Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOVANA
Suara deru mesin jahit terdengar dari ruang depan sejak matahari baru merambat naik.
Bunda sudah duduk di sana, membelakangi pintu kamar Yovana. Kain biru muda terbentang di atas meja kayu. Tangannya begitu cekatan menuntun bahan mengikuti pola kapur yang digambar semalam. Sesekali pedal dihentikan hanya untuk memastikan kerapian jahitan.
Rumah mereka tidak besar. Hanya ada dua kamar tidur, ruang depan yang merangkap tempat kerja Bunda, dapur sempit di belakang, dan sebuah teras kecil yang menghadap ke gang.
Yovana keluar dari kamar sambil menguncir rambutnya asal-asalan. Ia masih mengenakan kaos oblong dan celana kain panjang
"Sudah bangun, Yov?" tanya Bunda tanpa mengalihkan pandangan dari jarum mesin jahit.
"Sudah, Bun."
"Kalau mau sarapan, masih ada nasi di tudung saji."
Yovana berjalan ke dapur. Udara pagi masih agak dingin saat ia membuka tudung saji. Di sana tersisa piring berisi sisa lauk semalam.
"Telurnya masih ada, Bun?" panggilnya dari balik dinding dapur.
"Ada satu. Makan saja."
"Yovana ambil, ya."
Bunda hanya mengangguk pelan dari ruang depan.
Yovana mengambil piring dan duduk sendirian di meja makan kayu. Ia mengunyah pelan. Tidak ada suara selain denting sendok yang beradu dengan piring dan ketukan ritmis mesin jahit Bunda.
Dulu, rumah ini tidak sehening ini.
Dulu, Yovana adalah tipe anak yang tak bisa diam. Ada saja yang diceritakannya—mulai dari kejadian konyol di sekolah, ulah teman-temannya, guru yang ia sebal, hingga jajanan pasar yang ia beli sepulang sekolah.
Sekarang, kebiasaan itu hilang.
Sejak berhenti sekolah, waktunya lebih banyak habis di kafe tempatnya bekerja. Usianya baru tujuh belas tahun, tetapi Yovana sudah terbiasa memendam semuanya sendirian.
"Berangkat jam berapa nanti?" tanya Bunda, memecah hening.
"Jam sepuluh."
"Jangan lupa makan siang di tempat kerja."
"Iya, Bun."
Mesin jahit itu berhenti sejenak. Bunda menoleh ke arah dapur.
"Kalau mau pulang lebih malam, kabari Bunda dulu."
Yovana menghentikan sendoknya. "Biasanya juga pulang malam, kan?"
"Bunda tahu. Maksud Bunda... kalau ada acara atau pulang lebih malam dari biasanya."
Yovana tersenyum tipis—senyum formalitas agar Bunda tidak khawatir. "Iya, nanti Yovana kabari."
Bunda kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya.
Yovana menghabiskan sarapannya, mencuci piring bekas pakai, lalu masuk kembali ke kamar. Di depan cermin kusam di sudut ruangan, ia merapikan rambutnya dan mengenakan seragam kerja: kemeja putih polos dan rok berwarna hitam jahitan Bunda.
Ia menatap bayangannya sendiri di cermin selama beberapa detik.
Wajahnya tampak biasa saja. Tidak ada raut sedih, tidak ada raut takut. Setidaknya, itulah topeng yang selalu berhasil ia pakai setiap kali keluar dari rumah.
Yovana menyampirkan tasnya di bahu lalu berjalan ke pintu depan.
"Bun."
"Hm?"
"Berangkat dulu."
Bunda menoleh sebentar, matanya menunjukkan rasa lelah yang sama. "Hati-hati di jalan."
"Iya."
Saat meraih gagang pintu, Yovana sempat melirik Bunda yang kembali menunduk menatap kain. Ada banyak kata yang sebenarnya berdesakan di tenggorokannya. Ingin ia tanyakan, ingin ia luapkan. Namun seperti biasa, semua kata itu tertahan dan lenyap begitu saja.
Ia pun melangkah keluar.
Kafe tempat Yovana bekerja berjarak sekitar dua puluh menit perjalanan dengan sepeda motor. Begitu memasuki jam makan siang, tempat itu mulai dipenuhi pengunjung.
Yovana menggantung tasnya di loker karyawan dan mengikat celemeknya kencang-kencang.
"Telat dua menit," bisik Rani, teman kerjanya, saat Yovana keluar dari ruang belakang.
"Jalanan agak macet tadi," jawab Yovana beralasan.
"Alasan klasik," kekeh Rani sambil mengangsurkan nampan. "Meja nomor tiga minta tambah air putih, ya."
"Siap."
Pekerjaan di kafe selalu berhasil menyita perhatian Yovana. Ia mengantar pesanan, membersihkan meja, menyapa pelanggan, dan membantu di bagian bar.
Secara fisik, pekerjaan ini menguras tenaga. Kakinya sering pegal dan punggungnya terasa kaku menjelang malam. Namun Yovana menyukainya.
Sebab, saat sibuk bekerja, otaknya tidak punya waktu untuk berpikir.
Di kafe ini, tidak ada yang bertanya tentang masa lalunya.
Tidak ada yang bertanya kenapa ia tidak melanjutkan sekolah.
Dan yang paling penting, tidak ada yang memaksanya menjelaskan rahasia yang bahkan belum sanggup ia terima sendiri.
Menjelang sore, seorang pelanggan pria memanggilnya.
"Mbak."
Yovana menghampiri meja tersebut dengan senyum ramah. "Iya, Mas? Ada yang bisa dibantu?"
"Pesanan saya belum keluar dari tadi."
"Boleh saya lihat nota pemesanannya, Mas? Baik, tunggu sebentar ya, saya cek ke dapur."
Yovana berjalan cepat ke area dapur untuk memastikan pesanan yang tertunda. Setelah menyelesaikan masalah itu dan meminta maaf kepada pelanggan, ia kembali berjalan menuju meja kasir.
Namun, langkahnya terhenti saat melewati dinding kaca besar di bagian depan kafe.
Di luar, di seberang jalan, berdiri seorang pria berjaket gelap yang sedang menelepon.
Yovana terpaku.
Tiba-tiba, dadanya terasa sangat sesak.
Pria itu sama sekali tidak melakukan apa pun. Ia hanya berdiri membelakangi jalan sambil berbicara di ponselnya. Tetapi gestur tubuhnya—cara pria itu berdiri dan menyandarkan bahunya—memukul memori lama di kepala Yovana.
Sensasi dingin menjalar cepat ke ujung jari-jarinya.
Yovana memalingkan wajah dengan cepat dan berpura-pura sibuk menata gelas.
"Yov?" Rani menepuk bahunya pelan dari samping. "Kamu kenapa? Muka kamu pucat banget."
Yovana menarik napas pendek-pendek. "Enggak apa-apa."
"Serius? Mau istirahat dulu di belakang?"
"Enggak usah, Ran. Cuma agak kaget aja tadi. Aku mau bersihin meja lima dulu, ya."
Rani menatapnya curiga, tetapi akhirnya membiarkan Yovana pergi.
Di ruang belakang, saat mengumpulkan gelas-gelas kotor, Yovana mendapati tangannya gemetaran. Ia memejamkan mata erat-erat sambil menyandarkan badan ke dinding semen.
Cuma kebetulan, bisiknya dalam hati. Kamu cuma cape.
Ia terus mengulang kalimat itu hingga rasa gemetarnya mereda.
Jarum jam menunjuk angka sembilan malam saat Yovana tiba di rumah.
Lampu ruang depan masih menyala terang. Mesin jahit Bunda sudah tenang, tetapi potongan kain dan gulungan benang masih berserakan di atas meja.
"Kok belum tidur, Bun?" tanya Yovana sambil melepas sepatu di ambang pintu.
"Nungguin kamu pulang," jawab Bunda pelan dari arah dapur.
"Kan Yovana sudah bilang bakal pulang malam."
"Bunda cuma mau memastikan kamu sampai rumah dengan selamat."
Yovana menyandarkan tasnya di kursi. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Bunda keluar dari dapur membawa piring berisi nasi dan lauk hangat, lalu meletakkannya di meja makan.
"Makan dulu. Seharian kerja, jangan cuma diisi air dingin."
Yovana menatap piring itu. Kehangatan sederhana yang selalu disiapkan Bunda kerap membuat dadanya makin nyeri. "Terima kasih, Bun."
Mereka duduk berhadapan dalam diam.
Di luar, suara klakson kendaraan sesekali melintas. Televisi tetangga terdengar samar-samar. Namun di dalam rumah ini, ada keheningan tebal yang tak kasatmata.
Yovana menatap wajah Bunda yang mulai digaris kerutan tipis.
"Bun..." panggilnya lirih.
Bunda mendongak. "Iya?"
Keberanian itu sempat muncul sekejap, tetapi langsung runtuh begitu melihat binar lelah di mata ibunya. Yovana menunduk kembali, mengaduk nasinya.
"Enggak jadi, Bun."
Bunda mengernyitkan dahi. "Kenapa, Yov? Ada masalah di tempat kerja?"
"Enggak ada. Cuma mau tanya benang biru muda tadi beli di mana, kelihatan bagus."
Bunda tersenyum tipis, sadar bahwa anak gadisnya baru saja mengalihkan pembicaraan. Namun seperti biasa, Bunda memilih tidak mendesak. "Di toko langganan biasa."
Malam makin larut. Usai membersihkan diri dan mencuci piring, Yovana masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
Ia meletakkan tas di atas kursi belajar yang tak lagi dipakai, lalu duduk di tepi tempat tidur. Pandangannya menatap kosong pada lantai semen di bawahnya.
Dari luar kamar, terdengar suara ritmis mesin jahit Bunda kembali menyala. Rupanya Bunda melanjutkan pekerjaannya untuk mengejar target besok pagi.
Yovana memejamkan mata dan merebahkan badannya.
Suara tak-tek-tak-tek dari mesin jahit itu... dulu adalah suara paling menenangkan bagi Yovana kecil. Suara yang menandakan bahwa ia aman di rumah, bahwa ada Bunda yang menjaganya.
Namun kini, suara yang sama justru terasa menghimpit dadanya hingga sesak.
Ia menarik selimut tinggi-tinggi, Ada satu rahasia besar dari masa lalunya yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Tidak kepada Rani, tidak kepada teman-temannya di masa sekolah dulu, dan terutama... tidak kepada Bunda.
Yovana sudah bertahun-tahun meyakinkan dirinya sendiri bahwa rahasia kelam itu akan terkubur aman bersama dirinya selamanya.
Ia hanya tidak tahu bahwa rahasia yang paling keras kita sembunyikan, terkadang selalu menemukan celah untuk berjalan pulang.