NovelToon NovelToon
When The Extra Writes The Rules

When The Extra Writes The Rules

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.

Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.

Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Setangkai Bunga

Cahaya matahari pagi menerobos celah tirai di ruang keluarga utama Rosenberg.

Ruangan itu terasa begitu hidup dengan aroma roti panggang, sup kentang hangat, dan seduhan kopi hitam kesukaan Duke Richard.

Di sudut meja panjang, Evelyn duduk menyandarkan punggungnya. Jemarinya memegang sendok, memutar-mutar supnya tanpa minat.

Di sampingnya, Julian sibuk memoles gagang pedangnya dengan kain, sementara Duchess Eleanor sedang merapikan lipatan taplak meja.

Pintu ruang keluarga mendadak diketuk tiga kali.

"Masuk," sahut Duke Richard tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran koran pagi di tangannya.

Pintu terdorong pelan. Rosalia melangkah masuk.

Hari ini ia mengenakan gaun warna biru muda, lengkap dengan celemek putih yang terpasang rapi di pinggangnya.

Di kedua tangannya, ia membawa nampan berisi selusin tangkai bunga krisan putih yang masih segar dan vas.

"Selamat pagi, Lord Duke, Duchess, Lord Julian... dan Lady Evelyn," sapa Rosalia dengan suara renyah yang bergetar penuh kesopanan, ia membungkuk.

Eleanor mendongak, tersenyum ramah. "Ah, Rosalia. Pagi sekali kamu sudah ke sini. Ada apa, Nak?"

Rosalia menegakkan tubuhnya, mengulas senyum manis yang memasang lesung pipit di pipi kirinya.

"Saya tadi pagi-pagi sekali jalan ke taman depan, Duchess," terang Rosalia lembut seraya melangkah mendekati meja makan.

"Saya lihat bunga krisan putih ini baru mekar indah sekali. Saya ingat kata Dokter Tristan, aroma krisan segar bisa bantu meredakan pusing dan melancarkan pernapasan Lady Evelyn. Jadi saya petikkan khusus buat dipajang di meja makan ini."

Rosalia meletakkan vas itu tepat di tengah meja.

Bunga-bunga itu memang tampak cantik, mengeluarkan wangi segar yang menenangkan.

"Aduh, kamu perhatian sekali, Rosalia," puji Eleanor dengan mata berbinar. "Padahal itu bukan bagian dari tugasmu.”

"Tidak apa-apa, Duchess. Kebahagiaan dan kesehatan keluarga Rosenberg adalah prioritas terbesar saya," sahut Rosalia cepat.

Ia berpaling menatap Duke Richard yang baru saja menurunkan korannya. "Lagipula... saya sangat kagum pada kebaikan Lord Duke yang selalu mengayomi rakyat kecil seperti keluarga saya."

Duke Richard mengernyitkan dahi tipis, menyunggingkan senyum formal.

"Keluargamu?"

Rosalia menundukkan kepalanya sedikit, memasang raut wajah agak sedih dan serba salah—sebuah gestur yang secara alami mengundang rasa ingin tahu orang di sekitarnya.

"Iya, Lord Duke... Ayah saya, Baronet Evan, belakangan ini sering sakit-sakitan karena kepikiran masalah wilayah kami yang kecil di pinggiran," cicit Rosalia, suaranya mengecil halus.

"Usaha pasokan kayu bakar kami di Selatan sedang macet total gara-gara izin galian dari pihak Istana tertahan di meja kementerian. Ayah saya bingung sekali... tapi melihat saya bisa bekerja di rumah keluarga Rosenberg yang hebat ini, beliau merasa punya harapan lagi."

Evelyn yang duduk di sampingnya menahan senyum sinis di balik cangkir tehnya.

Aha. Kelihatan kan ujung jarumnya? batin Evelyn.

Di novel asli, jalur ini begitu mulus.

Rosalia akan menceritakan kesusahan ayahnya sambil meneteskan air mata, membuat Duke Richard yang tidak tega langsung turun tangan memberikan surat rekomendasi atau bantuan dana segar secara cuma-cuma.

Bantuan yang kemudian dipakai oleh keluarga Rosalia untuk mendanai gaya hidup mewah dan membeli gelar bangsawan yang lebih tinggi di ibu kota.

Evelyn melirik kakaknya. Julian menghentikan gerakannya.

Ksatria muda itu menatap Rosalia dengan mata menyipit tajam—tidak ada sedikit pun rasa iba di wajah tampannya, kecuali tatapan curiga.

