Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ganteng Tapi Pengecut
Riasan mata yang berat berpadu dengan rasa kantuk yang luar biasa, membuat kelopak mata Kanaya terasa seperti ditindih beban berat. Beberapa kali ia berusaha menahan untuk menguap akibat waktu tidur yang sangat singkat.
"Ngantuk ya, Mbak?"
Gerakan Kanaya yang sedang bersusah payah menahan gerakan mulutnya agar tidak terbuka lebar, tertangkap oleh mata jeli Tante Widi yang sejak subuh tadi sibuk merias wajah Kanaya.
"Iya, Tan. Semalam baru bisa tidur jam tigaan," aku Kanaya jujur, sambil mendesah pelan.
"Pasti nervous, ya?" Tante Widi tersenyum maklum seraya menepuk lembut pundak Kanaya. "Kalau menjelang akad nikah memang wajar begitu, Mbak. Banyak calon pengantin yang Tante rias juga mendadak insomnia karena gugup jelang hari H," sambungnya, menceritakan pengalamannya.
"Hmph..." Sudut bibir Kanaya tertarik tipis, membentuk senyum getir. Seandainya Tante Widi tahu ada masalah yang jauh lebih besar dari sekedar rasa gugup, yang saat ini sedang berkecamuk di dadanya, mungkin Tante Widi memahami alasan dia susah tertidur.
"Nanti setelah akad, usahakan langsung istirahat dulu ya, Mbak. Biar nanti malam pas resepsi bisa fresh lagi. Acara malam pasti jauh lebih melelahkan daripada prosesi akad, lho," saran Tante Widi penuh perhatian. Sebagai MUA berpengalaman, ia tahu betul, menerima ratusan tamu sambil berdiri dan duduk berulang kali di pelaminan membutuhkan stamina yang fit. Jika Kanaya tidak pandai menjaga kondisi tubuhnya, dikhawatirkan penampilannya nanti malam kurang maksimal. Padahal, sang mempelai adalah sosok sentral dalam acara tersebut.
"Iya, Tan." Kanaya mengiakan.
"Tante ikut senang, akhirnya Mbak Yaya sampai juga di tahap ini." Tante Widi menjeda gerakannya sejenak, menatap Kanaya dari pantulan cermin dengan rasa haru. Dia sudah menjadi MUA langganan keluarga Danur sejak lama. Mulai dari menikahkan Kinanti, Karina, bahkan saat acara khitanan anak pertama Kinanti, semua urusan penampilan diserahkan kepadanya. Sudah lama juga ia berharap bisa mendandani saat Kanaya menikah dan ternyata keinginannya terwujud hari ini.
"Tapi memang nggak sia-sia Mbak Yaya menunggu jodoh. Ternyata jodohnya ganteng banget, lho. Cocok banget bersanding sama Mbak Yaya."
Senyum Tante Widi merekah saat membayangkan Yogi. Tentu saja pria yang dimaksudnya adalah Yogi. Tante Widi belum tahu perihal drama yang terjadi semalam. Dia belum tahu bahwa sang mempelai pria telah berganti orang.
"Ganteng, tapi pengecut, apa gunanya?" Cibiran itu lolos begitu saja dari bibir Kanaya dengan nada dingin.
Tante Widi terkesiap mendengar ucapan Kanaya. Ia sama sekali tidak menduga kalimat sekasar itu akan keluar dari mulut Kanaya dan ditujukan untuk calon suaminya sendiri.
Kanaya mengalihkan pandangannya. Melalui pantulan cermin, ia menatap lurus ke arah mata Tante Widi yang sedang menata rambutnya.
"Tante belum tahu? Kalau calon suami aku kabur?" Kanaya kembali menampilkan senyum getir.
Tidak ada gunanya berbohong pada Tante Widi. Wanita itu sudah beberapa kali bertemu dengan Yogi saat fitting baju pengantin. Pasti akan hapal dengan sosok Yogi. Seandainya Tante Widi menyadari mempelai pria berbeda, bukankah itu akan menimbulkan tanda tanya besar?
