Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Apa kau becus bekerja Reno!! Mencari seorang gadis biasa saja kau tak mampu!!" bentak William dengan amarah yang meledak-ledak.
Reno hanya bisa menunduk dalam diam, tubuhnya sedikit gemetar menghadapi kemarahan tuannya. Ini adalah kali pertama dalam sekian lama ia melihat William selabil ini.
William berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya, tangannya menarik dasi dengan kasar. Matanya merah karena kurang tidur—bukan karena kelelahan, tapi karena pikiran tentang gadis itu terus menghantuinya.
Sungguh, ia masih terbayang malam panas itu. Bagaimana gadis itu menciumnya tanpa izin, bagaimana tubuhnya yang lembut dan hangat menyatu dengannya, bagaimana erangan kecil yang keluar dari bibirnya saat ia menyentuhnya. Dan yang paling membuatnya geram—bagaimana gadis itu pergi begitu saja keesokan paginya, meninggalkan seprai berbintik merah dan aroma tubuhnya yang masih tertinggal di bantal.
William menghentikan langkahnya di depan jendela besar. Ia mengepalkan tangannya dengan erat.
"Gadis sialan! Berani-beraninya kau menghilang setelah melakukan itu padaku!" geramnya lirih namun penuh amarah.
Reno yang mendengar gumaman tuannya hanya bisa diam seribu bahasa.
"Aku tidak peduli berapa lama waktu yang kau butuhkan," ucap William berbalik menatap Reno dengan tatapan tajam. "Temukan dia! Cari sampai ke ujung dunia sekalipun! Aku ingin tahu siapa dia dan mengapa dia bisa ada di mobilku malam itu!"
"Baik, Tuan," jawab Reno cepat. "Tapi Tuan... mungkin saja gadis itu tidak sengaja masuk ke mobil Tuan. Mungkin dia hanya seorang gadis biasa yang sedang mabuk dan salah masuk mobil."
William tersenyum sinis. "Aku tidak percaya kebetulan, Reno. Tidak ada yang kebetulan dalam hidupku. Jika dia ada di mobilku malam itu, maka ada alasan di baliknya. Dan aku akan mencari tahu alasan itu."
Reno mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Aku akan mengerahkan semua tim untuk mencari identitas gadis itu."
"Pergi!" perintah William.
Reno segera keluar dari ruangan, meninggalkan William yang kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.
---
Di Perjalanan
Lagi-lagi William menikmati rokok miliknya, asap itu keluar dari kaca mobil sedangkan matanya menatap jalan yang masih ramai.
"Aku ingin membunuhnya Reno, namun dia tak pantas mati tanpa penderitaan. Aku ingin dia lumpuh dan tak bisa menggunakan kakinya lagi." Ucap William membuat Reno diam saja.
Reno tak tahu juga harus berkomentar apa.
Tiba-tiba William kepikiran soal Akila, apakah mungkin perempuan itu menuruti semua ucapan William atau dia malah acuh seperti tatapannya yang tak pernah takut itu.
"Ponselku." Ucap William membuat Reno segera menyerahkan ponsel milik William pada William.
Sebenarnya Reno masih cemas soal bekas tembakan yang mengenai William baru-baru ini.
Tampaklah William mengecek CCTV melalui ponselnya. Disana keadaan Mansion milik William sudah bersih kembali, tatapannya teralihkan pada Akila yang duduk seorang diri mengobati luka di kaki.
"Apa dia tak punya rasa takut?" Tanya William bermonolog.
William tak berhenti menatap sampai ia temukan Akila mengikat rambutnya.
William matikan layar ponsel itu.
"Kita ke Mansion sekarang Reno." Ucap William.
"Baik Tuan." Balas Reno.
---
Di Mansion milik William.
Langkah William terhenti saat menatap Akila tertidur di bangku taman.
William memberi kode pada Reno untuk pergi sedangkan William malah melangkah menuju ke arah Akila.
Tatapan kebencian milik William masih ada.
Tanpa ragu William mengeluarkan pisau lipat lalu memainkannya di wajah Akila.
"Bukalah matamu." Ucap William membuat Akila yang sempat tertidur kini membuka matanya dengan pelan.
Tatapan mereka beradu.
"Apa kau tahu kesalahan seorang pria?" Tanya William membuat Akila diam merasakan pisau yang runcing itu terus berputar di wajahnya. Sedikit tekanan saja pasti akan membuat darah keluar dari wajah Akila.
"Kesalahan terbesar pria adalah menganggap seorang wanita itu cantik. Kesetiaan pria diuji saat melihat kecantikan wanita." Ucap William.
Akila malah tersenyum hingga pisau yang saat ini William gulirkan malah berhenti di dekat leher Akila.
"Apa kau sedang membicarakan tentang dirimu sendiri?" Tanya Akila.
Rahang William mengeras.
"Tidak. Aku sedang membicarakan pria bajingan yang pernah aku lihat." Ucap William.
Akila memegang tangan William yang kini masih betah dengan pisaunya.
"Aku percaya kau orang baik. Saat ini kau hanya butuh pelampiasan atas kepergian..." Akila tak bisa melanjutkan ucapannya saat William melepaskan pisau itu dan beralih mencekik Akila.
Belum mencekik tapi hanya menekan sedikit.
"Jangan mempercayai apa yang ada di pikiranmu karena kau akan terluka seorang diri." Ucap William.
Akila mencoba mundur saat William memajukan wajahnya.
"Mau aku katakan sesuatu? Aku tidak membuat kecelakaan itu terjadi. Aku..."
"Apa pernah kau mendengar penjahat mengakui kesalahannya?" Tanya William memotong ucapan Akila.
William tarik leher Akila membuat Akila bangkit berdiri. Keduanya cukup dekat.
"Melihatmu tanpa ada rasa takut seperti ini mendadak aku ingin menunjukkan bahwa aku bukanlah orang yang baik. Aku akan membuatmu menangis dan memohon kematian padaku." Ucap William.
"Aku tak akan pernah memohon kematian, aku sudah mendengar seseorang mengatakan padaku bahwa kehidupan pasti akan menemukan sisi baik di kemudian hari dan aku percaya itu." Ucap Akila.
Detik itu juga William mencekik kembali leher Akila membuat Akila memilih diam tanpa memberontak.
Diamnya Akila akhirnya menyudahi William mencekik leher jenjang milik Akila.
"Bereaksilah bodoh! Jika aku melukaimu setidaknya kau melawan, jika aku..."
"Lakukan saja apapun itu, karena aku tahu kau butuh pelampiasan agar kau merasa lebih baik." Ucap Akila dengan pelan.
Bukannya William membaik, ia malah semakin emosi dibuat oleh Akila.
Ia menarik kasar tangan Akila lalu memasukan Akila ke mobil miliknya.
"Kau sendiri yang mempersilahkan aku untuk menjadi jahat, jadi jangan pernah salahkan aku." Ucap William.
William langsung mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat.
---
Di sebuah pemakamanlah tempat mereka berdua berakhir.
Kembali William menarik kasar tangan Akila sambil menyeret Akila yang kesusahan mengikuti langkah William.
Tubuh Akila ia hempaskan saat berada di depan makam yang bertuliskan Natalie.
Akila menatap makam itu, tubuhnya terpaku.
'Aunty Natalie.' ucap Akila membatin.
Akila mengulurkan tangannya menyentuh nama itu.
"Bersujudlah dan jangan pernah bangkit sebelum aku meminta kau bangkit." Ucap William pada Akila.
Akila tak menggubris ucapan William, ada foto wajah milik Natalie yang tersenyum di atas nama itu.
'Waktu yang singkat itu adalah momen berharga yang pernah aku temui dari sosok yang baik sepertimu Aunty.' ucap Akila membatin.
Akila menunduk, ia biarkan tubuhnya bersujud dalam diam menatap gelang yang pernah Natalie berikan padanya.
Tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras.
---
Sudah dua jam lamanya. Baik William ataupun Akila masih ada ditempat yang sama bersama hujan yang mengguyur mereka.
Jika William tampak baik-baik saja maka tidak dengan Akila. Bibir perempuan itu sudah membiru.
William mengepalkan tangannya, ia baru pertama kali setelah sekian lama melihat perempuan sepasrah Akila di dunia ini sesudah Mommy nya dulu. Melihat Akila membuat William teringat pada Natalie.
Jika dulu Natalie menghadapi hidupnya dengan segala tangis yang disembunyikannya, berbeda dengan Akila.
Perempuan ini lebih pasrah seakan ia hidup tak lagi memiliki warna.
"Bangkitlah." Ucap William saat hujan mulai berhenti.
