Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
Begitu batasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Kejatuhan Klan Cendana
Suara derap langkah sepatu lars bertumpu tegas bergema memecah heningnya aula Grand Ballroom Palace. Puluhan petugas berseragam resmi dari Otoritas Penegak Hukum dan Tim Penyidik Keuangan Pusat menerobos masuk melalui pintu utama. Di bawah pimpinan Kepala Penyidik Nasional yang melangkah tegap, kedatangan mereka membuat atmosfer pesta yang tadinya megah berubah menjadi ruang sidang eksekusi bagi Klan Cendana.
Kepala Penyidik tidak membuang waktu. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan lembaran surat perintah penangkapan berstempel resmi kehakiman tertinggi.
"Victor Cendana!" suara Kepala Penyidik menggelegar menembus seluruh sudut aula. "Atas nama undang-undang dan bukti-bukti sah kejahatan finansial, pencucian uang, serta tuduhan mendalangi tindak pidana pembunuhan berencana, Anda resmi kami tahan!"
Dua petugas penyidik bergerak cepat, mencengkeram kedua lengan Victor yang masih mematung di atas panggung.
"Tidak! Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa saya?!" jerit Victor histeris. Wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini bersimbah peluh dingin dan ketakutan yang mendalam. Ia mencoba memberontak, namun himpitan cengkeraman petugas begitu kuat. "Ayah! Tolong saya, Ayah! Hubungi rekan-rekan kita di kementerian!"
Namun, sang ayah—Kepala Klan Cendana—sama sekali tidak berdaya. Pria tua itu masih berlutut di atas lantai dingin di hadapan Reno, tubuhnya gemetar hebat. Rekan-rekan pejabat dan menteri yang dulu memuji-mujinya kini justru membelakanginya, berpura-pura tidak mengenal klan beracun tersebut demi menyelamatkan karier mereka sendiri.
"Tuan Muda Reno..." ratap Kepala Klan Cendana dengan suara serak yang memilukan, mendongak menatap Reno dengan tatapan memohon. "Saya bersedia menyerahkan separuh saham dan kekayaan Klan Cendana kepada Konsorsium Naga Hitam! Saya mohon, lepaskan putra saya! Jangan musnahkan keluarga kami!"
Reno menatap pria tua di hadapannya tanpa pendar kelicikan atau kebuasan, melainkan dengan tatapan dingin nan rasional seorang penguasa sejati.
"Separuh kekayaan?" suara Reno mengalun rendah, mengandung tekanan yang begitu menundukkan. "Harta yang kamu tawarkan adalah hasil dari menindas klan lain dan memeras rakyat. Naga Hitam tidak membutuhkan uang haram seperti itu."
Reno memutar tubuhnya perlahan, memandang Kepala Penyidik Nasional yang berdiri tegap menunggu instruksi tersirat darinya.
"Sita seluruh aset korup milik Klan Cendana untuk dikembalikan kepada negara," tegas Reno penuh kewibawaan yang tak terbantahkan. "Bekukan seluruh entitas bisnis mereka dan bubarkan pengaruh Klan Cendana dari panggung ekonomi ibu kota. Pastikan tidak ada satu pun dahan beracun dari klan ini yang bisa tumbuh kembali."
"Petunjuk dipahami, Tuan Muda!" jawab Kepala Penyidik tegas seraya membungkuk hormat.
"Tidak! TIDAK!" jerit Victor saat borgol besi dingin mengunci kedua pergelangan tangannya. Suara gemerincing besi itu menandai berakhirnya kejayaan Klan Cendana. Pria yang tadinya berniat mempermalukan Reno kini diseret keluar dari aula bagaikan pesakitan tanpa harga diri, menjadi tontonan ratusan kamera media nasional yang terus mengambil gambar.
Ayah Victor terkulai lemas di atas lantai, pingsan tak sadarkan diri setelah menyaksikan kehancuran total klannya secara nyata.
Para tamu undangan, pengusaha kelas atas, dan pejabat tinggi yang hadir memberikan jalan dengan rasa hormat dan ketakutan yang mendalam saat petugas membawa para petinggi Klan Cendana keluar. Kejayaan klan nomor satu di ibu kota itu runtuh tak berbekas dalam kurun waktu satu malam di tangan seorang pria yang dulu mereka anggap tak berguna.
Alya berdiri di samping Reno, meremas jemari pria itu. Ada rasa lega nan haru yang membuncah di dadanya. Kejahatan yang selama ini bersembunyi di balik kekuasaan akhirnya tumbang di bawah keadilan yang dibawa oleh Reno.
