Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta malam!
Usai berakhirnya jam kuliah, Julian bergegas membereskan barang-barangnya. Ia sengaja membiarkan Rian, Fano, dan Adrian berjalan lebih dulu menuju pelataran parkir dengan alasan ada urusan mendadak dengan dosen pembimbing.
Langkah kakinya bergerak cepat. Mata Julian menyapu sekeliling.
Di sudut koridor gedung Perhotelan yang agak tersembunyi, ia melihat Sabrina berdiri menyandar ke dinding.
Gadis itu masih menunggu Julian dengan cemas sambil meremas tali tasnya.
Julian segera menghampiri dan menarik pelan lengan Sabrina masuk ke area lorong tangga darurat yang lebih tertutup.
"Kak Julian..." bisik Sabrina pelan, matanya berbinar melihat kehadiran lelaki itu. Namun, binar itu tertutup sedikit keraguan mengingat sikap dingin Julian di parkiran tadi pagi.
"Sab, sore ini kamu pulang sendiri dulu, ya," potong Julian cepat sebelum Sabrina sempat menanyakan hal lain. Suaranya terdengar terburu-buru, matanya sesekali melirik ke arah pintu keluar tangga.
Sabrina mengangguk, menurut. Sikap patuh ditunjukkannya tanpa membantah sedikit pun.
Melihat raut kecewa yang berusaha disembunyikan di balik wajah ayu gadis itu, Julian tidak tahan lagi.
Dia menatap Sabrina dengan tatapan yang melunak sepenuhnya.
"Maaf, ya..." bisik Julian lembut. Tangannya terangkat pelan, lalu jemarinya membelai lembut helai demi helai rambut panjang Sabrina.
Sentuhan hangat itu seketika mencairkan suasana canggung yang sempat membeku di antara mereka.
Sabrina menengadah, menatap manik mata Julian yang kini tak lagi dihiasi topeng keangkuhan.
"Besok, aku jemput kamu," janji Julian sungguh-sungguh, menatap tepat di kedua bola mata Sabrina.
"Kalau jam kuliah selesai, kita pulang sama-sama. Aku janji."
Sabrina mengulas senyum tipis, sebuah senyum tulus yang selalu berhasil melelehkan kerasnya hati Julian.
Rasa kecewa yang sempat hinggap di dadanya perlahan menguap, tergantikan oleh rasa percaya yang masih begitu utuh untuk lelaki di hadapannya.
"Iya, Kak. Tidak apa-apa," jawab Sabrina pelan, mengangguk kecil.
"Aku udah pesanin taksi online buat kamu," tambah Julian seraya menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan plat nomor mobil yang sedang menuju ke area lobi utama gedung.
"Drivernya sebentar lagi sampai. Kamu tinggal tunggu di depan, ya? Jangan naik yang lain."
Sabrina melirik layar ponsel Julian, lalu menatap kekasihnya itu dengan binar mata yang kembali hangat. Perhatian kecil yang Julian berikan di balik kerahasiaan hubungan mereka selalu sanggup menghapus kepedihan singkat yang ia rasakan.
"Terima kasih, Kak Julian," bisik Sabrina tulus.
Julian mengecup dahi Sabrina singkat, sebuah kecupan lembut sebelum akhirnya melepaskan genggamannya dengan berat hati.
Ia memperhatikan Sabrina melangkah keluar dari lorong tangga darurat terlebih dahulu.
Setelah memastikan koridor benar-benar aman, Julian menyusul berjalan menyusuri selasar menuju parkiran utama.
Sementara itu, Adrian, Rian, dan Fano, sudah berdiri menyandar di sisi mobil milik Adrian.
Rian sibuk memainkan kunci mobil di jarinya, sementara Fano menghembuskan asap rokoknya santai ke udara.
Begitu melihat Julian berjalan menghampiri dengan langkah tenang, Rian langsung melambaikan tangan seraya menyunggingkan senyum lebar.
"Nah! Ini dia si anak pangeran akhirnya kelar juga urusannya!" seru Rian kencang, menepuk bahu Julian begitu lelaki itu sampai di hadapan mereka.
"Lama amat lu. Dosen pembimbing lu ngajak konsultasi apa ngajak curhat?" kekeh Fano seraya membuang puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya hingga mati.
Julian menyunggingkan senyum tipis, kembali memasang topeng dingin yang biasa ia kenakan di hadapan lingkaran temannya.
"Biasa, bahas poin draf. Gimana? Jadi jalan sekarang?"
"Jalanlah! Tapi bukan cuma nongkrong biasa," sela Rian dengan mata berbinar penuh rencana. Ia memiringkan kepalanya, menatap ketiga temannya satu per satu.
"Malam ini nightclub langganan gue baru reopening. Reservasi meja VIP paling atas udah aman di tangan gue. Alkohol kelas atas, musik kencang, plus..." Rian menggantungkan kalimatnya, menyunggingkan senyum penuh arti.
"Cewek-cewek seksi yang siap nemenin kita sepanjang malam. Gimana? Gas, kan?"
Adrian terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di dada.
"Gue sih jelas gas. Udah agak suntuk juga liat tugas kuliah." Tatapan Adrian lalu berganti mengunci Julian.
"Lu gimana? Jangan bilang mau absen gara-gara kepikiran sampingan lu yang tadi pagi?"
Adrian dan tawa ejekan dari Rian membuat gengsi Julian kembali membakar akal sehatnya. Ia tidak boleh terlihat lemah, apalagi di depan Adrian.
"Siapa yang mau absen?" sahut Julian dengan nada santai dan angkuh, menatap balik Adrian tanpa ragu.
"Meja VIP malam ini gue yang bayar. Kita berangkat."
"Nah! Itu baru Julian yang gue kenal!" sorak Rian puas, menepuk dada Julian keras-keras.
Tanpa membuang waktu, mereka berempat langsung masuk ke mobil masing-masing. Deru mesin menderu nyaring mengisi udara sore saat iring-iringan mobil mewah itu melesat meninggalkan area kampus, menuju gemerlap dunia malam yang siap menelan mereka.