Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Mulai memata- matai
"Kamu dari mana saja mas...?'' tanya Suzan begitu Bagas masuk ke dalam kamarnya.
Sementara jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Ehm...maaf sayang, tadi aku ketemu sama klien..." jawab Bagas.
"Owh... Ketemu klien ya... Kirain ke mana. Abisnya kamu nggak pamit sama aku..." sahut Suzan.
"Iya maaf sayang, tadi aku buru- buru, jadi nggak sempat pamit sama kamu..." jawab Bagas yang selalu saja punya jawaban atas pertanyaan Suzan.
Suzan mengangguk- angguk seolah percaya dengan ucapan sang suami. Padahal sebenarnya dia sama sekali tidak percaya. Karena Fikri tidak memberitahunya kalau Bagas menemui klien. Dan kini Suzan semakin yakin bahwa sang suami sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ya udah sayang...kamu mandi gih...sini aku bantu..." ucap Suzan sambil membantu Bagas membuka jas nya.
Dan ketika Suzan melepas jas Bagas, dia mencium aroma parfum lain dari kemejanya. Dan untuk lebih memastikannya, Suzan mengendusnya lagi tentunya tanpa sepengetahuan Bagas. Dan ternyata penciumannya tidak salah. Di kemeja Bagas memang tercium aroma parfum yang bukan milik Bagas.
Iya, tentu saja Suzan hafal betul aroma parfum sang suami seperti apa. Karena selama ini Suzan lah yang selalu membelikan parfum untuk Bagas.
"Ternyata kamu benar- benar telah bermain- main di belakangku mas..." ucap Suzan dalam hati.
"Lihat saja, cepat atau lambat aku akan bisa mengetahui apa yang telah kamu sembunyikan di belakangku...." batin Suzan.
"Aku mandi dulu ya..." ucap Bagas sambil mengusap pipi Suzan dan segera masuk ke kamar mandi.
Sementara Suzan yang masih memegang jas dan kemeja Bagas dan kembali mengendus aroma parfum yang tertempel pada kedua benda tersebut.
"Aku ini aroma parfum cewek..." batin Suzan.
Suzan lalu meletakkan jas dan kemeja Bagas ke keranjang baju kotor.
"Aku akan cari siapa selingkuhan kamu mas, dan kalau aku sudah mengantongi bukti yang valid, lihat saja, aku tidak akan memaafkanmu..." batin Suzan sambil mengepalkan kedua tangannya.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
"Semakin hari aku semakin yakin kalau mas Bagas ada main di belakang aku, Alma..." ucap Suzan sambil duduk di kursi meja kerja.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan beb...?'' tanya Alma yang duduk berhadapan dengan Suzan.
Suzan menghela nafas.
"Aku sudah memasang GPS di ponsel mas Bagas..." jawab Suzan.
Iya, tadi malam ketika Bagas sudah tidur pulas diam- diam Suzan mengambil ponselnya. Suzan mengecek pesan maupun telpon yang masuk ke nomornya. Namun tidak ada yang mencurigakan. Akhirnya Suzan menyambungkan aplikasi pelacak dari ponsel Bagas ke ponselnya agar dia bisa melacak ke mana pun suaminya pergi.
"Bagus lah... tapi kamu harus hati- hati beb, jangan sampai suamimu tahu kalau kamu memata- matai dia..." ucap Alma Suzan pun mengangguk.
"Iya tentu saja..." jawab Suzan.
Saat jam makan siang, Suzan mengecek keberadaan sang suami melalui ponselnya. Namun saat dilihat lewat layar ponsel, Bagas tidak pergi ke mana- mana.
Ya, tentu saja Suzan heran, padahal jelas- jelas tadi Suzan bertanya pada Fikri ke mana perginya Bagas. Dan Fikri bilang Bagas sedang menemui klien.
Suzan lalu keluar dari ruang kerjanya kemudian masuk ke lift menuju lantai tiga di mana ruang kerja Bagas berada. Setelah sampai di lantai tiga, Suzan segera masuk ke ruang kerja Bagas. Namun di sana dia tidak melihat siapapun. Iya, ruangannya kosong.
"Bu Suzan..." tiba- tiba Fikri masuk ke ruang kerja Bagas.
"Fikri..." Suzan nampak kaget.
"Bu Suzan kok ke sini lagi...?'' tanya Fikri merasa heran.
Iya, padahal sepuluh menit yang lalu Suzan juga ke ruang kerja Bagas dan bertemu Fikri di depan pintu. Fikri sudah memberitahu Suzan kalau Bagas sedang menemui klien sekaligus makan siang.
"Ehm... Saya... Saya pikir suami saya sudah kembali..." jawab Suzan terlihat gugup.
"Belum bu Suzan... Kan pak Bagas baru pergi lima belas menit lalu. Mungkin satu jam lagi pak Bagas kembali..." jawab Fikri.
"Oh... Begitu ya..." sahut Suzan.
"Iya bu...." jawab Fikri.
"Kenapa kamu nggak ikut menemui klien...? Biasanya suamiku selalu mengajakmu...?'' tanya Suzan.
"Ehm kata pak Bagas, beliau bisa sendiri bu..." jawab Fikri.
"Oh..." sahut Suzan.
Suzan kembali mengecek aplikasi pelacak nya dan lagi- lagi dia melihat tidak ada pergerakan di sana. Yang artinya ponsel Bagas masih ada di ruang kerjanya.
"Ehm... Sebenarnya saya ingin nitip untuk dibelikan makanan sama suamiku..." ucap Suzan.
"Ah... Biar saya telpon saja..." sambung Suzan sambil menekan tombol ponselnya guna untuk menghubungi Bagas.
"Ehm maaf bu Suzan...tadi pak Bagas lupa membawa ponselnya. Mungkin karena dia terburu- buru. Ponselnya tadi tertinggal di meja, lalu saja simpan di laci..."ucap Fikri sambil menunjuk laci meja kerja Bagas.
"Owh... Begitu ya...." sahut Suzan.
"Pantas saja, pelacaknya tidak menunjukkan pergerakan sama sekali..." ucap Suzan dalam hati.
"Bu Suzan mau beli makanan apa....? Biar saya yang belikan. Kebetulan saya tidak sibuk..." ujar Fikri.
"Ah, tidak usah Fikri, saya sudah tidak ingin makan... Saya mau balik ke ruang kerja saya saja..." jawab Suzan segera keluar dari ruang kerja Bagas.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
"Kenapa beb...? Kok kayak orang bingung gitu...?'' tanya Alma saat bertemu dengan Suzan di depan ruang kerja.
Suzan menghela nafas.
"Kita ke dalam yuk, aku mau cerita..." ucap Suzan sambil membuka pintu ruang kerjanya.
Dan Alma pun mengikuti Suzan.
"Aku heran deh, kenapa mas Bagas sampai lupa membawa ponselnya. Padahal kata Fikri dia sedang menemui klien. Nggak biasanya dia lupa bawa ponsel..." ucap Suzan yang duduk di sofa bersama Alma.
Alma pun dengan serius mendengar cerita Suzan.
"Dan dua bulan terakhir ini, dia juga selalu tidak bisa dihubungi ketika dia menemui klien di luar kantor. Alasannya batrenya lowbat..." sambung Suzan.
"Paling itu cuma alasan saja beb, masa setiap pergi keluar batrenya lowbat..." ucap Alma.
"Dan sekarang dia meninggalkan ponselnya di ruang kerja. Jangan- jangan dia tahu kalau kamu sudah mulai curiga sama dia..." sambung Alma.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
"Apa...? Jadi mama kamu sudah tahu tentang hubungan kita ...?'' Casandra nampak kaget.
Iya, siang ini setelah menemui klien, Bagas makan siang bersama Casandra sekaligus memberitahunya bahwa hubungan mereka sedang tidak aman.
"Mama kamu marah nggak ...? Dan papamu....? Trus apa mbak Suzan juga sudah tahu...?'' Casandra nampak gelisah.
"Kamu tenang saja. Hanya mama saja yang tahu...." ucap Bagas.
Lalu Bagas menceritakan pada Casandra kalau malam itu sang mama melihat mereka berciuman di taman samping rumah.
"Kamu tenang saja, mama tidak akan memberitahu siapapun soal ini..." sambung Bagas menenangkan Casandra sambil menggenggam tangannya.
"Benarkah...?'' sahut Suzan.
Bagas mengangguk.
"Tapi sepertinya Suzan sudah mulai curiga..." ucap Bagas sambil menatap wajah Casandra.
"Apa...? Kok bisa sih...? Trus gimana dong...?" Casandra kembali gelisah.
"Apa mbak Suzan tahu kalau tadi malam kamu ada sama aku...?'' tanya Casandra.
"Nggak... Bukan begitu..." jawab Bagas.
Bagas kembali melanjutkan ceritanya kalau tadi malam, saat Bagas terbangun, dia tak sengaja melihat Suzan diam- diam sedang mengecek ponselnya. Dan tadi pagi saat berada di kantor Bagas menyadari bahwa Suzan telah memasang aplikasi pelacak yang menghubungan ponselnya dengan ponsel Suzan. Itu artinya Suzan ingin mengetahui keberadaan Bagas ke manapun Bagas pergi.
"Karena itulah aku tadi sengaja meninggalkan ponselku di ruang kerja..." ucap Bagas.
"Jadi mbak Suzan baru mencurigaimu...? Tapi dia belum tahu tentang hubungan kita...?'' tanya Casandra.
"Iya...." jawab Bagas.
"Mungkin karena akhir- akhir ini aku sering susah dihubungi kalau lagi di luar. Dan aku juga beberapa kali telat pulang..." sambung Bagas.
"Oh.. syukurlah kalau dia tidak tahu soal hubungan kita..." Casandra merasa lega
"Babby... Aku nggak mau kehilangan kamu..." rengek Casandra sambil memeluk lengan Bagas.
"Iya babby... Aku juga nggak mau kehilangan kamu. Aku sudah terlalu nyaman sama kamu. Dan hanya kamu lah satu- satunya orang yang paling mengerti aku..."sahut Bagas lalu mengecup kening Casandra.
"Tapi mulai hari ini kita harus lebih hati- hati lagi. Aku nggak mau hubungan kita diketahui oleh orang lain..." sambung Bagas sambil mengusap kepala Casandra.
"Jadi maksud kamu, aku akan selamanya menjadi simpanan kamu, gitu...? Kamu nggak mau nikahin aku dan memberitahu pada dunia kalau kita saling mencintai...?'' tanya Casandra sambil memanyunkan bibirnya.
Bagas menghela nafas. Iya, bagi Bagas Casandra adalah orang yang paling mengerti akan dirinya. Bagas juga sangat nyaman ada di samping Casandra. Apa lagi Casandra sangat pandai memuaskan dalam banyak hal. Tapi tetap saja, senyaman- nyamannya Bagas bersama Casandra, rumah tempat dia pulang tetaplah Suzan.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sore harinya Bagas pulang lebih awal karena dia tidak mampir ke apartemen Casandra. Ini adalah trik Bagas agar Suzan tidak curiga lagi padanya. Setelah membersihkan tubuh di kamar mandi, Bagas mengajak Alvaro main lego di ruang tengah. Sedangkan Suzan masih belum pulang karena sore tadi dia masih ada klien yang harus dia tangani.
Alvaro nampak senang sekali bermain dengan sang papa. Maklumlah akhir- akhir ini Bagas lebih banyak menghabisakan waktu dengan Casandra saat dia pulang dari kantor, jadi waktu bersama Alvaro semakin berkurang.
"Papi, kok mami belum pulang sih...?'' tanya Alvaro.
"Iya, sebentar lagi mami pulang kok,Varo main sama papi dulu ya..." jawab Bagas sambil mengusap kepala putra semata wayangnya.
"Iya papi..." sahut Alvaro.
Mereka berdua pun melanjutkan permainannya. Mereka nampak akur sekali dan sesekali terdengar gelak tawa di antara keduanya saat lego yang mereka susun roboh.
Tak lama kemudian Suzan pulang. Melihat suami dan anak semata wayangnya sedang bermain bersama, Suzan pun tersenyum senang.
"Mami..." seru Alvaro begitu senang melihat sang mama pulang.
Suzan pun tersenyum pada Alvaro.
"Sini mami, ayo kita main lego bareng, seru lho..." ucap Alvaro.
Suzan pun menghampiri keduanya.
"Hai sayang, sudah selesai meeting ya...? tanya Bagas sambil mengecup kening Suzan.
"Iya .." jawab Suzan tanpa melihat ke arah sang suami, namun dia lebih fokus ke Alvaro.
Iya, Suzan tentu saja masih kecewa dengan Bagas atas kejadian tadi malam di mana dia menyebut nama 'babby' saat bercinta dengannya. Ditambah lagi hari ini dia gagal memata- matainya.
Dan tentu saja Bagas menyadari sikap Suzan yang berbeda dari biasanya.
"Sayang ... Malam ini kita bertiga makan di restauran yuk...?'' Bagas mencari cara agar Suzan kembali ceria.
"Yeee.... Asik makan malam di restauran..." Alvaro nampak gembira.
Suzan tersenyum lalu mengusap kepala Alvaro.
"Lain kali aja ya..." ucap Suzan.
"Yaaa.... Mami ..." Alvaro nampak kecewa.
"Kenapa sayang...?'' tanya Bagas.
"Ini terlalu mendadak mas, bi Ati pasti sudah masak. Kalau kita makan di luar, nanti makanan di rumah nggak dimakan. Kan sayang jadi mubazir..." jawab Suzan.
"Ya udah deh..." sahut Bagas.
"Lain kali saja ya makan di luarnya..." ucap Bagas sambil mengusap kepala Alvaro.
"Iya papi..." jawab Alvaro.
"Mami ke kamar dulu ya, mau mandi..." Suzan mengusap pipi Alvaro.
Suzan segera naik ke lantai dua menuju kamarnya dan bersiap untuk mandi. Namun ketika Suzan sedang membuka pakaiannya dan memasukkannya ke dalam keranjang, tiba- tiba pintu kamar terbuka.
Suzan yang hanya menggunakan handuk yang dililitkan ke tubuhnya pun cukup kaget. ternyata Bagas yang masuk.
"Sayang... kita mandi bareng yuk..." ucap Bagas sambil memeluk tubuh Suzan dari belakang.
"Kamu kan sudah mandi..." jawab Suzan yang tentu saja merasa risi karena Bagas tidak hanya memeluk pinggangnya namun Bagas mulai menciumi leher bagian belakang Suzan.
"Mas...le...lepaskan ah...a..aku mau mandi..." ucap Suzan yang merasa geli akibat ulah sang suami.
"Aku pengin mandi lagi sama kamu..." tiba- tiba Bagas mengangkat tubuh Suzan dan langsung membawanya ke kamar mandi.
"Mas kamu mau apa...? Aku capek..." ucap Suzan yang ingin turun dari gendongan Bagas.
"Nanti akan aku hilangkan rasa cepek kamu sayang..." sahut Bagas sambil mengecup bibir Suzan lalu menurunkan Suzan di atas bath up.
Bersambung...