NovelToon NovelToon
MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Rumahhantu
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Iephe Tyo

Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.

keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Kuku-kuku hitam yang panjang, kotor, dan menyerupai cakar binatang buas tiba-tiba mencengkeram kusen jendela kayu jati itu. Kayu yang kokoh tersebut berderit menyedihkan, seolah tak kuat menahan tekanan kekuatan besar yang berusaha menerobos masuk.

Joko tak bisa bergerak. Lidahnya kelu.

"Jooo...kooo... kau... sudah... berani... menghinaku..."

Suara itu terdengar bukan dari luar, melainkan bergaung di dalam tempurung kepala Joko. Bukan lagi suara berat yang biasa, melainkan suara yang terdengar seperti gesekan antara tulang dan besi tua.

"Ndoro Putri! Tolong!" teriak Joko sekuat tenaga sambil merangkak mundur, mencari perlindungan di balik sofa.

Di dalam kamar, Tiara dan Bu Sri tersentak bangun. Mimpi indah mereka hancur seketika oleh suara jeritan yang memilukan dari ruang tamu. Jantung Tiara berdegup kencang, ia menoleh ke arah Bu Sri yang wajahnya mendadak pucat pasi.

"Uti... suara itu... suara Mas Joko," bisik Tiara dengan gemetar, air mata ketakutan mulai jatuh.

Bu Sri segera beranjak dari ranjang dengan tangan gemetar. Ia meraih sebuah tasbih tua yang tergantung di dekat tempat tidur, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar. "Jangan keluar, Tiara! Tetap di sini!"

Bu Sri melangkah cepat membelah remang ruang tamu. Pandangannya menyapu sekeliling, mencari ancaman gaib yang baru saja meraung-raung dalam jeritan Joko. Namun, yang tertangkap matanya hanyalah keheningan malam yang ganjil dan sosok Joko yang meringkuk gemetar di atas sofa, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Kusen jendela kayu jati itu masih utuh.

 Kaca-kacanya jernih tanpa cela, tak ada retakan sedikit pun, dan malam di luar sana tampak begitu tenang. Tak ada aura hitam, tak ada sepasang mata merah, dan tak ada makhluk bertubuh besar yang mencoba menerobos masuk.

"N-Ndoro Putri..." bisik Joko, suaranya hampir tak terdengar karena ketakutan yang mencekat lehernya. Ia menunjuk-nunjuk ke arah jendela dengan jari yang gemetar hebat. "Tadi... tadi di sana... Genderuwo, Ndoro! Tangannya mencengkeram kusen, matanya merah... dia memanggil nama saya! Dia... dia mau mencekik saya!"

Bu Sri mendekati jendela perlahan. Tangan kirinya menggenggam erat tasbih tua peninggalan almarhum suaminya, sementara jemari kanannya menyentuh permukaan kayu jati di dekat jendela. Tidak ada bau sangit, tidak ada bau bangkai, hanya hawa dingin malam biasa. Namun, sebagai seseorang yang puluhan tahun mendampingi Pak Harto, Bu Sri paham betul apa yang baru saja terjadi.

Ia menghela napas panjang, memutar tasbih di tangannya seraya membaca doa-doa keselamatan di dalam hati.

"Tidak ada apa-apa di sini, Joko," ucap Bu Sri lembut, mencoba menenangkan suasana.

Joko akhirnya memberanikan diri membuka mata dan melihat ke arah jendela dan memang makhluk itu sudah tidak ada. Joko mengambil nafas dalam, ia sangat ketakutan dan merasa tidak enak telah membangunkan majikannya.

"ma- maafkan saya Ndoro Putri, sudah mengganggu istirahat Ndoro Putri." ucap Joko penuh penyesalan.

"sudah lah, kamu istirahat sana. saya juga mau kembali ke kamar." ucap Bu Sri sambil melangkah pergi meninggalkan Joko yang tampak masih termengu ketakutan.

Tak menunggu lama, Joko segera bergegas menuju ke kamar tamu untuk beristirahat. Disana tampak Marni dan Jalu yang masih tertidur lelap seakan tak peduli dengan teriakan Joko yang bahkan sampai membangunkan Bu Sri.

"Dasar, kerbau betina ... Masa aku teriak kenceng gitu nggak bangun sih." gumam Joko jengkel saat menatap istrinya masih tertidur lelap.

Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu setelah Joko kembali ke kamarnya dengan wajah masih pucat pasih.

