Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Tidak lama kemudian, Alena keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi bersih, wajahnya tampak lebih segar meskipun sisa-sisa kelelahan masih membekas.
Ia melangkah mendekati Baskara yang sedang merapikan kemejanya di dekat jendela.
"Bas, ayo antar aku ke toko roti," pinta Alena dengan nada memohon, mengingat banyak pesanan kue yang harus ia urus hari ini.
Baskara langsung menggelengkan kepalanya tegas tanpa keraguan.
"Kamu tetap di sini sampai resepsi pernikahan kita hari Minggu besok."
Alena mengerutkan keningnya, merasa keberatan.
"Tapi, Bas... toko roti tidak bisa ditinggal begitu saja. Aku harus melihat ke sana."
Baskara menghentikan aktivitasnya, lalu berbalik dan melangkah mendekati Alena.
Ia memegang kedua bahu istrinya, menatap manik matanya dengan sorot penuh perlindungan.
"Sayang, percaya sama aku," ucap Baskara lembut namun tegas.
"Banyak orang yang ingin melukaimu di luar sana, termasuk Billy, mama, maupun kedua adikku. Mereka tidak akan segan-segan mencari celah untuk menyakitimu."
"Bas..." Alena mencoba membantah lagi.
"Untuk toko, aku sudah meminta Tanti untuk mencari karyawan tambahan dan mengambil alih pengawasannya sementara waktu," potong Baskara sebelum Alena sempat protes.
"Jadi, kamu tetap di sini sampai resepsi pernikahan kita selesai."
Alena terdiam, menelan mentah-mentah semua argumen yang sempat berputar di kepalanya.
Ia tahu Baskara tidak sedang bercanda. Tatapan mata suaminya memancarkan proteksi mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
Melihat istrinya yang masih tampak bimbang, Baskara melunak.
Ia meraih tangan Alena, membawanya duduk di sofa ruang keluarga penthouse yang menghadap langsung ke panorama kota pagi itu.
"Sudah, jangan dipikirkan dulu. Hari ini kita bersantai," bujuk Baskara sambil mengusap punggung tangan Alena.
"Mau kubuatkan sarapan, atau kamu mau memesan sesuatu?"
Alena menggeleng pelan, meski sudut bibirnya kini sedikit terangkat membentuk senyuman tipis.
"Aku masih kenyang... dan jujur, kakiku masih sedikit lemas gara-gara ulahmu semalam," sindirnya halus dengan tatapan menggoda.
Baskara terkekeh pelan, tidak merasa bersalah sama sekali.
"Itu risiko punya suami yang terlalu mencintaimu," balasnya santai.
Namun, kedamaian di penthouse itu tidak berlangsung lama.
Di tempat lain, ribuan mil dari kenyamanan mereka, badai kemarahan tengah melanda kediaman besar keluarga Baskara.
Di ruang kerja pribadinya yang megah, Mama Baskara melempar sebuah vas kristal hingga pecah berkencan di lantai.
Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang teramat sangat.
"Anak kurang ajar!" desis Mama Baskara penuh kebencian.
"Beraninya dia mengancam ibunya sendiri demi wanita tua itu!"
Yanuar dan Arum yang berdiri di hadapannya tampak sama geramnya.
Mereka tidak menyangka Baskara akan bertindak sekejam itu—menyingkirkan posisi mereka dari perusahaan hanya demi membela seorang wanita pembuat kue.
"Kita tidak bisa tinggal diam, Ma," ucap Yanuar dengan mata menyipit tajam.
"Kalau kita biarkan, seluruh saham dan kekuasaan keluarga akan jatuh ke tangan wanita murahan itu."
Pintu ruang kerja mendadak terbuka. Billy melangkah masuk dengan perban kasa menutupi sudut bibirnya yang robek akibat pukulan Baskara semalam. Senyum licik terukir di balik wajahnya yang lebam.
"Tenang, Tante. Kita tidak perlu bertindak kasar secara langsung," ujar Billy dengan suara dingin penuh tipu muslihat.
Ia mendekati meja kerja bibinya, meletakkan sebuah map tipis berisi dokumen rencana busuk.
