sendiri.
Namun, tepat di detik berikutnya, bayangan senyuman ramah yang tadi dilemparkan Aurelia kepada anak kecil dan para pembeli di depan etalase berkelebat ke dalam kepalanya.
Bayangan itu menghantam dadanya seperti hantaman palu baja. Rasa panas yang membakar kembali menjalar di bawah kulitnya, memicu gelombang cemburu yang begitu pekat dan beracun hingga membuat akal sehatnya buyar seketika.
Tidak. Pikirannya menjerit menolak. Ia tidak rela.
Ia tidak rela melihat senyuman tulus itu tercipta untuk orang lain. Ia tidak rela wanita yang menyandang marga Valerius—wanita yang menjadi bagian dari hidupnya, betapa pun ia berusaha menyangkalnya—berjalan bebas, tersenyum cerah, dan menemukan kedamaian di pelukan dunia luar, sementara ia sendiri harus tersiksa oleh kehampaan dan bayangan wanita itu di istana yang sunyi. Ego yang menahannya runtuh seketika, dilindas oleh obsesi gelap yang mendesak untuk segera memiliki kembali apa yang dianggapnya sebagai hak miliknya.
Dengan rahang mengeras dan tatapan mata abu-abu badai yang menyala-nyala dalam ketegangan, Damian memantapkan langkahnya. Ia menyeberang jalan dengan cepat, menerobos masuk ke ambang pintu toko Roti Hangat Auris yang berukuran kecil itu.
Bunyi lonceng kecil di atas pintu berdenting nyaring, memecah kesunyian bagian dalam toko yang kini telah ditinggal sepi oleh para pelanggan.
Di balik etalase kayu yang dipenuhi sisa-sisa tepung gandum, Aurelia—yang baru saja hendak melangkah ke pintu belakang—tertegun seketika. Gerakannya terhenti di udara. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang sangat buruk, sangat mengerikan, telah menerobos masuk ke dalam zona aman yang susah payah ia bangun selama berbulan-bulan ini.
Aurelia memutar tubuhnya perlahan. Dan saat pandangannya menembus udara ruangan yang beraroma mentega dan vanila, seluruh darah di tubuhnya mendadak tersedot habis.
Berdiri di sana—mengisi hampir seluruh kusen pintu dengan postur tubuh tinggi besar, mengenakan jubah militer gelap yang berkibar berat, dan memancarkan aura dominasi yang menakutkan—adalah Damian Valerius.
Sosok pria itu nyata. Bukan lagi sekadar bayangan buruk yang menghantuinya di dalam mimpi-mimpi ketakutannya, bukan pula ilusi dari sisa-sisa trauma masa lalu. Sang Jenderal berdiri di hadapannya secara langsung, membawa serta seluruh teror, tekanan, dan bayang-bayang kelam Kediaman Valerius yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.
Wajah Aurelia langsung memucat pasi. Kehilangan seluruh warna kemerahan di kulitnya, ia tampak bagaikan sesosok mayat hidup.
Seketika itu juga, memori otot dan trauma psikologis dari tubuh aslinya bereaksi dengan sangat hebat. Jantung Aurelia berdegup kencang secara liar, memukul rongga dadanya dengan rasa sakit yang luar biasa, seolah-olah seluruh tulang rusuknya remuk dihantam palu tak kasat mata. Udara di dalam ruangan mendadak lenyap dari paru-parunya. Tenggorokannya tercekat, membuatnya tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan sekadar isak tangis atau teriakan ketakutan.
Pandangannya mulai kabur. Titik-titik hitam menari-nari di hadapan kedua manik mata hijau miliknya, berputar-putar dalam pusaran pusing yang mematikan. Kakinya terasa lemas seketika, kehilangan seluruh kekuatannya untuk menopang tubuh.
Trauma fisik itu mencengkeram sarafnya begitu kuat, membuat sekujur tubuh Aurelia gemetar hebat tanpa kendali. Tangannya yang mencengkeram ujung meja etalase perlahan melemah, dan dalam hitungan detik, ia merasakan kesadarannya melayang pergi—ambruk tak berdaya ke lantai kayu toko, nyaris pingsan di tempat tepat di hadapan tatapan tajam sang Jenderal yang melangkah mendekat dengan langkah berat yang mematikan—
mampir diceritaku juga ya😊