Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuasai Emosimu
Ryan tersentak bangun. Di sekelilingnya hanya ada kehampaan pekat. Anehnya, penglihatannya justru jernih.
Tepat di depannya berdiri sebuah rumah tua dengan atap kayu yang lapuk, sementara tegel pelatarannya telah kehilangan kilaunya.
Itu adalah rumahnya, tempat yang sangat ia kenal.
Ryan melangkah mendekat. Setiap jengkal langkahnya terasa luar biasa berat. Ketika jaraknya dengan pintu depan hanya tersisa sekitar sepuluh langkah, ia terhenti. Mata dinginnya menatap tajam pintu kayu setinggi dua setengah meter yang dihiasi ukiran klasik yang mulai aus.
Di tengah dilema batin yang berkecamuk, pintu kayu itu perlahan berderit terbuka.
Sesosok kakek jangkung berdiri di ambang pintu. Pakaiannya memadukan kemeja modern dengan blangkon tradisional, perpaduan yang aneh namun sama sekali tidak mengurangi wibawanya.
"Untuk apa kamu di sini?" Suara kakek itu berat, bergema rendah di dalam kesunyian. "Bangunlah, Ryan. Kuasai emosimu."
"Anda... siapa?"
Kata-kata Ryan tertahan di tenggorokan. Tepat saat rasa penasarannya memuncak, kakek itu mengangkat tangan kanannya. Hanya sebuah gerakan mendorong yang lambat, namun tubuh Ryan seketika terhempas ke belakang oleh gelombang energi tak kasat mata. Pandangannya mulai memudar dan mengabur dengan cepat.
Rasa pening menghantam kepalanya, tetapi dengan kesadaran yang tersisa, ia terus berusaha menatap sosok misterius itu—yang kini tampak menjauh dengan cepat.
Swuuush!
Ketika kesadarannya kembali, Ryan mendapati dirinya terduduk di atas tanah. Ia menatap langit sambil mencengkeram kepalanya yang berdenyut hebat. Napasnya terengah-engah.
Kebingungan besar menyergap benaknya. Siapa kakek misterius tadi? Bagaimana bisa sosok itu tahu namanya?
Ryan melihat lagi rumahnya yang telah menjadi abu, dan deretan kantong mayat di dekat ambulans.
Rasa sedih dan duka yang mendalam kembali menyelimuti dadanya hingga terasa sesak.
Namun, pikirannya kali ini terasa benar-benar jernih.
Terlalu jernih.
Seolah...
Seolah ada sebuah sekat tak kasat mata yang baru saja dipasang di dalam kepalanya, membunuh gejolak emosi yang sempat meledak beberapa saat lalu. Menyisakan ketenangan dingin yang terasa asing bagi dirinya sendiri.
"Ryan! Kau sudah sadar?!"
Suara teriakan yang akrab mendadak memotong keheningan. Ryan menoleh lambat, membentur pandangan Johandi, Rahman, dan Agil yang berdiri beberapa meter darinya dengan tubuh gemetar dan tersengal-sengal. Wajah mereka pucat pasi, dan dipenuhi tatapan tidak percaya yang bercampur dengan rasa waspada.
Sisa-sisa dari pilar energi hitam milik Ryan masih terasa tipis di udara, menguap bagai kabut kelam sebelum akhirnya lenyap tak berbekas.
Sebelum sempat sepatah kata pun terucap dari bibir Ryan, sebuah suara dengingan tiba-tiba menghujam ke dalam pusat kepalanya.
Ngggiiing—!
Kesadaran Ryan seketika limbung. Dunianya berputar hebat dalam hitungan detik, hingga akhirnya ia kehilangan kesadaran sepenuhnya dan jatuh terjerembap ke atas tanah yang masih hangat.
Kuasai emosimu.
Kuasai emosimu...
Kata-kata dari kakek misterius itu terus terulang-ulang di kepala Ryan bagai gema di dalam ruang hampa. Sampai akhirnya, tekanan berat di dadanya terangkat, mendorong kesadarannya kembali naik ke permukaan.
Kelopak mata Ryan bergerak lambat. Begitu ia membuka mata, seberkas cahaya putih yang cukup terang menusuk retinanya, memaksanya mengernyit dan mengerjap beberapa kali.
Di samping ranjang, monitor detak jantung mengeluarkan bunyi bip yang ritmis. Ryan tahu situasinya kini sudah berubah total.
Dia terbangun di kamar rumah sakit.
Ryan menoleh ke sisi kanan ranjang, tempat Rahman dan Agil sudah menantinya. Agil langsung menegakkan tubuh dari sandaran kursi besi, menyambut Ryan dengan seringai tipis di wajahnya yang kini tampak jauh lebih segar.
“Yo, sudah hibernasinya?”
Ryan tidak menjawab. Tenggorokannya terasa sangat kering, sementara otaknya masih dipenuhi kabut tebal akibat lompatan peristiwa yang membingungkan.
Ia berusaha keras merangkai ingatan, tetapi segalanya terasa rancu. “Memangnya... ini hari apa?”
“Ini sudah hari Sabtu, sudah tiga hari sejak kamu pingsan,” jawab Rahman yang sedari tadi sibuk mengotak-atik ponselnya, mengontak Johandi untuk memberi tahu bahwa Ryan akhirnya sudah sadar.
Agil menyodorkan segelas air putih hangat ke hadapan Ryan, membuyarkan lamunan singkatnya. "Minum dulu. Muka lu udah kayak kertas saring, pucat banget," kata Agil. "Om Jo bilang dia bakal langsung meluncur ke sini begitu tahu kamu udah bangun."
