NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Mundurnya Keadilan

Suara pecahan logam berdenting nyaring memenuhi udara. Serpihan baja berwarna hitam legam berhamburan ke segala arah bagaikan hujan kristal gelap. Kedelapan pedang yang sebelumnya diklaim sebagai senjata penghukum Keadilan Absolut kini tidak lebih dari sekadar rongsokan yang jatuh berserakan di atas lantai geladak kapal perang Angkatan Laut.

Gelombang gaya tolak dari ledakan api spiritual berwarna biru terang itu tidak berhenti pada hancurnya senjata sang Laksamana Muda.

Tenaga dari benturan itu menjalar langsung ke lengan Onigumo. Otot-otot lengannya yang telah dipadatkan dengan teknik Rokushiki tidak mampu menahan tekanan balasan yang sangat masif tersebut.

Terdengar suara retakan tulang yang sangat keras.

Onigumo merasakan tangan kanannya mati rasa dalam seketika. Tulang lengan bawahnya patah menjadi dua bagian. Rasa sakit yang luar biasa tajam menyengat sistem sarafnya, menembus adrenalin yang sebelumnya menutupi kesadarannya.

Tubuh besar sang Laksamana Muda terlempar ke belakang dengan kecepatan yang mengerikan.

Dia melayang di udara sejauh belasan meter. Punggungnya menghantam lantai kayu jati geladak utama dengan suara dentuman yang sangat berat. Tubuhnya berguling berkali-kali, menghancurkan sisa-sisa pagar kayu dan tong-tong persediaan, sebelum akhirnya berhenti karena menabrak pangkal tiang layar utama.

Debu dan serpihan kayu mengepul ke udara, menutupi sebagian pandangan di atas kapal perang tersebut.

Onigumo terbatuk keras. Darah segar menyembur dari mulutnya, menodai kemeja putih dan mantel perwiranya yang kini robek di berbagai tempat. Lengan kanannya terkulai dengan sudut yang sangat tidak wajar.

Dia berusaha menopang tubuhnya menggunakan tangan kirinya yang masih berfungsi. Jari-jarinya mencengkeram lantai kayu hingga kuku-kukunya berdarah. Dia memaksa dirinya untuk mengangkat kepala, menolak untuk mati dalam keadaan menunduk.

Saat pandangannya mulai terfokus menembus kepulan debu, akal sehat Onigumo berhenti bekerja.

Di depannya, pemandangan yang tersaji benar-benar meruntuhkan seluruh logika dan pemahamannya tentang dunia ini.

Api spiritual berwarna biru terang menyala-nyala dengan sangat buas. Api itu tidak membakar kayu geladak di bawahnya. Api itu membentuk sebuah struktur fisik yang sangat nyata dan kokoh.

Deretan tulang rusuk raksasa yang transparan melengkung melindungi sosok pemuda berarmor merah di dalamnya.

Tulang-tulang itu memancarkan cahaya biru yang menyilaukan mata, memberikan kontras yang sangat menyeramkan di bawah langit siang yang masih mendung akibat sisa-sisa tekanan Haoshoku Haki. Ukuran struktur tulang itu menjulang tinggi, membuat tiang layar kapal perang Angkatan Laut terlihat seperti mainan kayu yang rapuh.

Onigumo menatap tulang rusuk biru tersebut dengan mata terbelalak lebar. Mulutnya terbuka, namun tidak ada satu kata pun yang mampu dia ucapkan.

Udara di sekitar struktur biru itu bergetar hebat. Sebuah distorsi ruang tercipta akibat kepadatan energi spiritual yang melampaui batas kewajaran.

Namun, bukan wujud visualnya yang membuat sang Laksamana Muda kehilangan keberaniannya.

Hal yang membuat jantung Onigumo seolah berhenti berdetak adalah hawa yang dipancarkan oleh tulang-tulang raksasa tersebut.

Itu adalah hawa kematian yang murni dan absolut.

Sepanjang karier militernya di markas besar, Onigumo telah berhadapan dengan banyak monster dari Dunia Baru. Dia pernah berdiri di medan perang yang sama dengan para Yonko. Dia pernah merasakan tekanan mengerikan dari manusia-manusia terkuat di lautan.