"Hahh??" Tante Widi tersentak. Tangannya yang sedang menata sanggul Kanaya langsung berhenti total. "Kabur?" Tenggorokan seketika tercekat.
"Ya, dia kabur kemarin dan membatalkan pernikahan ini secara sepihak. Sekarang, adiknya yang menggantikan posisi dia, Tan," tutur Kanaya, menampilkan senyuman yang mencibir dirinya sendiri.
Tante Widi menelan saliva dengan susah payah. Walau bukan ia yang berada di posisi Kanaya, rasa sesak mendadak ikut menghimpit dadanya.
"Ya ampun... kok bisa begitu, Mbak?" Setelah beberapa saat tenggorokannya tercekat, Tante Widi akhirnya bersuara dengan lirih dan penuh keprihatinan.
"Entahlah, Tan. Tapi, aku mohon, anggap aja Tante nggak tahu apa-apa soal ini. Jangan bertanya macam-macam juga ke mama. Aku kasihan sama papa dan mama, mereka sudah cukup tertekan karena masalah ini. Cukup Tante tahu dari aku aja dan nggak usah diceritakan pada yang lain." Kanaya menatap Tante Widi penuh harap, dia tak ingin terlalu banyak orang yang tahu. Sudah cukup keluarganya menanggung malu, jangan sampai desas-desus ini beredar liar di luaran sana.
Tante Widi mengangguk cepat, bola matanya berkaca-kaca. "Iya, Mbak. Mbak Yaya tenang aja. Tante akan jaga mulut." Ada rasa iba terselip di hati Tante Widi. Sekian lama menanti jodoh, ketika saatnya tiba, justru dikecewakan jelang pernikahan.
Miris
***
Suasana khidmat terasa di ruangan tamu rumah Danur yang akan dijadikan tempat prosesi ijab qobul, ketika sang mempelai pria duduk di hadapan Danur. Penghulu dan para saksi pun sudah mengambil posisi, bersiap untuk menggelar prosesi ijab qobul, yang menjadi salah satu momen paling menegangkan dari rentetan acara akad nikah pagi ini.
Di lantai atas, Kanaya dengan keanggunan bak putri kraton mulai berjalan keluar dari kamarnya. Di sisi kiri dan kanannya, kedua adik perempuannya mengapit erat, Bersama-sama, mereka melangkah menuruni anak tangga satu demi satu.
Saat itulah, pandangan Kanaya langsung terkunci pada sosok pria yang kini duduk berhadapan dengan sang papa. Jantung Kanaya berdegup lebih cepat. Pria itu, yang tak lain adalah Yudha terlihat sangat rupawan. Beskap berwarna broken white yang melekat pas di tubuh tegapnya membuat auranya terpancar begitu berwibawa.
Seakan menyadari kehadiran sang pengantin wanita, Yudha mendongak. Hingga akhirnya tatapan mereka saling bertautan.
Di luar dugaan Kanaya, Yudha tidak tampak tegang. Pria itu justru mengulum sebuah senyuman tipis saat melihat dirinya berjalan menuruni tangga.
Seketika Kanaya langsung melempar pandangannya ke arah lain. Semburat merah mendadak terbias di balik riasan pipinya. karena tertangkap basah, baru saja mengagumi paras rupawan pria yang beberapa menit lagi akan resmi menjadi suaminya.
Ketika sampai di anak tangga paling bawah, kedua adik Kanaya menyerahkan sang kakak pada mama mereka. Anita lah yang selanjutnya menuntun Kanaya hingga terduduk berdampingan dengan Yudha mengharap penghulu.
Acara prosesi ijab qobul pun seketika digelar dengan khidmat. Tak banyak orang yang menyadari jika nama pengantin pria berbeda dengan yang tertulis di surat undangan. Mereka lebih terfokus dan terkagum pada penampilan kedua mempelai yang menjelma bagaikan pangeran dan putri kerajaan yang mampu menghipnotis setiap mata yang memandangnya.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.
besoknya anggap angin lalu. siapa tau jodoh sebenarnya udah deket
terima nasib aja ayy,positif thinking aja kalau Yudha bukan jodohmu. jangan coba2 buat nikung ya,..