"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018 - Tangan Panjang Hartono
Telepon dari Polsek datang pukul sembilan pagi.
Arya sedang mengganti perban kecil di buku jarinya. Kirana duduk di sofa, menatap tangannya dengan wajah tegang.
"Kenapa bisa luka?"
"Tergores pintu mobil."
Sari yang sedang memotong buah langsung melirik tajam.
Arya baru akan mencari jawaban lain saat ponselnya bergetar.
Nomor Polsek.
Ia mengangkat.
"Mas Arya, soal laporan kemarin... bisa datang sebentar?"
"Ada apa?"
"Ada beberapa data yang perlu dilengkapi."
Suara petugas itu berbeda. Kemarin ia santai. Hari ini terlalu hati-hati.
Arya menatap Kirana.
"Saya ke kampus sebentar."
Kirana berdiri. "Aku ikut."
"Kamu istirahat."
"Arya."
Satu kata itu cukup.
Ia tidak bisa menyembunyikan semuanya terus-menerus.
Di mobil, Arya menceritakan serangan di gang. Tidak semua detail. Cukup pisau, enam orang, polisi, dan laporan.
Kirana diam lama.
Saat mobil berhenti di lampu merah, ia bertanya, "Kamu pulang semalam dan tanya aku mau makan apa?"
"Aku tidak mau kamu panik."
"Aku istrimu."
Arya menatap jalan.
"Aku salah."
Kirana memegang tangannya yang tidak luka.
"Lain kali bilang. Aku takut, tapi aku lebih takut kalau kamu menanggung sendiri."
Kalimat itu membuat Arya terdiam sampai mereka tiba di Polsek.
Di meja pelayanan, petugas kemarin menghindari tatapan.
"Mas Arya, soal CCTV..."
"Kenapa?"
"File dari toko fotokopi katanya gagal diambil. Perangkatnya bermasalah."
Arya mengeluarkan tanda terima. "Kemarin sudah diputar di sini."
"Iya, tapi untuk salinan resmi..."
"Laporan saya?"
Petugas membuka map tipis.
"Ada bagian yang perlu ditulis ulang. Mungkin pengeroyokan ini salah paham. Mereka mengaku mabuk."
Kirana mencengkeram tas.
Arya tetap tenang.
"Mabuk dengan pisau, kunci roda, dan rantai?"
Petugas menelan ludah.
"Mas, saya hanya menyampaikan. Kadang perkara seperti ini lebih baik diselesaikan kekeluargaan."
"Keluarga siapa?"
Tidak ada jawaban.
Di luar jendela, sebuah Toyota Alphard hitam berhenti sebentar. Seorang pria berjas turun, berbicara dengan petugas lain, lalu masuk ke ruangan belakang.
Panel sistem menyala.
【Indikasi intervensi eksternal terdeteksi.】
【Korelasi: Hartono Group.】
【Saran: aktifkan jalur bukti cadangan dan pendamping hukum.】
Arya berdiri.
"Pak, saya akan kembali dengan pengacara."
Petugas tampak lega dan takut bersamaan.
"Mas Arya, jangan memperpanjang."
"Saya diserang enam orang. Ada senjata. Ada rekaman. Saya yang akan memperpanjang sampai terang."
Mereka keluar dari Polsek.
Di mobil, Kirana menangis diam-diam. Arya tidak langsung menyalakan mesin.
"Aku minta maaf," katanya.
"Karena luka?"
"Karena membuat hidupmu ikut berhadapan dengan orang seperti mereka."
Kirana menghapus air mata. "Aku sudah berhadapan dengan komentar ribuan orang. Satu keluarga kaya tidak membuatku lebih takut dari itu."
Arya menatapnya.
Hari itu ia melihat sisi lain Kirana.
Rapuh, namun tidak patah.
Satu jam kemudian, mereka duduk di kantor Pengacara Ahmad di Jalan Basuki Rahmat.
Ahmad berusia empat puluhan, berkacamata tipis, dan bicara seperti orang yang biasa memotong kebohongan.
Ia membaca laporan, melihat foto luka, memutar rekaman suara preman, lalu membuka file CCTV cadangan yang Rizky unggah ke cloud.
"Bagus," katanya.
"Bisa dipakai?"
"Bisa. Sangat bisa. Anda beruntung punya teman yang cepat menyimpan data."
Arya mengangguk. "Saya ingin melapor ke Polres."
"Kita ajukan laporan resmi, tembusan ke Propam jika ada indikasi penghilangan berkas. Kita juga kirim somasi awal kepada pihak yang terhubung dengan pelaku."
Kirana bertanya pelan, "Kalau mereka makin marah?"
Ahmad menatapnya.
"Mereka sudah marah saat mengirim enam orang. Bedanya, sekarang kita pakai jalur yang tercatat."
Arya menyukai kalimat itu.
