Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Bau antiseptik menyengat langsung menusuk hidung saat pintu ruang perawatan VIP lantai lima bergeser pelan. Lorong rumah sakit berangsur sepi, menyisakan keremangan lampu plafon putih dingin yang memantulkan bayangan dua manusia secara memanjang di atas lantai granit.
Arka perlahan mengurai pelukannya, walau kedua tangannya bertahan hinggap di bahu Kirei. Ibu jarinya mengusap sisa sudut mata Kirei yang mulai basah dan memucat.
"Kirei," bisik Arka pelan, hampir tertutup dengung dingin pendingin udara. "Dengar gue."
Kirei mengedip cepat, berjuang menekan sesak yang menumpuk di dadanya. "Kakek... Kakek belum sempat sebut nama orang itu, Arka. Siapa yang berniat merebut hak waris gue? Siapa sebenarnya musuh keluarga yang Kakek maksud?"
"Siapa pun dia, rencananya pakai Bima buat mengancam lo di sekolah sudah gagal total," cetus Arka tegas. "Artinya dia cuma pecundang yang berani main di balik layar."
Jemari Kirei meremas kain jaket hitam Arka, cengkeraman makin erat saat kepalanya mendadak pening. Suhu hangat tubuh cowok ini jadi satu-satunya pijakan riil agar ia tak tumbang. "Tapi Kakek kritis lagi, Arka. Gimana kalau orang itu tahu Kakek sempat sadar terus mencoba... mencelakakan Kakek lagi?"
Sorot mata Arka mendadak tajam, ada kilat berbahaya yang menyala di iris cokelat gelapnya. "Enggak ada yang bisa menyentuh Kakek. Pengawal Om Wijaya berdiri penuh di depan pintu."
Klek.
Gagang pintu kayu jati kamar VIP terdorong. Dokter spesialis melangkah keluar menyapu keringat di dahi, menyenggol pandangan ke arah mereka. Kirei refleks maju, melepas cengkeramannya dari jaket Arka.
"Dokter! Kakek saya gimana?" cecar Kirei tegang.
Dokter itu menghela napas berat, membenarkan stetoskop yang melingkar di lehernya. "Detak jantung Tuan Wijaya sudah stabil setelah kami beri sedatif. Tapi fisiknya sangat rentan. Benturan emosi atau luapan ingatan sedikit saja bisa memicu serangan berikutnya. Untuk sementara, beliau harus diisolasi penuh dan steril dari tamu."
Kirei mencengkeram lipatan rok sekolahnya, menundukkan kepala dalam-dalam. "Boleh... boleh saya lihat dari luar kaca?"
"Cuma dari luar kaca, ya," mengangguk ramah sebelum sang dokter pamit melangkah membelah koridor.
Kirei menyeret langkah mendekati pembatas kaca tebal. Di dalam sana, tubuh renta Kakeknya terbaring kaku terbalut selimut, terkepung kabel-kabel monitor medis yang berkedip monoton.
Arka merapat ke samping Kirei, menyandarkan satu telapak tangannya di dinding kaca. "Lo harus pulang, Kirei. Lo belum tidur dari kemarin."
"Gue mau di sini, Arka. Gue enggak tega meninggalkan Kakek."
"Terus biarkan diri lo ikut ambruk?" sela Arka tanpa kompromi. "Gue bakal suruh anak-anak basket bergantian jaga di area parkir sama lobi. Begitu ada gerak-gerik mencurigakan, mereka langsung kontak gue."
Kirei menoleh mendadak, menatap Arka kaget. "Anak-anak basket? Lo melibatkan teman-teman lo buat urusan pribadi begini?"
Arka terkekeh rendah. Senyum miring khasnya kembali terukir—tipis, tapi memancarkan rasa percaya diri yang anehnya sanggup menenangkan badai di kepala Kirei. "Teman-teman gue bukan cuma jago dribble bola, Bu Ketua. Mereka solid. Lagipula... wajib hukumnya bantu Ketua OSIS mereka sendiri, kan?"
Kirei menggigit bibir bawah, menahan sudut bibirnya yang mendadak ingin terangkat. Ada desir hangat yang menyusup pelan di dadanya. Cowok ugal-ugalan di sampingnya ini selalu tahu cara gila untuk membuatnya merasa aman.
Pukul 20.30 WIB.
Rumah minimalis di kawasan perumahan elit itu terasa begitu senyap saat mereka tiba. Gerimis di luar mengetuk-ngetuk kaca jendela ruang tamu dengan ritme konstan.
Kirei melepas sepatu, melepas daya tubuhnya ke atas sofa. Kombinasi letih fisik akibat drama Bima dan krisis Kakek serasa memeras habis seluruh tenaganya.
Arka bergerak ke dapur, menyalakan keran, lalu kembali ke ruang tamu membawa segelas air hangat dan semangkuk bubur instan berasap.
