Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Seluruh Dunia menjadi Asinga
Malam perjamuan yang megah itu akhirnya usai, namun bagi Anya, badai baru saja dimulai. Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Suara deru mobil para tamu yang pulang terdengar menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam rumah mewah tersebut. Anya masih terduduk di lantai, bersandarkan tempat tidur dengan gaun merah muda yang kini tampak kusut. Matanya sembap dan hidungnya memerah karena tangis yang tak kunjung reda.
Ketukan pelan di pintunya membuat Anya tersentak.
"Anya... ini Kak Joana. Buka pintunya, Sayang," terdengar suara lembut dari balik kayu jati tersebut.
Anya memejamkan mata erat-earat. Dia menyayangi kakaknya. Selama ini, Joana adalah pelindung dan tempatnya mengadu. Namun malam ini, melihat wajah Joana hanya akan mengingatkannya pada kenyataan pahit bahwa pria yang dia puja akan menjadi milik kakaknya. Rasa cemburu, kecewa, dan bersalah bercampur aduk, membuat Anya merasa sangat berdosa karena membenci situasi ini.
"Anya, tolong buka. Kakak mau bicara," bujuk Joana lagi.
Anya bangkit dengan perlahan. Kakinya terasa lemas. Dia berjalan mendekati pintu, memutar kunci, dan membukanya sedikit. Joana berdiri di sana dengan wajah penuh kecemasan. Gaun biru tuanya masih melekat anggun di tubuhnya.
"Ada apa, Kak? Anya capek, mau tidur," ucap Anya dengan suara serak, nyaris berbisik. Dia sengaja tidak membuka pintu lebar-lebar, membatasi jarak di antara mereka.
Joana menghela napas, menatap mata sembap adiknya dengan rasa iba yang mendalam. Sebagai kakak, Joana tidak buta. Dia tahu persis bagaimana perasaan Anya kepada Edgard selama ini. Dia tahu tentang pesan-pesan yang tidak pernah dibalas, tentang bekal makanan yang ditolak, dan tentang segala usaha nekat yang dilakukan Anya.
"Anya, Kakak minta maaf," kata Joana tulus, matanya ikut berkaca-kaca. "Kakak benar-benar tidak tahu kalau Papa dan Om Baskoro merencanakan perjodohan ini malam ini. Kakak tidak bermaksud merebut apa yang kamu suka."
Anya tertawa sumbang, sebuah tawa yang sarat akan rasa sakit hati. "Merebut? Memangnya sejak kapan Kak Edgard jadi milikku? Dia bahkan enggak pernah melihat aku, Kak. Jadi Kak Joana enggak salah. Kak Joana enggak merebut apa-apa."
"Tapi, Anya—"
"Lalu kenapa Kak Joana menerimanya?!" potong Anya, suaranya tiba-tiba meninggi, emosi yang dia tahan sejak di meja makan kini meluap. "Kalau Kak Joana tahu aku suka sama Kak Edgard, kenapa tadi Kakak diam saja? Kenapa Kakak enggak menolak? Kenapa Kakak malah tersenyum?!"
Joana tertegun. Dia mundur satu langkah, terkejut dengan ledakan kemarahan adiknya. "Anya, ini bukan sekadar masalah cinta monyet. Ini tentang bisnis Papa, tentang komitmen dua keluarga. Kakak tidak bisa begitu saja menolak di depan keluarga besar dan mempermalukan Papa."
"Jadi karena bisnis, Kakak rela mengorbankan perasaan adik sendiri?" air mata Anya kembali luruh membasahi pipinya. "Kak Joana tahu betapa aku mencintai Kak Edgard. Aku melakukan segalanya demi dia! Tapi malam ini, kalian semua merayakan pernikahan kalian di depan mukaku sendiri! Kalian kejam!"
"Anya! Jaga bicaramu!" sebuah suara bariton yang tegas dan menggelegar memotong perdebatan mereka.
Bramantyo walked up the stairs, his face red with anger. Di belakangnya, Mama mengikuti dengan wajah cemas, mencoba menenangkan suaminya. Papa menatap Anya dengan pandangan yang sangat tajam, penuh dengan kekecewaan dan amarah yang meluap-luap.
"Papa..." bisik Joana, mencoba menengahi. "Ini salah paham, Pa. Anya hanya sedang lelah."
"Jangan bela adikmu, Joana!" titah Papa dingin. Dia menatap Anya yang berdiri gemetar di ambang pintu kamarnya. "Anya, tindakanmu di meja makan tadi benar-benar memalukan! Kamu meninggalkan perjamuan tanpa izin, merusak suasana, dan sekarang kamu malah berteriak menyalahkan kakakmu?"
Anya mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Rasa takut pada Papanya malam ini kalah oleh rasa sakit hati yang teramat sangat. "Anya enggak salah, Pa! Kenapa Papa menjodohkan Kak Joana dengan Kak Edgard? Papa tahu kan kalau Anya suka sama Kak Edgard? Anya yang selama ini mengejar dia, bukan Kak Joana!"
"Cukup, Anya!" bentak Papa, suaranya menggema di seluruh koridor lantai dua. "Hentikan obsesi konyolmu itu! Edgard itu pria dewasa, calon penerus bisnis besar. Dia butuh pendamping yang sepadan, yang matang, dan bisa membantunya, seperti Joana! Bukan gadis kekanak-kanakan yang hanya tahu cara bersenang-senang dan merengek seperti kamu!"
Kalimat Papa bagai belati yang menusuk tepat di jantung Anya. Mengetahui bahwa ayahnya sendiri menganggapnya tidak berharga dan tidak sepadan dengan Edgard adalah jenis kehancuran yang mutlak. Anya menatap Papanya dengan pandangan tidak percaya.
"Jadi di mata Papa, Anya cuma anak bodoh yang enggak ada gunanya?" tanya Anya, suaranya bergetar hebat, air matanya mengalir semakin deras. "Karena Kak Joana pintar, Kak Joana cum laude, jadi Kak Joana boleh mendapatkan segalanya, termasuk pria yang Anya cintai? Papa enggak pernah memikirkan perasaan Anya sedikit pun!"
"Anya, jaga sopan santunmu pada Papa!" Mama akhirnya ikut bersuara, mencoba memperingatkan anaknya yang sudah kelewat batas.
"Perjodohan ini sudah final!" tegas Papa, tidak memedulikan tangisan putrinya. "Edgard dan Joana akan menikah setelah semua persiapan selesai. Dan kamu, Anya, Papa tidak akan membiarkanmu tinggal di rumah ini dan merusak hubungan mereka dengan tingkah lakumu yang egois dan kekanak-kanakan!"
Anya terdiam. Kata-kata Papa barusan terdengar seperti sebuah ancaman yang nyata. Dia memandangi satu per satu anggota keluarganya. Kakaknya yang menatapnya dengan rasa bersalah, Mamanya yang tampak pasrah, dan Papanya yang menatapnya dengan kemarahan murni. Di rumah ini, di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya, Anya mendadak merasa seperti orang asing. Dia merasa sendirian, terbuang, dan tidak diinginkan hanya karena dia berani mempertahankan perasaannya.
"Anya benci Papa. Anya benci kalian semua!" teriak Anya histeris.
Sebelum ada yang bisa merespons, Anya menarik pintu kamarnya dan membantingnya dengan kekuatan penuh. BRAAAKK! Bunyi dentuman pintu itu seolah menjadi tanda bahwa hubungan hangat di antara mereka telah runtuh malam itu. Anya mengunci pintunya kembali, lalu melemparkan dirinya ke atas tempat tidur, menenggelamkan wajahnya di bantal untuk meredam jerit tangisnya yang memilukan.
Dia tidak pernah tahu, bahwa penolakannya malam ini terhadap keputusan Papa akan membawa konsekuensi yang jauh lebih berat. Sebuah hukuman yang akan memisahkannya dari rumah ini, dari Jakarta, dan dari semua orang yang pernah dia kenal, mengirimnya ke sebuah kota baru yang asing untuk memulai hidup yang sama sekali berbeda.
Namun bagi Anya saat ini dia hanya ingin didengarkan, hanya ingin perasaannya di hargai bukan hanya untuk kerjasama kemitraan.
semangat nulisnya 💪