Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Kevin Tanuwijaya menelepon pukul 07.06.
Alexander belum sempat membuka amplop Herman Wijaya sampai tuntas.
Semalam, Herlina hanya membaca halaman pertama, lalu tangannya gemetar terlalu keras. Mereka sepakat berhenti. Bukan menyerah. Menunda sampai pagi, ketika kepala lebih jernih dan Nathan tidak perlu berpura-pura berani di tengah malam.
Pagi itu, amplop IRN-27/YP masih berada di meja kontrakan baru.
Lalu nama Kevin muncul di layar ponsel.
"Lex, aku butuh pengacara."
Alexander langsung berdiri.
Kevin tidak pernah memulai percakapan seperti itu.
"Di mana kamu?"
"Kantor Aeon. Mereka mencuri desain kami."
"Siapa?"
"PT Cantika Teknologi. Mereka bukan cuma meniru. Mereka mendaftarkan versi modifikasi lebih dulu dan sekarang mengancam menuntut kami kalau kami bicara ke investor."
Alexander mengambil jas dari kursi.
"Jangan kirim apa pun ke siapa pun. Jangan unggah pernyataan. Jangan jawab ancaman mereka. Saya ke kantor dulu, lalu ke tempatmu."
"Lex..."
"Apa?"
Suara Kevin pecah. "Kalau ini kalah, Aeon selesai."
Alexander menatap amplop ayahnya di meja.
Di satu sisi, masa lalu Herman Wijaya baru saja membuka pintu.
Di sisi lain, sahabatnya sedang berdiri di depan kebakaran.
"Tahan semua dokumen asli," kata Alexander. "Saya datang."
Di Kantor Hukum Adiwangsa, Gunawan sudah membaca ringkasan singkat yang dikirim Alexander dari perjalanan.
"Robotika?" tanya Gunawan.
"PT Aeon Robotika milik Kevin. Desain lengan robot gudang mereka diduga dijiplak PT Cantika Teknologi."
"Kevin Tanuwijaya yang dulu sering datang saat kau masih magang?"
"Ya."
"Sahabat?"
"Ya."
Gunawan menutup tablet.
"Kalau sahabat, lebih berbahaya."
Alexander tidak membantah.
"Saya tetap minta izin mengambil perkara ini."
"Ambil. Tapi kau bukan datang sebagai teman yang marah. Kau datang sebagai kuasa hukum yang harus bisa membuktikan."
Kalimat itu terlalu mirip dengan nasihat semalam.
Datang dengan bukti.
Alexander mengangguk.
"Saya tahu, Pak."
Kantor PT Aeon Robotika berada di kawasan industri teknologi Kota Cahaya, lantai dua bangunan sewa yang catnya mulai mengelupas. Di dalamnya, tiga meja kerja dipenuhi komponen logam, kabel, sensor, dan papan tulis penuh sketsa lengan robot.
Kevin berdiri di tengah ruangan dengan rambut berantakan.
Ia memeluk satu map tebal seperti orang memeluk pelampung.
"Ini sertifikat paten kami," katanya begitu Alexander masuk. "Ini cetak biru generasi pertama. Ini log pengembangan. Ini kontrak dengan dua investor awal. Semuanya ada tanggalnya."
Alexander menerima map itu.
"Tarik napas."
"Aku sudah tarik napas semalaman."
"Kalau begitu tarik lagi."
Kevin tertawa sekali, pahit, lalu duduk.
Alexander membuka sertifikat paten Aeon Robotika. Tanggal pengajuan, nama penemu, uraian teknis, dan gambar lengan robot tersusun rapi. Ia lalu membuka dokumen PT Cantika Teknologi yang dicetak dari sistem pendaftaran.
Sekilas, desain Cantika memang tidak identik.
Sudut sambungan diubah.
Nama modul diganti.
Diagram sensor diberi istilah baru.
Tetapi pola gerak, struktur penahan beban, dan urutan sistem kendali terlalu mirip untuk disebut kebetulan.
Basis Data Hukum bergerak cepat di belakang matanya.
Hukum kekayaan intelektual.
Paten.
Unsur kebaruan.
Langkah inventif.
Ruang lingkup klaim.
Ancaman pencemaran nama baik sebagai tekanan bisnis.
Panel Status tidak berbunyi, tetapi jalur pikir Alexander menjadi lebih bersih.
"Mereka mengubah kulit, bukan tulang," katanya.
Kevin mengangkat kepala. "Jadi bisa dilawan?"
"Bisa. Tapi bukan dengan kemarahan. Kita perlu urutkan prioritas."
Alexander menulis di papan tulis kosong.
Satu: amankan dokumen asli dan riwayat pengembangan.
Dua: bandingkan klaim paten Aeon dengan pendaftaran Cantika.
Tiga: siapkan somasi berbasis pelanggaran paten dan permintaan penghentian penggunaan sementara.
Empat: jangan beri mereka bahan untuk menggugat balik pencemaran nama baik.
Kevin membaca daftar itu seperti orang melihat jalan keluar pertama setelah terjebak di ruangan gelap.
"Mereka bilang kalau aku menghubungi investor dan menyebut pencurian, mereka akan tuntut."
"Maka kita tidak menyebut pencurian di luar proses. Kita menyebut dugaan pelanggaran hak paten dalam surat resmi."
"Itu beda?"
"Beda besar. Satu bisa jadi amunisi lawan. Satu memaksa lawan masuk jalur hukum."
Kevin menutup wajah.
"Aku hampir kirim email marah ke semua investor jam empat pagi."
"Untung kamu menelepon jam tujuh."
"Aku hampir tidak."
Alexander menatap sahabatnya.
Kevin dulu adalah orang yang meminjamkan uang makan tanpa menghitung, yang menunggu Alexander di luar restoran setelah penghinaan Priscilla meski tidak tahu harus berkata apa, yang tidak pernah menanyakan kapan Alexander bisa membalas bantuan kecilnya.
Sekarang giliran Alexander berdiri.
"Mulai sekarang, semua komunikasi lewat saya."
Kevin mengangguk.
Alexander membuka satu map lain yang diberi label "arsip investor lama".
"Ini apa?"
"Bahan lama dari investor pertama. Dia dulu pernah mendanai riset robotika kampus dan memberi kami akses beberapa laporan teknis lama untuk referensi umum. Tidak semua dipakai."
Alexander membalik halaman.
Kertasnya lebih tua daripada berkas lain.
Capnya pudar.
Jantung Alexander berhenti setengah ketukan.
Institut Riset Nasional.
Di bawah cap itu, ada judul laporan teknis tentang sistem kendali aktuator dan pemetaan respons motorik mesin. Alatnya berbeda dari lengan robot Aeon, namun sejarah risetnya terlalu dekat untuk muncul begitu saja di map investor kecil.
Penguatan Pengumpulan Bukti - Arsip dan Dokumen Lama seperti membuka mata kedua di belakang kepalanya.
Usia kertas.
Format nomor arsip.
Stempel lembaga.
Rantai kepemilikan yang tidak dijelaskan.
Alexander menahan napas.
"Kevin, dari mana investor itu mendapat laporan ini?"
Kevin mengerutkan dahi. "Yang mana?"
Alexander menunjukkan cap IRN.
"Ini."
"Aku tidak tahu. Dia bilang itu arsip riset tua yang sudah tidak relevan. Kenapa?"
Alexander tidak langsung menjawab.
Nama ayahnya ada di amplop yang belum selesai dibaca.
Cap yang sama sekarang ada di tengah kasus sahabatnya.
"Lex?"
Alexander menutup map itu perlahan.
"Masukkan laporan ini ke daftar dokumen yang tidak boleh keluar dari ruangan."
"Apa ini ada hubungannya dengan Cantika?"
"Belum tahu."
"Tapi penting?"
Alexander menatap cap pudar itu sekali lagi.
"Terlalu penting untuk dianggap kebetulan."
Di luar jendela kantor Aeon, kawasan industri bergerak seperti pagi biasa.
Di dalam ruangan, perkara paten baru saja berubah arah.
Pertanyaannya melebar dari pencurian desain robot.
Tetapi mengapa jejak Institut Riset Nasional muncul lagi tepat setelah amplop Herman Wijaya dibuka.