Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Introgasi sang preman
Devan melepaskan topi kupluk hitam yang menutupi rambutnya, memperlihatkan tatanan rambutnya yang agak acak-acakan namun bersih. Devan menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Pak Suryo dan Bu Sumi, sebuah gestur kesopanan yang begitu kontras dan sama sekali tidak mencerminkan penampilannya yang garang bak preman jalanan.
"Bapak ... Ibu ... mohon maafkan saya," ucap Devan dengan nada suara yang sangat rendah, tenang, dan tertata rapi.
Tidak ada sedikit pun kesan ugal-ugalan atau nada kasarnya seperti saat ia berbicara di atas motor dengan Raka tadi.
Seluruh orang di teras itu seketika tertegun. Devi yang masih terisak di samping ibunya perlahan mengangkat wajahnya, menatap pria yang baru saja menjadi suaminya itu dengan kerutan bingung di dahi.
"Saya tahu kedatangan saya ke rumah ini membawa kejutan yang sangat pahit dan menghancurkan perasaan Bapak serta Ibu," lanjut Devan dengan tutur kata yang begitu teratur dan halus. "Saya tahu penampilan saya sangat jauh dari kata meyakinkan. Saya penuh tato, baju saya kotor, dan saya datang sebagai orang asing yang tak diundang dalam kehidupan putri Bapak."
Devan mengangkat kepalanya pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Pak Suryo yang masih menatapnya kaku.
"Namun demi Allah yang menguasai jiwa saya, Pak Suryo ... Bu Sumi ..." Devan melanjutkan dengan keteguhan yang terasa begitu nyata, "... saya tidak pernah menyentuh atau melakukan hal-hal tidak senonoh pada putri Bapak sedikit pun saat kami berada di gubuk itu. Kami murni hanya berteduh dari hujan deras yang lebat. Dan soal pernikahan siri di balai desa tadi ..."
Devan menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan rasa tanggung jawab yang mendalam.
"... Saya menyetujuinya bukan karena ingin memanfaatkan situasi atau menjebak Devi. Saya menyetujuinya karena saya tidak tega melihat seorang gadis suci dan baik-baik seperti Devi harus dihancurkan masa depannya oleh kebengisan warga desa yang ingin mengaraknya tanpa busana. Saya mengambil opsi itu ... murni untuk melindungi kehormatan putri Bapak dan keluarga ini."
Atmosfer di teras rumah yang tadinya sepanas bara api, seketika mendingin. Tutur kata Devan yang begitu runtut, sopan, dan penuh tatakrama membuat Pak Suryo terpaku membisu. Bahasa tubuh pria bertato ini sama sekali tidak mencerminkan seorang preman pasar yang kasar atau tidak berpendidikan. Nada suaranya berwibawa, pemilihan katanya tertata bagaikan seorang terpelajar dari kalangan terpandang.
Bu Sumi menatap Devan dengan mata sembapnya, rasa terkejut dan bingung berkecamuk di dalam hatinya. ("Anak ini ... tatonya seram sekali, penampilannya seperti anak jalanan nakal ... tapi kenapa bicaranya bisa santun dan sehalus ini?") batin Bu Sumi heran.
Pak Suryo menarik napas panjang yang terasa sangat berat, mengembuskannya perlahan untuk menetralkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Pria tua itu menyenderkan punggungnya di kursi rotan, menatap Devan yang masih berlutut di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kamu ... siapa sebenarnya namamu, Nak?" tanya Pak Suryo, nada suaranya secara tak sadar sudah melembut beberapa tingkat, tak lagi menyemprotkan kemarahan seperti awal tadi.
"Nama saya Devan, Pak. Devan Pratama," sahut Devan sopan, menundukkan kepalanya sedikit.
Pak Suryo terdiam sejenak, menatap lekat-lekat ke arah tato naga yang melilit di leher Devan, lalu mengalihkan pandangannya pada Devi yang masih mengusap air matanya.
"Pernikahan ... yang dipaksakan oleh warga dan keadaan ..." gumam Pak Suryo dengan suara serak yang menyimpan kesedihan mendalam. "Bagaimana mungkin aku bisa merestui pernikahan yang seperti ini? Anak gadisku yang baru dua hari kerja ... tiba-tiba membawa pulang seorang suami dadakan yang tidak pernah kami kenal sebelumnya?"
