Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 18
"Aku tidak datang sebagai CEO, Raihan," sahut Arsen, suaranya rendah dan dalam.
"Aku datang sebagai pria yang ingin bicara tentang Tsania."
Atmosfer di dalam ruangan berukuran empat kali lima meter itu mendadak mendingin. Raut wajah Raihan berubah keras seketika. Sorot matanya yang tadinya sopan kini dipenuhi permusuhan yang tak lagi ditutupi.
"Tsania?" Raihan terkekeh sinis, menyilangkan kedua tangan di dada.
"Setahu saya, Anda adalah atasan yang hampir membunuh stafnya sendiri dengan tumpukan berkas dan lembur paksa saat dia sedang demam tinggi. Untuk apa Anda mencari tahu tentang wanita yang sudah Anda siksa?"
Arsen mengepalkan tangannya di balik saku celana. Setiap ucapan Raihan bagaikan sembilu yang menyayat harga dirinya, namun Arsen memaksakan dirinya untuk tetap berdiri tegap, menahan gejolak emosi.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Arsen, mengabaikan cemoohan Raihan.
"Kenapa? Anda takut dia mati lalu nama perusahaan Anda tercemar di media?" tembak Raihan tanpa rasa takut sedikit pun pada pria berpengaruh di depannya.
"Tsania sudah melewati masa kritisnya. Dia aman di rumah sakit, jauh dari jangkauan Anda dan wanita bernama Aurelia itu."
Arsen menarik napas panjang, menghembuskannya pelan melalui hidung.
"Aku sudah memindahkannya ke ruang perawatan VVIP. Dokter-dokter terbaik sudah menangani fisiknya."
Raihan membelalakkan mata, lalu melangkah dua tindak mendekati Arsen, menatap lurus ke dalam mata sang CEO.
"Jadi Anda yang melakukan pemindahan sepihak itu?" cecar Raihan dengan nada suara yang meninggi.
"Anda pikir dengan melempar fasilitas mewah dan uang, semua dosa Anda terhapus begitu saja, Pak Arsen?! Tahu tidak apa yang pertama kali Tsania katakan waktu dia sadar di HCU?!"
Arsen membisu, dadanya berdenyut nyeri mendengarkan kalimat yang sudah ia ketahui jawabannya dari Danu.
"Dia gemetar!" bentak Raihan seraya menunjuk dada Arsen.
"Saya ini orang asing yang kebetulan lewat di lobi dan menolongnya saat dia pingsan. Maya menelepon saya karena panik tidak tahu harus minta bantuan ke siapa lagi! Dan begitu sadar, Tsania memegang tangan saya sambil menangis ketakutan, memohon supaya saya tidak membiarkan Anda masuk ke ruang perawatannya! Dia lebih takut melihat wajah Anda daripada menghadapi kematiannya sendiri!"
Kalimat Raihan menghantam ulu hati Arsen begitu keras hingga membuat pria itu sempat kehilangan napas sejenak. Arsen memejamkan mata, menahan rasa panas yang merebak di balik kelopak matanya.
"Aku tahu..." bisik Arsen, suaranya parau dan sarat akan kepahitan.
"Aku tahu betapa dia membenciku saat ini."
Raihan tertegun sejenak melihat raut keputusasaan yang nyata di wajah CEO yang terkenal dingin dan berdarah dingin itu. Namun, rasa kemanusiaan dan empati Raihan pada wanita malang yang ditemukannya pingsan menggigil semalam membuat amarahnya sulit diredam.
"Kalau Anda tahu, kenapa Anda tidak tinggalkan dia saja?" tanya Raihan lebih tenang, namun penuh penekanan.
"Dia cuma wanita biasa yang sedang menyambung hidup dengan tenang untuk membiayai pengobatan ibunya. Kenapa Anda harus muncul dan menghancurkannya?"
Arsen mendongak, menatap Raihan dengan sorot mata yang mengeras, bukan oleh keangkuhan, melainkan oleh tekad mati-matian.
"Karena tiga tahun lalu aku dibohongi," tegas Arsen. "Dan aku baru menyadarinya semalam."
Raihan mengerutkan dahi. "Apa maksud Anda?"
"Aku pikir dia pergi karena mencampakkanku dan membuat aku terpuruk di Singapura," tutur Arsen, melangkah satu tapak lebih dekat ke meja Raihan.