"Makan," suruh Arka, mendaratkan mangkuk di atas meja kaca.
Kirei menggeleng lesu, menyandarkan kepala ke sofa. "Gue enggak nafsu, Arka."
"Gue enggak suruh lo menikmati rasanya. Gue suruh lo menelan," sahut Arka datar tapi tidak kasar. Tangannya mengambil sendok, menyendok sedikit bubur, lalu mengarahkannya tepat di bibir Kirei. "Makan tiga sendok, atau gue paksa."
Kirei menatap sendok itu, lalu beralih menatap Arka yang berlutut di samping sofa dengan sorot menuntut. Mau tak mau, Kirei membuka mulut dan menerima suapan itu.
Rasa gurih hangat menjalar membasahi tenggorokannya yang kering. Tanpa protes lagi, Kirei menerima suapan kedua dan ketiga.
"Nah, lapar kan," cibir Arka pelan, sudut bibirnya terangkat.
"Gara-gara lo paksa," gumam Kirei pelan. Matanya terpaku pada wajah Arka yang jaraknya amat dekat. Dari posisi ini, ia bisa melihat jelas bulu mata Arka yang lebat serta bekas goresan tipis di pelipisnya.
Arka meletakkan mangkuk ke meja. Ia tak langsung bangkit, melainkan bertahan menatap Kirei lurus-lurus. Udara di antara mereka mendadak berubah hening dan rapat.
"Soal omongan Kakek tadi siang..." nada suara Arka mendadak rendah dan berat, "lo percaya pernikahan ini cuma buat melindungi lo dari musuh waris itu?"
Kirei menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Kakek enggak pernah bohong sama gue. Tapi... gue masih bingung. Siapa orang itu? Kenapa Kakek harus pakai jalan pernikahan kontrak rahasia sama lo?"
Arka menghela napas panjang. Tangannya terangkat, ujung jemarinya yang hangat menyentuh dagu Kirei pelan, menuntun wajah cewek itu agar kembali berstatap muka. Sentuhan itu menyengat halus, membuat napas Kirei tertahan di tenggorokan.
"Gue juga belum tahu pastinya, Kirei," bisik Arka dengan tatapan pekat. "Tapi satu hal yang pasti. Kakek lo memilih gue karena dia tahu... cuma gue orang yang bakal berdiri paling depan kalau ada yang berani macam-macam sama lo."
Jantung Kirei berdegup kencang. "Arka... lo melakukan semua ini... cuma demi janji lo ke Kakek?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Kirei. Ada secercah harapan tersembunyi yang membuat dadanya bergetar cemas menunggu jawaban.
Arka tak langsung menyahut. Jemarinya menggeser dari dagu, mengusap lembut pipi Kirei yang terasa hangat. Baru saja Arka hendak membuka suara, getaran tajam ponsel di dalam saku jaketnya mendobrak keheningan.
Bip! Bip! Bip!
Arka refleks merogoh saku, menggeser layar. Sebuah pesan asing masuk membawa lampiran foto dokumen tua bertuliskan nama perusahaan Keluarga Wijaya, disertai sebaris kalimat di bawahnya:
"JANGAN TERLALU PERCAYA PADA SIAPA PUN, TERMASUK ARKA. DIA BUKAN PELINDUNG... DIA ADALAH PUTRA DARI ORANG YANG MEMBUAT KAKEK LO TERGELETAK DI RUMAH SAKIT."
Seketika tubuh Arka mematung. Ekpresi wajahnya mengeras dingin seperti batu karang.
Kirei yang menyadari perubahan Drastis pada Arka menyipitkan mata curiga. "Arka? Ada apa? Pesan dari siapa?"
Arka buru-buru memadamkan layar, menyusupkan ponselnya kembali ke saku tanpa memberi Kirei celah mengintip. Ia berdiri tegap, memunggungi Kirei.
"Bukan apa-apa. Cuma spam promo," sahut Arka. Suaranya berubah kaku dan asing—amat berjarak dari kehangatan yang baru saja tercipta beberapa detik lalu.
Kirei beranjak dari sofa, rasa curiga mendadak membakar dadanya. "Lo bohong. Wajah lo berubah, Arka. Tunjukkan ke gue, pesan dari siapa itu?!"
Arka menoleh sekilas, menatap Kirei dengan iris mata yang tertutup dinding es. "Bukan urusan lo, Kirei. Tidur sana. Gue mau keluar sebentar."
Tanpa menunggu balasan, Arka menyambar kunci motor di meja dekat pintu lalu keluar dengan langkah lebar. Raungan mesin motor sportnya memecah malam yang basah, meninggalkan Kirei sendirian dalam rumah bersama benih-benih keraguan yang mulai menggerogoti dadanya.