Saat kerumunan tamu mulai terurai dan situasi aula bertransisi menjadi penanganan petugas, dua sosok tubuh yang menggigil perlahan merayap mendekat dari balik pilar marmer.
Mereka adalah Maya dan Hendra.
Wajah Maya tampak sangat pucat, air mata keputusasaan menetes menyusuri pipinya yang keriput. Keserakahan yang selama ini membakar matanya kini telah berganti menjadi penyesalan yang amat memilukan. Mereka telah menyaksikan bagaimana Brandon Pratama hancur, Keluarga Surya musnah, dan kini Klan Cendana yang paling berkuasa pun runtuh di tangan mantan menantu mereka.
Dengan langkah gemetar dan napas tersengal-sengal, Maya dan Hendra berlari kecil, langsung menjatuhkan diri berlutut di atas lantai marmer tepat di hadapan sepatu kulit berkilat milik Reno.
*THUD!*
"Reno! Reno, menantuku yang baik!" jerit Maya histeris tanpa rasa malu sedikit pun, mencoba menggapai ujung celana bahan Reno. "Ampuni kami, Reno! Maafkan ibu mertuamu ini!"
Hendra ikut menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai, menangis terisak-isak. "Reno... kami salah! Kami buta oleh harta! Kami tidak tahu kalau kamu adalah Penguasa Naga Hitam yang begitu mulia!"
Maya mendongak dengan wajah bersimbah air mata, memamerkan ratapan yang dibuat-buat demi meminta iba. "Reno, lihatlah kami! Kami sudah tidak punya apa-apa lagi! Rumah kita disita, kita dikejar-kejar utang! Kami ini orang tua Alya, kami mertuamu! Tolong bawa kami kembali ke rumah mewahmu, Reno! Jadikan kami keluarga Naga Hitam!"
Suara ratapan Maya yang melengking menarik perhatian beberapa petugas dan pengawal yang masih tersisa di aula.
Alya menatap kedua orang tuanya dengan dada yang terasa bagaikan diimpit batu besar. Rasa sakit akibat perlakuan kejam orang tuanya di masa lalu kembali membayang, beradu dengan rasa iba melihat mereka berlutut mencium sepatu mantan suaminya.
Reno tidak langsung menepis jemari Maya. Ia menatap kedua orang tua yang dulu selalu menunjuk mukanya dengan hinaan itu. Wajah Reno tetap tenang, namun sepasang matanya memancarkan ketegasan yang tak lagi bisa dimanipulasi oleh tangisan palsu.
"Mertua?" suara Reno mengalun pelan, namun bergetar dingin. "Bukankah surat cerai yang Nyonya lemparkan ke wajah saya tiga minggu lalu sudah memutuskan hubungan itu secara hukum dan moral?"
Maya tersentak, menggeleng histeris. "Tidak! Surat cerai itu tidak sah! Ibu dipaksa oleh Keluarga Pratama saat itu! Ibu selalu menyayangimu, Reno! Ibu tahu kamu pria yang hebat!"
Kebohongan telanjang yang keluar dari mulut ibunya membuat Alya tidak sanggup lagi berdiam diri. Langkah kaki Alya maju satu pukulan, berdiri tepat di depan Maya dengan pandangan mata yang jernih dan sarat akan kekecewaan mendalam.
"Cukup, Ibu!" suara Alya terdengar lantang, memotong ratapan Maya seketika.
Maya tertegun menatap putrinya. "Alya... tolong bujuk renomu! Katakan padanya bahwa kita ini keluarganya!"
Alya menggeleng pelan, air mata dingin menetes menyusuri pipinya, namun tatapan matanya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan.
"Ibu masih saja berbohong demi harta?" bisik Alya dengan suara yang bergetar. "Saat Reno berlutut membersihkan lantai rumah kita, mana rasa sayang Ibu? Saat orang-orang menghinanya, mana perlindungan dari Ayah? Ibu hanya mencintai kekayaan dan takhta Naga Hitam, bukan mencintai Reno atau aku sebagai anak Ibu."
Alya menatap Reno, lalu kembali memandang kedua orang tuanya yang kini terdiam seribu bahasa.
"Malam ini, di depan semua saksi ini..." tegas Alya dengan nada suara yang mantap dan tegas, "...aku akan menyelesaikan semua kebingungan ini."
Reno menatap Alya dari samping, membiarkan wanita itu mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya tanpa campur tangan, memberikan panggung penuh bagi Alya untuk membebaskan dirinya dari beban moral masa lalu.