Di dalam kamar, Tiara terduduk tegang di atas ranjang dengan selimut ditarik hingga ke dada. Begitu pintu kamar terbuka dan sosok Bu Sri muncul, napas Tiara terdengar lega namun matanya tetap menyiratkan kecemasan yang mendalam.

"Uti... Mas Joko kenapa? Tadi ada apa di luar?" tanya Tiara setengah berbisik, takut memecah kesunyian malam.

Bu Sri duduk pelan di tepi ranjang, merapikan rambut Tiara dengan usapan lembut yang menenangkan. Ia menarik napas panjang sebelum menceritakan apa yang baru saja terjadi.

"Joko tidak apa-apa, Nduk," ucap Bu Sri pelan, suaranya mengalun hangat namun tegas." sepertinya Joko diganggu makluk yang ada di luar."

Tiara menelan ludah, bulu kuduknya kembali berdiri. "Berarti... makhluk itu benar-benar ada di luar sana, Uti?"

"udah, gausah dipikir, ayo tidur lagi." ujar Bu Sri mencoba mengalihkan pembicaraan dan mengajak cucu menantu nya itu tidur lagi.

Tiara tampak hanya mengangguk lalu kembali berusaha memejamkan matanya.

.

.

.

DI TEMPAT LAIN

...

Mobil SUV hitam yang dikendarai Yayan akhirnya melaju membelah kegelapan Jalur Tol Trans-Jawa. Jam di Dashboard menunjukkan pukul 23.15 WIB. Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari desa Bojasari, rasa lelah dan kantuk mulai mendera, terutama bagi Yayan yang memegang kemudi.

Sinyal lampu sein kiri menyala, mengarahkan kendaraan mereka masuk ke area Rest Area KM 260B—sebuah tempat peristirahatan unik bekas pabrik gula tua yang kini disulap menjadi area komersial.

 Lampu-lampu sorot kekuningan menerangi deretan bangunan batu bata tua yang megah namun menyisakan kesan eksotik sekaligus sedikit mistis di balik keindahan arsitekturnya.

Yayan memarkirkan mobil tepat di bawah naungan lampu jalan yang terang. Setelah mematikan mesin, helaan napas panjang terdengar memenuhi kabin mobil.

"Istirahat sebentar ya, Mas Theo. Kaki sudah agak pegal," ujar Yayan sambil merenggangkan otot-otot bahunya yang kaku.

Theo yang sepanjang jalan lebih banyak menatap keluar jendela membalas dengan anggukan pelan. "Iya, Mas Yayan. Makasih ya sudah menyetir. Kita minum kopi dulu di luar biar segaran."

Keduanya keluar dari mobil, menyambut terpaan angin malam tol yang lumayan dingin. Mereka berjalan menuju salah satu kedai kopi 24 jam yang berada di bagian teras luar rest area.

 Setelah memesan dua cangkir kopi hitam panas dan beberapa roti bakar, Theo dan Yayan memilih duduk di warung yang dulu pernah Theo dan Tiara singgahi ketika beristirahat di tempat yang sama.

Asap tipis mengepul dari cangkir kopi di depan mereka. Yayan menyesap kopinya perlahan, lalu menyandarkan punggung ke kursi plastik sembari menghisap sebatang rokok. Sorot matanya memperhatikan Theo yang tampak melamun, mengaduk-aduk kopinya tanpa benar-benar meminumnya.

"Mas Theo..." tegur Yayan pelan, memecah keheningan di antara mereka. "Sejak berangkat tadi saya lihat Mas Theo banyak diamnya. Masih kepikiran rumah desa, ya?"

Theo tersentak kecil, lalu menghentikan gerak sendoknya. Ia menghela napas berat, membiarkan uap kopi menyapu wajahnya yang tampak lelah.

"Jujur, iya, Mas Yayan," jawab Theo lirih. Ia menatap cangkirnya dengan pandangan kosong. "Meskipun Mas Joko dan Mbak Marni sudah mau menginap, perasaan saya tetap tidak tenang."

Yayan mengangguk paham. Sebagai orang yang cukup lama mengenal keluarga besar almarhum Pak Harto, ia sadar betul rumor dan desas-desus yang menyelimuti rumah besar tersebut.

Mereka berdua berbincang banyak hal hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 00.30 WIB.

"Mas, lanjut sekarang kah?" tanya Yayan.

"Mas Yayan sudah cukup kah istirahatnya?" tanya Theo kepada Yayan.

