NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Pagi di London disambut oleh kabut tebal dan gerimis tipis yang membasahi kaca-kaca jendela penthouse megah di kawasan Mayfair. Udara dingin khas Inggris menusuk hingga ke tulang, namun bagi Kenzo, dinginnya cuaca di luar sana sama sekali tak sebanding dengan kehampaan membeku yang merayapi dadanya sejak ia menginjakkan kaki di benua ini.

Ini adalah hari pertamanya tanpa Clara.

Kenzo berdiri di depan cermin raksasa, mengenakan setelan jas buatan penjahit ternama Savile Row berwarna abu-abu gelap. Tangannya secara refleks bergerak mengusap sisi tempat tidur di belakangnya, pembaringan yang terasa terlalu luas, terlalu dingin, dan terlalu sepi. Tidak ada aroma harum bunga lily yang biasa dihirupnya, tidak ada helai rambut halus yang menyapu lengannya, dan tidak ada napas hangat Clara yang teratur di dekapannya.

Pria itu meremas jemarinya sendiri, membiarkan rahangnya mengeras. Rasa lapar akan kehadiran sang adik tiri merogoh jiwanya begitu dalam hingga rasanya seperti siksaan fisik.

"Hanya sementara,"

bisik Kenzo pada pantulan dirinya di cermin, suaranya dingin bagai es.

"Aku akan segera menyapu bersih semua penghalang dan membawamu kembali."

Tepat pukul sembilan pagi, mobil Rolls Royce hitam yang dikemudikan sopir pribadi berhenti di depan gedung pencakar langit yang menjadi kantor pusat holding company keluarga Wijaya untuk kawasan Eropa.

Saat Kenzo melangkah masuk melintasi lobi marmer yang megah, para eksekutif dan staf menundukkan kepala penuh penghormatan. Namun, langkah tegap Kenzo mendadak tertahan saat ia tiba di lantai teratas ruang kerja CEO yang baru saja diisinya.

Di depan pintu kayu jati berukir raksasa, seorang wanita berdiri menyambutnya. Wanita itu mengenakan gaun ketat berwarna merah marun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat berani, dipadu dengan tatanan rambut pirang yang digulung elegan dan garis leher gaun yang terpotong rendah.

"Selamat pagi, Tuan Kenzo,"

ujar wanita itu dengan suara bernada manja namun terkesan sangat profesional.

Ia melangkah mendekat, meninggalkan aroma parfum mawar yang menyengat di udara.

"Saya Victoria, sekretaris pribadi baru yang ditunjuk langsung oleh Tuan Wijaya untuk mendampingi seluruh kebutuhan Anda selama di London."

Kenzo tidak menjawab seketika. Matanya menyipit tajam, menilai penampilan Victoria dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Sebagai pria terpelajar dengan naluri bisnis yang tajam, Kenzo langsung memahami permainan sang Ayah. Victoria bukanlah sekadar sekretaris biasa. Pria tua itu sengaja menempatkan wanita seksi dengan pesona menggoda ini sebagai umpan sebuah perangkap sosial untuk menguji imannya, mengalihkan perhatiannya dari Clara, atau bahkan membuat skandal yang bisa dipakai untuk menjatuhkan posisinya jika ia terbukti khilaf.

Aroma parfum Victoria yang tajam justru membuat perut Kenzo mual. Di matanya, pesona wanita ini terasa begitu murah dan mengganggu jika dibandingkan dengan kelembutan murni milik Clara.

"Masuk ke ruanganku,"

perintah Kenzo dingin tanpa membalas sapaan wanita itu.

Victoria tersenyum manis, menganggap sikap dingin Kenzo sebagai tantangan. Wanita itu menyusul masuk ke dalam kantor CEO yang sangat luas, lalu dengan sengaja berjalan mendahului Kenzo, memamerkan lekuk tubuhnya saat meletakkan cangkir kopi hitam panas dan sekumpulan berkas di atas meja kerja.

"Saya sudah menyiapkan kopi kegemaran Anda, Tuan Kenzo,"

ujar Victoria lembut seraya membungkuk sedikit lebih rendah dari yang seharusnya saat menaruh cangkir, memperlihatkan belahan dadanya secara terang-terangan.