Tetapi, apa yang dia rasakan saat ini sangat berbeda.

Para kaisar lautan memancarkan aura dominasi dan kekuatan fisik yang buas. Mereka adalah monster laut yang menguasai wilayah.

Sementara pemuda yang berdiri di dalam kurungan tulang biru ini tidak memancarkan hawa manusia sama sekali. Hawa kematian yang keluar dari struktur biru itu terasa sangat purba, gelap, dan tidak memiliki batas akhir. Seolah-olah gerbang neraka baru saja dibuka dan dibiarkan berdiri di atas geladak kapalnya.

'Ini bukan manusia,' batin Onigumo dengan pikiran yang bergetar.

Keringat dingin membanjiri wajah kasarnya. Rasa sakit di lengan kanannya yang patah seolah menghilang, digantikan oleh rasa kebas akibat teror psikologis yang menghancurkan mentalnya.

'Ini adalah bencana alam yang hidup. Kekuatan yang tidak mungkin bisa diadili oleh hukum dunia mana pun,' lanjut Onigumo di dalam kepalanya.

Di dalam perlindungan tulang rusuk biru tersebut, Uchiha Madara berdiri tegak.

Jubah hitam dan pelindung dada merahnya berkibar pelan tertiup angin dari api spiritualnya sendiri. Dia tidak melangkah maju. Dia tidak perlu melakukan gerakan apa pun untuk menunjukkan supremasinya.

Namun, di balik keagungan sang dewa kehancuran itu, sebuah harga yang sangat mahal sedang dibayar oleh tubuh fisiknya.

Mengaktifkan Mangekyou Sharingan dan memanggil wujud awal Susanoo menghisap chakra dari dalam tubuh Madara dengan kecepatan yang sangat ekstrem. Sel-sel di dalam tubuh remajanya menjerit kesakitan menahan beban energi spiritual yang terlalu padat.

Madara memejamkan mata kirinya rapat-rapat. Dia menahan rasa sakit yang menusuk langsung ke pusat otaknya. Saraf optiknya terasa seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum panas.

Dari mata kanannya yang masih terbuka dan mempertahankan pola Mangekyou, darah segar terus menetes tanpa henti. Cairan merah hangat itu mengalir melewati tulang pipinya, menetes ke dagu, dan jatuh menodai pelindung dada merahnya.

Darah itu memberikan riasan yang sangat mengerikan pada wajah remajanya yang pucat. Dia benar-benar terlihat seperti dewa kehancuran yang turun ke dunia fana untuk memberikan hukuman mutlak.

'Wadah yang sangat menyedihkan,' batin Madara dengan rasa frustrasi yang disembunyikan sempurna di balik ekspresi wajahnya yang datar.

Dia bisa merasakan bahwa mempertahankan Susanoo lebih dari satu menit lagi akan membuat tubuh fisiknya pingsan karena kehabisan energi. Ini adalah peringatan keras bahwa dia tidak boleh sembarangan melepaskan kekuatan aslinya sebelum tubuhnya benar-benar matang.

Mata kanan Madara menatap lurus ke arah Onigumo yang terkapar di pangkal tiang layar.

Tatapan itu kosong. Tidak ada kebencian. Tidak ada kemarahan yang tersisa. Hanya sebuah pandangan merendahkan dari seorang raja yang telah selesai memberikan pelajarannya.

“Di mana keadilan absolutmu sekarang, Anjing Penjaga?” ucap Madara.

Suara baritonnya menggema pelan, namun terdengar sangat jelas di telinga Onigumo. Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada berteriak. Madara hanya mendesis pelan, namun efeknya memotong sisa-sisa harga diri sang Laksamana Muda menjadi serpihan debu.

Onigumo menggertakkan giginya yang berdarah. Dia ingin menjawab. Dia ingin berteriak bahwa Keadilan tidak akan pernah mati. Dia ingin bangkit dan menyerang kembali.

Tetapi tubuhnya menolak untuk bergerak. Insting bertahan hidupnya telah mengambil alih seluruh kendali fungsi motoriknya. Sistem sarafnya lumpuh oleh ketakutan absolut yang memancar dari tulang rusuk biru tersebut.