"sudah mas, mata juga udah melek lagi ini." ucap Yayan.

"yaudah ayo mas jalan." ucap Theo sembari beranjak dari tempat duduk dan bergegas membayar kopi dan roti yang mereka santap.

.

.

.

...

Garis-garis fajar di langit barat Jawa telah sepenuhnya berganti menjadi birunya pagi. Kendaraan yang mereka tumpangi akhirnya bergerak keluar dari gerbang tol dan memasuki kawasan perumahan Theo di Jakarta. Jam di dashboard menunjukkan tepat pukul 07.00 WIB. Perjalanan malam yang panjang—ditambah sesi bergantian menyetir antara Theo dan Yayan sejak selepas rest area tadi—benar-benar menguras fisik dan pikiran mereka.

Mobil SUV hitam itu akhirnya berhenti mulus di garasi rumah Theo. Suasana perumahan yang tenang pagi itu menyambut kedatangan mereka.

"Akhirnya sampai juga, Mas Theo," ujar Yayan sambil mematikan mesin. Ia mengusap wajahnya yang tampak layu dan menyandarkan kepala ke kemudi, melepaskan sisa-sisa ketegangan selama mengemudi.

Theo mengangguk pelan, membuka pintu mobil dan merasakan hawa hangat pagi Jakarta. Tubuhnya terasa begitu berat, sementara matanya sudah terasa amat sepet akibat rasa kantuk yang menumpuk.

"Ayo masuk dulu, Mas Yayan. Kamu langsung istirahat di kamar tamu depan saja. Kita tidur dulu beberapa jam sebelum kerumah mertua saya nanti siang," kata Theo sambil menurunkan satu tas kecil miliknya

"Siap, Mas. Waduh, jujur mata saya memang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi ini," sahut Yayan terkekeh pelan sambil merenggangkan badannya yang kaku.

Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Theo melepas sepatu, lalu menyalakan pendingin ruangan di kamar tamu untuk Yayan. Setelah memastikan Yayan mendapatkan tempat yang nyaman untuk merebahkan badan, Theo melangkah menuju kamar utamanya.

Rumah yang biasanya ramai oleh presensi Tiara itu kini terasa begitu lengang. Theo melepas jaketnya, meletakkannya di atas kursi, lalu merebahkan tubuhnya yang letih di atas kasur empuk. Suasana hening di dalam kamar perlahan menyelimuti kesadarannya. Rasa lelah yang teramat sangat mengalahkan segala keraguan dan rasa cemas yang sempat mengganggunya semalam.

Sebelum matanya benar-benar terpejam rapat, Theo sempat meraih ponsel di meja samping tempat tidur, berniat memberi kabar kepada Tiara bahwa ia sudah sampai dengan selamat di Jakarta.

Akan tetapi.....

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh... Bakalan ada apa lagi, nih?
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Tita Tata
sumpahhhh penasaran bgt sama kelanjutannya
Tita Tata
pokoknya terus lanjut bacaa
Tita Tata
suara apa itu thorrrrrrr
Tita Tata
lanjut thor ... semakin seruuuu
Tita Tata
jadi Theo pernah se trauma itu yaaa
Tita Tata
aku suka bngt sama tulisan author ini
Tita Tata
apa yang akan terjadi selanjutnya yah
Tita Tata
tegang bgt sumpah
Tita Tata
lanjut thorrrr
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Loh, wafatnya Kakung Theo belom dikasih kabar ke orang tuanya kah??? 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kira-kira Theo bisa "merasakan" kejanggalan di rumah peninggalan Kakeknya gak, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Owalaaah... Jadi makhluk-makhluk yang mengganggu itu kiriman orang lain ternyataaa... Gak bisa dibiarin terus kalo begitu...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh, saya bener-bener jadi inget sama Almarhum Mbah saya pas baca BAB ini, Kak... Emosi memorinya kuat banget... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Jangan-jangan semua makhluk yang ada di rumah Almarhum Kakek Theo itu, sosok penjaga rumah itu kah???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya suka banget nih, ceritanya semakin mendebarkan... 🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Siapa sih, wanita yang menangis itu? Penasaran banget jadinya...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waaah, nostalgia banget pas baca kata "Playstation"... Jadi sama-sama inget masa SMP dulu, mirip kayak Theo... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waduh, ada rahasia apa di balik rumah dan peternakan Almarhum Kakek Theo, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah... Makin seru ceritanya Thor!

Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???

🤨🤨🤨🤨🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!