Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara di Balik Tabir Kemenangan
Kemenangan mutlak di Lembah Serigala bergema di seluruh penjuru Kekaisaran Han bagaikan petir yang membersihkan langit badai. Kereta perang dan barisan kavaleri Barak Barat berbaris memasuki gerbang utama ibu kota, disambut oleh ribuan rakyat yang bersorak-sorai di sepanjang jalan utama. Kelopak-kelopak bunga magnolia putih ditaburkan di atas jalanan marmer, menghiasi zirah hitam milik Shen Xianle yang masih ternoda oleh darah kering Panglima Tuoba.
Namun, di balik riuh rendah sorak-sorai kemenangan rakyat, atmosfer di dalam istana dalam justru terasa sedingin es.
Xianle berjalan melintasi koridor panjang menuju Aula Belajar Kekaisaran. Jubah panglimanya telah diganti dengan gaun sutra hitam berkerah tinggi bersulam benang perak. Wajah porselennya tampak lelah, namun sepasang matanya tetap memancarkan fokus yang tidak tergoyahkan. Di belakangnya, Xiaoyu berjalan dengan langkah cepat sembari membawa beberapa gulungan laporan rahasia.
"Nona," bisik Xiaoyu begitu mereka memasuki ruangan yang sunyi. "Mata-mata kita dari perbatasan utara melaporkan bahwa Kaisar Zhao sangat murka setelah mendengar kematian Panglima Tuoba. Namun, alih-alih mengirim pasukan tambahan, mereka justru menarik seluruh divisi kavaleri mereka mundur ke balik benteng utama."
Xianle duduk di balik meja kayu cendana, jemarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme konstan. "Menarik mundur pasukan setelah kehilangan seratus ribu kavaleri besi? Itu bukan gaya Kekaisaran Zhao. Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu yang lebih licik."
"Benar, Nona," Xiaoyu menyerahkan sebuah gulungan kertas kecil bersampul hitam. "Jaringan informasi Pasukan Bayangan menemukan bahwa utusan rahasia dari Kekaisaran Zhao telah menyusup ke wilayah perbatasan selatan kita dua hari lalu. Mereka tampaknya mencoba menghubungi keluarga bangsawan lama yang dulu setia kepada faksi Perdana Menteri Shen."
Xianle menerima gulungan itu, membacanya sekilas sebelum akhirnya membakar kertas tersebut di atas nyala lilin. Abu hitamnya jatuh mengotori meja giok. "Perdana Menteri Shen sudah berada di penjara bawah tanah, namun sisa-sisa akarnya ternyata masih mencoba menjual tanah air ini demi membalas dendam padaku. Mereka mengira aku akan membiarkan mereka bernapas lebih lama."
Tepat saat itu, pintu kayu Aula Belajar terbuka tanpa suara. Long Junwei melangkah masuk, jubah hitam bersulam naga peraknya berkibar pelan. Pangeran Bayangan itu membawa sebuah kotak kayu kecil bertatahkan giok putih di tangannya.
"Kau harus melihat ini, Xianle," ucap Junwei, suara baritonnya yang berat memotong keheningan ruangan. Ia meletakkan kotak itu di hadapan Xianle.
Xianle membuka kotak tersebut dan menemukan sebilah kunci perunggu kuno bersimbol naga berkepala dua—lambang dari perbendaharaan rahasia dinasti terdahulu yang kabarnya tersimpan di bawah tanah pegunungan terlarang.
"Di mana kau menemukan ini?" tanya Xianle, matanya menyipit penuh minat.
"Di dalam ruang rahasia di bawah tempat tidur Li Feng," Junwei duduk di kursi seberang Xianle, menatapnya dengan tatapan intens. "Keluarga Jenderal Li selama ini ternyata menyembunyikan kunci ini dari kaisar dinasti lama. Perbendaharaan ini tidak hanya berisi emas, tetapi juga cetakan senjata rahasia dan bubuk mesiu tingkat tinggi yang bisa mengubah jalannya perang di benua ini."
Xianle meraba permukaan kunci perunggu yang dingin itu. Penemuan ini bisa menjadi fondasi terkuat untuk memperkokoh takhtanya yang baru lahir. Namun, di dalam dunia politik istana, sebuah berkah yang terlalu besar sering kali memicu keserakahan baru, bahkan di antara sepasang sekutu yang paling dekat sekalipun.
Xianle mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang milik Long Junwei. "Kunci ini berada di tanganmu sekarang, Junwei. Apakah kau berniat menggunakannya untuk memperkuat pasukan perbatasanmu, atau untuk membangun takhta baru yang terpisah dariku?"
Pertanyaan frontal dari Xianle membuat atmosfer di dalam ruangan seketika merosot drastis hingga ke titik beku. Xiaoyu yang berdiri di sudut ruangan menahan napasnya, tidak berani membuat gerakan sekecil apa pun.
Long Junwei tidak langsung menjawab. Sebuah senyuman misterius yang sangat tipis terukir di wajahnya yang tegas. Ia memajukan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka hingga Xianle bisa mencium aroma dupa cendana hitam yang melekat pada tubuh pria itu.
"Jika aku menginginkan takhta ini untuk diriku sendiri, Xianle, aku tidak akan pernah menyelamatkanmu malam itu di dasar tebing," bisik Junwei dengan nada rendah yang sarat akan dominasi namun penuh ketulusan yang rumit. "Aku menyerahkan kunci ini kepadamu karena aku ingin kau tahu... kekuatanku adalah kekuatanmu. Namun, ingatlah, singgasana yang kau duduki saat ini dipenuhi oleh duri. Jika kau lengah sedikit saja, sisa-faksi istana akan menggunakan kunci yang sama untuk mengunci gerbang kematianmu."
Xianle menatap mata pria di hadapannya, mencari tanda-tanda pengkhianatan di dalamnya, namun yang ia temukan hanyalah kedalaman malam yang pekat. Aliansi di antara mereka kini kian erat, namun juga kian berbahaya karena melibatkan rahasia terbesar kekaisaran.
Sebelum mereka sempat mendiskusikan rencana pencarian perbendaharaan rahasia tersebut, seorang pengawal bayangan tiba-tiba berlari masuk ke dalam aula dengan wajah yang dipenuhi kepanikan.
"L-Lapor... Melapor kepada Yang Mulia Maharani, Jenderal Pangeran!" pengawal itu berlutut dengan tergesa-gesa. "Perdana Menteri Shen... pria tua itu telah menelan racun bunuh diri di dalam sel penjara bawah tanahnya satu jam yang lalu!"
Xianle tertegun, berdiri dari kursinya dengan gusar. "Menelan racun? Penjagaan di penjara bawah tanah sangat ketat, dari mana dia mendapatkan racun?!"
"B-Bukan itu saja, Yang Mulia!" pengawal itu menelan ludah dengan susah payah, tubuhnya gemetar hebat. "Sebelum tewas, Perdana Menteri Shen menuliskan sebuah kalimat di dinding sel menggunakan darahnya sendiri. Kalimat itu berbunyi: 'Gerbang Selatan telah terbuka, sang naga sejati dari selatan akan datang untuk menuntut takhta yang sah!'"
Mendengar laporan itu, wajah Xianle dan Long Junwei seketika berubah mengeras. "Naga sejati dari selatan?"
Itu adalah gelar rahasia milik Pangeran Keempat, Shen Chia, kakak tiri Xianle yang telah lama diasingkan ke wilayah selatan karena perselisihan politik masa lalu. Berbeda dengan mendiang Li Feng atau Shen Meili yang digerakkan oleh emosi, Pangeran Keempat dikenal sebagai seorang ahli strategi militer yang sangat jenius dan memiliki kendali penuh atas pasukan elit wilayah laut selatan.
Kematian Perdana Menteri Shen bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan sebuah sinyal pengorbanan untuk menggerakkan bidak terakhir mereka yang paling mematikan. Ancaman dari utara baru saja diredam, namun kini badai yang jauh lebih besar dan terencana sedang bergerak mendekat dari arah selatan, siap menghantam Dinasti Magnolia Baru dari titik butanya.
Xianle mencengkeram kunci perunggu kuno di tangannya dengan sangat erat hingga ujungnya yang tajam menggores telapak tangannya, meneteskan setitik darah segar di atas meja giok. Perang perebutan kekuasaan yang sesungguhnya... baru saja memasuki babak baru yang lebih berdarah.