Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan Sang Suami
Jarum jam akhirnya menunjukkan pukul lima sore—waktu yang dinanti-nanti oleh seluruh karyawan Devan Corp. Satu per satu staf mulai merapikan meja dan bersiap untuk pulang, meninggalkan hiruk-pikuk pekerjaan hari pertama.
Sebelum jam pulang, Kirana sempat diberi beberapa berkas laporan riset yang cukup rumit oleh manajer tim. Tugas itu seharusnya dikerjakan dalam waktu dua hari. Namun, dengan kecerdasan dan efisiensi kerja yang ia asah selama menuntut ilmu di Australia, Kirana berhasil merampungkan seluruh laporan tersebut jauh lebih awal.
Kirana menyimpan salinan lengkap laporan itu ke dalam flashdisk pribadinya dan mengunggahnya ke komputasi awan (cloud) milik akun pribadinya. Ia tahu betul berada di lingkungan yang tidak ramah membutuhkan kewaspadaan ekstra.
Saat merapikan barang-barangnya, Kirana dengan sengaja membiarkan komputer kerjanya tetap menyala dan membiarkan berkas fisik di mejanya sedikit terbuka. Tak hanya itu, dengan gerakan yang sangat halus, Kirana menyelipkan sebuah kamera pengintai mini berukuran sekecil kancing baju di sela-sela dedaunan vas bunga kecil yang ada di sudut mejanya. Kamera itu terhubung langsung dengan ponsel pintarnya.
Kirana menyunggingkan senyum tipis. Intuisi dan kewaspadaannya memberi tahu bahwa Siska yang penuh dendam tidak akan tinggal diam malam ini.
"Selamat sore semuanya, saya pulang duluan ya," pamit Kirana ramah kepada rekan-rekan kerjanya.
"Selamat sore, Kirana! Kerjamu bagus sekali hari ini," sahut beberapa staf senior hangat.
Kirana melangkah pergi menuju lift, pulang menuju mansion Devan di mana suaminya sudah menunggu.
Suasana di lantai 12 perlahan mulai sepi setelah sebagian besar karyawan pulang. Siska, yang berpura-pura masih lembur mengerjakan tugas, melirik ke sekeliling ruangan. Begitu memastikan lantai tersebut benar-benar sepi dan hanya tersisa beberapa orang yang sibuk di ruangan lain, ia langsung bangkit dari kursinya.
Dengan langkah cepat dan berjingkat, Siska menghampiri meja kerja Kirana. Matanya berbinar licik saat melihat komputer Kirana masih menyala dan tumpukan berkas laporan proyek penting tergeletak di sana.
"Dasar anak magang ceroboh!" bisik Siska sinis. "Kau pikir kau bisa menang dariku?"
Tanpa rasa ragu, Siska mulai mengacak-acak tumpukan berkas fisik di meja Kirana. Ia merobek beberapa halaman analisis penting dan membuangnya ke tempat sampah umum di luar ruangan, lalu menghapus file laporan yang ada di folder komputer Kirana hingga bersih tanpa sisa.
Siska tertawa puas dalam hati, membayangkan besok pagi Kirana akan panik setengah mati dan dipecat secara tidak hormat karena dianggap menghilangkan dokumen analisis penting perusahaan.
Namun, Siska sama sekali tidak menyadari... di balik hijaunya daun vas bunga meja itu, sebuah lensa kamera kecil yang berkedip merah redup telah merekam seluruh aksi kejahatannya dengan sangat jelas—lengkap dengan wajah, waktu, dan setiap gerakan tangannya.
Mobil mewah yang membawa Kirana perlahan memasuki halaman luas mansion megah milik Devan. Begitu pintu mobil dibuka oleh pengawal, Kirana melangkah keluar dengan helaan napas lega. Hari pertamanya di Devan Corp sungguh penuh dengan dinamika, namun senyum kepuasan tetap terukir di wajah cantiknya.
Saat melangkah masuk melalui pintu utama bertiang tinggi tersebut, Kirana langsung disambut oleh aroma harum masakan malam yang hangat—dan sosok pria yang sangat familiar.
Devan berdiri di dekat tangga utama, sudah mengganti setelan jas kantornya dengan kemeja kasual yang digulung hingga ke siku. Matanya yang tajam langsung melembut begitu menangkap keberadaan sang istri.
"Selamat datang di rumah, Kirana," panggil Devan dengan suara bernada rendah yang hangat.
Pria itu melangkah mendekat, meraih tas kerja Kirana dan menyerahkannya kepada pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka. Tanpa ragu, Devan menyambut Kirana ke dalam pelukan hangatnya, mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana hari pertamamu sebagai 'karyawan biasa'?" tanya Devan seraya menyunggingkan senyum tipis yang memikat. "Apakah ada yang berani mengganggumu lagi setelah kejadian tadi siang?"
Kirana menyandarkan tubuhnya sejenak pada dada bidang Devan, menikmati rasa aman yang selalu ditawarkan suaminya. Ia lalu mendongak, menatap mata elang Devan dengan kilatan jenaka di iris matanya.
"Hari yang sangat sibuk, Devan," jawab Kirana dengan nada riang. "Dan soal gangguan... sepertinya tikus kecil di divisiku baru saja masuk ke dalam perangkap yang kubuat."
Devan mengernyitkan alisnya tipis, tertarik dengan ucapan istrinya. Pria itu menuntun Kirana menuju sofa ruang tamu yang nyaman. "Perangkap? Ceritakan padaku, Istriku."
Kirana mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu menekan sebuah aplikasi khusus. Layar ponsel itu menampilkan rekaman video berdurasi singkat yang sangat jernih dari kamera mini di vas bunganya—memperlihatkan Siska yang sedang sibuk merobek berkas dan menghapus file di meja kerjanya.
Melihat rekaman tersebut, sorot mata Devan seketika berubah menjadi sangat dingin dan mengintimidasi. Aura penguasa yang kejam kembali terpancar dari dirinya.
"Wanita ini benar-benar mencari masalah," gumam Devan dingin, matanya mengunci sosok Siska di layar. "Aku bisa membuat nama wanita ini diblacklist dari seluruh perusahaan di negara ini dalam hitungan menit, Kirana."
Kirana tersenyum lembut, meremas pelan jemari tangan Devan untuk menenangkan suaminya.
"Jangan dulu, Devan. Bukankah lebih menyenangkan jika kita membiarkan dia merasa menang malam ini, lalu mempermalukannya besok pagi di depan semua orang saat dia mengira rencananya berhasil?" ujar Kirana penuh kecerdikan.
Devan menatap Kirana sejenak, lalu tawa renyah nan menggelegar keluar dari bibirnya. Ia memeluk pinggang Kirana rapat-rapat, merasa begitu kagum dengan keberanian dan kecerdasan wanita yang menjadi istrinya ini.
"Kau benar-benar luar biasa, Nyonya Devan," bisik Devan di telinga Kirana. "Baiklah, besok pagi kita lihat bagaimana pertunjukan kecilmu di kantor."