"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Merasa ada yang ganjal
Di kamar, Yanti sedang menghitung lembaran uang yang tersisa di dalam tasnya. Lembar demi lembar ia tata, namun jumlahnya tetap jauh dari kata cukup.
Uang sepuluh juta yang ia minta pada Humaira sebenarnya bukan untuk kebutuhan sehari-hari, melainkan untuk melunasi jeratan utang. Setiap bulan, Dimas—suaminya—hanya memberi nafkah sebesar satu juta rupiah.
Jumlah yang sangat tidak masuk akal untuk mencukupi kebutuhan dapur, terlebih untuk membeli obat-obatan adik Humaira yang mengidap penyakit Lupus kronis sejak kecil.
Demi menyambung hidup dan berobat anaknya, Yanti terpaksa meminjam uang ke sana-kemari hingga utangnya menumpuk.
Meskipun suaminya pejabat dibagian kepala dinas. Akan tetapi dia yang berstatus istri kedua, tidak bisa berbuat apa-apa saat istri pertama Dimas yang memegang kendali keuangan suami mereka.
Apa lagi sebelumnya Yanti dan Dimas menikah diam-diam sehingga ia dijuluki istri simpanan dan anak-anaknya di panggil anak haram.
"Ini tidak akan pernah cukup... Aku harus bicara tegas pada Mas Dimas. Aku tidak boleh terus-terusan merepotkan Humaira," gumam Yanti frustrasi.
"Ibu..." Suara lirih menyela lamunan Yanti. Seorang gadis remaja berusia 14 tahun—adik Humaira—melangkah menghampirinya sambil memegangi dadanya yang tampak lemas.
"Eh, Nabila," kaget Yanti.
Wajah gadis itu terlihat pucat, ciri khas penderita Lupus yang kondisinya kerap naik-turun.
"Ibu lagi butuh uang, ya?" tanya gadis itu polos, menatap wajah ibunya yang dipenuhi beban.
Yanti buru-buru menyembunyikan lembaran uang itu ke dalam tas, lalu mengulas senyum terbaiknya meski hatinya menangis.
"Tidak kok, ini cuma lagi hitung-hitungan aja. Hasil dari jualan kue Ibu tadi," ujar Yanti berbohong, berusaha menyembunyikan kerapuhannya.
Nabila menatap ibunya. "Ibu lupa, ya? Hari ini kan Ibu tidak pergi jualan..."
Ucapan putri bungsunya membuat Yanti tersadar dan akhirnya tersenyum paksa.
"Oh iya... Ibu sampai lupa."
Nabila melangkah mendekat lalu menggenggam lembut jemari ibunya yang terasa kasar. "Bu... Nabila berhenti sekolah saja, ya? Sekolah juga rasanya tidak ada gunanya buat Nabila, Bu." Matanya mulai berkaca-kaca.
"Lho, kok kamu ngomong kayak itu, Sayang?" Ujar Yanti kaget mendengar ucapan putrinya.
Nabila menggeleng, "Bu, Nabila tahu Ibu menanggung beban yang sangat berat," bisik Nabila lirih. "Kalau Nabila tetap sekolah, Ibu akan makin terbebani biaya pendidikan. Belum lagi untuk biaya hidup dan pengobatan Nabila sehari-hari. Ayah juga... Ayah tidak pernah peduli sama kita."
"Jangan bicara seperti itu, Nak. Ibu masih kuat, Ibu masih bisa jualan kue keliling untuk biaya kamu," potong Yanti cepat.
Namun Nabila kembali menggeleng pelan. "Lebih baik Nabila berhenti saja, Bu. Lagipula... mungkin sebentar lagi Nabila juga bakal pergi..."
"Kamu bilang apa?!" Yanti panik. "Jangan pernah bicara seperti itu lagi! Ibu sudah berjuang mati-matian sampai di titik ini demi kamu. Jangan buat hati Ibu hancur, Nak..."
Yanti tak sanggup lagi menahan tangisnya.
Ia membawa tubuh ringkih Nabila ke dalam pelukannya, merengkuh erat anak gadisnya.
Kata-kata putri bungsunya tadi, adalah ketakutan terbesarnya sebagai seorang ibu—takut kehilangan anaknya karena ketidakmampuan yang dia miliki.
Seandainya saja peristiwa lima tahun lalu itu tidak pernah terjadi, takdir mereka tidak akan sekejam sekarang.
Dulu, Yanti adalah seorang pramugari dengan karier yang menjanjikan. Namun, sebuah kecelakaan mobil tragis merenggut segalanya. Kakinya terjepit hingga patah dan mengalami kerusakan saraf permanen.
Cacat fisik itu membuatnya berjalan sedikit pincang dan terpaksa diberhentikan dari profesinya. Kini, ia hanya bisa menggantungkan hidup dari berjualan kue keliling.
Penderitaan Yanti tak berhenti di situ. Keluarganya sendiri telah membuangnya dan menganggapnya anak durhaka karena dicap sebagai wanita simpanan pejabat.
Padahal, Yanti adalah korban manipulasi. Dulu, Dimas—suaminya—mengaku sebagai pria lajang saat mendekatinya. Yanti yang polos percaya begitu saja dan bersedia menikah siri.
Ia tidak tahu bahwa Dimas sudah memiliki istri sah yang mandul. Tiga bulan setelah pernikahan, Yanti mengandung Humaira. Ketika Humaira lahir, perselingkuhan itu terbongkar.
Istri pertama Dimas yang murka membekukan seluruh aset dan keuangan suaminya. Meski begitu, Dimas menolak menceraikan Yanti.
11 tahun kemudian, lahirlah Nabila. Sejak kelahiran Nabila itulah, finansial Dimas makin dicekik oleh istri pertamanya, hingga Yanti hanya diberi jatah nafkah satu juta rupiah per bulan—jumlah yang sangat jauh dari cukup untuk menopang kehidupan tiga nyawa.
Humaira sudah berkali-kali memohon agar ibunya mengurus perceraian dari Dimas. Selain lepas tanggung jawab, Dimas juga seorang pria temperamental yang kerap melakukan kekerasan fisik setiap kali berkunjung.
Namun Yanti selalu menolak, karena ternyata Dimas sering mengancam akan mengambil semua hak asuh anak-anak kalau dia mau bercerai. Membuat wanita itu tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan.
_____
"Kamu sudah merasa lebih baik, kan?" tanya Zidan dengan nada lembut pada kekasihnya yang bersandar di ranjang rumah sakit.
Melodi mengangguk pelan, mengulas senyum tipis yang terlihat sangat rapuh. "Aku sudah merasa jauh lebih baik, Mas."
"Baguslah kalau begitu... Sekarang, kamu bolehkan? Menceritakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu tidak datang ke acara pernikahan kita? Padahal pernikahan itu sudah kita rancang dari jauh-jauh hari." Tatapannya menuntut jawaban yang selama ini mengusik pikirannya.
Melodi meremas selimut rumah sakit dengan jemari lentiknya yang terawat. Air mata bening perlahan menetes membasahi pipinya, menampilkan raut wajah penuh penyesalan.
"Malam itu... sehari sebelum hari pernikahan kita, aku lembur sendirian di lantai dua studio butik untuk memastikan gaun pengantinku sempurna," tutur Melodi dengan suara bergetar terbata-bata.
"Saat mau turun membawa gaun itu, heels-ku tersangkut di anak tangga. Aku hilang keseimbangan dan jatuh terpeleset dari tangga atas..." Melodi merintih pelan, memegangi belakang kepalanya. "Kepalaku membentur anak tangga dengan sangat keras. Pandanganku langsung gelap seketika. Kakiku juga terkilir parah."
Melodi menggenggam tangan Zidan, membiarkan tangisnya pecah di hadapan pria itu.
"Petugas kebersihan baru menemukanku besok harinya. Aku dilarikan ke klinik swasta dalam kondisi tak sadarkan diri. Dan aku minta maaf, aku sengaja menghindar tidak langsung memberi kabar karena aku merasa sangat bersalah, malu, dan tidak ingin membuat keluarga besar panik..." Ujar Melodi seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Zidan.
Zidan merasa bersalah karena tak tahu apa yang menimpa wanita itu. Ia merangkul bahu Melodi dan mengusapnya lembut untuk menenangkan.
"Maafkan aku, aku tidak tahu yang terjadi padamu..." Ucap Zidan merasa simpati.
"Kamu tidak marah kan sama aku, Mas?" tanya Melodi. Wanita itu melonggarkan pelukannya, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik mata Zidan dengan binar penuh penyesalan.
Zidan menyunggingkan senyum.
"Tentu saja tidak, yang terpenting sekarang, kau sudah baik-baik saja," sahut Zidan. "Sekarang, ayo kamu istirahat dulu."
Zidan membimbing tubuh Melodi untuk kembali bersandar nyaman di ranjang.
"Nanti aku akan memeriksa kondisi kakimu lagi. Kalau semuanya sudah benar-benar membaik, kamu bisa kembali beraktivitas seperti biasa."
Melodi mengangguk nurut, membiarkan Zidan merebahkannya perlahan dan menarik selimut hingga sebatas dada.
"Aku keluar sebentar, ya," pamit pria itu.
"Iya, Mas..." jawab Melodi seraya tersenyum.
Zidan berbalik dan mulai melangkah menuju pintu. Sebelum benar-benar memutar gagang pintu, ia sempat menoleh sejenak ke arah Melodi.
Zidan keluar dan menutup pintu rapat. Dia mulai melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan Melodi dengan perasaan campur aduk.
Sebagai pria yang sudah bertahun-tahun mengenali sosok Melodi, Zidan tentu saja tahu tabiat wanita itu.
Melodi adalah sosok yang sangat egois, perfeksionis, dan selalu menuntut segalanya berjalan sesuai kendalinya. Selama ini Zidan selalu memaklumi sifat egois itu semata-mata karena rasa cintanya.
Namun kali ini, rasanya ada sesuatu yang sangat janggal.
Hanya karena terjatuh dari tangga studio, bagaimana bisa seorang Melodi yang begitu terobsesi dengan pesta pernikahan megah mereka memilih menghilang? Kenapa wanita sesadar dan se-ambisius Melodi tidak berusaha menyuruh staf butiknya untuk menghubungi Zidan?
Naluri Zidan menegaskan bahwa Melodi sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, saat tadi melihat air mata dan kondisi fisik Melodi yang tampak tak berdaya di atas ranjang, Zidan mengurungkan niatnya untuk mendesak lebih jauh.
Rasa kasihan dan rasa bersalah mengalahkan kecurigaannya.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