Dia menyadari satu kebenaran yang sangat pahit. Jika dia memerintahkan pasukannya untuk terus menyerang, pemuda ini akan membantai mereka semua tanpa menyisakan satu nyawa pun. Tiga kapal perang ini akan tenggelam ke dasar laut, dan ribuan prajurit akan mati sia-sia demi sebuah kebanggaan yang sudah hancur.

Keadilan tidak akan bisa ditegakkan oleh orang mati.

Onigumo menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia memejamkan mata, membiarkan air mata frustrasi dan kehinaan mengalir bercampur dengan darah dan keringat di wajahnya. Dia menelan harga dirinya sebagai seorang perwira tinggi markas besar.

Dia menggunakan sisa-sisa kesadarannya untuk merogoh saku mantelnya. Tangannya yang gemetar mengeluarkan sebuah Den Den Mushi komunikasi berukuran kecil yang terhubung ke ruang kendali utama kapalnya.

Beberapa prajurit di ruang kendali yang terlindung dari gelombang Haoshoku Haki pertama kali masih mempertahankan kesadaran mereka, meskipun mereka bersembunyi ketakutan.

Onigumo mendekatkan corong Den Den Mushi itu ke mulutnya.

“Ini... perintah langsung dari Laksamana Muda Onigumo,” ucapnya dengan suara serak yang putus-putus.

Hening sejenak. Sang Laksamana Muda harus memaksa lidahnya untuk mengucapkan dua kata yang paling dia benci sepanjang hidupnya.

“Mundur taktis. Segera putar arah kapal. Kita... meninggalkan perairan ini sekarang juga.”

Perintah itu terdengar melalui pengeras suara di ketiga kapal perang tersebut.

Bagi para prajurit yang masih sadar, perintah itu adalah suara dari malaikat penyelamat. Mereka tidak peduli lagi pada keadilan atau tugas menangkap bajak laut. Mereka hanya ingin pergi sejauh mungkin dari monster berarmor merah yang memanggil api biru raksasa tersebut.

Kepanikan luar biasa meledak di ruang kemudi Angkatan Laut.

Para prajurit yang masih bisa berdiri segera berlarian ke pos masing-masing. Mereka menginjak tubuh rekan-rekan mereka yang pingsan tanpa peduli. Tidak ada lagi disiplin militer. Tidak ada lagi formasi yang rapi. Mereka bergerak murni didorong oleh teror dan keinginan untuk hidup.

Suara rantai jangkar yang ditarik secara paksa berderak nyaring. Roda kemudi diputar dengan putus asa hingga berbunyi patahan kayu. Mesin uap di ruang bawah tanah dipaksa bekerja melebihi kapasitas maksimalnya, menyemburkan asap hitam tebal dari cerobong-cerobong raksasa.

Ketiga kapal perang kelas berat itu mulai bergerak memutar dengan sangat canggung dan berantakan.

Kapal yang berada di sisi kiri dan kanan saling bertabrakan sedikit di bagian lambung belakang karena terlalu tergesa-gesa mengubah arah. Suara kayu patah dan besi bergesekan menambah kekacauan di tengah kepanikan tersebut. Namun tidak ada yang peduli pada kerusakan kapal. Yang terpenting adalah mereka harus segera menjauh dari Kapal Bajak Laut Mugen.

Di atas geladak kapal utama, Onigumo masih duduk bersandar pada tiang layar.

Dia menatap ke arah pemuda di dalam Susanoo untuk terakhir kalinya. Dia mengukir wajah pucat yang berlumuran darah itu ke dalam ingatan terdalamnya. Dia tahu bahwa hari ini, nama Angkatan Laut telah dipermalukan dengan sangat telak.

Status ancaman dari kelompok bajak laut ini tidak lagi berada di level buronan biasa. Pemuda ini adalah ancaman tingkat internasional yang membutuhkan perhatian langsung dari para Laksamana tertinggi.

Kapal perang utama akhirnya berhasil memutar haluannya.

Mesin uap menderu keras. Kapal raksasa itu mulai berlayar menjauh dengan kecepatan penuh, meninggalkan arena pertarungan dengan sangat pengecut.

Uchiha Madara tidak mencoba menghentikan mereka. Dia tidak memanggil pedang Susanoo untuk membelah kapal-kapal itu menjadi dua.

Dia membiarkan mereka pergi.

