NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 – Nama yang Salah

“Kadang sebuah nama mampu merenggut seseorang lebih cepat dari pada sebuah perpisahan.”

--

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika mobil Birendra memasuki halaman Rumah Sakit Harapan Mulia. Lampu-lampu kota yang tadi gemerlap di ballroom Aurora kini terasa jauh dan asing, sisa riasan di wajah Alina mulai pudar, meninggalkan kelelahan yang sejak pagi ia sembunyikan di balik senyum profesionalnya.

Begitu mesin mobil dimatikan, Alina tidak langsung turun. Ia masih bersandar di bahu Birendra, memejamkan mata beberapa detik lebih lama.

“Capek?” Bisik Birendra seraya mengusap puncak kepala Alina.

“Tapi aku senang kita berhasil.” Birendra tersenyum mendengar hal itu dan ia pun mencium puncak kepala Alina dengan begitu lembut.

“Kak Raka pasti juga senang lihat Aurora malam ini.” Nama itu kembali membuat dada Alina sesak, tetapi kali ini ia tidak menangis. Ia hanya menggenggam tangan Birendra lebih erat sebelum akhirnya turun dari mobil.

Lorong rumah sakit menyambut mereka dengan udara dingin dan aroma antiseptik yang familiar. Setelah seharian berada di tengah cahaya, musik, dan tepuk tangan, keheningan rumah sakit terasa begitu kontras, seolah dunia luar dan dunia di dalam gedung ini berada di dua semesta yang berbeda.

Hendra tampak duduk di kursi ruang tunggu seraya memegang tasbih. Begitu melihat mereka datang, ia berdiri pelan. “Bagaimana acaranya?” Tanya Hendra saat mereka berdiri di hadapannya.

“Berjalan lancar, Yah.” Jawab Alina seraya duduk di sisi ayahnya. “Kak Keira gimana?” Hendra menarik napasnya mendapati pertanyaan dari putrinya.

“Dokter bilang tadi sore sempat ada respon kecil, tapi belum sadar sepenuhnya.” Alina menunduk mendengar pernyataan ayahnya, ada harapan yang tumbuh bersamaan dengan ketakutan yang semakin besar. Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar dari ruang intensif.

“Keluarga ibu Keira?” Ketiganya langsung berdiri bersamaan. “Pasien mulai membuka mata untuk sesekali. Kami masih observasi, tapi keluarga boleh melihat dari dekat satu orang dulu.” Alina menoleh ke Birendra, pria itu mengangguk lembut seolah berkata pergilah dulu.

Namun sebelum Alina sempat melangkah, perawat seakan menghentikan langkah Alina, karena ada penjelasan yang belum selesai ia sampaikan.

“Pasien tampak gelisah dan terus mencari seseorang. Kalau ada anggota keluarga laki-laki yang biasa dekat dengannya, mungkin bisa ikut mendampingi.” Hendra tampak ragu mendengar penjelasan itu, kemudian matanya beralih ke arah Birendra bersamaan dengan Alina yang tanpa sadar pun sudah menggenggam tangan pria itu.

“Temenin aku, ya.”

“Selalu,” jawabnya pelan dan keduanya pun masuk bersama ke ruang intensif.

Lampu ruangan diredupkan, suara monitor berdetak pelan memenuhi udara. Keira terbaring dengan wajah pucat, rambutnya tersisir rapi oleh perawat, dan selang infus masih menempel di tangan kirinya, lalu Alina mendekat lebih dulu.

“Kak..” Kelopak mata Keira tampak bergerak pelan, dan membuat napas Alina tertahan. Keira perlahan membuka kedua matanya, tatapannya tampak kabur beberapa detik sebelum akhirnya menemukan wajah adiknya.

“Alin..” suaranya serak hampir tidak terdengar. Air mata Alina langsung menetes dan membuatnya menggenggam tangan kakaknya dengan erat.

“Aku disini, kak.” Keira mengerjap beberapa kali, lalu pandangannya bergerak perlahan ke samping. Tepat ke arah Birendra yang berdiri di dekat kaki ranjang.

Waktu seolah melambat, tatapan Keira tiba-tiba melembut, ada kelegaan yang begitu nyata di wajahnya, kelegaan seseorang yang akhirnya menemukan orang yang paling ditunggu olehnya. Bibir pucatnya pun tampak bergerak pelan.

“Mas…”

Alina menoleh cepat ke arah Birendra saat Keira bersuara dengan lirih, Birendra sendiri pun tampak langsung membeku mendengarnya. Keira mengulurkan tangannya dengan gemetar ke arah Birendra.

“Mas Raka..” Keira kembali menyeru. Dada Alina seolah dihantam sesuatu yang tak terlihat dan Birendra pun tidak bergerak. “Mas, akhirnya pulang.” Suara itu begitu lembut, penuh rindu, dan penuh keyakinan. Bukan suara orang yang salah lihat sesaat, namun itu suara seorang istri yang percaya suaminya benar-benar berdiri di hadapannya.

Alina merasakan genggamannya pada tangan Keira melemah. Ia menatap kakaknya, lalu menatap Birendra, berharap lelaki itu segera berkata bahwa Keira salah. Namun Birendra tampak sama terkejutnya. Wajahnya pucat, matanya membesar, dan bibirnya sedikit terbuka tanpa suara.

“Mas,” Keira kembali memanggil seraya tersenyum lemah. “Aku takut tadi, jangan tinggalin aku lagi.” Air mata menetes dari sudut mata Keira. Dokter yang berjaga segera mendekat dan memberi isyarat agar mereka tetap tenang.

“Pasien masih sangat rapuh, jangan membuatnya emosional.” Keira tidak memedulikan siapa pun selain pria di hadapannya, ia terus menatap Birendra dengan tatapan penuh cinta yang seharusnya hanya dimiliki Raka.

“Mas, pegang tangan aku.” Bisiknya lagi dan ruangan mendadak terasa sempit bagi Alina. Birendra menoleh kepadanya seolah meminta jawaban yang sama-sama tidak mereka miliki. Di mata lelaki itu, Alina melihat kepanikan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Tolong turuti dulu, kondisi psikis pasien belum stabil.” Kalimat itu seakan seperti vonis. Dengan gerakan lambat, Birendra mendekat ke sisi ranjang. Tangannya gemetar ketika menyentuh jemari Keira. Begitu tangan itu tergenggam, Keira langsung memejamkan mata dengan napas yang jauh lebih tenang.

“Mas Raka,” bisiknya sekali lagi sebelum benar-benar tertidur karena masih mendapat pengaruh obat.

Alina menatap tangan yang saling menggenggam itu tanpa berkedip. Beberapa jam lalu tangan yang sama menggenggam tangannya di atas panggung Aurora. Tangan yang sama menyuapinya makan malam, menyelimutinya di mobil, dan berjanji akan selalu ada di sampingnya. Kini tangan itu berada di tangan kakaknya.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan terjadi, Alina merasakan kehilangan yang berbeda, bukan kehilangan seseorang yang telah pergi, melainkan kehilangan seseorang yang masih hidup.

Keduanya keluar dari ruang intensif beberapa menit kemudian, lorong rumah sakit terasa lebih dingin dari sebelumnya. Hendra yang melihat mereka keluar pun langsung berdiri saat melihat wajah keduanya.

“Keira sadar?” Alina tidak mampu menjawab pertanyaan sang ayah.

“Kak Keira mengira aku adalah Raka.” Kata Birendra lirih. Spontan tasbih di tangan Hendra hampir terlepas, keheningan pun langsung menyelimuti lorong, hanya ada suara monitor dari balik pintu yang terdengar samar.

Alina berdiri mematung, Birendra mencoba meraih tangannya, tetapi Alina tanpa sadar mundur setengah langkah. Bukan karena marah, ia hanya belum mampu menerima apa yang baru saja terjadi dan tatapan Birendra langsung terluka melihat gerakan kecil itu.

Dokter keluar beberapa saat kemudian dan menjelaskan kemungkinan trauma pasca-kecelakaan yang membuat pasien salah mengenali orang terdekat. Kata-kata medis itu terdengar jauh di telinga Alina, karena yang terngiang di telinganya saat ini adalah suara Keira yang memanggil Birendra sebagai Raka.

Malam semakin larut, di luar jendela, angin kembali menggoyangkan dedaunan. Alina menatap pintu ruang intensif sekali lagi, ia tahu hidup mereka tidak akan pernah kembali sama mulai malam ini, dan tanpa ia sadari, retakan pertama dalam kisah cintanya dengan Birendra baru saja terbentuk oleh sebuah nama yang terucap dari mata yang salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!