Tangannya yang dipoles cat kuku merah menyapu pelan tepian meja dekat jemari Kenzo. "Jika ada hal lain yang Anda butuhkan... termasuk kebutuhan di luar pekerjaan kantor... saya dengan senang hati siap melayani Anda kapan saja."

Godaan itu disampaikan dengan begitu gamblang dan halus. Kenzo menatap cangkir kopi itu, lalu beralih menatap wajah Victoria. Tidak ada sedikit pun binar gairah atau ketertarikan di matanya. Yang ada hanyalah kilatan kejijikan yang teramat dingin.

Dengan gerakan lambat dan tenang, Kenzo meraih cangkir kopi panas tersebut lalu menyiramkan seluruh isinya tepat ke atas tumpukan dokumen penting yang baru saja diletakkan Victoria di meja.

SSSST!

Uap panas membumbung dari kertas-kertas yang kini basah kuyup oleh cairan hitam. Victoria tersentak kaget, melompat mundur dengan wajah pucat pasi.

"Tuan Kenzo...?"

bisik Victoria terbata-bata, matanya membesar tak percaya.

Kenzo meletakkan cangkir kosong itu kembali ke meja dengan hentakan pelan yang bergema mengintimidasi. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi kulit CEO, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Victoria seolah wanita itu adalah seekor serangga yang tak berarti.

"Perlu kutegaskan satu hal padamu, Victoria," suara Kenzo bergema rendah, penuh ancaman yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

"Ayahku mungkin membayarmu mahal untuk menjadi umpan atau wanita simpanan di ruangan ini. Tapi bagiku, kau tak lebih dari sampah yang mengotori pemandangan mataku."

Wajah Victoria memerah padam oleh rasa malu dan takut yang menyergap seketika.

"Saya hanya menjalankan tugas dari Tuan Besar"

"Sampaikan pada pria tua itu,"

potong Kenzo mutlak,

"bahwa taktik murahannya tidak akan pernah berhasil. Tubuhmu, godaanmu, atau wanita mana pun di dunia ini takkan pernah bisa menggantikan satu helai pun rambut wanita yang kucintai."

Kenzo menunjuk pintu keluar dengan sudut matanya yang tajam.

"Singkirkan tumpukan sampah basah ini dari mejaku. Jika esok hari kau masih berani menggunakan pakaian seperti ini atau mencoba menyentuh mejaku lagi, aku memastikan namamu akan dimasukkan ke dalam daftar hitam seluruh industri keuangan di Eropa. Keluar."

Victoria tidak berani membantah sepatah kata pun. Dengan tubuh gemetar dan napas memburu karena malu, wanita itu buru-buru membersihkan berkas yang basah lalu melangkah keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa.

Pintu kayu jati raksasa itu tertutup rapat kembali, menyisakan Kenzo sendirian di dalam ruang kerjanya yang luas dan dingin. Kenzo menghembuskan napas panjang. Pria itu meraih ponsel berenkripsi khusus dari dalam saku jasnya. Di layarnya, terpampang siaran live feed dari kamera pengawas tersembunyi yang terpasang di sudut kamar tidur Clara di Mexico.

Dari jarak ribuan mil melintasi Benua Eropa dan Amerika, Kenzo menatap bayangan Clara yang sedang duduk melamun di tepi tempat tidur, memegang surat perpisahan yang ditinggalkannya.

Jemari Kenzo mengusap kaca layar ponselnya, menyentuh bayangan wajah Clara dengan kelembutan luar biasa yang sangat kontras dengan kekejamannya beberapa saat lalu.

"Tunggulah sedikit lagi, Clara,"

gumam Kenzo lirih di dalam ruangan yang sunyi itu.

"Aku akan menghancurkan permainan Ayah, merebut seluruh kekuasaannya, dan pulang untuk mengurungmu kembali di dalam pelukanku selamanya."

Kenzo mengecup permukaan dingin layar ponselnya yang menampilkan bayangan Clara, membiarkan senyuman tipis dan dingin terukir di bibirnya. Tak ada jarak, tak ada samudera, dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang sanggup merenggut kebebasan jiwa Clara dari cengkeraman obsesinya yang abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!