Bukan karena belas kasihan. Tetapi karena dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia telah menginjak-injak harga diri Keadilan Absolut, dan dia membiarkan sang Laksamana Muda hidup untuk menyebarkan cerita tentang teror dari nama Mugen ke seluruh dunia. Biarkan dunia yang datang mencarinya dengan kekuatan yang lebih besar.

Madara menonaktifkan Mangekyou Sharingan di mata kanannya.

Pola tiga kurva melengkung itu memudar, kembali menjadi iris hitam kelam yang biasa. Bersamaan dengan itu, api spiritual berwarna biru terang yang membentuk tulang rusuk Susanoo perlahan meredup.

Tulang-tulang raksasa yang transparan itu memudar menjadi kabut biru tipis, lalu menghilang sepenuhnya tersapu oleh angin laut.

Geladak kapal perang Angkatan Laut kembali terlihat kosong, namun Madara tidak lagi berada di sana.

Sebelum kapal perang itu melaju terlalu jauh, Madara telah melompat ke udara.

Dia menggunakan sisa-sisa chakra di telapak kakinya untuk menyeimbangkan tubuhnya di ruang hampa. Dia berdiri di tengah udara selama beberapa detik. Jubah hitam dan pelindung dadanya berkibar tertiup angin. Darah yang menetes dari mata kanannya mulai mengering.

Pemandangan itu sangat surealis. Seorang remaja berdiri di langit, menatap punggung tiga kapal perang raksasa yang melarikan diri darinya dalam kepanikan total.

Madara memutar tubuhnya perlahan di udara.

Dia menatap ke arah kapalnya sendiri yang terombang-ambing di kejauhan. Kapal kayu kecil dengan layar bendera Sharingan yang masih berkibar angkuh.

Dengan satu tolakan ringan di udara, Madara meluncur turun. Gerakannya masih terlihat anggun, meskipun setiap otot di tubuhnya menjerit kesakitan.

Dia mendarat dengan sangat mulus di atas pagar haluan Kapal Bajak Laut Mugen. Sandal kayunya menyentuh kayu pembatas tanpa menimbulkan suara.

Madara melompat turun ke lantai geladak haluan.

Kondisi kapalnya tidak kalah sunyi dengan kapal musuh tadi.

Mantan kapten bajak laut dan seluruh kru rendahan masih tertidur pulas dengan mata memutih. Mereka bergelimpangan di berbagai sudut geladak, menjadi korban tidak langsung dari ledakan Haoshoku Haki Madara beberapa saat yang lalu.

Nico Robin masih terduduk lemas di ruang kemudi. Tangan gadis itu bergetar hebat. Dia menatap kembalinya Madara dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada ketakutan yang luar biasa, namun ada juga pemujaan yang semakin mengakar kuat di hatinya.

Vinsmoke Reiju berdiri bersandar pada dinding dapur. Napas sang putri racun itu tersengal-sengal. Wajah cantiknya pucat pasi. Dia memaksakan diri untuk tetap berdiri demi menjaga harga dirinya sebagai seorang prajurit elit Germa, namun lututnya tidak bisa berhenti bergetar melihat sosok pemuda yang baru saja kembali.

Di dekat tiang layar utama, Monet masih berlutut di atas salju buatannya sendiri. Gadis berambut hijau pucat itu menyilangkan tangannya di depan dada, menundukkan kepalanya dalam sebuah gestur penyembahan yang absolut.

Madara mengabaikan ketegangan dari ketiga wanita tersebut.

Dia melangkah pelan menuju kabin utamanya. Langkah kakinya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya.

Saat melewati Reiju yang masih bersandar di dinding, Madara menghentikan langkahnya sejenak. Dia tidak menoleh, matanya tetap menatap lurus ke arah pintu kabin.

“Jangan ada yang berani mendekati kabinku,” perintah Madara dengan suara yang sangat pelan namun tegas.

Dia tidak memberikan ruang untuk bantahan atau pertanyaan.

“Urus kapal ini. Kita terus berlayar maju,” tambahnya singkat, menugaskan navigasi sepenuhnya kepada bawahan yang masih sadar.

Madara melanjutkan langkahnya. Dia membuka pintu kayu kabin utamanya, melangkah masuk ke dalam ruangan yang gelap, lalu menutup pintu itu rapat-rapat. Suara kunci pintu yang diputar dari dalam terdengar mengunci akses dari dunia luar.

Di dalam kabin yang sunyi, Madara akhirnya melepaskan topeng ketenangannya.

Dia tidak menyalakan lampu minyak. Dia berjalan dalam kegelapan, meraba ujung ranjang kayunya, lalu duduk dengan gerakan yang sangat kaku.

Rasa sakit yang sedari tadi dia tahan kini meledak menghantam seluruh tubuhnya.

Madara menyandarkan punggungnya ke dinding kabin. Dia mengangkat tangan kanannya untuk menutupi mata kanannya yang masih terasa berdenyut panas. Luka di dadanya terasa perih, namun rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan rasa sakit di jalur tenketsu-nya.

Chakra di dalam tubuhnya berada di titik terendah. Efek penarikan energi dari Mangekyou Sharingan benar-benar menyiksa tubuh yang belum beradaptasi ini. Tubuh remajanya bereaksi terhadap tekanan ekstrem tersebut dengan menaikkan suhu badannya secara drastis.

Napas Madara mulai terasa panas. Keringat dingin mengucur dari dahinya.

Dia sedang memasuki fase demam tinggi. Sebuah harga mutlak yang harus dibayar karena memaksa membangkitkan kekuatan dewa dalam wadah manusia biasa.

'Aku harus memperkuat wadah ini secepat mungkin,' batin Madara dengan pikiran yang mulai berkabut.

Dia mencoba mempertahankan kesadarannya untuk melakukan meditasi pemulihan, namun batas biologis tubuhnya memiliki aturan mainnya sendiri. Kelopak mata Madara terasa seberat besi. Kepalanya jatuh bersandar ke dinding kayu.

Sang hantu Uchiha itu akhirnya menutup matanya, membiarkan kegelapan tidur mengambil alih tubuhnya untuk melakukan pemulihan paksa.

Di luar kabin, lautan Grand Line kembali tenang.

Awan mendung yang sebelumnya menutupi langit telah memudar seiring dengan menghilangnya tekanan Haoshoku Haki. Sinar matahari kembali menyinari perairan biru, seolah tidak pernah terjadi bencana apa pun di tempat ini.

Namun, kedamaian alam itu hanyalah sebuah ilusi.

Kekalahan telak dari armada tempur Angkatan Laut yang dipimpin oleh seorang Laksamana Muda bukanlah kejadian yang bisa disembunyikan. Berita tentang mundurnya Keadilan Absolut dari hadapan satu orang remaja akan segera menyebar.

Tiga kapal perang yang melarikan diri itu membawa serta sebuah kisah tentang teror baru. Kisah tentang mata merah yang memancarkan kematian, aura spiritual berwarna hitam yang melumpuhkan ribuan orang, dan tulang rusuk biru yang menghancurkan baja.

Di atas Kapal Bajak Laut Mugen, Robin perlahan bangkit dari posisi duduknya di ruang kemudi.

Dia menatap lautan kosong di depan mereka. Tangan kanannya dengan gemetar memutar roda kemudi, menstabilkan arah kapal untuk terus berlayar maju menyusuri rute Grand Line.

Reiju mengatur napasnya, lalu berjalan mendekati pintu kabin utama Madara. Sang putri racun itu tidak berani mengetuk pintu atau melanggar perintah kaptennya. Dia hanya berdiri di luar, bersandar di samping pintu kayu tersebut untuk menjadi penjaga setia selama dewa mereka beristirahat.

Monet mengepakkan sayap saljunya. Dia terbang kembali ke udara, memastikan langit di sekitar mereka benar-benar bersih dari ancaman susulan.

Matahari perlahan bergeser ke arah barat.

Hari ini, di awal rute lautan yang paling berbahaya di dunia, sebuah nama baru telah diukir dengan tinta kekalahan Angkatan Laut. Nama Mugen tidak akan lagi dianggap sebagai bajak laut pemula. Status ancaman mereka telah melompat melewati garis merah, bersiap untuk menerima reaksi balasan dari seluruh kekuatan dunia yang mulai menyadari kebangkitan sang iblis sesungguhnya.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!