"Izin kementerian yang tertahan?" potong Julian, suaranya berat dan menginterogasi.

"Setahu saya, kementerian tidak pernah menahan izin usaha kayu bakar di Selatan kecuali ada masalah kelayakan hutan atau sengketa pajak yang belum tuntas."

Rosalia sedikit tersentak. Langkah kakinya bergerak mundur, terkejut mendengar tanggapan dingin Julian yang tidak sesuai bayangannya.

"M-maksud Lord Julian...?" tanya Rosalia dengan suara memelas yang bergetar manis.

"Ayah saya orang jujur, Lord... Beliau hanya korban permainan orang-orang kaya di ibu kota..."

"Bukan begitu, Rosalia," sela Evelyn cepat sebelum situasi makin tegang.

Seluruh pandangan di meja makan seketika beralih pada Evelyn.

Evelyn memajukan badannya sedikit, menatap Rosalia.

"Aduh, kasihan sekali ayahmu, Rosalia..." bisik Evelyn seraya batuk kecil yang halus.

Uhuk! "Pasti berat banget ya, jadi kamu? Harus kerja keras cari obat buat saya sambil mikirin utang dan masalah usaha ayahmu di rumah."

Rosalia berkedip cepat, agak bingung dengan arah pembicaraan Evelyn. "I-iya, Lady Evelyn... tapi saya tetap berusaha tegar demi ayah saya..."

"Mama, Papa..." Evelyn berpaling menatap kedua orang tuanya dengan raut wajah memohon yang teramat sangat.

Tangannya memegang lengan baju ibunya.

"Evelyn Nggak tega lihat Rosalia menderita begini. Dia sudah baik banget bawain bunga krisan buat Evelyn tiap pagi. Gimana kalau Papa bantu selesaikan masalah ayahnya?"

Duke Richard menatap putrinya, lalu menatap Rosalia. "Membantu? Maksudmu dengan memberikan pinjaman dana dari kas keluarga?"

"Bukan pinjaman, Pa!" potong Evelyn cepat dengan wajah polos tanpa dosa. "Kalau cuma dikasih uang atau surat rekomendasi, nanti masalah usaha ayahnya Rosalia nggak bakal selesai sampai ke akarnya! Nanti ayahnya bakal tergantung terus sama bantuan Papa, kan kasihan?"

Kening Rosalia berkerut tipis. Senyum manis di bibirnya mendadak berkedut kaku. "L-Lho... Lady Evelyn, maksudnya..."

"Gimana kalau Perusahaan Asteria—anak perusahaan rahasia yang dikelola mitra Papa itu—mengambil alih seratus persen kepemilikan dan pengelolaan hutan kayu milik ayahmu, Rosalia?" lanjut Evelyn dengan mata berbinar-binar penuh ide "cemerlang".

Ruang makan mendadak hening.

Julian di sudut meja sampai harus mengulum bibirnya demi menahan tawa yang hampir meledak.

Kakaknya itu langsung paham jebakan batman macam apa yang sedang dirancang adiknya.

"Mengambil... alih?" ulang Rosalia, suaranya agak sumbang.

"Iya!" seru Evelyn riang, menyandarkan badannya kembali ke kursi. "Dengan begitu, Asteria yang bakal bayar seluruh tunggakan pajak dan urus perizinan ke kementerian. Ayahmu Nggak perlu pusing lagi mikirin bisnis, Nggak perlu kerja keras lagi sampai sakit-sakitan! Beliau cukup duduk manis di rumah menerima uang pensiun harian yang kecil tapi cukup buat makan sehari-hari. Ayahmu bebas dari beban berat usaha, dan kamu bisa fokus mengabdi sepenuhnya di rumah Rosenberg ini tanpa kepikiran masalah uang lagi! Bukannya itu ide yang sempurna banget, Rosalia?"

Wajah Rosalia berubah menjadi merah malu.

Ide Evelyn secara halus memotong seluruh niat terselubung Rosalia!

Mereka ingin menggunakan pengaruh dan uang Rosenberg untuk memperbesar bisnis kayu mereka sendiri agar bisa naik kelas sosial.

Jika bisnis itu diambil alih penuh oleh Asteria (yang secara rahasia milik Evelyn), keluarga Rosalia tidak akan punya daya tawar apa-apa lagi selain jadi penerima tunjangan kecil!

"Tapi... tapi Lady Evelyn," sahut Rosalia terbata-bata, jemarinya meremas kain celemeknya.

"Itu... itu tanah warisan keluarga kami... Ayah saya pasti berat kalau harus melepaskan kepemilikannya sepenuhnya..."

Evelyn memiringkan kepalanya, memasang raut wajah polos yang terheran-heran. "Lho? Katanya tadi ayahmu bingung dan tertekan gara-gara usaha itu? Kalau tanah warisan itu cuma bikin ayahmu sakit-sakitan dan terancam bangkrut, bukannya melepasnya ke tangan yang tepat adalah pilihan paling bijak? Atau... ada alasan lain kenapa ayahmu mau mempertahankan tanah bermasalah itu?"

Pertanyaan sederhana itu terlontar begitu ringkas, namun rasanya bagaikan anak panah yang menancap tepat di dada Rosalia.

Duke Richard yang dasarnya adalah pengusaha dan bangsawan senior langsung menyadari kejanggalan dalam reaksi Rosalia.

Mata sang Duke menyipit tajam.

"Putriku benar, Rosalia," kata Duke Richard dingin, menatap gadis berambut pirang itu. "Jika memang ayahmu niatnya hanya ingin menyelesaikan masalah perizinan dan kelangsungan hidup keluargamu, penawaran akuisisi dari mitra Rosenberg adalah jalan paling aman. Kecuali... ada hal lain yang tidak kamu ceritakan pada kami?"

"T-tidak, Lord Duke! Bukan begitu!" sergah Rosalia panik. Air mata buatan yang tadinya disiapkan untuk memancing rasa iba kini hampir keluar beneran akibat rasa tertekan dan malu. "Saya... saya hanya tidak paham masalah bisnis... Saya akan tanyakan dulu pada ayah saya..."

"Ya sudah, tanyakan saja dulu," sela Eleanor. "Dan Rosalia... mulai besok, fokus saja pada tugas racikan obat dari Dokter Tristan di ruang medis. Kamu tidak perlu repot-repot memetik bunga atau mengantarkan teh ke ruang keluarga lagi. Para pelayan senior di sini sudah cukup untuk urusan itu."

Kata-kata Eleanor bagaikan ketukan palu hakim yang menutup ruang gerak Rosalia.

Rosalia membungkuk, menundukkan kepalanya, wajahnya merah padam karena menahan malu dan kekecewaan yang luar biasa.

"B-baik, Duchess... Saya permisi dulu," bisik Rosalia dengan suara yang hampir tak terdengar.

Gadis itu berbalik dan melangkah pergi keluar dari ruang makan.

Julian meletakkan pedangnya, lalu menatap Evelyn sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan decak takjub.

"Luar biasa. Pengambilalihan aset berkedok 'bantuan kemanusiaan'. Belajar dari mana kamu taktik sejahat itu, Lyn?"

"Enak saja bilang jahat!" protes Evelyn cemberut.

"Evelyn kan cuma menawarkan solusi terbaik. Kalau mau dibantu ya harus mau dilepas masalahnya. Kalau mau dibantu tapi tetap mau pegang asetnya... ya namanya mau manfaatin nama Rosenberg!"

Duke Richard terkekeh pelan

"Putri Papa ternyata punya bakat alami jadi negosiator bisnis," puji Duke Richard, matanya berbinar. "Papa tadi sempat hampir kasihan mendengar cerita ayahnya. Tapi cara berpikirmu sangat tajam, Evelyn. Kamu bisa melihat celah di balik kata-kata manisnya."

"Evelyn cuma nggak mau ada orang luar yang coba-coba memanfaatkan kebaikan Papa dan Mama," sahut Evelyn tulus, menatap kedua orang tuanya.

Eleanor tersenyum hangat, mengusap lembut jemari Evelyn. "Terima kasih ya, Sayang."

Taktik manipulasi kedua Rosalia resmi gagal Skenario The Crown of Fallen Stars sudah makin melenceng jauh dari jalur aslinya. Kamu pikir kamu satu-satunya yang bisa mainkan peran korban, Rosalia? Aku juga bisa, batin Evelyn tersenyum penuh kemenangan.

1
Fazira
Cassian 😍😍
Fazira
padahal Rosalia di dunia novel ini protagonis, kenapa sifatnya jadi kaya antagonis gini yaa/Doubt/
Fazira
udah Rosalia 🤭
Fazira
Evelyn Evelyn pinter akting yaa🤣🤣
Fazira
Wah Duke Utara 😍
Fazira
Evelyn Evelyn udah badan penyakitan kenapa akting sakit 🤭
Fazira
kehidupan novel dalam novel ya😄
Fazira
wow transmigrasi kak👍
semangat nulisnya 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!