"Tapi ternyata Papaku... keluargaku sendiri yang mengancam dan memaksanya pergi dari sisiku. Tiga tahun ini aku hidup dalam dendam buta yang salah sasaran, Raihan. Dan kemarin, aku membalas dendam itu pada wanita yang sama sekali tidak bersalah. Setelah selama tiga tahun aku tak pernah bertemu lagi dengannya. Apa salah aku marah? Karena wanita yang benar-benar aku cintai pergi tiba-tiba tanpa memberi kabar apapun padaku,"
Raihan membisu, memproses pengakuan yang keluar dari mulut Arsen. Ada riak terkejut di mata sang arsitek, namun ia segera menguasai diri. Dia tak mengira jika Arsen dan Tsania ternyata memiliki kedekatan di masa lalu.
"Lalu apa bedanya?" tanya Raihan dingin.
"Mau itu karena dendam atau kebohongan ayah Anda, faktanya Anda tetap menghancurkan fisik dan mental Tsania beberapa hari terakhir ini. Anda tetap pria yang membuat dia masuk HCU semalam!"
"Itu sebabnya aku di sini," balas Arsen mantap.
"Aku tidak minta kamu membantuku, dan aku tidak minta kamu menyuruh Tsania memaafkanku. Aku cuma mau berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan nyawanya semalam dan meminta satu hal darimu."
"Apa?"
"Tetaplah memantau kondisinya sebagai orang yang dipercayai Maya untuk beberapa hari ke depan," pinta Arsen, sebuah permintaan yang membuat Raihan terperangah.
"Aku tidak bisa menemuinya secara langsung sekarang. Keluargaku memantau gerak-gerikku, dan kehadiranku hanya akan membuat fisiknya makin drop. Tolong bantu awasi dia dari jauh. Pastikan dia makan, pastikan dia meminum obatnya, dan jangan biarkan dia tahu kalau seluruh biaya perawatan VVIP itu berasal dariku."
Raihan menatap Arsen dengan pandangan tak percaya. Pria yang selama ini dikenal angkuh dan tak terselubung penyesalan, kini sedang memohon pada seorang arsitek biasa demi keselamatan seorang wanita.
"Kenapa saya harus membantu Anda?" tantang Raihan.
"Bukan membantuku, tapi membantu Tsania," jawab Arsen tanpa ragu, menatap Raihan lurus.
"Aku sedang menyiapkan pembalasan untuk orang-orang yang sudah menghancurkan hidup Tsania dan juga padaku selama ini. Sabtu minggu depan, aku akan membersihkan nama baiknya dan menyelesaikan semuanya. Sebelum hari itu tiba, aku butuh perlindungan di sekitarnya tetap terjaga tanpa membuat Tsania panik."
Suasana ruangan mendadak hening. Kedua pria itu saling mengunci pandangan dalam diam yang menegang.
Raihan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar.
"Saya tidak peduli dengan urusan keluarga atau dendam Anda, Pak Arsen. Saya menolong Tsania semalam murni karena kemanusiaan. Jika kondisi Tsania memang butuh ketenangan tanpa kehadiran Anda, saya akan tetap berada di sana memastikan dia didampingi Maya."
"Terima kasih," bisik Arsen tulus.
"Tapi ingat satu hal," sela Raihan dengan suara menajam, melangkah tepat di hadapan Arsen.
"Saya memang bukan siapa-siapanya. Tapi kalau setelah Sabtu minggu depan Anda kembali membuat wanita itu menangis, tertekan, atau menderita lagi. Saya tidak akan segan-segan melaporkan tindakan Anda ke pihak berwajib atas tuduhan penganiayaan dan intimidasi pekerja."
Ancaman Raihan tidak membuat Arsen marah. Sebaliknya, Arsen justru mengangguk pelan, sebuah penghormatan rasional untuk pria yang telah bertindak cekatan menyelamatkan nyawa Tsania.
"Jika aku kembali menyakitinya setelah semua kebenaran ini terbongkar..." ujar Arsen dingin dan penuh kepastian, "...maka aku sendiri yang tidak akan pernah memaafkan diriku seumur hidup."
Tanpa menambah kata-kata lagi, Arsen berbalik dan melangkah keluar dari ruangan kantor lantai delapan tersebut. Raihan memperhatikan punggung tegap sang CEO yang menghilang di balik pintu kaca, menyisakan keheningan berat dan firasat bahwa sebuah badai besar akan segera menghantam keluarga Pratama Group dalam beberapa hari ke depan.