"Baskara boleh melindunginya di balik benteng apartemennya sekarang... tapi pernikahan hari Minggu besok adalah panggung terbuka. Dan di sanalah, kita akan pastikan Alena hancur berkeping-keping hingga Baskara sendiri yang akan membuangnya."
Mama Baskara menoleh, seringai keji perlahan menggantikan kemarahannya.
"Apa rencana kamu, Billy?"
Billy merapatkan posisinya ke meja kerja Mama Baskara, membuka map tipis tersebut, dan membisikkan rencana kotor yang langsung membuat Arum dan Yanuar tersenyum lebar.
"Kita tidak perlu menyerangnya secara fisik di hari resepsi, Tante. Cukup hancurkan harga diri wanita itu di hadapan seluruh relasi bisnis penting, investor, dan media. Kita buat seolah-olah dia adalah wanita manipulatif yang hanya mengincar harta Baskara," bisik Billy penuh percaya diri, matanya memancarkan dendam kesumat.
Mama Baskara mengangguk puas, seringai mengerikan terukir di wajahnya.
"Bagus. Rencanakan semuanya dengan matang. Pastikan Baskara tidak punya kesempatan untuk menyelamatkannya kali ini."
Namun, di tempat yang terpisah jauh dari kediaman itu, di dalam penthouse mewah yang sunyi, senyum kemenangan di wajah Billy dan keluarga besar Baskara tidak ubahnya seperti lelucon yang menyedihkan.
Tanpa mereka sadari, sebuah layar monitor CCTV berukuran besar di ruang kendali privat penthouse menyala terang.
Baskara berdiri tegak di depannya, kedua tangannya terlipat di dada dengan rahang yang mengeras bagaikan baja.
Kamera tersembunyi berteknologi tinggi yang ia pasang di berbagai sudut rumah utama—termasuk di ruang kerja mamanya—menangkap setiap gerak-gerik dan suara bisikan busuk mereka dengan sangat jelas.
Sepasang mata tajam Baskara menatap nyalang layar tersebut, merekam setiap detail rencana jahat yang baru saja disusun oleh keluarganya sendiri dan sepupu keparatnya.
Tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya. Yang ada hanyalah aura kematian yang jauh lebih pekat dan berbahaya dari sebelumnya.
"Kalian benar-benar sedang menggali kuburan kalian sendiri," gumam Baskara pelan, suaranya begitu dingin hingga mampu membekukan udara di sekitarnya.
Ia tahu persis apa yang harus ia lakukan. Jika keluarganya ingin bermain kotor di hari resepsi pernikahan mereka hari Minggu nanti, maka Baskara akan memastikan pernikahan itu menjadi hari pembalasan paling mengerikan dalam sejarah keluarga besar mereka.
Alena yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di lehernya, mengernyit bingung melihat perubahan aura suaminya.
Pria itu tadinya tampak santai, namun kini berdiri kaku menatap layar monitor dinding yang perlahan meredup secara otomatis.
"Ada apa, Bas?" tanya Alena penasaran, melangkah mendekat dengan langkah pelan.
Baskara langsung berbalik.
Garis ketegasan di wajahnya seketika mencair, digantikan oleh senyuman hangat yang sengaja ia pasang demi menyembunyikan badai kemarahan yang baru saja ia saksikan.
Pria itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu menepuk sisi sofa kosong di sebelah posisinya.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya urusan pekerjaan lama," jawab Baskara tenang.
Ia mengambil semangkuk kentang goreng hangat yang baru saja diantar oleh layanan kamar penthouse, lalu menusuk sepotong dengan garpu kecil dan mengarahkannya tepat ke bibir istrinya.
"Buka mulutmu. Kamu harus makan, jangan biarkan perutmu kosong lagi," bujuk Baskara lembut.
Alena mengerjap, meski masih merasa ada sesuatu yang disembunyikan suaminya, ia akhirnya menyerah dan menerima suapan kentang goreng tersebut.
Rasanya gurih dan pas, membuat ketegangannya sendiri perlahan melunak di bawah tatapan mata Baskara yang begitu memuja.
Tanpa Alena ketahui, di balik senyuman dan suapan lembut itu, Baskara telah menyiapkan jebakan maut yang jauh lebih mengerikan untuk menyambut keluarganya di hari Minggu esok.
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