Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Awal Mula Kiamat
Pagi itu dimulai seperti hari-hari biasanya. Berita di televisi hanya menyebutkan wabah flu aneh yang menyebar di tiga kota besar—dianggap hanya musim sakit biasa, tak ada yang menyangka dunia akan runtuh dalam hitungan jam.
Natalia baru saja merapikan berkas kerjanya saat suara teriakan memecah keramaian jalanan di luar kantor. Awalnya ia kira hanya perkelahian biasa, hingga ia melihat sosok yang berjalan terhuyung, pakaian robek berlumuran darah, dan menggigit siapa saja yang mencoba menolong.
Justin kekasihnya, menarik lengannya erat. "Kita harus pergi. Sekarang juga."
"hah, ada apa..?!" tanya nya.
"nanti aku ceritakan di dalam mobil, ayo..?" tanpa banyak bicara Natalia lalu mengikuti ajakan kekasih nya itu, dengan berlari tergesa-gesa.
Mereka berlari menuju mobil, namun jalanan sudah berubah menjadi kekacauan. Orang-orang berlarian panik, suara tembakan terdengar bersahut-sahutan, dan sosok-sosok yang tak lagi manusia berjalan perlahan mengejar setiap makhluk bernyawa yang mereka temui.
Mata Natalia terbelalak saat melihat kerumunan manusia yg sudah berubah menjadi menyeramkan, ia lalu bertanya pada Justin, kekasih nya.
"Ke mana kita harus pergi?" tanya Natalia dengan suara bergetar, menatap mata Rian yang biasanya tenang kini penuh ketakutan.
"yg pasti kita harus menyelamatkan diri kita, jauh dari sini. Aku juga mendapatkan kabar, jika situasi jalanan menuju ke arah vila ku sangat kacau, kita tidak melewati nya," jawab Justin, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Namun takdir berkata lain. Saat Rian hendak menyalakan mesin, tubuhnya tiba-tiba limbung. Demam tinggi yang sempat ia sembunyikan sejak kemarin kini meledak. Matanya perlahan berubah sayu, dan tatapan yang dulu penuh kasih sayang perlahan berganti rasa lapar yang tak wajar.
"Justin.. Hei... Kamu kenapa..?" tanya Natalia.
"Natalia... kamu harus berusaha untuk cepat pergi dari sini... Aku.. Akh... Aku.. Maafkan aku, demam ini... Demam ini gak wajar.." tubuh Justin bergetar hebat, ia berusaha untuk keluar namun di cegah oleh Natalia.
"please... Jangan tinggalkan aku Justin.." mohon nya, namun Justin menguatkan Natalia.
"bertahanlah Nat, bertahan dengan situasi ini.. Berjanji lah untuk tidak mati.." Justin lalu keluar, dan menutup pintu mobil nya ia lalu berlari menuju ke kerumunan mayat hidup itu, dan memancing mereka untuk menjauh dari mobil.
Natalia terpaku kaku. Di hadapannya, orang yang paling ia cintai perlahan berubah menjadi salah satu dari mereka, Justin dengan tenaga yg tersisa sedikit, berusaha untuk memancing kerumunan itu. Dan di luar sana, gerombolan itu semakin menjauh dari mobil nya, membuka celah agar mobil nya bisa bergerak dan menjauh dari jalanan.
Tangis Natalia tak terhenti, saat dia melihat Justin berdiri di atas jembatan, lalu mobil itu bergerak meninggalkan jalanan yg sudah penuh dengan mayat hidup.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di sisi lain sebuah gedung rumah sakit yg sudah kacau dengan para pasien, suster, dokter, dan pengunjung berpencar ketakutan dan menghindari dari gigitan mayat hidup, di sana ada polisi dan juga tentara untuk berusaha mengevakuasi para korban yg selamat, sisa nya dari mereka mungkin akan di tembak atau di ledakkan.
Di dalam kamar rawat, masih banyak pasien yg koma dan juga kritis. Ada juga pasien yg masih dalam kondisi melahirkan dan operasi, namun mereka di tinggalkan oleh para dokter aan suster saat mendengar ada nya wabah mematikan yg sudah menyebar dan berubah menjadi mematikan.
Situasi ini sangat kacau, apakah pemerintah dan penjabat daerah dapat menangani ini.
Bersambung