Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Rasa Senang yang Belum Menghapus Sisa Dingin
Keesokan paginya, langit tampak cerah bersih tanpa setitik awan pun. Sinar matahari pagi menyelinap lewat celah jendela kamar Rara, menyentuh wajahnya yang terbangun dengan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia melompat turun dari tempat tidur dengan senyum yang tak kunjung pudar, bahkan saat menyikat gigi dan memakai seragam pun bibirnya terus melengkung ke atas. Hatinya terasa ringan seolah terbang di awan kelabu.
Sesampainya di sekolah, Rara berjalan cepat menuju bangkunya, lalu langsung menoleh ke arah Aisyah begitu ia meletakkan tas. Matanya berbinar cerah, pipinya merona merah karena senang yang meluap-luap. Ia menepuk pelan lengan Aisyah berulang kali, tak bisa menahan kegembiraannya.
"Syah, aku beneran seneng banget bisa sedeket itu sama Dimas kemarin," ucap Rara dengan suara bergetar bahagia, matanya tak berhenti tersenyum lebar. "Ngobrol dari hati ke hati gitu... rasanya beda banget Syah. Dia ngerti banget perasaan aku, nggak menghakimi sama sekali. Aku ngerasa kayak beban di dada aku udah hilang separuh. Rasanya aku nggak perlu pura-pura jadi orang lain lagi kalau sama dia."
Aisyah tersenyum lembut melihat sahabatnya begitu bahagia, matanya ikut bersinar senang. "Aku ikut seneng banget lho Ra. Itu artinya kamu udah berani jujur sama perasaan sendiri. Itu langkah yang besar banget. Semoga ke depannya kamu makin dekat sama dia ya."
Rara mengangguk mantap, lalu membuang napas panjang seolah melepaskan semua kegelisahan yang dulu ia pendam. "Amin. Pokoknya aku bakal berusaha jadi diri sendiri sebaik mungkin."
Belum sempat Rara melanjutkan kata-katanya, langkah kaki yang ia kenal sangat baik terdengar mendekat. Laras masuk ke dalam kelas dengan wajah yang tetap rapi dan tenang, namun matanya langsung tertuju pada Rara yang sedang tersenyum lebar. Ia berhenti tepat di samping meja Rara, menyilangkan tangan di dada dengan tatapan yang masih dingin dan sinis.
"Wih seneng banget ya mukanya? Kayak baru aja menang lomba lari keliling kota aja," ucap Laras dengan nada sarkas, bibirnya menyeringai miring. "Jangan seneng duluan deh Ra. Cuma ngobrol sebentar terus merasa paling dekat? Itu baru permukaan aja lho. Belum tentu di dalemnya dia nganggep lo lebih dari sekadar teman biasa."
Rara menoleh cepat, senyumnya perlahan memudar digantikan tatapan tajam yang sama persis seperti dulu. Ia menegakkan punggungnya, menatap balik Laras tanpa gentar sedikit pun.
"Lo nggak usah ikut campur urusan gue ya Lar. Gue seneng itu karena gue udah berani jujur, bukan karena mau pamer sama lo," jawab Rara ketus, tetap menggunakan kata ganti lo dan gue. "Lagian ngapain lo pusing ngeliat kebahagiaan orang lain? Lo takut ya kalau gue emang lebih dekat sama dia daripada lo?"
Laras mendengus kasar, mencondongkan tubuh sedikit ke depan seolah ingin menantang. "Takut? Gue nggak pernah takut sama lo Ra. Gue cuma ingetin aja biar nggak kecewa nantinya. Dimas itu bukan tipe cowok yang gampang tergoda cuma karena sekali dua kali ngobrol manis. Dia butuh seseorang yang bisa nemenin dia, yang ngerti seluk-beluk dia, bukan cuma sekadar jujur doang tapi nggak bisa ngasih kenyamanan."
"Kenapa lo merasa cuma lo yang bisa ngasih kenyamanan?" balas Rara cepat, suaranya mulai meninggi namun ia berusaha menahan diri agar tidak berteriak. "Lo itu selalu ngerasa paling tahu, paling bisa, paling pantas. Padahal sikap lo yang suka nyindir dan meremehkan orang lain kayak gini justru yang bikin orang nggak nyaman tau!"
"Jadi maksud lo sikap lo yang kaku, galak, dan gampang tersinggung itu lebih enak dilihat?" potong Laras tak mau kalah. "Sikap lo kayak gitu justru bikin orang lain takut buat deket-deket lo. Lo pikir Dimas betah lama-lama sama orang yang gampang emosi kayak lo?"
"Setidaknya gue nggak pura-pura manis di depan tapi jahat di belakang kayak lo!" seru Rara menunjuk dada Laras dengan jari telunjuk. "Gue nggak berubah warna kayak bunglon cuma buat dapetin perhatian orang!"
Suasana di sekitar mereka perlahan menjadi hening. Beberapa teman sekelas melirik penasaran, sementara Aisyah hanya bisa menghela napas panjang sambil mencoba menenangkan Rara dengan menepuk pelan punggung tangannya.
Laras tersenyum sinis, lalu menunduk mendekat ke wajah Rara perlahan. "Kita liat aja nanti ya Ra. Waktu yang bakal jawab siapa yang beneran pantas berdiri di sebelah dia. Sampai kapan pun gue nggak bakal mundur selangkah pun, sekalipun lo udah merasa menang duluan. Dan inget ya, persaingan ini baru saja mulai. Jangan sampai lo nyerah duluan karena nggak kuat nahan panasnya persaingan."
Setelah mengucapkan itu, Laras berdiri tegak kembali, merapikan kerah bajunya dengan santai, lalu berjalan menuju bangkunya dengan langkah yang tetap angkuh tanpa menoleh ke belakang lagi.
Rara menatap punggung Laras yang menjauh dengan dada yang naik turun menahan emosi. Ia mencengkeram ujung mejanya kuat-kuat, wajahnya memerah menahan amarah yang belum tuntas.
"Dasar orang sombong," gerutunya pelan namun penuh penekanan. "Gue juga nggak bakal mundur. Gue bakal buktiin kalau lo salah besar."
Aisyah menggeleng pelan, lalu berbisik pelan agar hanya didengar oleh Rara. "Ra... tadi kan kalian udah sepakat buat bersaing sehat. Kenapa malah jadi gini lagi? Nggak capek terus-terusan saling sinis kayak gini?"
Rara menghela napas panjang, lalu menunduk lemas. "Aku tau Syah. Aku juga sebenernya pengen damai. Tapi setiap kali dia ngomong gitu, rasanya gue nggak bisa nahan diri. Dia selalu aja bikin aku kesal dan pengen ngebantah terus. Rasanya belum bisa ya... belum bisa bener-bener baik sama dia. Masih ada rasa kesel yang belum hilang."
"Pelan-pelan ya Ra. Nggak ada yang instan kok," hibur Aisyah lembut.
Rara hanya mengangguk pelan, lalu melirik sekilas ke arah bangku Dimas yang baru saja masuk. Senyumnya kembali muncul meski tak secerah tadi, namun kali ini ia tahu satu hal meski hatinya sedang senang, meski sudah ada kesepakatan, persaingan dan sisa rasa dingin di antara dirinya dan Laras ternyata belum sepenuhnya mencair. Masih ada waktu yang panjang untuk membuktikan siapa yang paling tulus, dan siapa yang paling pantas.
“Apa ya yang harus gua lakuin supaya Dimas tuh kayak tertarik sama gue? Soalnya gue enggak jelek jelek banget juga dan gue merasa yakin banget Dimas tuh sebenarnya suka sama gue cuman karena gara-gara laras aja makanya dia kayak begitu! Dan gue yakin bisa jauh lebih oke daripada,” batinnya dalam hati dengan cepat.