Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
“Maksud Dokter? Aku kan bukan dokter. Bagaimana mungkin aku lebih bisa menyembuhkannya daripada Anda?” tanya Tirta dengan emosi. Rasanya kedua pria di hadapannya sedang mempermainkannya.
“Marchel...”
Tirta mulai merasa risih saat pria itu kembali menyelipkan wajahnya semakin dalam ke ceruk lehernya. Krim cukur yang masih menempel di wajah Marchel kini ikut mengotori leher gadis itu. Belum lagi pria itu terlihat menggesekkan wajahnya pelan, bahkan sesekali seperti mencium tanpa arah yang jelas.
“Marchel... berhenti.”
Tirta mendorong pelan bahu pria itu hingga pelukan mereka sedikit terlepas. Namun kedua tangan Marchel masih melingkar erat di pinggangnya, seolah takut gadis itu benar-benar pergi.
“Sepertinya dia...”
Dokter Elvarendra memulai kalimatnya dengan wajah yang antara kasihan dan ingin tertawa melihat Tirta yang masih duduk di pangkuan Marchel dengan ekspresi frustasi.
“Apa?”
Tirta mengikuti arah pandangan dokter.
Matanya perlahan turun...
Semakin turun...
Lalu—
“Aaa...!!!”
Pekiknya keras hingga hampir terjungkal ke belakang.
Beruntung Marchel refleks menarik pinggangnya kembali.
Tubuh Tirta langsung menegang saat ia merasakan sesuatu yang keras menyentuh pahanya.
Matanya membelalak sempurna.
Ternyata sesuatu yang selama delapan tahun seolah tertidur itu... kini benar-benar menunjukkan tanda kehidupan.
Di sisi lain, Marchel justru meringis.
Sensasi ngilu dan nyeri menjalar di tubuhnya. Setelah bertahun-tahun tidak pernah mengalami reaksi seperti ini, tubuhnya seolah belum siap menerima perubahan yang datang begitu tiba-tiba.
“Diam... jangan bergerak.”
Suara pria itu terdengar serak dan tertahan.
Dokter El segera membuka beberapa kancing kemeja Marchel, lalu memeriksa detak jantungnya menggunakan stetoskop.
“Aku... aku pergi saja.”
Tirta buru-buru bangkit dari pangkuan Marchel.
Namun baru beberapa langkah menjauh—
“Akh...!”
Marchel kembali menggeram pelan.
Anehnya, begitu Tirta keluar dari kamar dan sosok gadis itu tak lagi berada dalam pandangannya, reaksi tubuh yang sempat muncul perlahan kembali mereda.
“Hah... hah....”
Marchel mengatur napasnya dengan frustrasi.
Rasa sesak di dadanya belum juga hilang.
Dokter El menghela napas panjang sambil menggeleng kecewa.
“Padahal aku sudah menyiapkan gel untuk membantumu mengurangi rasa tidak nyamannya.”
“Kenapa bisa begitu, Dok? Baru sebentar sudah hilang lagi....” Ucapan Arga yang terdengar terlalu jujur membuat Marchel langsung meliriknya tajam. Kalau saja tenaganya cukup, mungkin kepala sahabatnya itu sudah melayang sejak tadi.
“Sepertinya hanya ada satu pemicu yang membuat tubuhmu bereaksi.” Dokter El berbicara jauh lebih serius kali ini.
“Dan itu adalah Tirta.” Marchel hanya diam. Dokter kemudian menyerahkan gel yang harus digunakan sendiri oleh Marchel untuk mengurangi rasa nyeri akibat perubahan yang mendadak itu.
Baik Arga maupun Dokter El sama sekali tidak merasa canggung. Mereka sudah menemani Marchel sejak bertahun-tahun lalu. Mereka bertiga adalah sahabat lama. Tak ada orang yang mampu mendekati Marchel sedekat mereka. Walaupun sifat pria itu keras, dingin, dan sering memerintah seenaknya, keduanya tetap bertahan di sisinya. Terutama sejak kecelakaan itu terjadi.
Mereka menyaksikan sendiri bagaimana Marchel divonis mengalami kelumpuhan akibat cedera tulang belakang. Mereka juga tahu bagaimana kondisi itu menghancurkan mentalnya sedikit demi sedikit. Tak ada lagi semangat untuk hidup. Tak ada lagi keinginan untuk sembuh. Satu kecelakaan berhasil meruntuhkan seluruh kehidupan pria itu.
“Tadi saat Tirta memandikanku... sebenarnya aku sudah merasa ada sesuatu yang berbeda.” Marchel akhirnya membuka suara.
“Tapi aku mengabaikannya karena percaya pada ucapanmu kalau aku impoten.” Tatapannya langsung mengarah kepada Dokter El.
“Sekarang lihat sendiri.”
“Diagnosismu ternyata tidak sepenuhnya benar.”
“Cabut saja izin praktikmu.” Dokter El mendecak pelan.
“Ancamanmu tetap menyeramkan seperti biasa.” Ia sempat tersenyum kecil.
“Padahal aku ingin memberitahumu kalau ini justru kabar baik.” Melihat Marchel tetap memasang wajah datar, senyum dokter itu perlahan menghilang.
“Oke... aku serius.”
Marchel hanya mengembuskan napas panjang. Pikirannya justru dipenuhi satu hal.
Sial...
Sudah pasti Tirta akan takut mendekatiku lagi. Bahkan mungkin gadis itu tidak mau lagi tidur satu kamar dengannya.
“Arga.”
“Siap, Tuan Muda. Laksanakan.” Jawaban spontan itu membuat Dokter El hanya menggeleng sambil terkekeh.
“Aneh.”
“Orang lain minimal memberi perintah dulu. Ini cuma manggil nama saja sudah langsung dijawab.” Arga hanya terkekeh lalu keluar dari kamar.
...****************...
Di ruang tengah... Tirta masih duduk diam di sofa. Sebotol air mineral kosong sudah berada di tangannya. Tatapannya lurus ke depan. Sesekali ia berkedip, seolah otaknya masih belum selesai mencerna kejadian beberapa menit yang lalu. Arga menghampirinya sambil membawa sebotol air lagi.
“Minum lagi.” Tirta menerimanya tanpa banyak bicara. Botol itu langsung ia habiskan dalam beberapa tegukan.
“Kamu takut?” Tanya Arga sambil tersenyum tipis. Tirta mengangguk cepat.
“Bukan cuma takut....” Ia menggigit bibirnya sendiri.
“Aku malah... geli sendiri waktu tadi kita....” Kalimatnya menggantung. Pipinya berubah merah. Kepalanya dipenuhi berbagai bayangan yang membuatnya semakin malu. Benar-benar tidak sesuai dengan wajah polos yang ia miliki.
“Hahaha....” Arga tertawa lepas.
“Jadi itu pengalaman pertama buatmu?” Tirta langsung menutup wajahnya.
“Pantas saja kamu syok.” Arga ikut meneguk air minumnya.
“Jujur saja, kehadiranmu benar-benar seperti hadiah yang tidak bisa kami beli dengan apa pun.” Tirta menatapnya bingung.
“Perlahan-lahan kamu mengubah Marchel"
“Pria yang biasanya hanya bicara beberapa kata, sekarang malah bisa mengomel panjang.” Tirta langsung tertawa kecil.
“Masa sih?”
“Tentu.”
Arga ikut tertawa.
“Kemarin waktu aku terlambat menjemputnya, dia pulang naik taksi yang kupesan.”
“Aku pikir dia bakal melempar barang ke arahku atau menghukumku seperti biasa.”
“Ternyata sepanjang malam dia malah mengomel soal ada gadis aneh yang mengganggunya di jalan.” Arga menunjuk Tirta.
“Setelah aku cari tahu... ternyata gadis itu ya kamu.” Tirta langsung menepuk pelan lengan pria itu.
“Kak... lebay sekali.”
“Tidak.”
Arga menggeleng.
“Sejak hari itu kamu seperti cahaya kecil yang perlahan masuk ke dalam kehidupan Marchel yang selama ini hanya dipenuhi kegelapan.” Senyum Tirta perlahan memudar. Arga melanjutkan ceritanya.
“Dulu, Mama Marchel berkali-kali membawa gadis-gadis muda ke rumah ini.”
“Beliau berharap ada seseorang yang bisa membuat Marchel mau keluar dari kamarnya.”
“Tapi semuanya gagal.” Arga mengembuskan napas pelan.
“Yang lebih parah... hampir semua gadis yang dibawa memiliki kemiripan dengan Rachel.”
Secara tidak langsung, keluarga berharap Marchel bisa menerima perempuan lain yang memiliki bayangan wajah mantan kekasihnya. Namun hasilnya justru sebaliknya. Marchel semakin marah. Bahkan beberapa kali kondisinya memburuk hingga obat penenang pun sulit menenangkannya. Ada satu gadis yang sampai harus menjalani terapi dengan psikiater karena trauma menghadapi amarah Marchel.
“Apa yang terjadi dengan gadis-gadis itu?” Tirta bertanya pelan. Entah kenapa ada rasa tidak nyaman yang mengganjal di dadanya.
“Tidak ada yang serius.” Arga tersenyum tipis.
“Mereka hanya memilih pergi setelah tahu Marchel mengalami kondisi itu.”
Ia menatap Tirta sejenak sebelum melanjutkan.
“Coba pikirkan... berapa banyak perempuan yang bersedia menikah dengan pria lumpuh yang dianggap sudah kehilangan harapan untuk memiliki kehidupan rumah tangga yang normal?”
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