Sore harinya, surat resmi masuk ke Polres. Bukti digital disimpan dalam tiga salinan. Bapak Hendra menghubungi dua kenalan lama, semua dengan jalur wajar dan tercatat.
Salah satu kenalan itu menelepon balik saat Arya masih di kantor Ahmad.
Ahmad menyalakan speaker setelah mendapat izin.
"Pak Hendra bilang anaknya ingin laporan berjalan bersih," kata suara pria di telepon. "Saya tidak bisa ikut campur perkara. Saya hanya bisa pastikan berkas yang masuk ke Polres tercatat sesuai prosedur."
"Itu sudah cukup, Pak," jawab Arya.
"Jangan serang orang tanpa dasar. Jangan unggah sembarang ke media sosial. Keluarga Hartono punya banyak teman, tapi kalau bukti kalian rapi, mereka juga harus berpikir dua kali."
"Saya paham."
Telepon berakhir.
Ahmad menunjuk layar laptop.
"Kamu dengar? Itu cara kerja orang dewasa. Setiap langkah tercatat. Setiap bukti punya asal. Kita bangun tembok dari kertas yang sah."
Arya melihat tiga folder di layar.
CCTV.
Rekaman suara.
Laporan Polsek.
Saksi warung.
Semua tampak sederhana. Namun untuk pertama kalinya, ia merasa sedang membangun senjata yang lebih kuat dari pukulan.
Kirana duduk di sampingnya, kedua tangan memegang gelas air.
"Aku mau ikut kalau ada pertemuan berikutnya," katanya.
Arya menoleh. "Kamu perlu istirahat."
"Aku bisa duduk. Aku bisa mendengar. Aku ingin tahu siapa yang membuat hidup kita seperti ini."
Ahmad tidak menertawakan permintaan itu.
"Selama kondisi Mbak Kirana aman, kehadiran keluarga bisa membantu. Korban tekanan sosial juga bagian dari perkara."
Kirana menatap Arya.
Arya akhirnya mengangguk.
"Kita hadapi bersama."
Menjelang malam, seorang perantara menelepon Ahmad.
Ahmad menyalakan speaker.
"Pak Hartono menyarankan anak muda itu menahan diri. Surabaya luas, tapi ruang geraknya bisa sempit kalau salah langkah."
Ahmad menatap Arya.
Arya bicara langsung ke ponsel.
"Sampaikan kepada Pak Hartono. Kita bertemu di jalur hukum."
Perantara tertawa pelan. "Kamu berani sekali."
"Saya sudah cukup diam."
Sambungan putus.
Di rumah besar Hartono, Denny berdiri di ruang kerja ayahnya.
Pak Hartono duduk di balik meja kayu besar. Wajahnya tenang, namun urat di pelipisnya bergerak.
"Enam orang," katanya. "Enam. Dan kamu tetap gagal membuat seorang mahasiswa diam."
Denny mengepalkan tangan. "Dia beruntung."
"Dia punya CCTV, rekaman, pengacara, dan ayah yang punya jalur bersih. Itu namanya persiapan."
"Papa membela dia?"
Pak Hartono berdiri.
"Saya marah karena kamu kasar dan bodoh. Kalau mau menghancurkan orang, jangan tinggalkan jejak yang bisa dipakai di pengadilan."
Denny menunduk.
"Mulai hari ini, kamu diam."
"Tapi Kirana..."
Telapak Pak Hartono menghantam meja. Suaranya membuat Denny terlonjak.
"Kirana sudah menjadi kelemahanmu. Arya Pratama sekarang menjadi urusan saya."
Di kantor Ahmad, panel sistem muncul di depan Arya.
【Terdeteksi: host menolak tunduk pada intimidasi kekuasaan.】
【Hadiah: pengetahuan hukum Lv.2.】
【Hadiah: jaringan relasi +30%.】
【Hadiah: ketahanan psikologis Lv.3.】
Arya membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Ahmad menutup map.
"Kamu menang langkah pertama, Nak. Tapi Hartono tidak akan berhenti."
"Saya tahu."
"Kamu butuh pelindung yang lebih tebal. Hukum penting. Uang juga penting. Pengaruh lebih penting lagi."
Ponsel Arya bergetar.
Panel sistem berganti.
【Pembaruan misi utama segera dibuka.】
【Host, siap naik tingkat?】
Kirana membaca wajah Arya.
"Ada sistem?"
Arya mengangguk pelan.
"Apa katanya?"
"Aku harus naik tingkat."
"Naik ke mana?"
Arya menatap map hukum di meja, lalu menatap pesan saldo dari Bank Nusantara yang masih tersimpan di ponselnya.
"Ke tempat di mana Hartono tidak bisa menekan kita hanya dengan satu telepon."
Kirana diam beberapa detik, lalu menggenggam tangannya.
"Kalau begitu, jangan naik sendirian."
Arya menutup ponsel.
"Mulai sekarang, aku kabari semuanya."