NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Tak Bisa Ditolak

Rania mengembuskan napas panjang.

Ia masih menggenggam ponselnya erat sebelum akhirnya berkata, "Daffa, maaf. Sepertinya aku akan bermalam di sini."

"Apa?" Suara Daffa terdengar seketika. "Bermalam?"

Rania terdiam.

"Bersama Brian?" tanyanya lagi.

Rania menggeleng meskipun Daffa tidak mungkin melihatnya.

"Tidak. Aku tidak satu kamar dengannya." Rania menarik napas. "Aku bahkan akan menginap di hotel lain."

Sebuah kebohongan terpaksa keluar dari bibirnya.

"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?" tanya Daffa.

"Daffa, aku juga tidak tahu kalau Brian menyiapkan beberapa rencana pengembangan bisnis lainnya." Rania menatap tumpukan berkas di atas meja. "Alex sudah menjelaskan semuanya kepadaku. Aku ingin menyelesaikannya malam ini agar besok pagi semuanya sudah siap."

"Tapi, Rania—"

"Daffa," potong Rania cepat. "Aku mohon. Ini kesempatan untukku."

Hening.

Prakk!

Suara benda pecah terdengar dari seberang telepon.

Rania langsung membeku.

"Daffa?"

Di sebuah ruang makan yang luas, Daffa berdiri di sisi meja.

Tangannya masih menggenggam gelas wine yang baru saja pecah.

Pecahan kaca berserakan di lantai.

Dalam satu gerakan kasar, Daffa menyapu meja makan dengan lengannya.

Brak!

Piring, gelas, dan beberapa hidangan berjatuhan ke lantai.

Suara pecahannya memenuhi ruangan.

Namun Daffa tidak bergerak.

Ia berdiri dengan rahang mengeras.

Jemarinya mengepal begitu kuat hingga darah mulai merembes dari telapak tangannya.

"Daffa..." Suara Rania terdengar hati-hati. "Kau baik-baik saja?"

Daffa tidak menjawab. Napasnya terdengar berat.

Tatapannya justru jatuh pada sebuah botol kecil yang tergeletak di atas meja.

Sudah dua kali. Dua kali rencananya gagal.

Daffa memejamkan mata sejenak, berusaha mengendalikan amarah yang semakin sulit ia tahan.

"Daffa, aku mohon jawab aku."

Tetap tidak ada jawaban.

Hanya suara napas berat yang terdengar melalui sambungan telepon.

Tut!

Panggilan tiba-tiba terputus.

"Daffa?"

Rania segera menatap layar ponselnya.

Panggilan berakhir. Ia mencoba menghubunginya kembali, tetapi tidak mendapat jawaban.

Rania menurunkan ponselnya perlahan dan menekannya ke dada.

"Apa dia marah?" Ia menghela napas panjang. "Tidak Daffa dan tidak Brian, mereka sama-sama keras kepala."

Rania menggeleng kecil.

Kemudian pandangannya beralih kepada jam di dinding.

Sudah pukul tujuh malam.

Ia berdiri dan mulai merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja.

Namun sebelum meninggalkan ruangan, pikirannya kembali tertuju kepada Brian.

Pria itu apakah masih berada di ruang kerja, lalu Rania membuka tasnya.

Dari dalam tas tersebut, ia mengeluarkan beberapa tanaman herbal yang sudah ia siapkan sebelumnya.

Beberapa helai daun kering. Akar kering dan beberapa bunga kering.

Sejak awal ia memang sudah berniat membuatkan teh herbal untuk Brian.

Bukan karena perasaan lain. Melainkan sebuah janji yang telah ia lontarkan pada sang janin, ia akan membantu ayahnya pulih dari cedera.

Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian, Rania keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi secangkir teh herbal yang masih mengepulkan uap tipis.

Ia berjalan menuju ruang kerja Brian.

Klik! Pintu terbuka.

Ruangan itu sunyi. Brian tertidur di sofa.

Posisinya hampir tidak berubah sejak terakhir kali Rania meninggalkannya.

Punggungnya bersandar pada sisi sofa, kedua kakinya diluruskan ke depan, sementara salah satu tangannya memeluk bantal.

Rania berjalan mendekat. Ia meletakkan nampan di atas meja. Namun pandangannya langsung tertuju pada kaki kiri Brian.

Rania membeku.