Pak Suryo memejamkan mata rapat-rapat, memegang dahi rentanya yang berkerut-kerut. Kejutan tengah malam ini terasa begitu dahsyat, mengoyak ketenangan keluarga kecil mereka dan melempar mereka ke dalam pusaran takdir baru yang serba tidak pasti.
Suasana di dalam ruang tamu kecil milik keluarga Pak Suryo terasa serasa dipadatkan oleh keheningan yang menekan dada. Di atas meja kayu polos beratap kaca yang sedikit retak di sudutnya, sebuah lampu gantung berdaya rendah memancarkan cahaya kekuningan, memantulkan bayangan orang-orang yang duduk melingkar di atas sofa busa yang sudah agak kempes. Bau minyak kayu putih yang sempat diusapkan Bu Sumi ke pelipis suaminya beradu dengan aroma lembap dari pakaian basah sisa hujan deras di luar rumah.
Pak Suryo duduk di ujung sofa panjang dengan posisi tubuh kaku. Tangannya yang dipenuhi otot-otot tipis dan kerutan usia tampak mencengkeram erat tongkat kayunya. Sesekali dadanya kembang-kempis, menahan rasa sesak yang belum sepenuhnya sirna.
Di sampingnya, Bu Sumi merangkul erat Devi yang masih saja menyembunyikan wajah di bahu sang ibu, sesekali bahu gadis itu masih berguncang pelan karena sisa terisak.
Sementara itu, Raka berdiri bersedekap di dekat ambang pintu yang menghubungkan ruang tamu dan dapur. Matanya yang memerah dan menyimpang ketegangan tak pernah sekalipun terlepas dari sosok Devan, seolah-olah jika ia lengah sedetik saja, pria asing itu akan melakukan sesuatu yang membahayakan adiknya.
Devan sendiri duduk bersila di atas karpet tipis yang terhampar di lantai semen. Ia sengaja menolak saat Bu Sumi memintanya duduk di sofa kosong. Pria itu memilih berada di posisi yang lebih rendah sebagai bentuk rasa hormat pada sang tuan rumah. Jaket kulit hitamnya yang kusam sudah ia lepaskan dan dilipat rapi di samping tubuhnya, menyisakan kaus oblong hitam ketat yang mencetak jelas lekuk otot dada dan bahunya yang tegap. Tato naga berlekuk tajam di leher kirinya makin terlihat jelas di bawah sorotan lampu ruang tamu, memberikan kontras yang aneh dengan gestur tubuhnya yang begitu tenang dan sopan.
"Jadi ..." Pak Suryo akhirnya memecah keheningan yang menyiksa tersebut. Suaranya serak dan berat, sarat akan beban keputusasaan yang dalam. "... lelaki ini sekarang resmi menjadi suami sah anakku secara hukum agama?"
Raka menundukkan kepala pelan, tidak berani menatap langsung mata ayahnya yang kian redup. "Iya, Yah . Tidak ada pilihan lain di balai desa tadi. Kalau Raka menolak, warga yang diprovokasi Pak RT sudah bersiap menelanjangi Devi dan mengaraknya keliling desa. Raka tidak tega, Yah. Raka lebih baik dipukul warga daripada melihat Devi dihancurkan seperti itu."
Bu Sumi mengusap air mata yang kembali menetes di pipinya yang keriput. "Ya Allah, Gusti ... kenapa cobaan untuk keluarga kita begitu berat? Devi ini anak baik-baik, Pak. Dia baru dua hari kerja di gudang pabrik itu, tapi kenapa warga tega sekali menuduh anak kita seperti perempuan tidak benar?"
"Hukum adat di desa kita ini memang sering kali membabi buta, Bu," gumam Pak Suryo lantas beralih menatap Devan secara tajam. Pandangan senjanya meneliti setiap inci wajah pria muda di depannya. "Dan kamu, Nak Devan ... Kamu bilang tadi kalau kamu tidak menyentuh anakku. Tapi bagaimana bisa kamu berada di dalam gubuk yang sama di tengah sawah pada jam sebelas malam? Apa pekerjaanmu sebenarnya? Kenapa penampilanmu ... seperti orang yang biasa hidup kasar di jalanan?
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja