NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 "Silver Gear"

Chapter 18

Gema gemuruh mesin pendorong bergetar melalui lantai baja Station 05 saat sebuah kapal pengangkut raksasa Falcon secara perlahan mendarat di area utama Hangar Garage. Begitu pintu kompartemen belakang terbuka dengan hembusan uap panas yang membumbung, pemandangan di dalam kapal langsung menarik perhatian seluruh personel Grey Wings yang berkumpul di sana.

Di dalam lambung kapal, berjejer enam unit mecha raksasa bertubuh mengkilap, seluruhnya dilapisi cat putih bersih tanpa aksen warna lain. Unit-unit itu adalah Silver Gear, mesin tempur legendaris ciptaan Highlander.

Huah, yang berdiri berdampingan dengan Mei di barisan depan, memiringkan kepalanya. Matanya berkedip heran saat memperhatikan jejeran mecha tersebut dari ujung ke ujung.

"Lho... kok semuanya putih bersih begitu?" gumam Huah blak-blakan tanpa berusaha menutupi rasa penasarannya. Ia memalingkan wajah ke arah Mei. "Aku kira minimal mereka bakal kasih garis warna perak atau apa. Ini mau hemat material atau gimana?"

Seorang pemuda berambut merah menyala turun melewati tangga dermaga pendaratan. Ia mengenakan seragam pilot Highlander yang tertata rapi, membawa helm tempur di bawah apitan tangannya. Senyum tipis mengembang di bibirnya, namun sorot matanya terkesan terlalu tenang untuk ukuran medan perang. Itu adalah Nathan, pemimpin dari unit Silver Wings.

"Logam putih ini dirancang khusus dari komposit khusus agar mempermudah dispersi energi dan meminimalkan beban operasi," sahut Nathan santai saat menghentikan langkahnya tepat di hadapan anggota Grey Wings. Huah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, masih memandangi mecha-mecha itu dengan dahi berkerut. "Tetap saja... kelihatannya seperti belum selesai dicat. Aku kira biar hemat anggaran bahan baku."

Oliver, salah satu anggota Silver Wings yang menyusul di belakang Nathan, tertawa memecah ketegangan. Namun Nathan hanya menatap Huah dengan pandangan datar tanpa terpengaruh humor tersebut. "Silver Gear dibuat untuk membunuh Cataclysm," ujar Nathan dingin, nadanya lugas tanpa basa-basi. "Bukan untuk dipajang di pameran seni." Huah seketika manyun dan memutar matanya, melangkah mundur satu piksel di belakang bahu Shin. Dari dalam kokpit atau tempatnya berada, suara Belial terdengar berbisik pelan namun cukup tajam untuk terdengar oleh Shin yang berada di dekatnya. "Orangnya nyebelin," bisik Belial tajam. Shin hanya mengulas senyum canggung, membiarkan komentar itu berlalu di udara.

Sementara itu, Zhou melangkah mendekati unit utama milik Nathan. Tanpa memedulikan tatapan heran dari teknisi Highlander, Zhou menjangkau armor pelindung pada bagian kaki Falcon dan menggetoknya pelan menggunakan buku jarinya. Tok, tok.

Nathan serta-merta memalingkan wajahnya tajam ke arah Zhou. "Jangan dipukul." Zhou mengedipkan mata, pura-pura tidak mendengar. Dengan raut wajah tanpa dosa, ia mengayunkan tangannya kembali. Tok.

"Serius, jangan dipukul," ulang Nathan, alisnya kini saling bertaut menahan kekesalan. Tok. Sebelum Nathan sempat meluapkan kemarahannya, Sua—dengan wibawa tegas sebagai Kapten Tim 05—melangkah maju dan menarik kerah belakang baju Zhou, menyeret pemuda itu mundur.

"Zhou, hentikan kelakuan anak-anakmu," tegur Sua penuh penekanan. Ia kemudian berbalik menghadapi Nathan dan anggota Silver Wings lainnya, menundukkan kepala sedikit sebagai tanda penghormatan. "Maafkan anggota kami. Saya Sua, Kapten Tim 05 Grey Wings."

Nathan mengangguk perlahan, merapikan letak sarung tangannya. "Nathan. Dan ini adalah tim operasional Silver Wings dari Highlander."

Diruang Briefing ketegangan dimulai, Layar holo-peta tiga dimensi menyala di tengah ruang taktis, memproyeksikan kontur topografi di luar kubah pelindung Station 05. Komandan Ace berdiri tegak di depan meja bundar, sementara Jin Hae berdiri anggun di sisinya memegang clipboard taktis berisi laporan logistik.

"Situasi kali ini berbeda dari agresi biasa," buka Komandan Ace dengan suara berat yang memenuhi ruangan. "Berdasarkan pemindaian sensor jarak jauh Highlander, gelombang Cataclysm akan datang dalam lima tahap secara beruntun. Gelombang demi gelombang tanpa jeda yang signifikan." Para pilot saling melempar pandang. Lei menyilangkan dada, raut wajah santainya berganti menjadi lebih serius.

"Artinya," sambung Ace, "tidak ada waktu untuk perbaikan Gear. Tidak ada waktu untuk mengisi ulang amunisi secara penuh, dan jelas tidak ada waktu untuk istirahat. Jika gelombang pertama gagal dihentikan di garis batas luar... Station 05 akan ditembus, dan pertempuran akan bergeser ke dalam area pemukiman." "Gelombang berturut-turut tanpa perbaikan?" gumam Teiben ragu, jemarinya meremas tepi celananya. "Bagaimana dengan suplai daya Neo Gear?"

"Itu sebabnya integrasi taktis antara Grey Wings dan Silver Wings mutlak diperlukan," potong Jin Hae tegas dari balik clipboardnya. "Karena operasi penahanan akan berlangsung dalam durasi panjang, unit Silver Wings akan ditempatkan di markas kediaman kalian Home selama 24 jam ke depan sebelum koordinasi gelombang pertama dimulai."

Kesunyian Home yang biasanya hanya diisi oleh kebiasaan sehari-hari anggota Grey Wings mendadak berubah sibuk setelah kedatangan enam pilot baru dari Highlander. Huah berjalan melintasi koridor menuju kamar tamu saat ia melihat pintu salah satu ruangan terbuka. Di dalam, Nora pilot Silver Wings sedang melipat pakaian militernya. Setiap sudut lipatan diukur sedemikian rupa hingga membentuk simetri yang sempurna tanpa ada kerutan sedikit pun di permukaan kain.

Huah menyenderkan bahunya di bingkai pintu, memperhatikan tindakan itu selama semenit penuh dengan wajah heran. "...Kamu OCD ya?" tanya Huah polos. Nora memalingkan wajahnya perlahan, menatap Huah datar. "...Disiplin." Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Huah menarik kembali badannya dan menutup pintu kamar itu perlahan-lahan dari luar.

Di sisi lain koridor, Teiben berinisiatif menunjukkan keramahannya. Saat melihat Senna membawa koper logam berukuran besar yang tampak berat, Teiben segera melangkah mendekat. "Ah, Senna! Mari kubantu dibawakan sampai ke kamar," tawar Teiben ramah sambil mengumbar senyum.

"Tidak perlu, ini cukup—" Teiben langsung memotong, "Tidak apa-apa! Aku ini pilot Red Kite, soal mengangkat beban begini sudah biasa!" Teiben memotong dengan penuh rasa percaya diri. Ia meraih gagang koper tersebut dan mengangkatnya dengan seluruh tenaga.

BUK. Beban ekstrem koper itu langsung menarik tubuh Teiben ke bawah. Lututnya menabrak lantai, sementara koper tersebut bahkan tidak bergeser lebih dari beberapa sentimeter. Teiben tersengal-sengal, menahan napas dengan wajah memerah. Senna menatap Teiben yang masih memegangi gagang koper di lantai. "Terima kasih," ucap Senna sangat manis dan ceria seakan tidak bersalah, lalu mengangkat koper besar itu menggunakan satu tangan seolah benda itu tidak berbobot, melangkah melewatinya. Teiben mengurut pergelangan tangannya, bergumam dalam hati, 'Apa isi kopernya batu semua?!'

Sementara itu di ruang santai, Kisara tampak tertarik memperhatikan Zhou dan Lei yang sedang duduk melingkar bertanding kartu. Kisara memutuskan untuk duduk bergabung. Sepuluh menit berlalu, dan situasi berubah menjadi pembantaian taktik. Kisara memenangkan dua belas putaran berturut-turut tanpa memberi kesempatan pada lawan-lawannya untuk mencetak poin tunggal. Lei melempar kartu-kartunya ke atas meja dengan raut wajah tak percaya. "Ini manusia apa AI?! Cara memutar kartunya tidak masuk akal!" Kisara hanya tersenyum tipis sambil merapikan tumpukan kartu kemenangannya dengan sangat tenang.

Puncak dari kekacauan malam itu terjadi di ruang makan. Dapur Home menyajikan hidangan hangat untuk menyambut para tamu, namun sebuah piring berisi potongan ayam goreng terakhir menjadi pusat gravitasi ketegangan. Huah mengulurkan tangannya untuk meraih ayam tersebut. Di saat yang persis sama, Nathan mengulurkan tangannya dari sudut meja yang berseberangan. Kedua pasang sumpit mereka memegang potongan ayam yang sama di udara.

Huah menatap Nathan tajam. "Aku duluan." Nathan membalas tatapan itu tanpa mengedip. "Di Highlander, siapa cepat dia dapat." "Ini Station 05," pangkas Huah tak mau kalah. "Konsepnya tetap sama," balas Nathan dingin.

Huah langsung menarik potongan ayam itu ke piringnya. Tidak tinggal diam, Nathan mengayunkan sendoknya dan mengambil sebagian lauk pauk dari piring Huah. Merasa diejek, Huah membalas dengan menyendok setengah porsi nasi dari piring Nathan.

Saling balas dendam itu meningkat dengan sangat cepat. Sebuah roti terbang melintasi meja dan menghantam dahi Zhou. Belial, yang ikut merasa terprovokasi oleh riuhnya ruangan, ikut mengambil sendok kayu dan melemparnya ke arah Kisara. Zhou membalas melempar kentang rebus ke arah Oliver. Oliver justru tertawa keras dan ikut meramaikan perang makanan tersebut. "JANGAN DONG! MAKANANNYA JANGAN DIBUANG-BUANG!" teriak Mei panik sambil mencoba menutupi kepalanya menggunakan nampan.

"CUKUP!" Suara keras Sua bergaung di pintu masuk ruang makan, membuat seluruh aktivitas pelemparan berhenti seketika di udara. Komandan Ace berdiri di belakang Sua dengan lengan bersilang, sementara Jin Hae melangkah masuk dengan *clipboard* di tangannya, matanya menatap ruang makan yang kini penuh dengan remahan roti dan saus.

Jin Hae mencatat sesuatu di kertasnya tanpa memandang siapapun. "Besok seluruh pilot, tanpa terkecuali, wajib membersihkan ruang makan sebelum masuk ke ruang persiapan." Huah mengeluh vocal, "Lho..." Nathan memegang dahi, bergumam rendah, "...Aku kena juga?"

Larut malam menyelimuti Station 05. Sebagian besar personel sudah mengundurkan diri ke kamar masing-masing, namun lampu redup Hangar masih menyala di atas struktur Bird of Paradise, Prime Gear gabungan yang megah.

Shin berada di atas platform perancah, memegang alat pemutar baut untuk mengencangkan panel engsel sayap mekanis mecha tersebut. Belial duduk santai di atas struktur bahu Bird of Paradise, mengayunkan kakinya yang bebas sementara ekor dan tanduk birunya berkilat redup memantulkan cahaya lampu hangar. Langkah kaki terdengar dari bawah. Nathan berjalan perlahan melewati deretan peralatan teknis, menghentikan langkahnya di dasar platform dan menengadah melihat ke arah mereka bertiga.

Nathan mengamati Belial selama beberapa saat sebelum mengalihkan pandangannya pada Shin. "Kau benar-benar percaya padanya?" tanya Nathan, suaranya tenang namun sarat ketegasan. Shin menghentikan putaran alat di tangannya, menoleh ke bawah. "Iya." "Dia Cataclysm," lanjut Nathan, matanya menyipit pelan. Belial tidak bergeming di atas bahu mecha, hanya menatap Nathan dengan wajah tanpa ekspresi. "Kalau suatu hari dia kehilangan kendali dan insting dasarnya mengambil alih... apa yang akan kau lakukan?"

Shin tidak langsung menjawab. Ia kembali memasang baut pada engsel pelindung armor, menyelesaikannya dengan ketukan kunci yang pas. "Kalau hari itu datang..." Shin menghentikan gerakannya, menatap langsung ke mata Nathan. Belial menoleh memandang Shin dari samping. Shin tersenyum tipis, matanya jujur. "...Aku yang akan menghentikannya."

PLAK! Belial mengayunkan tangannya dari atas dan memukul bagian belakang kepala Shin pelan lembut dengan sebuah buku "Bodoh. Ngomong sembarangan." Nathan terkekeh kecil, gelengan kepalanya menunjukkan sedikit rasa tak percaya namun tidak lagi dipenuhi dengan nada kecurigaan. "Kalian aneh." "Mungkin," jawab Shin santai. Nathan bersedekap dada. "...Tapi menarik."

Nathan melangkah mendekati unit Falcon miliknya yang berada di kompartemen sebelah. Ia membuka salah satu panel servis armor bagian dada mecha perak tersebut, memperlihatkan struktur logam putih mengkilap yang membias warna keemasan samar di bawah paparan lampu. "Lihat ini," panggil Nathan.

Shin melompati perancah dan turun mendekati Nathan, diikuti Belial yang mendarat secara perlahan di lantai hangar tanpa menimbulkan suara. "Armor ini..." Nathan menyentuh permukaan pelindung Falcon. "Dibuat dari pecahan sintesis Sword of Babylon." Belial seketika terdiam. Tatapannya menajam saat menatap struktur internal logam tersebut. "...Pedang suci itu benar-benar ada?"

"Legenda sering kali hanyalah sejarah yang dilupakan," sahut Nathan pelan. "Highlander merekonstruksinya untuk menciptakan pertahanan mutlak terhadap radiasi Catalyst."

Pukul 13.00, Sirene bahaya berbunyi tanpa henti, Semua Neo Gear dan Silver Gear diluncurkan dari Garage. Gelombang pertama terdiri dari puluhan Cataclysm kelas Angel. Mereka bergerak cepat, meloncat melintasi gundukan tanah dengan formasi yang tidak teratur.

Di medan tempur, ketidakserasian antara Grey Wings dan Silver Wings langsung menjadi kendala utama. Grey Wings terbiasa bertarung dengan manuver adaptif dan saling menutupi ruang kosong, sementara Silver Wings bergerak dalam pola taktis Highlander yang kaku dan presisi tinggi. Akibatnya, kedua tim saling menghalangi jalur tembak.

Falcon melesat menggunakan pendorong belakangnya, menghunus tombak utamanya untuk menusuk seekor Angel. Namun secara mengejutkan, Phoenix yang dipiloti Huah melintas dari sudut buta untuk melemparkan serangan tali tombaknya.

Serangan Falcon meleset akibat benturan jalur tersebut. "Lihat jalurmu!" bentak Nathan melalui saluran radio taktis. "Kau yang mendadak memotong dari belakang!" balas Huah dari kokpit Phoenix dengan kesal.

Di sektor lain, Bird of Paradise yang dikendalikan Shin dan Belial sedang membidik inti musuh dengan cakar raksasanya. Tiba-tiba dua unit Harriers milik Silver Wings memotong ruang tembak untuk menembakkan rudal penahan. "Mereka bikin ribet!" gerutu Belial di dalam kokpit gabungan, jemarinya mengepal tuas kendali.

Melihat kekacauan formasi yang membahayakan seluruh lini pertahanan, Sua langsung mengambil alih komando frekuensi darurat. Swan melompat ke posisi tertinggi di atas batuan, menyalakan pendorong suarnya.

"SEMUA UNIT, TAHAN POSISI!" teriak Sua, suaranya yang tegas bergaung di kokpit seluruh pilot. "Jika kita terus bertindak seperti ini tanpa koordinasi... yang mati bukan Cataclysm, tapi kita sendiri!" Nathan di dalam kokpit Falcon terdiam selama beberapa detik. Ia memperhatikan perimeter sekitar dan menyadari betapa berisikonya ketidaksinkronan mereka. "...Baik," sahut Nathan akhirnya. "Grey Wings ambil alih komando lini depan, Silver Wings menyesuaikan."

Gelombang kedua datang dengan skala lebih besar. Makhluk kelas Archangel mulai merangsek masuk, dilindungi oleh puluhan Cataclysm Angel pendukung.

Namun kali ini, pertempuran berlangsung dengan dinamika yang berubah. Falcon melaju ke sisi kiri, terlindung di balik benteng pertahanan yang dibentuk oleh Rook. Saat seekor Archangel mencoba menerkam Phoenix dari atas, Falcon melesat memotong jalur tersebut, menusuk leher musuh sebelum Phoenix membalas dengan semburan api pendorong untuk membakar sisa inti musuh. Rook pasang perisai tebalnya di garis tengah, menahan hantaman erosi energi Catalyst, memberikan waktu bagi Sparrow yang dipiloti Sei untuk melepaskan tembakan presisi tinggi dari jarak jauh. Perlahan tapi pasti, koordinasi antar unit mulai saling melengkapi.

Gelombang ketiga menjadi ujian fisik yang menyiksa. Amunisi Pigeon dan Sparrow berada di ambang batas kritis. Armor luar Stork dan Cassowary mulai retak akibat gesekan konstan dengan cairan asam musuh. Melalui saluran komunikasi, Jin Hae dan beberapa Operator bekerja tanpa henti memberikan rincian koordinasi logistik dan kalkulasi energi, sementara Komandan Ace terus mengatur rotasi posisi agar tidak ada unit yang tumbang karena kehabisan energi Core.

Saat gelombang keempat tiba, malam telah sepenuhnya jatuh. Pandangan visual merosot hingga titik nol akibat kabut pekat yang bercampur dengan debu medan perang. Sensor elektronik pada Neo Gear dan Silver Gear mengalami glitch hebat akibat interferensi gelombang elektromagnetik musuh.

"Sensor tidak bisa mengunci sasaran!" panggil Elas dari kokpit Cassowary. Di dalam kokpit Bird of Paradise, Belial memejamkan matanya rapat-rapat. Ia melepaskan pegangan sensor optik dan membiarkan insting Cataclysm dalam darahnya mengambil alih.

"Arah jam dua... tiga ratus meter. Ada dua ekor menempel di tebing," ucap Belial pelan. Shin tanpa ragu mengarahkan seluruh pendorong Bird of Paradise ke posisi yang disebutkan Belial, menghantam kegelapan dengan tebasan cakarnya. Ledakan oranye membuktikan ketepatan perkataan Belial.

Di dalam kokpit Falcon, Nathan memperhatikan manuver tersebut melalui radar lokal yang tersisa. Wajahnya menunjukkan rasa terkejut yang mendalam. Ia baru menyadari sepenuhnya bahwa kehadiran Belial bukan sekadar ancaman, melainkan kunci insting alami yang mampu mencium keberadaan Cataclysm di tengah benteng kegelapan yang paling pekat sekalipun.

Tanah di sekitar perimeter Station 05 mendadak retak hebat. Guncangan berskala masif menghentikan pergerakan seluruh Gear. Dari dalam perut bumi yang terbelah, muncul sesosok monster berukuran masif—sebuah Cherubim tipe Insect, laba-laba raksasa dengan delapan kaki baja dan bagian abdomen yang membengkak penuh cairan energi. Benang-benang Catalyst berwarna kebiruan disemprotkan ke segala arah, melapisi area pertempuran.

Unit Neo Gear yang terkena jaringan benang tersebut langsung mengalami penurunan daya secara drastis akibat gangguan radiasi. Namun, unit Silver Gear yang dilapisi material khusus Anti-Catalyst masih mampu bergerak aktif. Nathan menatap monster raksasa di depannya, lalu mengaktifkan radio seluruh unit. "Silver Wings maju!" seru Nathan. "Grey Wings, ikuti pola mereka!" sambung Shin, mengarahkan Bird of Paradise bergerak sejajar dengan Falcon.

Pertempuran terakhir menjadi sebuah simfoni taktis seluruh unit

Falcon melesat membuka jalur utama, menebas benang-benang Catalyst yang membentang di udara. Bird of Paradise menusuk celah pelindung dada musuh menggunakan pedangnya. Swan memotong salah satu kaki depan musuh dengan tombak induknya. Phoenix melepaskan semburan bahan bakar dari pendorongnya untuk membakar kumpulan benang di tanah. Feng Huang terbang melesat cepat, membelah bagian abdomen bawah musuh dengan pedang mata dua Feng Huang. Stork menarik perhatian mata utama musuh dengan manuver memutar. Pigeon melepaskan sisa rudal terakhirnya tepat ke sendi-sendi utama lawan. Cassowary memotong tendon persendian kaki belakang. Sparrow memberikan tembakan penutup pada titik-titik lemah yang terbuka. Red Kite melesat menyelamatkan Stork yang hampir jatuh terhempas hantaman kaki musuh. Rook menancapkan perisai raksasanya di tanah, menahan guncangan gempa susulan. Harriers dan Vultures menghancurkan kaki belakang musuh hingga makhluk raksasa itu berlutut. Osprey dan Crows mengunci jalur mundur musuh, menghabisi Angel kecil yang mencoba membantu sang induk. Seluruh personel memberikan kontribusi maksimal tanpa ada satu pun unit yang tertinggal. Monster Cherubim itu meraung murka, tubuh raksasanya terkunci rapat di tengah kawah pertempuran tanpa bisa bergerak.

Nathan mengarahkan Falcon berada tepat di sisi Bird of Paradise. "Belial, Shin!" panggil Nathan. "Aku tahu!" jawab Belial tegas. Falcon dan Bird of Paradise mengepakkan sayap mekanis mereka secara bersamaan. Pendorong pendaratan beremisi tinggi menyala maksimal, menerbangkan kedua unit tersebut membumbung tinggi ke udara sebelum menukik tajam ke arah Cherubim.

"SEKARANG!" Falcon memotong seluruh sisa benang pelindung terakhir dengan tebasan cepat berkecepatan tinggi, membuka inti Core utama musuh tanpa pelindung. Bird of Paradise melesat masuk melalui celah tersebut, menghantamkan cakar dan tombak energinya tepat ke pusat inti Cherubim. Gelombang ledakan pelangi dan kilatan cahaya putih menghancurkan seluruh struktur tubuh Cherubim, meruntuhkan monster raksasa itu menjadi debu abu-abu yang terhempas angin malam.

Fajar Baru Matahari pagi terbit di cakrawala timur, memancarkan sinar keemasan ke daratan yang kini tenang.Di area pendaratan Hangar Station 05, unit Silver Wings bersiap untuk melakukan penerbangan kembali menuju Highlander. Nathan berdiri di depan Falcon, merapikan sarung tangannya sebelum berbalik menghadapi para personel Grey Wings. Nathan melirik ke arah unit Phoenix, lalu menatap Huah dengan senyum tipis. "Ternyata... Gear berwarna-warni milik kalian tidak buruk juga," ujar Nathan. Huah seketika tersenyum lebar, membusungkan dadanya bangga. "Nah, kan! Aku bilang juga apa! Bagus, kan?"

Nathan memutar badannya menuju tangga kapal pengangkut. "...Tetap norak, sih." "HEI! Maksudmu apa?!" teriak Huah yang langsung mengejar Nathan sambil mengacungkan sendok kayu yang entah bagaimana masih ada di saku celananya. Tawa pecah di antara para pilot yang menyaksikan tingkah mereka berdua, mencairkan seluruh sisa keletihan dari perang panjang yang baru saja usai. Satu per satu unit Silver Wings memasuki kapal pengangkut, lalu kapal itu perlahan terangkat meninggalkan landasan Hangar Station 05. Sebelum pintu kompartemen Falcon tertutup sepenuhnya, Nathan berdiri di tepi landasan kapal, menatap ke arah Bird of Paradise yang berdiri anggun di sudut hangar. Matanya menangkap sosok Shin dan Belial yang berdiri berdampingan di bawah kaki mecha tersebut. Nathan bergumam sangat pelan, suaranya hilang ditelan gemuruh mesin pendorong. "...Kalau Shin dan Belial bersatu... mungkin masih ada harapan untuk dunia ini." Kapal pengangkut itu memacu pendorongnya, melesat menembus awan pagi menuju Highlander, meninggalkan kesan mendalam dan ikatan rasa hormat yang baru terjalin di antara kedua skuadron.

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!