Rahman memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu berjalan mendekat ke tepi ranjang dengan raut wajah yang mendadak serius. "Kamu beruntung, Ryan. Tim medis Esper dari asosiasi sempat kewalahan memeriksa kondisimu. Dokter bilang energimu sempat surut ke titik terendah seolah-olah terkuras habis dalam sekejap. Seharusnya... kamu tak akan bangun lagi.”
Ryan menerima gelas dari Agil, meneguknya perlahan sembari merasakan kehangatan air yang membasahi tenggorokannya yang kering.
Rahman maupun Agil tampak menahan diri, enggan menghujani Ryan dengan pertanyaan tentang pilar energi kelam yang meledak dari tubuhnya tiga hari lalu.
Cklek.
Suara derit pintu bangsal yang terbuka tiba-tiba memecahkan keheningan canggung di dalam ruangan. Sosok Johandi melangkah masuk, kelelahan tampak jelas di wajahnya.
Melihat kedatangan pamannya, tatapan Ryan seketika berubah intens. Rasa duka yang sempat tertahan di dadanya kembali meruyak naik, mendesak sebuah pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di benaknya.
"Om Jo... Ayah, Bunda... Adikku, Rehan…" Ryan menggantung kalimatnya. Suaranya bergetar hebat, kepayahan menahan luapan emosi yang siap pecah.
Johandi menghentikan langkahnya sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap keponakannya dengan tatapan mata yang dipenuhi kepedihan. "Mereka... sudah dimakamkan," jawab Johandi dengan nada suara yang direndahkan, mencoba selembut mungkin. "Soal tempatnya, Om akan beritahu nanti setelah kamu benar-benar pulih."
Ia sengaja merahasiakan lokasi makam keluarganya untuk sementara waktu. Takut Ryan akan nekat kabur demi mendatangi makam keluarganya, tidak peduli bahwa kondisinya masih belum stabil.
Ryan terdiam. Namun, sorot matanya yang mendadak menajam menyiratkan bahwa pikirannya sedang merangkai potongan kejanggalan dari tragedi yang baru dialaminya.
"Kebakaran di rumah... itu ulah seseorang, kan?" tanya Ryan mendadak. Kalimat itu tidak lagi terdengar seperti pertanyaan, melainkan sebuah kesimpulan dingin yang menuntut pembenaran.
Rahman dan Agil sontak saling berpandangan, sementara Johandi tetap bergeming di tempatnya berdiri.
"Saya tahu persis seperti apa keluarga saya. Mustahil ada yang seceroboh itu hingga memicu kebakaran hebat. Lagipula, rumah kami kecil. Kalau itu cuma kecelakaan, mereka pasti punya waktu yang lebih dari cukup untuk lari keluar. Ini tidak masuk akal."
Apa sebenarnya yang diincar oleh sang dalang?Sepanjang yang ia tahu, keluarganya tidak pernah mencari musuh atau membuat orang lain memendam dendam yang dalam.
Tiba-tiba, kalimat terakhir Jamal kembali terngiang di benaknya.
"Tujuanku sudah selesai."
Sebuah tekad baru perlahan-lahan mengkristal di dalam lubuk hati Ryan. Selama ia terus hidup seperti sebelumnya, ia tak akan mampu melindungi siapa pun.
Ryan perlahan mengepalkan tangan di atas selimut.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar membenci kelemahannya sendiri.
"Om Jo... aku mau pindah ke Sekolah Khusus Esper."
Mendengar permintaan yang tak terduga itu, sudut bibir Johandi perlahan terangkat, membentuk seulas senyuman tipis.
"Baiklah, jika memang itu yang kamu mau," ucap Johandi hangat. "Tapi sebenarnya... Om jauh lebih suka kalau kamu berlatih langsung dengan Om. Sayangnya, Om sangat sibuk, jadi masuk ke sekolah khusus memang pilihan terbaik untukmu saat ini. Lagipula, bukankah Om sudah berkali-kali membujukmu sedari dulu?"
Ryan hanya mengangguk pelan.
Johandi kemudian mengalihkan pandangannya kepada Agil dan Rahman yang sedari tadi hanya diam menyimak di samping ranjang Ryan. Sepasang mata Johandi tampak bersinar samar, seolah sedang menakar potensi tersembunyi yang dimiliki oleh kedua teman keponakannya itu.
"Bagaimana jika..." Kalimat Johandi yang menggantung tiba-tiba membuat Agil dan Rahman tersentak kaget. "Bagaimana jika kalian juga ikut pindah bersama Ryan ke Sekolah Khusus Esper Kota Cirebon?"
Johandi menjeda sejenak, memberikan waktu bagi tawaran itu untuk meresap. "Sekolah itu memang bukan tempat untuk melatih Esper terbaik, tetapi lulusannya sudah cukup mampu bersaing dengan sekolah yang ada di Jakarta."
"Tapi Om... kemampuan kami berdua tidak ada apa-apanya," bisik Rahman, melirik Agil sekilas. "Kami rasa... kami hanya akan menjadi beban dan menyia-nyiakan biaya dari Om."
"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan soal biaya," potong Johandi cepat, seolah tahu persis beban yang sedang berkecamuk di dalam kepala dua remaja itu. Ia tersenyum menenangkan. "Biar Om yang mengurus semuanya."
Rahman dan Agil saling berpandangan. Tak satu pun dari mereka pernah membayangkan bahwa tragedi hari ini justru akan mengubah jalan hidup mereka selamanya.