Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Peringatan Pertama
Pagi itu, Hanifah perlahan membuka matanya. Senyum tipis menghiasi bibirnya saat mengusap lembut perutnya yang mulai membulat.
"Assalamu'alaikum, dedek-dedek... Ibu bangun dulu, ya."
Ia bangkit perlahan dari tempat tidur. Dari arah dapur terdengar suara minyak yang sedang menggoreng sesuatu.
Hanifah tersenyum kecil, tahu suaminya sedang memasak. Ia pun melangkah ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Hanifah mendadak terdiam. Wajahnya langsung memucat.
Di pakaian dalam yang baru saja ia lepaskan, tampak bercak berwarna kecokelatan. Jantungnya berdetak semakin cepat. Tangannya bergemetar.
"Tidak... Ya Allah..." Air matanya langsung menggenang. Dengan napas memburu, ia membuka pintu. "Mas..." Suara itu begitu lirih.
Arkana yang sedang mengaduk sayur sop langsung menoleh.
"Hanifah?"
Melihat wajah istrinya yang pucat, ia segera mematikan kompor lalu berlari menghampiri.
"Kenapa, Dek?"
Hanifah menundukkan kepala. "Mas, aku... aku keluar flek...."
Seketika wajah Arkana berubah. "Apa?"
Hanifah menganggukkan kepala sambil menahan tangis.
"Ayo, kita ke bidan sekarang."
"Tapi, Mas... kerjaan Mas gimana?"
Arkana menggeleng tegas. Ia mencengkeram lembut bahu Hanifah. "Pekerjaan bisa menunggu, Dek. Kamu dan anak-anak jauh lebih penting!"
Tanpa membuang waktu, Arkana mengambil tas Hanifah lalu membantunya mengenakan sandal.
"Pelan-pelan. Pegang tangan Mas."
Hanifah mengangguk.
"Iya."
Saat mereka hendak membuka pintu, Bibi Ratna keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Sebuah tas kerja menggantung di bahunya, sementara beberapa map berada di tangannya.
"Loh? Mau ke mana pagi-pagi?" tanya Bibi Ratna heran.
Arkana menjawab dengan wajah masih dipenuhi kecemasan.
"Hanifah keluar flek, Bi. Kami mau ke bidan."
Ratna tampak sedikit terkejut. "Keluar flek?" Ratna melihat wajah Hanifah yang tampak pucat. "Kalau begitu cepat dibawa. Jangan ditunda."
Hanifah mengangguk pelan.
"Iya, Bi."
Baru saja mereka hendak melangkah, Ratna kembali memanggil.
"Eh, Hanifah."
Hanifah menoleh. "Iya, Bi?"
"Teh Bibi sudah dibuat?" tanya Bibi Ratna datar.
Belum sempat Hanifah menjawab, Arkana langsung tersenyum tipis.
"Sudah, Bi. Tadi saya sempat buatkan sebelum masak. Ada di meja makan."
Ratna mengangguk lega.
"Oh, baiklah. Kalau begitu kalian cepat saja. Nanti kabari hasil pemeriksaannya."
"Iya, Bi."
Arkana membantu Hanifah naik ke atas motor.
...----------------...
Sepanjang perjalanan, Arkana beberapa kali menoleh ke belakang.
"Pegangan yang kuat ya, Dek."
"Iya, Mas."
Motor melaju membelah jalanan yang masih lengang. Tak sampai lima belas menit, mereka tiba di tempat praktik bidan.
Arkana langsung membantu Hanifah turun.
"Pelan. Jangan terburu-buru."
Mereka segera masuk ke ruang tunggu. Untungnya, pagi itu pasien belum terlalu banyak.
Tak lama kemudian seorang perawat keluar.
"Atas nama Hanifah Shafiqa."
"Saya."
"Silakan masuk."
Arkana ikut mendampingi istrinya menuju ruang pemeriksaan.
Di dalam, bidan yang pernah memeriksa Hanifah sebelumnya menyambut mereka dengan ramah.
"Silakan duduk. Ada keluhan apa hari ini?"
Hanifah menjawab pelan.
"Tadi pagi saya keluar flek, Bu."
Wajah bidan langsung berubah serius.
"Baik. Kita periksa dulu, ya."
Hanifah diminta berbaring di ranjang pemeriksaan. Bidan mengoleskan gel dingin ke perut Hanifah, kemudian mulai menggerakkan alat USG.
Ruangan mendadak sunyi. Tatapan Arkana tidak pernah lepas dari layar monitor. Sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari Hanifah.
Beberapa saat kemudian, bidan tersenyum.
"Alhamdulillah. Ketiga janinnya masih dalam keadaan baik."
Hanifah langsung mengembuskan napas panjang. Air matanya jatuh begitu saja.
"Alhamdulillah...."
Arkana ikut tersenyum lega.
"Terima kasih, Bu."
Namun beberapa detik kemudian, senyum bidan perlahan memudar. Ia kembali memperhatikan layar USG sebelum akhirnya menoleh kepada Hanifah.
"Tetapi..." Bidan menarik napas pelan. "Flek yang Ibu alami merupakan tanda ancaman keguguran."
Hanifah refleks memegang perutnya.
"Maksudnya... anak saya bagaimana, Bu?"
"Untuk saat ini ketiga janinnya masih baik. Tetapi kondisi kehamilan Ibu termasuk kehamilan berisiko tinggi. Apalagi mengandung bayi kembar tiga."
Arkana langsung mengangguk.
"Lalu kami harus bagaimana, Bu?"
Bidan menatap keduanya bergantian.
"Mulai hari ini, Ibu Hanifah harus bed rest. Kurangi berdiri terlalu lama, jangan mencuci pakaian, jangan mengepel, jangan mengangkat barang, dan jangan memaksakan diri melakukan pekerjaan rumah. Kalau memang memungkinkan, biarkan suami atau keluarga yang membantu."
Hanifah menelan ludah. "Iya, Bu."
Bidan melanjutkan dengan nada lebih lembut.
"Yang paling penting, jangan terlalu banyak pikiran. Ibu harus tetap tenang, karena kondisi psikologis juga memengaruhi kehamilan."
Arkana menggenggam tangan Hanifah lebih erat.
"Saya mengerti, Bu. Saya akan menjaga istri saya."
Bidan tersenyum.
"Bagus dan ingat. Kalau nanti keluar darah merah, fleknya bertambah banyak, atau muncul nyeri hebat pada perut, jangan menunggu sampai besok. Langsung bawa ke sini atau ke rumah sakit."
Arkana mengangguk mantap. "Baik, Bu."
Setelah pemeriksaan selesai, Arkana membantu Hanifah turun dari ranjang. Ia merangkul bahu istrinya dengan hati-hati.
"Pelan ya, Dek."
Hanifah mengangguk. Meski hatinya masih dipenuhi rasa takut, setidaknya ia sedikit lega.
...----------------...
Sepanjang perjalanan pulang, Arkana lebih banyak diam. Sesekali ia melirik ke arah spion, memastikan Hanifah masih memeluk pinggangnya dengan erat.
Sesampainya di rumah, Arkana segera memarkirkan motornya.
"Ayo, pelan-pelan."
Ia membantu Hanifah turun, lalu menggandeng tangannya masuk ke dalam rumah.
Hanifah duduk di sofa dengan napas yang masih belum sepenuhnya tenang. Arkana mengambil segelas air putih, lalu menyodorkannya.
"Nih, diminum dulu."
Hanifah menerimanya sambil tersenyum tipis. "Terima kasih, Mas."
Arkana kemudian berlutut di hadapan istrinya.
"Dek."
"Iya, Mas?"
"Mulai hari ini tdak ada lagi pekerjaan rumah."
Hanifah tersenyum kecil.
"Tapi..."
Arkana langsung menggeleng.
"Tidak ada tapi. Mas tidak mau mengambil risiko. Kalau Mas pulang kerja baru sempat bersih-bersih, ya tidak apa-apa. Kalau capek, kita minta bantuan Bu Sulastri. Pokoknya kamu jangan memaksakan diri."
Hanifah menatap wajah suaminya beberapa saat.
"Iya, Mas. Aku janji."
Arkana mengusap lembut kepala Hanifah.
"Itu baru istri Mas."
Tak lama kemudian, Arkana melirik jam dinding. Wajahnya berubah sedikit gelisah.
"Mas sebenarnya ingin menemani kamu di rumah. Tapi hari ini ada laporan yang harus diselesaikan."
Hanifah menggenggam tangan suaminya. "Tidak apa-apa. Aku di rumah saja. Kamu kerja yang tenang."
Arkana masih tampak ragu.
"Kalau ada apa-apa, langsung telepon Mas. Jangan ditahan."
Hanifah mengangguk.
"Iya."
Setelah memastikan semua kebutuhan istrinya sudah tersedia, Arkana pun berangkat bekerja. Sebelum keluar rumah, ia sempat menoleh sekali lagi.
"Ingat ya, jangan banyak jalan."
Hanifah tersenyum sambil mengangguk.
"Iya, Mas."
Motor Arkana perlahan meninggalkan halaman rumah.
Rumah kembali sunyi.
Hanifah memilih duduk di ruang tamu sambil membaca buku tentang kehamilan yang dibelikan Arkana beberapa hari lalu.
Sesekali tangannya mengusap perutnya.
"Ibu janji akan menjaga kalian..."
Beberapa jam berlalu. Menjelang sore, suara motor berhenti di depan rumah.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Bibi Ratna masuk sambil membawa tas kerja dan beberapa map tebal berisi dokumen.
Ia tampak lelah. Begitu masuk, ia meletakkan tasnya di atas kursi lalu memijat pelan tengkuknya.
"Aduh, leher Bibi rasanya mau patah."
Hanifah segera berdiri. "Bi, sini Hanifah bawakan tasnya."
Ratna menggeleng.
"Tidak usah. Ini cuma map."
Ratna duduk di sofa, lalu mengembuskan napas panjang.
Beberapa detik kemudian ia memanggil, "Hanifah."
"Iya, Bi?"
"Tolong buatkan Bibi teh hangat."
"Baik, Bi."
Hanifah berjalan perlahan menuju dapur. Ia berhati-hati mengikuti pesan bidan agar tidak terlalu banyak bergerak.
Tak lama kemudian, secangkir teh hangat telah tersaji. Ratna menyeruputnya perlahan.
"Hmm... Pas." Ia tersenyum tipis. "Terima kasih."
"Sama-sama, Bi."
Ratna mulai membuka map pekerjaannya.
Sambil membaca beberapa lembar berkas, matanya sesekali berkeliling memperhatikan keadaan rumah.
"Loh... Hari ini lantainya belum dipel, ya?"
Hanifah menundukkan kepala.
"Belum, Bi. Tadi bidan menyuruh Hanifah banyak istirahat."
Ratna mengangguk pelan. "Begitu, ya..."
Beberapa saat ia terdiam. Kemudian kembali berkata tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.
"Dulu waktu Bibi hamil anak pertama, pagi berangkat kerja, sore pulang masih masak, malam masih mencuci pakaian."
Hanifah hanya mendengarkan.
"Bahkan ibunya Arkana dulu juga begitu. Waktu mengandung Arkana, beliau masih masak banyak untuk dijual di kantin kantor. Karena waktu itu ekonomi keluarga belum seperti sekarang."
Ratna menutup mapnya.
"Makanya Bibi kadang heran. Ibu hamil sekarang sedikit-sedikit disuruh istirahat."
Hanifah menggenggam ujung gamisnya.
"Maaf, Bi. Hanifah cuma mengikuti anjuran bidan."
Ratna mengangguk pelan.
"Bibi bukan menyuruh kamu melawan bidan. Hanya saja..." Ia menghela nafas. "Jangan sampai kamu jadi terlalu bergantung sama Arkana. Laki-laki juga punya batas tenaga."
Hanifah tersenyum tipis.
"Iya, Bi. Aku mengerti."
Ratna menatap Hanifah. Melihat wajah keponakan menantunya itu yang tetap sopan meski dinasihati, ia pun tidak melanjutkan pembicaraan.
Suasana kembali hening. Tak lama kemudian terdengar suara salam dari luar.
"Assalamu'alaikum."
Hanifah segera membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam, Bu Sulastri."
Di tangan Bu Sulastri tampak sebuah mangkuk besar yang masih mengepulkan uap.
"Ibu buat bubur kacang hijau, Nak. Kata Arkana tadi siang, kamu habis kontrol ke bidan? Bagaimana hasilnya?" tanya Bu Sulastri penuh perhatian.
Hanifah menerima mangkuk itu. "Alhamdulillah janinnya sehat, Bu. Tapi tadi keluar flek, jadi bidan menyuruh bed rest total."
Wajah Bu Sulastri langsung cemas. "Astaghfirullah... kalau begitu jangan macam-macam dulu. Mulai besok, biar Ibu yang masak dan bantu urusan rumah. Jangan sungkan, ya."
Tenggorokan Hanifah tercekat. "Bu... terima kasih banyak. Saya jadi merepotkan."
Bu Sulastri tersenyum hangat sambil mengusap bahu Hanifah. "Jangan bilang begitu. Kamu sudah Ibu anggap anak sendiri. Yang penting kamu dan dedek-dedek sehat."
Air mata Hanifah akhirnya jatuh. Bukan karena sedih. Melainkan karena di tengah rasa takut yang sejak pagi memenuhi hatinya, masih ada seseorang yang begitu tulus memperhatikannya.
Dari ruang tamu, Bibi Ratna mengangkat kepalanya sejenak. Ia memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Lalu kembali menutup map pekerjaannya.
Sementara itu, Hanifah memeluk mangkuk bubur kacang hijau yang masih terasa hangat. Ia mengusap perlahan perutnya.
"Nak... kalian harus kuat, ya. Ibu akan berusaha menjaga kalian sebaik mungkin."