kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bukan akhir
Angin sore berhembus pelan menyapa wajah Seraphina saat ia melangkah keluar dari gerbang Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
Sepucuk surat keputusan perceraian itu digenggamnya erat di dalam tas, bukan sebagai tanda kekalahan, melainkan bukti bahwa ia telah berani melangkah melepaskan apa yang tak pernah menjadi milik hatinya sepenuhnya.
Dua tahun yang ia habiskan dalam ikatan yang hampa, sempat membuatnya melupakan cita-cita yang dulu ia ukir begitu indah.
"Ayah... Sera mau jalan-jalan dulu, ayah pulanglah" ucap Sera kepada ayahnya yang menemani di pengadilan.
Herman mengangguk kecil.
Menepuk pelan bahu putrinya dan membiarkan Sera berjalan seorang diri menuju jalan besar.
Hela nafas berat Herman tumpahkan lewat tatapan nanar pada putri tunggalnya.
Rasa bersalah itu masih menghantam dadanya.
"Pak... Kita mau tunggu mbak Sera?" tanya Budi, supir Herman.
"Kita kembali ke rumah Bud... Biarkan Sera sendiri dulu... Dia pasti pulang jika sudah tenang..."
Budi membuka pintu mobil dan membiarkan tuannya duduk di kursi penumpang.
...****************...
Duduk di bangku taman kota, Seraphina merogoh selembar foto lama dari dompetnya. Di sana, ia tersenyum lebar mengenakan seragam almamater universitas, bersama tumpukan buku tebal yang menjadi saksi ambisinya.
Dulu, ia terpaksa menghentikan segala sesuatu saat pernikahan itu diputuskan.
Kata orang, menjadi istri adalah segalanya, sehingga ia menyingkirkan mimpinya ke sudut paling gelap, berharap pernikahan itu akan menjadi pengganti segalanya. Namun kenyataan berkata lain.
"Perceraian ini bukanlah akhir," bisiknya pada angin, seolah meyakinkan dirinya sendiri. "Ini adalah awal bagi aku untuk kembali menjadi diriku sendiri."
Sera tersenyum kecil.
Sesuatu sudah dia putuskan.
Malam hari, di kamarnya yang sederhana penuh hiasan dan ornamen berwarna perpaduan blue ice dan cream, Seraphina membuka kembali berkas-berkas akademik yang sudah berdebu dari lemari di pojok kamarnya.
Ia mengecek jadwal pendaftaran ulang, menghubungi dosen pembimbingnya, dan menyusun rencana belajar yang sempat terputus. Ada rasa takut, apakah ia sudah terlambat? Apakah ia sanggup mengejar ketertinggalan? Namun setiap kali keraguan itu datang, ia teringat ketukan palu hakim tadi siang, bunyi yang membebaskan.
"Ser... Makan dulu.. Sejak siang, kau belum makan... Nanti kau sakit" ucap Herman, ayah Seraphina yang berdiri diambang pintu.
"Nanti yah... Aku lagi susun jadwal. Besok, aku mau ke kampus lagi... Aku mau lanjutin kuliahku yang tertunda" sahut Sera bersemangat tanpa menoleh pada Herman yang masih berdiri didepan pintu.
Herman melangkah masuk kedalam kamar putrinya.
Rasa bersalah menyelimuti ruang hatinya.
Tangan kasarnya membelai kepala putri tunggalnya hingga membuat Sera tersentak.
Wajah Sera terangkat menatap Herman.
Mata pria paruh baya itu nampak berkaca-kaca.
"Ayah minta maaf.... Karena ayah, kau jadi mengorbankan cita-cita mu... Ayah egois karena tak pernah bertanya pendapat mu lebih dulu... Kami hanya berpegang pada janji kami sendiri tanpa memikirkan perasaan kalian.. Maafkan ayah nak... " tangis Herman pecah juga.
Sera tak berucap apa-apa, hanya diam terpaku ditempatnya.
Jujur, ini masih begitu menyakitkan baginya namun terlalu larut dalam penyesalan juga tak ada artinya dan takkan mengubah apapun.
Jalani saja, itu pikirnya.
...****************...
Keesokan harinya, saat ia melangkah masuk kembali ke lorong fakultas yang dulu sering ia lalui, rasanya seperti pulang ke rumah yang sempat ditinggalkan lama.
Beberapa teman lama yang tahu tentang pernikahannya, menyapa dengan pandangan iba, namun Seraphina menyambutnya dengan senyuman yang lebih tegar dari sebelumnya.
"Aku pikir aku sudah kehilangan semuanya," ucapnya pelan saat duduk di perpustakaan, membuka buku yang sama persis dengan yang dulu ia tinggalkan di tengah halaman. "Ternyata aku hanya kehilangan waktu. Dan waktu itu akan kukejar kembali."
Perceraian dengan Dikta Rey Ibrahim memang mengakhiri statusnya sebagai seorang istri, namun hal itu membuka jalan baginya untuk kembali menjadi Seraphina Anastasya yang bercita-cita tinggi.
Ia tahu perjalanan ini tak akan mudah. Ada rasa malu, ada pandangan remeh dan cemooh dari orang-orang, ada kenangan yang sesekali menyelinap.
Namun untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, hatinya terasa ringan. Ia tak lagi hidup dalam bayang-bayang pernikahan yang tak memiliki cinta. Ia tak lagi was-was jika terus membayangkan Dikta bermesraan dengan kekasihnya.
Kini, Sera hidup untuk dirinya sendiri, untuk mimpinya, dan untuk masa depan yang kini mulai ia rajut kembali dengan harapan yang baru.
bersambung....
Ditunggu crazy up nya💪