Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Mertua, Ipar, dan Kepiting Jumbo
Jantung Aira berdegup begitu cepat saat melihat kedatangan Ayah Niko dan Ibu Nilta yang baru saja turun dari mobil. Meskipun dulu hampir setiap hari mereka bertemu, baru kali ini Aira merasakan kegugupan yang luar biasa.
"Kak Airaaaaaaaaa!" heboh Hanum, lalu berlari kencang ke arah Aira.
Dengan secepat kilat, Azam langsung berdiri di depan Aira dan ....
DUG!
"Awwww!" pekik Hanum saat merasakan kepalanya membentur dada bidang sang kakak yang keras.
"Abang!" pekik Hanum kesal sambil mengusap-usap kepalanya. "Ayah, Ibu, ihhh Abang ...."
"Hanum, jangan kebiasaan seperti itu, enggak sopan. Lain kali ucapkan salam dulu," tegur Bu Nilta. Hanum pun langsung cemberut pasrah.
"Assalamualaikum," ucap Ayah Niko, lalu dijawab serentak oleh Azam dan Aira.
"Silakan Ibu, Ayah, masuk," kata Aira gugup.
Ibu Nilta tersenyum teduh ke arah Aira saat mereka sudah berkumpul di ruang tamu. "Loh, loh, kok masih manggil Tante saja sih? Panggil Ibu juga dong, kayak sama orang asing saja."
Aira tersenyum malu, lalu mengangguk pelan.
"Kak Aira, Kak Aira enggak kangen ya sama aku? Aku kangen tahu sama Kak Aira," heboh Hanum sambil menikmati camilan kesukaannya.
Azam dan Ayah Niko kemudian berpindah untuk mengobrol berdua di ruang keluarga. Sementara itu, Aira tetap di ruang tamu bersama Hanum dan Bu Nilta. Sebelum bersiap-siap pergi, Aira sempat meminta bantuan Bu Nilta untuk mengepang rambut panjangnya yang indah.
"Ehem, manja-manjaan saja terus," ejek Hanum yang melihat kedekatan mereka.
"Dih, apaan sih! Enggak diajak, weee," ledek balik Aira.
Azam yang tiba-tiba kembali masuk ke ruang tamu langsung menimpali, "Sayang, sana gih jalan-jalan sama Ibu sama Hanum. Beli saja apa pun yang kamu, Ibu, dan Hanum mau. Aku di rumah saja ya sama Ayah."
"Siap, Mas! Ya sudah, yuk kita ke mal sekarang, Ibu, Hanum," kata Aira antusias.
"Kamu enggak malu keluar sama Ibu, Aira? Ibu sudah tua loh," kata Ibu Nilta lembut.
Aira menggeleng cepat. "Justru Aira senang banget, akhirnya Aira punya ibu," kata Aira polos.
Hanum menoleh sambil terus mengunyah camilannya. "Kamu enggak cuma punya Ayah, Ibu, sama Bang Azam. Sekarang kamu juga punya adik perempuan yang begitu cantik, imut, dan baik hati ini, hehehe."
"Hahaha, pastinya! Kamu juga senang dong punya mbak secantik dan seimut aku, iya kan, Bu?" kata Aira sembari memeluk erat tubuh Bu Nilta.
Bu Nilta mengusap lembut rambut Aira. "Ibu senang banget punya menantu seperti kamu, Aira. Semoga Allah jaga rumah tangga kalian dari hal-hal yang tidak diinginkan."
"Aamiin," kata Aira dan Hanum bersamaan.
***
Setelah berpamitan dengan Ayah Niko dan Azam, ketiganya segera berangkat menuju salah satu mal terbesar di pusat kota. Kali ini mereka diantar oleh Pak Dadi, sopir pribadi Ayah Niko.
Di dalam mobil, Hanum tidak berhenti mengoceh tentang toko-toko baju dan kosmetik yang ingin ia kunjungi. Sementara itu, Ibu Nilta hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putri bungsunya itu.
"Kak Aira," panggil Hanum tiba-tiba.
Aira yang sedang duduk di sebelah Bu Nilta menoleh ke belakang. "Kenapa, Num? Kangen, ya?" kata Aira menyengir.
Hanum cemberut. "Ihh, geer banget sih kamu, Kak! Aku tuh cuma mau kasih tahu kamu, kalau nanti aku ada kado istimewa buat Kak Aira loh. Aku yakin pasti Kak Aira bakalan ucapin makasih sebanyak-banyaknya ke aku," kata Hanum sok misterius.
Aira mengernyit bingung. "Kado? Aku kan belum ulang tahun, Hanum."
"Bukan itu loh maksud aku, Kak. Masa iya aku enggak boleh kasih kado begitu? Memang boleh kasih kadonya pas hari ulang tahun doang?" kata Hanum santai. Aira hanya tertawa kecil mendengarnya.
Sesampainya di mal, suasana begitu ramai. Aira langsung menggandeng lengan Ibu Nilta dengan erat, seolah takut terpisah di tengah kerumunan.
"Ibu mau lihat-lihat gamis dulu atau kita langsung menemani Hanum?" tanya Aira lembut sambil menatap mertuanya.
"Ibu ikut kalian saja, Sayang. Ibu senang melihat kalian berdua bersemangat begini," jawab Ibu Nilta tulus.
"Ih, Kak Aira! Ke toko kosmetik itu dulu yuk! Ada liptint yang lagi viral banget, aku mau beli!" rengek Hanum sambil menarik tangan kiri Aira.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam toko kosmetik. Hanum langsung sibuk memilih warna lipstik yang cocok untuk remaja seusianya. Sementara itu, Aira memilih menemani Ibu Nilta duduk di kursi tunggu.
"Aira," panggil Ibu Nilta pelan.
"Iya, Bu?" Aira menoleh, menatap wajah teduh yang selalu menenangkannya itu.
"Terima kasih, ya. Terima kasih karena sudah mau menerima Azam dengan segala kekurangannya. Azam itu anak yang kaku dan terlalu serius, tapi Ibu tahu, di dalam hatinya dia sangat menyayangi keluarganya, terutama kamu," kata Ibu Nilta dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru.
Aira tersenyum sangat manis, lalu memeluk lengan Ibu Nilta lebih erat. "Justru Aira yang berterima kasih, Bu. Mas Azam itu sangat baik, bahkan terlalu baik untuk Aira yang masih manja begini. Aira janji akan belajar menjadi istri yang terbaik untuk Mas Azam."
"Ibu percaya kamu bisa, Nak," ucap Bu Nilta sambil mengecup pelan pelipis menantunya itu.
"Ekhem! Sudah dong peluk-pelukannya, Hanum jadi cemburu nih," celetuk Hanum yang tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka sambil membawa keranjang kecil berisi kosmetik pilihannya.
"Kamu ini, sama kakak sendiri kok cemburu," ledek Bu Nilta yang membuat Aira ikut tertawa.
"Yuk, sekarang giliran Kak Aira yang belanja. Tami katanya mau beli novel baru, kan? Di lantai atas ada toko buku besar," ajak Hanum antusias.
Aira mengangguk penuh semangat. Ia meraba tas kecilnya, memastikan kartu hitam pemberian Azam aman di sana.
Setibanya mereka di toko buku, Aira langsung mencari buku incarannya. "Ibu, Ibu enggak apa-apa kan kita ke sini dulu?" kata Aira merasa tidak enak karena toko terlihat sudah hampir bersiap tutup.
"Enggak apa-apa, Sayang. Kamu beli saja apa yang mau kamu beli, ya. Jangan sungkan sama Ibu," kata Bu Nilta ramah.
Aira membawa beberapa novel lalu membayarnya di kasir. Saat hendak menghampiri Ibu Nilta kembali, Aira tidak sengaja melihat Hanum sedang berbisik-bisik misterius di telinga Ibu Nilta.
"Apa benar ya yang ada di film-film? Enggak ada istilahnya ipar sama mertua tuh baik," batin Aira kocak, mendadak curiga dan ngeri sendiri.
"Aira sayang, gimana? Sudah selesai?" tanya Ibu Nilta lembut lalu berjalan menghampirinya.
"Sudah, Bu," jawab Aira setenang mungkin, mencoba bersikap biasa saja.
Ibu Nilta mengangguk. "Ya sudah, yuk kita ke restoran. Pasti kamu sudah kelaparan, kan?"
Aira hanya mengangguk patuh. Namun, sedetik kemudian ia menyadari sesuatu. "Oh ya, Bu, Hanum mau ke mana kok pergi?" tanya Aira yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Ibu Nilta menoleh ke arah Hanum yang tampak berjalan menjauh. "Ibu juga enggak tahu, Nak. Mungkin saja Hanum mau beli minuman atau bertemu dengan teman sekolahnya," jawab Ibu.
Dengan susah payah, Aira menahan bibirnya agar tidak cemberut. "Aaah, Mas Azam jemput aku, huaaa!" batin Aira ngenes.
Saat mereka sudah duduk di dalam restoran, Aira buru-buru berkata, "Bu, Aira temenin Ibu makan saja ya. Aira enggak makan soalnya Aira masih kenyang."
"Loh, kenapa, Sayang? Kamu beneran enggak apa-apa?" tanya Ibu Nilta khawatir.
Aira menyengir lebar. "Aira tadi pagi makan banyak kok, Bu, hehe."
Ibu Nilta mengangguk mengerti. "Ya sudah, kamu mau pesan apa? Biar Ibu pesankan sekalian," tawar Bu Nilta lembut.
Aira melihat buku menu lalu memesan dengan antusias. "Aira mau kepiting pedas yang jumbo ya, Bu. Sama cumi bakar sepuluh, sama ikan bakar tujuh porsi, hehehe," kata Aira tanpa dosa.
"Iya, Sayang. Ya sudah, Ibu tinggal sebentar ya untuk memesan," pamit Bu Nilta.
Setelah memastikan sang mertua benar-benar pergi ke kaunter pemesanan, Aira bergegas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Azam.
"Assalamualaikum, Mas," kata Aira pelan.
"Waalaikumussalam, Sayang. Ada apa, Sayang?" jawab Azam dari seberang telepon.
"Mas, tolong ya masakin nasi sekarang juga yang banyak! Soalnya aku sama Ibu mau makan di rumah. Kamu tahu sendiri kan tadi pagi Bi Siti cuma buatkan roti bakar sama susu," kata Aira cepat-cepat.
"Hahahah!" Aira mengerucutkan bibirnya kesal saat mendengar suara tawa renyah sang suami.
"Iya, Sayang, iya. Aku masak nasi sekarang. Ya sudah gih, sana lanjutkan belanjanya, aku masak dulu ya, Sayang," kata Azam lembut.
"Iya, Mas, makasih ya. Ya sudah, aku matiin dulu yaaa, daaa!" kata Aira lalu mematikan sambungan teleponnya.
Aira tersenyum senang lalu berjingkrak-jingkrak sendiri di kursinya karena kegirangan. "Aaaaa bahagianya aku punya suami kayak kamu, Mas, emmmmmuach!" katanya heboh sendiri.
Tanpa disadari, dari kejauhan Bu Nilta memperhatikan menantunya itu sambil tersenyum senang melihat tingkah laku Aira yang begitu bucin. Begitu pun sebaliknya, ia tahu Azam juga tak kalah bucin dari Aira.
"Semoga kalian selalu bahagia, ya," batin Bu Nilta tulus.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