NovelToon NovelToon
Balas Dendam Anak Terbuang

Balas Dendam Anak Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.

Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.

Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Tiga hari berlalu dengan cepat. Saat ini, di dalam ruang tunggu gereja yang megah, aroma bunga mawar putih dan lily of the valley menyeruak lembut, membasuh ketegangan yang membeku di udara.

Kyra berdiri kaku di depan cermin berbingkai ukiran emas setinggi tubuh, gaun pengantin berwarna putih gading dengan potongan A-line yang terbuat dari renda Perancis melingkupi tubuhnya dengan sempurna, gaun karya perancang ternama dunia itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat anggun, memperlihatkan garis leher dan tulang selangkanya yang tegas tanpa terkesan berlebihan.

​Riasan wajahnya ditata oleh tim perias profesional pilihan keluarga Raymond, ringan, alami, namun memancarkan keanggunan seorang bangsawan. Tidak ada lagi sisa kepucatan atau bekas lebam yang dulu menghiasi kulitnya, Kyra menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dan merasa seolah wanita di dalam kaca itu adalah sosok asing yang sama sekali tidak ia kenali.

​Pintu ruang tunggu berderit pelan, langkah kaki yang teratur dan anggun terdengar mendekat, Kyra membalikkan badan dan seketika itu juga matanya membelalak pelan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berhadapan langsung dengan Nyonya Besar Raymond, Ivy Laurentia Raymond, ibu dari Brian Sebastian Raymond.

​Wanita paruh baya berusia lima puluhan itu melangkah masuk dengan gaun malam berwarna biru navy berbahan beludru mahal yang dipadukan dengan untaian kalung mutiara langka di lehernya. Wajahnya memancarkan kecantikan yang amat abadi, tulang pipinya tinggi, matanya jernih dengan sorot lembut namun menyimpan wibawa yang tak tertandingi.

Selama hidup Kyra, baik di desa maupun di mansion keluarga Andreas, Kyra belum pernah melihat seorang wanita yang begitu mempesona, elegan dan memancarkan aura keanggunan murni layaknya seorang ratu.

​"Bisa tinggalkan kami sebentar?" suara Nyonya Ivy terdengar bagai denting piano yang halus, meminta para perias dan penata busana keluar dari ruangan.

​Setelah para perias membungkuk hormat dan meninggalkan kamar, ruangan itu mendadak hening. Kyra meremas jemarinya yang terbungkus sarung tangan renda putih, ketakutan mulai merayapi benak gadis itu.

'Apa Ibu dari Tuan Brian ini akan menghina atau menolakku seperti yang dilakukan keluargaku?' batin Kyra bertanya-tanya.

​Nyonya Ivy melangkah mendekat dan matanya yang teduh memperhatikan Kyra dari ujung kepala hingga ujung kaki, tidak ada kilat penghinaan, tidak ada raut jijik di wajahnya. Sebaliknya, wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang belum pernah Kyra dapatkan dari ibu kandungnya sendiri.

​"Kamu sangat cantik, Kyra," puji Nyonya Ivy pelan, jemarinya yang halus terangkat dan merapikan sedikit helai veil transparan yang menutupi sanggul Kyra.

​Kyra menelan ludahnya, tenggorokannya terasa tersumbat. "N-Nyonya... terima kasih," cicitnya gugup.

​Nyonya Ivy terkekeh pelan, tawa yang amat menenangkan. "Jangan panggil saya Nyonya, mulai hari ini... kamu adalah menantuku, putriku. Jadi panggil Mama, biar sama kayak Brian," ucapnya.

​Deg! Jantung Kyra berdesir hebat. Kata Mama terasa begitu asing, berat, namun menghangatkan bagian terdalam dari hatinya yang selama ini membeku.

Nyonya Ivy tersenyum sangat tulus, jemarinya yang hangat mengusap lembut pipi Kyra yang terpolos riasan sempurna. Ada binar keibuan yang jujur di mata wanita itu, sebuah tatapan yang tak pernah sekalipun Kyra dapatkan dari Mama Dania sepanjang hidupnya.

​"Mama tahu kamu pasti merasa sangat gugup, takut dan tertekan dengan semua yang terjadi secara tiba-tiba ini, Kyra. Tapi, ingat pesan Mama... mulai detik ini, kamu adalah bagian dari keluarga Raymond. Kamu tidak perlu lagi merasa takut pada siapa pun," bisik Nyonya Ivy dengan suara sehalus sutra.

​Nyonya Ivy menepuk pelan punggung tangan Kyra yang bergetar, "Mama harus pergi karena sebentar lagi pemberkatan akan dimulai. Sampai jumpa di altar, Anakku," pamitnya.

​Dengan langkah anggun yang memancarkan wibawa, Nyonya Ivy berbalik dan melangkah keluar dari ruang tunggu. Pintu kayu berukir itu kembali tertutup, meninggalkan Kyra yang terpaku sendirian di tengah ruangan.

​Kyra menyentuh dada kirinya yang berdesir hebat. Apa yang diucapkan Nyonya Ivy barusan mengguncang benteng pertahanan emosinya, di saat keluarga kandungnya menganggapnya sebagai barang dagangan dan tumbal, ibu dari pria yang paling ia takuti justru menyambutnya dengan kehangatan yang tak pernah ia impikan.

​Namun, ketenangan singkat itu hancur berantakan ketika pintu ruang tunggu didorong dengan kasar dari luar. ​Papa Freddy melangkah masuk dengan setelan jas hitamnya yang sangat mahal. Di belakangnya, Mama Dania dan Tante Thania mengekor dengan wajah tegang yang dipaksakan tersenyum. Matanya yang liar menyapu penampilan Kyra dari atas ke bawah, ada binar ketakutan sekaligus keserakahan di balik mata pria paruh baya itu.

​"Acara pemberkatan akan dimulai sebentar lagi," ujar Papa Freddy dengan suara berbisik yang sarat akan penekanan.

Papa Freddy melangkah mendekati Kyra, lalu mencengkeram lengan gaun pengantin gadis itu dengan cukup kuat, cukup untuk meninggalkan rasa tertekan di kulit Kyra.

​"Dengar baik-baik, Kyra! Saat kamu berjalan di lorong gereja nanti, senyum! Kalau sampai kamu bikin malu keluarga Andreas di depan tamu yang hadir, Papa pastikan kamu akan menyesal seumur hidupmu!" ancam Papa Freddy dengan mata membelalak.

​Mama Dania ikut melangkah mendekat, membenarkan posisi veil Kyra dengan kasar hingga kepala gadis itu sedikit tertarik ke belakang.

"Ingat, posisimu di keluarga Raymond adalah penentu nasib keluarga! Sekali saja kamu buat masalah, kami tidak akan segan-segan bertindak kasar!" ancam Mama Dania.

​Kyra tidak meringis, tidak pula melangkah mundur. Ia menatap lurus ke dalam manik mata kedua orang tua kandungnya dengan ketenangan yang sangat dingin dan membeku. Di balik tumpukan kain renda mahal ini, Kyra berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini adalah kali terakhir ia membiarkan kedua orang ini mengancam dan mengaturnya.

​"Iya, Papa... Mama... Kyra paham," jawab Kyra dengan nada polos yang sangat terkontrol.

Pintu ganda utama ruang tunggu dibuka lebar oleh petugas gereja. Dentang lonceng gereja bergema membahana dari atas menara, bersahutan dengan alunan musik organ klasik yang memainkan lagu Wedding March dengan begitu megah dan menggelegar.

​"Ayo," ucap Papa Freddy seraya menyodorkan tekukan siku tangannya pada Kyra.

​Tangan Kyra yang terbungkus sarung tangan renda putih menggandeng lengan Papa Freddy. Mereka melangkah keluar dari ruang tunggu dan menyusuri koridor marmer dingin, hingga akhirnya berdiri tepat di ambang pintu ganda utama aula gereja yang sangat luas dan megah.

​Saat pintu ganda altar perlahan terdorong terbuka, pemandangan luar biasa seketika menyapa indra penglihatan Kyra.

​Katedral megah bertingkat itu dipenuhi oleh para tamu undangan kelas atas, mulai dari pejabat tinggi negara, konglomerat papan atas, hingga jajaran diplomat asing. Ribuan tangkai bunga mawar putih dan lily of the valley menghiasi sepanjang karpet merah yang membentang dari pintu masuk hingga menuju meja altar.

​Namun, di antara ratusan pasang mata yang kini tertuju padanya, hanya ada satu sosok yang seketika mengunci seluruh perhatian Kyra. ​Di ujung karpet merah, berdiri menjulang tepat di depan pastor, sosok Brian Sebastian Raymond.

.

.

.

Bersambung.....

1
erviana erastus
yah semoga aza para penganggu yg mengusik ketenangan kyra
sunaryati jarum
Apa yang kau takutkan saat akan masuk ke dalam keluarga Raimond tidak terjadi,malah Bryan suamimu mendukung penuh untuk memberi balasan kepada keluarga kamu,Kyra
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Dukungan penuh dari seorang suami adalah fondasi utama bagi istri yang mengalami penganiayaan atau kekerasan oleh keluarga kandungnya sendiri.
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
erviana erastus
yaela brian main sosor aza 🤣
Aidil Kenzie Zie
penasaran udah belah duren apa belum ya Brian🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
tanpa kamu bergerak mereka udah didepan kehancuran karena semua dilakukan oleh suamimu 🥰🥰🥰
erviana erastus
kalo sdh hancur nyalahkan kyra lah kalian nggak ngotak saat kyra kalian jd kn tumbal
sunaryati jarum
Kyra bisa mengoperasikan komputer,ya
Bagus,tu
sunaryati jarum
Nah baru ditolak berkunjung sudah kelimpungan, berarti kemewahan selama ini yang diagungkan itu dari keluarga Raimond
sunaryati jarum
Brian mendukung balas dendam kamu pada keluargamu Kyra.
Aidil Kenzie Zie
manfaatkan suamimu Kyra🥰🥰🥰
Mira Hastati
bagus
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
sunaryati jarum
Jangan buat Kyra Tersakit Brian,tapi terlindungi
sunaryati jarum
Semoga Brian tempat kamu bahagia Kyra
sunaryati jarum
Nah ternyata Brian sudah menyelidiki dulu pada Kyra dan berniat menolongnya
erviana erastus
yaela pada drama toh 🤣🤣😭😭
Aidil Kenzie Zie
ini Brian beneran suka atau nafsu aja' 🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
wadu duh🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
kan semua udah di atur Brian 🥰🥰🥰
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Momen ketika ibu mertua meminta Anda memanggilnya "Mama" adalah momen yang sangat menyentuh hati.
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!