Pergelangan kaki pria itu benar-benar membengkak. Telapak kakinya pun tampak sedikit menggembung.

Rania mengembuskan napas panjang. "Benar-benar keras kepala..." Ia menatap kaki tersebut dengan cemas. "Pasti sakit sekali kalau dipijat."

Rania kemudian duduk di sisi sofa.

Tanpa sadar, tatapannya beralih kepada wajah Brian. Dalam keadaan tertidur, wajah pria itu terlihat jauh lebih tenang.

Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada senyum menyebalkan. Hanya wajah seorang pria yang tampak lelah.

Rania terdiam cukup lama.

Hingga tatapannya jatuh tepat pada mata Brian.

Mata yang selama ini selalu membuatnya kehilangan kata-kata setiap kali tatapan mereka bertemu.

Dan seolah merasakan tatapan tersebut, kelopak mata Brian bergerak.

Perlahan, matanya terbuka. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.

Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Hanya keheningan yang memenuhi ruangan.

"Aku tidak bisa menggerakkan kakiku." Suara Brian akhirnya memecahkan keheningan.

Rania menghela napas. "Aku sudah bilang sebelumnya."

Brian menatapnya.

"Tapi kau keras kepala." Rania langsung meraih kaki Brian. Ia menekan beberapa titik di sekitar pergelangan kaki dengan hati-hati.

Brian langsung mengernyit. "Argh!" Tangannya memukul bantal di samping tubuhnya.

"Shit...!" Brian menarik napas kasar. "Kau tidak bisa lebih pelan?"

Rania tidak terpengaruh. "Kakimu sedang cedera. Wajar jika terasa lebih sensitif."

Brian menatapnya dengan tatapan menggoda. "Atau..." Sudut bibirnya terangkat. "Kau memang sengaja membuatku kesakitan?"

Rania mendengus.

Ia kembali memberikan pijatan perlahan dari betis menuju pergelangan kaki.

Brian menarik napas panjang.

Setiap kali jemari Rania menekan bagian tertentu, otot wajahnya kembali menegang.

"Kau mempermainkanku?" tanya Brian.

Rania tetap diam.

Brian kembali tersenyum tipis. "Kau menyukainya?"

Rania akhirnya menatapnya. "Menyukai apa?"

"Melihatku kesakitan." Timpal Brian.

Rania memutar bola matanya. "Jangan terlalu percaya diri." Ia menuangkan sedikit minyak ke telapak tangannya, lalu kembali mengusap kaki Brian dengan gerakan perlahan.

"Setelah ini seharusnya kondisimu lebih baik," ucap Rania.

Brian diam.

"Dan berjanjilah," lanjut Rania, "jangan terlalu memaksakan kaki kirimu lagi."

Brian mengangguk singkat.

Rania hendak menarik tangannya. Namun Brian tiba-tiba meraih lengannya.

Rania menoleh. Wajah mereka kembali berdekatan.

"Bantu aku mandi," ucap Brian.

Rania langsung menggeleng. "Tidak."

Brian mengangkat alis.

"Aku akan memanggil Alex untuk membantumu," ucap Rania.

Namun Brian kembali menarik lengan Rania. Jarak mereka semakin dekat. Tatapan pria itu berubah menjadi penuh arti.

"Jangan salahkan aku kalau aku bertindak."

Rania membeku. "Baik!" potong Rania cepat. "Aku akan membantumu."

Brian langsung menyeringai. Rania menghela napas panjang.

Entah mengapa malam ini tenaganya terasa terkuras. Daffa membuat pikirannya kacau. Brian membuat kesabarannya hampir habis.

Ia hanya ingin semuanya selesai. Rania kemudian membantu Brian berdiri. Langkah mereka di lantai satu kini perlahan menuju kamar mandi.

Namun baru beberapa langkah...

Brak! Pintu utama rumah tiba-tiba terbuka.

"Rania!" Suara itu membuat langkah Rania terhenti.

Tubuhnya membeku. Perlahan ia menoleh.

Daffa berdiri di ambang pintu.

Tatapannya langsung jatuh kepada Rania, kemudian kepada Brian.

Rania sedang menopang tubuh pria itu.

Sementara Brian berdiri di sampingnya dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

Mata Daffa menyipit.

Udara di dalam ruangan seolah berubah dingin.

Rania menelan ludah. "Da-Daffa..."

Brian justru tersenyum semakin lebar.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!