Akila menurut, ia mau bangkit tapi kakinya sudah mati rasa. Tubuh Akila terduduk dalam diam sedangkan matanya masih menatap foto milik Natalie.
Yang membuat Akila terkejut adalah saat William menggendongnya. Pria itu diam seraya melangkah, guyuran basah di rambut William berjatuhan di wajah Akila.
'Jika Aunty Natalie saja baik, aku yakin bahwa pria ini pun pasti memiliki sisi yang baik juga.' ucap Akila membatin.
Kepalanya ia biarkan bersandar di dada William hingga suara terdengar.
"Kau akan semakin tahu siapa aku sebenarnya." Ucap William seraya memasukan Akila ke dalam mobil.
Akila memilih diam saja.
---
Awalnya Akila tertidur, bajunya yang basah saja kini sudah mengering. Ia tersentak bangun karena William melemparkan sebuah baju ke hadapannya.
"Turun." Ucap William.
Akila mengerjap pelan, ia menoleh sekitar menatap banyak pria bersetelan hitam. Ia tak tahu tempat macam apa yang kini ia datang.
Akila turun dari mobil itu, tubuhnya masih lemah sekali.
Tiba-tiba...
Dor!
William ikut turun lalu suara tembakan terdengar kuat sekali. Ringisan mulai ricuh bahkan teriak frustasi juga ada.
Akila sampai terkejut, tubuhnya akan jatuh kalau tidak berpegangan dengan sisi mobil.
Langkah William maju lalu menendang seseorang yang kini meringis kesakitan.
"Sakit, tolong kumohon bunuh saja aku." Pintanya di kaki William.
William menendang pria yang memohon penuh derita itu.
"Tidak ada kematian yang mudah bagi penghianat sepertimu." Ucap William.
Akila melotot sempurna saat William mengambil sebuah pisau.
Benar, ternyata William adalah sosok iblis yang mengerikan. Darah muncrat usai William menikam leher pria itu.
"Jangan mati, teruslah berteriak seperti ini." Ucap William.
Akila mendekat dengan kaki gemetar, melihat banyak darah membuat Akila bersusah payah menelan ludahnya.
Disaat yang sama terlihat William bangkit, ia memutar tubuhnya membuat matanya bertemu dengan mata Akila.
"Kau membunuhnya." Ucap Akila.
William tertawa mengejek.
"Ada lebih banyak nyawa yang mati ditanganku, sedangkan kau hanya membunuh Mommy ku bukan?" Ucap William.
Akila menggeleng.
"Aku tidak membunuh Mommy mu, aku..."
William langsung menggendong Akila seperti karung beras.
"Penderitaanmu akan dimulai. Kau adalah pelayanku!" Begitu William berucap membuat Akila berontak kaget.
Tubuh Akila dibanting sangat kasar di sebuah ranjang.
Akila mundur, kali ini ia lebih terkejut saat tangannya ditarik paksa lalu diikat dengan sebuah dasi.
"Apa yang kau lakukan?! Jangan menarik kata-kata yang sudah keluar dari mulutmu. Kau sendiri yang tak sudi kalau aku mendesah di ranjang mu. Menjauh!" Ucap Akila berontak saat William menindihnya.
William terkekeh, tangannya mencengkram kedua pipi Akila.
"Aku memang bilang begitu. Aku membicarakan ranjangku yang berada di Mansion. Tapi untuk sekarang kau bisa mendesah di ranjang yang ada di Markas besarku. Menangis lalu memohonlah padaku! Sesali dosamu itu!" Ucap William.
Akila menggeleng sedangkan William tak peduli, ia melucuti bajunya sendiri dan baju milik Akila dengan cara yang kasar.
"Menjauh! Aku bukan pembunuh! Aku tidak mengemudi mobil itu, aku tidak membunuh Mommy mu! Jangan...Akhhh!" Akila menjerit saat William menjambak rambut Akila.
Ada helaian rambut Akila yang jatuh akibat jambakan kasar itu.
Saat tangan William menyentuh tubuh Akila yang hampir telanjang, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh. Bentuk tubuh ini... lekuk pinggang ini... aroma samar di balik keringat dan hujan...
Dejavu.
William terdiam sejenak. Pikirannya melayang ke malam di hotel itu. Gadis yang mengganggu pikirannya. Gadis yang pergi tanpa jejak. Gadis yang tubuhnya begitu hangat dan lembut di bawahnya.
Dan kini, di bawahnya adalah Akila—pembunuh ibunya.
William menggelengkan kepala dengan kasar, menepis semua pikiran itu. Tidak mungkin. Gadis yang membunuh ibunya tidak mungkin sama dengan gadis yang membuatnya gelisah selama ini. Ini hanya kebetulan bentuk tubuh. Ini hanya pikirannya yang bermain-main.
Namun saat matanya menatap tubuh Akila yang nyaris tak tertutup, ia melihat sesuatu. Bekas memar di leher Akila. Bekas yang sama persis seperti yang ia tinggalkan pada gadis misterius itu di hotel. Bekas yang ia buat karena nafsu membara malam itu.
William membeku. Matanya menyipit tajam. Pikirannya berkecamuk.
'Tidak. Kau salah, William. Gadis ini pembunuh ibumu. Kau harus membencinya.'
Ia menatap Akila dengan tatapan dingin yang penuh kebencian, mencoba mengubur semua keraguan yang mulai muncul.
"Ck.. Ternyata selain pembunuh kau benar-benar seorang jalang," ucap William dengan nada menghina.
Akila menatapnya dengan mata berkaca-kaca, namun tak ada rasa takut di sana.
"Kau berlagak seperti seorang gadis, padahal kau bukan lagi perawan!!?" Ucap William sambil terus memacu tubuhnya, semakin kasar dan brutal.
Ia ingin melukai Akila. Ia ingin membuatnya menangis dan memohon. Ia ingin membuktikan bahwa gadis ini adalah iblis yang membunuh ibunya, bukan gadis malang yang membuatnya gelisah selama ini.
Tapi di dalam hatinya, suara kecil terus berbisik.
'Kenapa tubuhnya terasa begitu familiar? Kenapa aku merasakan kehangatan yang sama? Kenapa... kenapa aku seperti sudah pernah melakukan ini sebelumnya?'
William menguatkan hatinya. Ia menepis semua keraguan itu.
"Dia pembunuh ibuku. Dia harus menderita."
Mata Akila berair, ia benar-benar merasa terhina.
Cuihhh!
Akila meludah di wajah William dan detik itu juga amarah William semakin muncul.
"Kau berani?!" geram William.
Mau sekuat apa Akila berusaha menjauh dari William bahkan berontak maka tenaganya jauh dari William yang begitu beremosi.
William terus memacu tubuhnya dengan kasar, mengabaikan setiap air mata yang jatuh dari sudut mata Akila. Ia tidak mau peduli. Ia tidak boleh peduli. Ia terus melanjutkan aksinya sampai mata Akila terpejam. Bukan karena tidur, tapi lebih tepatnya Akila pingsan.
---
Dini hari itu.
William duduk menikmati wine di gelas. Tatapannya masih tertuju pada Akila yang saat ini dipasang infus. Perempuan itu masih belum membuka matanya sampai pintu kamar diketuk, ada Reno yang muncul bersama segelas air dan sebotol obat.
"Maaf mengganggu waktunya Tuan. Ini obat yang Tuan minta." Ucap Reno.
"Bangunkan wanita itu dan paksa dia meminum obatnya. Mulai hari ini dia adalah pelayan di ranjangku. Usai dia melayaniku, kau harus berikan obat itu padanya." Ucap William memberi perintah pada Reno.
Reno mengangguk patuh.
Terlihat William keluar dari kamar itu, ia abaikan saja keadaan Akila yang sangat kacau karena ulah William.
Dengan keraguan Reno membangunkan Akila.
"Nona, Nona Akila bangunlah." Ucap Reno.
Ini adalah kali pertama bagi Reno melihat William sampai berani mengancam seorang perempuan apalagi membawa ke Markas besar miliknya.
Mata Akila terbuka pelan, ia bukan perempuan yang sulit bangun.
Ia menoleh menemukan Reno, ingatan itu masih jelas dalam benak Akila. William adalah pria brengsek.
"Ini obat, tolong minumlah Nona." Ucap Reno.
Akila menatap sebotol obat yang ada di tangan Reno.
Akila bukan orang bodoh yang tak tahu obat itu, ia duduk dan tetap menahan selimut yang membungkusnya. Tanpa ragu Akila minum obat itu.
"Tuan mu adalah iblis." ucap Akila lalu kembali membaringkan tubuhnya lagi.
Reno tak banyak berkomentar, ia memilih keluar dari kamar itu membiarkan Akila beristirahat.
Bersambung
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .