Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 Kehebohan di Rumah Makan
Lanjut lagi guys, hari ini kita lanjutkan kisah Slamet
Slamet yang ditinggalkan seorang diri di dalam warung makan itu. Slamet terdiam dan terduduk seorang diri, tak sanggup berkata apa-apa lagi. Kepalanya terasa pusing sekali, tapi tak apa-apa.
Bukan kejadian Wati yang pergi tiba-tiba, atau pun karena gagal mendapatkan Sari yang membuat kepalanya menjadi pusing serasa mau pecah, tetapi dikarenakan dia sudah terlalu banyak makan, tetapi bukan karena kekenyangan yang membuat dia tak sanggup berpikir.
Dia terduduk dengan mengusap keras kepalanya dengan kedua tangannya,
"Si al, sih si al. Tapi nggak kayak gini juga. Bagaimana ini ya Tuhan? Aku tadi datang dari rumah memang sudah telat, Aku berjalan dari rumah Wati pun sudah tergesa-gesa dan ngos-ngosan. Capek!"
Slamet berbicara sendiri, komat-kamit seorang diri.
Tiba-tiba dia tertawa, dengan kerasnya
"Hahaha hahaha... ha a.. haha."
Hal ini membuat para pengunjung yang berada di warung, pelayan dan pemilik warung merasa terkejut. Mereka satu persatu mendekati Slamet, dari jarak yang cukup dekat.
Mereka tak berani mendekat terlalu dekat. Mereka menjaga jarak aman dari Slamet yang terus tertawa dan mengusap-usapkan kedua tangannya ke kepalanya, sekaligus mengibas-ibaskan rambutnya.
"Kenapa dia?" Tanya Mirza seorang dari pengunjung, demikian juga pengunjung yang lainnya merasa heran dan bertanya-tanya juga.
"Ada apa ini?"
Riuh rendah, orang-orang yang berada di warung itu. Mereka masing-masing menyampaikan pertanyaan maupun pendapatnya.
"Habis diputusin kali, sama pacarnya!" Kata yang lain pula
"Kesambet setan kali, mungkin aja kan. Tempat ini kan sudah lama jauh dari pemukiman dan rumah warga. Hanya warung ini saja yang berdiri disini." Kata seorang yang lain lagi.
"Iya bisa jadi, tempat ini belum pernah didirikan bangunan sama sekali." Kata orang yang lainnya.
Perkataan para pengunjung samar-samar didengarkan oleh Slamet, Dia pun kemudian tertawa terbahak-bahak dan semakin keras. "Hahaha hahaha"
"Tetapi nggak mungkin. Sebab Aku sering memancing di sungai ini. Tetapi tidak pernah mengalami kejadian apapun juga." Kata seseorang yang biasa memancing di tempat itu.
Sebab memang ada aliran sungai, dimana warga setempat mencoba peruntungan untuk mencari ikan.
"Aduh!" Slamet refleks berteriak dan,
"Ahkkk..." teriak nya lagi.
"Apa yang harus kita perbuat sekarang?" Tanya yang seorang pengunjung lainnya.
Pemilik warung dan Pelayan, merasa khawatir sekali. Mereka semua kelihatan bingung, bingung harus berbuat apa.
Pengunjung warung ada yang bertahan, ada juga yang segera pergi, takut terkena hal-hal yang dibuat nalar dan alasan lainnya. Ada yang membayar sebelum pergi maupun yang pergi kabur saja tanpa membayar peranannya.
Pemilik warung melihat keadaan ini, segera wanti-wanti Pelayannya, untuk segera meminta bayaran dari para pelanggannya, sebab Dia melihat ada pelanggan yang pergi begitu saja, tentu saja Pemilik warung tidak ingin merugi.
"Hei kamu Anggi jangan lupa minta bayaran dari setiap pesanan mereka." Perintah pemilik warung.
"Baik bu"
Anggi refleks menjawab, sebab tiba-tiba pemilik warung menyentuh pinggangnya, untuk mengingatkannya. Angga sungguh terkejut.
Anggi adalah gadis cantik, berkulit sawo matang, berusia 18 tahun, memiliki tinggi 167 cm. Pandai dalam perhitungan dan memiliki keterampilan memasak. Angga berasal dari Kota dan saat ini bekerja sebagai kasir dan pelayan di warung tersebut.
Anggi segera mengambil tempat menuju ke meja kasir tempatnya biasa bertugas. Di meja kasir dia berkata:
"Bapak dan Ibu yang sudah menerima pesanannya harap membayar terlebih dahulu ya, sebelum pergi dan pulang dari warung ini."
Angga memberitahukan terlebih dahulu, sesuai pesan dari Mita Pemilik Rumah Makan.
"Hu...h.. " Seseorang bahkan berapa orang yang lainnya yang berada di dalam warung refleks bersorak.
"Orang lagi asyik menyaksikan, sudah dimintai bayaran Saja. Hahaha..." Terdengar suara seseorang di keramaian itu. Yang bukan lain adalah Fery seorang Pemuda berprofesi sebagai petani dan berusia 25 tahun. Dia datang ke tempat ini, hanya bertujuan untuk mencicipi makanan yang ada di Rumah Makan yang baru dibuka itu.
"Iya... Bagus itu. Awas banyak yang nembak ini."
Seseorang yang bernama Reza membalas perkataan dari Fery. Reza pemuda berusia 20 tahun yang datang ke rumah Makan ini, hanya untuk melihat Pemilik dan Pelayan-pelayan di rumah makan ini. Dia mendengar bahwa Pelayan di rumah makan ini cantik-cantik dan berasal dari kota. Reza makan disini hanya untuk melihat, siapa tahu dapat berkenalan dengan cewe-cewe disini.
Yang lain berteriak, "Hu.... Kamu aja kali yang gitu." Teriak seseorang lagi.
Yang lain serempak tertawa, serempak. "Hahaha,"
"Iya betul juga pasti ada yang nembak ini." Terdengar kembali suara seseorang yang adalah Jaka. Jaka adalah Orang yang ikut bersama Pemilik rumah makan. Walaupun berbentuk rumah makan. Penduduk di kampung ini biasa menyebut tempat ini dengan sebutan warung, warung makan.
"Aku tiak nembak ah, sudah untung dapat tontonan gratis, masa nembak lagi, jarang-jarang nih ada tontonan."
Jawab seseorang lagi.
Slamet mendengarkan perkataan itu menjadi tambah pusing. Dia mengantuk-antukkan kepalanya ke meja, sambil berteriak,
"Akh...." Slamet dalam hati ingin rasanya sedikit marah untuk melepaskan rasa kesal yang mendera hatinya.
Para pengunjung tersentak dan terkejut akan suara Slamet
"Awas hati-hati," Refleks Jaka berkata. Sebab dikota Dia juga pernah mempunyai beberapa pengalaman mengenai orang yang kerasukan seperti itu.
"Awas..! Jangan dekat-dekat, siapa tahu setannya menyerang tiba-tiba." lanjutnya lagi.
Tiba-tiba Tiara seorang Pelayan di warung itu mengambil air tanpa diperintahkan, langsung saja menyiramkan air tersebut ke arah Slamet.
"Sadar lo, sudah buat orang-orang jadi kocar-kacir," teriak Tiara, yang sebenarnya ketakutan juga karena perkataan Jaka tersebut. Tiara takut kalau ada setan yang akan menyerang mereka atau dirinya. Tiara juga termasuk orang yang percaya akan hal-hal yang berbau tahayul.
Slamet tersentak, Dia langsung berkata,
"Sia lan, aku si al lagi, disiram orang! Mana air bekas cucian piring lagi. Aduh bau banget ini. Kalau mau menyiram pakai air bersih dong. Jangan pakai air kotor seperti ini. Saya tidak senang!" Teriak Slamet.
"Sia lan kamu sadar ya?” teriak Yono.
Melihat Slamet yang tiba-tiba marah karena disiram oleh Tiara dengan air bekas cucian piring. Yono adalah warga Kampung yang berusia 20 tahun. Dia biasa menghabiskan sore hari dengan memancing ikan dikali itu,
Yono sering sekali ke tempat itu, dan Dia juga tidak pernah melihat atau merasakan kejadian yang aneh seperti ini. Yono marah sekali, sebab Dia juga merasa ketakutan sekali. Tadinya Yono tidak percaya tetapi saat ini, dirinya mulai ragu dan bercampur dengan rasa curiga.
"Apakah di sungai itu ada penunggunya? Apakah yang saat ini sedang merasuki Slamet adalah hantu?" Hatinya sempat berkecamuk pikiran-pikiran aneh tentang hantu, jin maupun makhluk halus lainnya.
Tetapi Yono juga curiga sebab Dia tidak pernah mendapati kejadian-kejadian yang aneh-aneh di sungai itu Yono juga curiga melihat tingkah Slamet yang terkadang tidak mirip dengan orang kerasukan, sebab sesekali Slamet melakukan tindakan ketika seseorang mengatakan sesuatu saja.
"Awas ada yang nembak!" Maka Slamet semakin mempertinggi suaranya.
Selamat juga akan tiba-tiba berteriak atau tertawa ketika seseorang mengatakan,
"Siapa yang tahu mengenai orang pintar yang paham tentang orang kerasukan, dan tentunya banyak hal lainnya."
Tetapi sempat sesaat semuanya itu berubah karena banyaknya pendapat dari orang-orang yang ada di tempat itu, memberikan pendapatnya.
Oleh sebab itu dia orang pertama yang seperti marah, ketika slamet marah-marah dan terlihat seperti orang normal.
Wajah Slamet tiba-tiba terlihat pucat sekali, Dia mulai merasa ketakutan. Slamet mulai menyadari bahwa sandiwaranya itu sudah ketahuan. Slamet mulai memutar otak dan memikirkan alasan yang tepat.
”Bahaya ini kalau orang-orang menjadi marah semua kepada Aku. Bisa mati Aku di gebukin orang. Atau jangan-jangan Aku bakalan diarak keliling Kampung karena ketahuan berpura-pura gila atau kerasukan.” Slamet menelan lidahnya yang kering.
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru