NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah yang sulit dipercaya

Azan Subuh berkumandang ketika Arga akhirnya membuka mata. Ia hanya sempat tertidur beberapa jam. Rasa perih di lambung masih ada, tetapi tidak separah malam sebelumnya. Biskuit dan air hangat yang diminumnya semalam setidaknya sedikit membantu. Di sampingnya, sang ibu sudah lebih dahulu bangun.

Beliau tersenyum saat melihat Arga membuka mata.

"Bagaimana perutmu?"

"Masih agak perih, Bu."

"Tapi sudah lebih enakan."

Ibunya mengangguk lega.

"Nanti setelah Subuh kita cari bubur atau makanan yang lembut."

"Jangan langsung makan yang pedas."

"Iya, Bu."

Mereka pun berwudu dan berjalan menuju masjid. Udara dini hari terasa sejuk. Beberapa musafir dan warga sekitar mulai memenuhi saf-saf salat Subuh.

Di antara mereka, Bima berdiri dengan tenang. Ia memperhatikan bentuk bangunan masjid yang jauh berbeda dengan masjid-masjid yang terakhir kali diingatnya. Namun ketika imam mulai membaca ayat-ayat Al-Qur'an, perasaan asing itu perlahan menghilang.

Ada satu hal yang tidak berubah oleh waktu.

Panggilan untuk bersujud kepada Allah tetap sama.

Selesai salat, bapak takmir mempersilakan mereka menikmati teh hangat yang telah disiapkan. Tak lama kemudian, seorang pedagang bubur yang biasa mangkal di depan masjid datang lebih pagi dari biasanya. Ibu Arga segera membeli semangkuk bubur ayam tanpa sambal dan tanpa kerupuk.

"Pelan-pelan makannya."

Arga mengangguk.

Ia menyuapkan sesendok demi sesendok. Perutnya masih belum nyaman, tetapi makanan hangat itu terasa jauh lebih bersahabat daripada roti yang dimakannya semalam. Ayah memperhatikan putranya hingga mangkuk itu hampir kosong.

Barulah beliau tampak sedikit tenang.

"Alhamdulillah."

"Wajahmu sudah tidak sepucat semalam."

Arga tersenyum kecil.

"Terima kasih, Yah."

Mereka kembali ke penginapan. Kini tidak ada lagi alasan untuk menunda.

Ayah menatap Arga dengan serius.

"Sekarang ceritakan semuanya."

"Dari awal."

"Tidak usah ada yang disembunyikan."

Arga menarik napas panjang. Ia melirik Bima yang mengangguk pelan, memberi isyarat agar ia menceritakan semuanya.

Arga pun mulai bercerita.

Tentang perjalanannya menuju puncak gunung.

Tentang bagaimana ia tersesat di hutan.

Tentang rawa yang mengeluarkan bau menyengat.

Tentang Kampung Ciburial yang seolah terpisah dari dunia luar.

Tentang larangan keluar setelah Magrib.

Tentang Mang Jaya yang pernah menemukan sesosok mayat tanpa identitas.

Ia juga menceritakan pencarian bersama Pak Rahman dan warga desa.

Jalan setapak yang tidak pernah berakhir.

Kompas yang kehilangan arah.

Jejak kaki yang menghilang begitu saja.

Ransel tua yang berisi barang-barang yang masih tampak baru.

Hingga keputusannya mengembalikan semua barang itu ke tempat semula dan menambahkan makanan ke dalamnya.

Ayah dan ibu Arga mendengarkan tanpa sekalipun menyela.

Semakin lama, wajah mereka semakin sulit menyembunyikan keterkejutan.

Namun mereka tahu satu hal.

Arga bukan anak yang gemar mengarang cerita.

Ketika Arga selesai menceritakan bagaimana mereka bertemu Bima di jalan keluar hutan, suasana kamar berubah sunyi.

Ayah memandang Bima.

"Jadi..."

"...semua itu benar?"

Bima mengangguk perlahan.

"Saya sendiri juga masih sulit mempercayainya, Pak."

"Tapi saya mengalaminya."

Ayah kembali terdiam.

Beberapa saat kemudian beliau berkata pelan,

"Berarti..."

"...selama ini orang-orang yang hilang di sana belum tentu meninggal."

"Bisa jadi mereka hanya..."

"...terjebak."

Arga mengangguk.

"Itu juga yang kami pikirkan."

"Tapi kami belum tahu bagaimana hutan itu bekerja."

"Kenapa ada yang bisa keluar."

"Kenapa ada yang tidak."

Ruangan kembali hening. Semua masih tenggelam dalam pikiran masing-masing. Di luar, matahari pagi mulai menghangatkan halaman masjid. Namun kehangatan itu belum mampu mengusir misteri yang kini memenuhi benak mereka.

Ayah Arga akhirnya memecah keheningan.

"Kita akan pulang ke Jakarta hari ini."

Arga mengangguk pelan.

Ia memang ingin segera ke rumah. Bertemu teman-teman nya yang sama-sama mendaki dengannya beberapa minggu lalu.

Namun sebelum sempat menjawab, ia melirik Bima. Lelaki itu hanya duduk diam. Tak ada tempat yang benar-benar bisa ia sebut sebagai rumah lagi.

Melihat itu, ibu Arga berkata dengan lembut,

"Mas Bima..."

"Kalau Mas belum tahu harus ke mana..."

"...ikutlah bersama kami dulu."

"Kami tidak bisa menggantikan keluarga Mas."

"Tapi setidaknya Mas tidak sendirian."

Bima menatap mereka dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sudah tiga puluh tahun dunia meninggalkannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari hutan...

Ia kembali merasakan bahwa masih ada orang yang bersedia menerimanya.

Pagi itu mereka berpamitan kepada bapak takmir masjid.

"Terima kasih banyak atas bantuan Bapak."

Bapak takmir tersenyum hangat.

"Alhamdulillah. Semoga perjalanan pulangnya lancar."

Arga menyalami beliau dengan hormat. Dalam hati, ia bersyukur masih dipertemukan dengan banyak orang baik selama perjalanan yang penuh kejadian tak terduga itu. Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai ayahnya mulai meninggalkan halaman masjid. Jalan raya yang ramai perlahan terbentang di depan mereka. Untuk pertama kalinya setelah sekian hari, Arga benar-benar merasa sedang dalam perjalanan pulang.

Beberapa menit perjalanan berlalu. Ibu Arga menoleh ke kursi belakang.

"Perutmu bagaimana sekarang?"

"Sudah jauh lebih baik, Bu."

"Masih sedikit perih, tapi tidak seperti semalam."

Ibunya mengangguk lega.

"Kalau mulai sakit lagi, langsung bilang."

"Jangan ditahan."

Arga hanya tersenyum kecil. Ia memang tidak ingin kedua orang tuanya kembali cemas.

Suasana di dalam mobil sempat hening.

Hingga ayahnya membuka percakapan.

"Arga."

"Iya, Yah?"

"Kamu sempat berpamitan dengan Pak Rahman dan warga kampung?"

Arga menggeleng pelan.

"Belum."

"Kami berangkat cukup mendadak."

"Lagipula..."

Arga memandang layar telepon genggamnya.

"Di kampung itu tidak ada sinyal sama sekali."

"Bahkan sebagian besar warga tidak punya telepon genggam."

Ayah mengangguk pelan.

"Berarti kita memang tidak bisa menghubungi mereka."

"Iya."

"Mungkin sampai sekarang mereka belum tahu kalau Arga sudah bertemu Ayah dan Ibu."

Arga tersenyum kecil.

"Tapi sebelum berangkat, mereka sempat menyampaikan salam."

"Pak Rahman bilang..."

"...kalau suatu hari bertemu orang tua Arga, sampaikan salam dan sampaikan bahwa seluruh warga Kampung Ciburial ikut bersyukur karena Arga akhirnya bisa pulang dengan selamat."

Mata ibu Arga mulai berkaca-kaca.

"Masya Allah..."

"Orang-orang di sana baik sekali."

"Mereka merawat Arga seperti keluarga sendiri."

Arga mengangguk.

"Iya, Bu."

"Kalau bukan karena mereka, mungkin Arga tidak akan pernah bisa keluar dari hutan."

Ayah mengembuskan napas panjang.

"Nanti kita harus datang lagi."

Arga menoleh.

"Datang lagi, Yah?"

"Iya."

"Bukan hanya untuk mengucapkan terima kasih."

Ayah memandang lurus ke depan...

"Tapi juga untuk menemui Pak Rahman dan seluruh warga."

"Mereka sudah membantu anak kita."

"Kita punya utang budi."

Arga tersenyum.

"Itu juga yang Arga pikirkan."

Beberapa saat kemudian, ayah kembali berbicara.

"Selain itu..."

"Ayah juga penasaran."

Arga mengangkat alis.

"Penasaran?"

"Dengan semua cerita yang kamu alami."

"Tentang rawa."

"Tentang hutan."

"Tentang orang-orang yang hilang."

"Tentang Bima."

Ayah melirik Arga melalui kaca spion.

"Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab."

Arga mengangguk pelan.

"Iya."

Ayah melanjutkan,

"Kalau memang semua itu benar..."

"...berarti masih ada kemungkinan ada orang lain yang mengalami hal yang sama."

Ucapan itu membuat suasana mobil kembali hening. Arga teringat pada ransel-ransel lain yang mungkin belum pernah ditemukan.

Pada jejak-jejak yang menghilang.

Pada jalan setapak yang seolah tidak mengenal akhir. Dan pada sosok-sosok yang mungkin masih berjalan di dalam hutan, mengira baru beberapa hari berlalu.

Ayah kembali berkata,

"Kalau kamu ingin kembali ke sana..."

"...Ayah ikut."

Arga menoleh cepat.

"Serius, Yah?"

Ayah mengangguk mantap.

"Kita cari tahu bersama."

"Tentu bukan dengan gegabah."

"Kita persiapkan semuanya."

"Kita cari informasi."

"Kalau perlu kita ajak orang-orang yang memahami hutan dan medan di sana."

"Yang jelas..."

"...kita tidak datang hanya karena rasa penasaran."

"Tapi kalau memang masih ada orang yang bisa diselamatkan, kita harus berusaha."

Arga merasakan semangat yang sempat padam kini kembali menyala.

Ia mengangguk mantap.

"Iya, Yah."

"Nanti."

"Mungkin beberapa hari lagi."

"Atau beberapa minggu lagi setelah semuanya siap."

"Kita kembali ke Kampung Ciburial."

"Kita temui Pak Rahman."

"Dan kita selesaikan misteri yang selama puluhan tahun belum pernah terpecahkan."

Di kursi sebelah, Bima yang sejak tadi diam perlahan mengangkat wajah.

"Kalau kalian kembali..."

"...izinkan aku ikut."

Semua mata tertuju kepadanya.

Bima tersenyum tipis.

"Hutan itu pernah mengambil tiga puluh tahun hidupku."

"Kalau masih ada orang yang terjebak di sana..."

"...aku ingin membantu mereka pulang."

Tidak ada yang menjawab. Namun di dalam mobil itu, keempatnya memiliki tekad yang sama.

Perjalanan kali ini memang membawa mereka pulang.

Tetapi suatu hari nanti...

Mereka akan kembali ke kaki Gunung itu.

Bukan untuk mencari petualangan.

Melainkan untuk mencari jawaban.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!